NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12: Labirin Emas di Pelabuhan Utara

Fajar menyingsing di atas cakrawala ibu kota dengan warna merah yang tidak biasa, seolah-olah langit sendiri tengah meramalkan pertumpahan darah yang akan datang. Salju yang turun semalam kini membeku, menciptakan lapisan es tipis yang menutupi jalanan berbatu. Di depan kediaman keluarga Lane, deretan kereta kuda hitam dengan perlindungan baja di sisinya telah bersiap. Ini bukan lagi perjalanan santai seorang lady menuju pelabuhan; ini adalah pergerakan militer yang disamarkan dalam kemasan urusan dagang.

Elara berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra yang menjuntai. Sebagai gantinya, ia mengenakan setelan berburu dari kulit berkualitas tinggi berwarna hitam, dengan jubah bulu tebal yang menyembunyikan belati obsidian di pinggangnya dan beberapa kantong kecil berisi bubuk alkimia di balik sabuknya. Rambut putihnya dikepang erat, memberikan kesan praktis dan mematikan.

"Nona, apakah Anda benar-benar harus pergi hari ini?" Martha bertanya dengan tangan gemetar saat merapikan kerah jubah Elara. "Keadaan di luar sana... sangat tidak menentu."

Elara menatap pantulan dirinya, matanya yang merah muda berkilat dengan tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Jika aku tidak pergi sekarang, Martha, maka tempat ini akan menjadi penjara bagi kita semua. Musuh tidak sedang menunggu, mereka sedang mengepung. Aku harus memutus pengepungan itu di tempat ia bermula."

Alaric masuk ke kamar tanpa mengetuk, kehadirannya memenuhi ruangan dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara kulit pelana dan minyak senjata. Ia mengenakan zirah ringan di balik jubah militernya. Matanya yang gelap memindai sosok Elara dari ujung kepala hingga ujung kaki, memberikan tatapan persetujuan yang dalam.

"Pasukan Ksatria Bayangan sudah menempati posisi di sepanjang rute menuju Pelabuhan Utara," ucap Alaric berat. "Kael melaporkan ada pergerakan mencurigakan di dermaga nomor tujuh. Sepertinya 'tikus-tikus' itu sudah tahu kita akan datang."

"Dermaga tujuh adalah dermaga tertua yang dibangun oleh kakekku," Elara berbalik menghadap Alaric. "Itu adalah satu-satunya dermaga yang fondasinya masuk hingga ke dalam gua bawah laut. Jika benar apa yang dikatakan Archivist Valerius tentang 'Cawan Keabadian', maka itulah tempatnya."

Perjalanan Menuju Garis Depan

Perjalanan menuju Pelabuhan Utara memakan waktu empat jam. Sepanjang jalan, Elara memperhatikan betapa sepinya desa-desa nelayan yang biasanya ramai. Ketakutan akan organisasi Solis Invicta sepertinya sudah menyebar seperti wabah yang tak kasat mata. Orang-orang mengunci pintu mereka, dan bahkan burung-burung seolah berhenti berkicau.

Di dalam kereta yang tertutup rapat, Alaric duduk berhadapan dengan Elara. Ia sedang membersihkan belati kecil dengan kain sutra putih, sebuah kebiasaan yang ia lakukan setiap kali ia bersiap untuk pertarungan hidup dan mati.

"Elara, ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kita sampai," Alaric memulai, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Keluarga Ravenhurst bukan hanya penjaga perbatasan. Selama generasi, kami adalah 'Penjaga Kunci' yang bertugas memburu faksi Solis Invicta. Ayahku tewas bukan karena perang terbuka, tapi karena ia mencoba menyegel pintu masuk gua di Pelabuhan Utara."

Elara tersentak. Informasi ini tidak pernah ia dengar di kehidupan sebelumnya. "Jadi, itulah alasan kau mencariku? Bukan hanya karena reinkarnasi ini, tapi karena takdir keluarga kita terikat pada gua itu?"

Alaric menaruh belatinya dan berpindah duduk di samping Elara, menggenggam tangannya yang dingin. "Awalnya, aku mendekatimu karena tugas. Tapi setelah aku melihatmu di pesta dansa itu... setelah aku melihat api di matamu saat kau menghadapi Adrian... tugas itu menjadi sesuatu yang lain. Aku tidak lagi menjagamu karena perintah leluhur, Elara. Aku menjagamu karena kau adalah satu-satunya alasan aku tidak kehilangan kewarasanku di dunia yang korup ini."

Elara menyandarkan kepalanya di bahu Alaric. Di tengah guncangan kereta, ia merasakan ketenangan yang aneh. Ia menyadari bahwa Alaric adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami beban yang ia panggul.

Aroma Laut dan Mesiu

Saat kereta akhirnya sampai di Pelabuhan Utara, aroma garam laut yang tajam bercampur dengan bau kayu busuk dan mesiu menyambut mereka. Pelabuhan ini adalah jantung ekonomi keluarga Lane, namun sekarang ia tampak seperti kota hantu. Kapal-kapal dagang besar tertambat diam, layar-layar mereka digulung seolah sedang berduka.

Elara turun dari kereta dan langsung disambut oleh Kepala Pelabuhan, seorang pria tua bernama Barney yang telah bekerja untuk ayahnya selama tiga puluh tahun. Wajah Barney pucat pasi, dan tangannya gemetar saat ia membungkuk.

"Nona Elara... syukurlah Anda sampai dengan selamat. Tapi, ada masalah besar," Barney berbisik ketakutan. "Gudang penyimpanan nomor empat... pintunya ditemukan terbuka, dan penjaga yang ada di sana... mereka tidak hanya dibunuh. Mereka... mereka tampak seperti dikeringkan jiwanya."

Alaric segera bergerak maju, memberi isyarat kepada ksatria bayangannya untuk mengamankan perimeter. Elara mengikuti dari belakang, melangkah menuju gudang nomor empat yang terletak tepat di samping dermaga tujuh.

Di dalam gudang, pemandangan yang ada lebih mengerikan daripada penjara bawah tanah istana. Lima orang penjaga tergeletak di lantai dalam posisi meringkuk. Kulit mereka berwarna abu-abu pucat, dan mata mereka terbuka lebar dengan pupil yang menghilang, seolah-olah mereka mati dalam ketakutan yang luar biasa. Tidak ada darah, tidak ada luka fisik.

"Sihir hitam penyedot nyawa," desis Alaric. Ia memeriksa salah satu mayat. "Ini adalah tanda tangan dari para imam tinggi Solis Invicta. Mereka sudah mulai melakukan ritual di sini."

Elara melangkah lebih jauh ke bagian belakang gudang, di mana terdapat sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di balik tumpukan peti kosong. Pintu itu menuju ke tangga bawah tanah yang mengarah ke fondasi pelabuhan. Ia melihat tanda emas yang bersinar redup di bingkai pintu tersebut.

"Mereka sudah masuk ke dalam labirin," ucap Elara. "Alaric, mereka mencari pintu masuk gua bawah laut."

"Kita tidak bisa membiarkan mereka melangkah lebih jauh," Alaric mencabut pedang hitamnya yang legendaris, Duskbringer. Bilah pedang itu seolah menyerap cahaya di sekelilingnya, memancarkan aura dingin yang mencekam. "Kael, jaga pintu masuk ini dengan sepuluh orang. Jangan biarkan siapapun masuk atau keluar. Elara, kau tetap di belakangku."

Di Dalam Labirin Bawah Tanah

Mereka menuruni tangga batu yang licin, menuju ke perut pelabuhan. Suara deburan ombak yang menghantam dinding dermaga terdengar seperti detak jantung raksasa di kejauhan. Udara di bawah sini terasa sangat berat, dipenuhi oleh kelembapan yang menyesakkan dan energi magis yang tidak stabil.

Dinding-dinding lorong ini terbuat dari batu granit kuno yang diukir dengan simbol-simbol perlindungan keluarga Lane. Namun, banyak dari simbol itu yang kini telah dicoret dengan tinta emas Solis Invicta.

"Lihat itu," Elara menunjuk ke arah genangan air di lantai. "Airnya mengalir ke arah yang salah. Sihir mereka mulai mengubah hukum alam di tempat ini."

Tiba-tiba, suara tawa yang halus namun tajam bergema di lorong sempit itu.

"Selamat datang, Nona Lane... dan keponakanku yang tersayang, Alaric."

Dari kegelapan di depan mereka, muncul sosok Julian von Ravenstein. Namun, ia tidak lagi tampak seperti bangsawan muda yang sombong. Wajahnya kini dihiasi dengan tato emas yang merambat dari leher hingga ke pipinya, dan matanya memancarkan cahaya kuning yang tidak wajar.

"Julian," geram Alaric. "Kau seharusnya sudah membusuk di sel bersama ibumu."

"Ibuku adalah wanita yang lemah, Alaric. Dia hanya terobsesi dengan politik kecil kekaisaran," Julian melangkah maju dengan santai, tangannya memainkan sebuah bola kristal hitam yang mengeluarkan asap ungu. "Aku memiliki tujuan yang lebih besar. Aku adalah wadah bagi matahari yang baru. Dan Elara... kau adalah kuncinya."

"Aku bukan kunci bagi siapapun!" Elara melempar sebuah botol alkimia yang berisi cairan pemurni ke arah Julian.

Ledakan cahaya putih menyambar, namun Julian hanya mengibaskan tangannya, memadamkan cahaya itu seolah-olah itu hanya debu. "Tenanglah, Elara. Darahmu... darah murni Lane yang telah melalui siklus kematian dan kebangkitan... itulah yang dibutuhkan untuk membuka Segel Cawan. Kau tidak menyadarinya, kan? Reinkarnasi ini bukan sebuah kebetulan. Kami yang menarik jiwamu kembali, agar kau bisa membukakan pintu bagi kami."

Jantung Elara terasa seolah berhenti. Selama ini ia mengira Tuhan atau keajaiban yang memberinya kesempatan kedua. Namun jika musuhnyalah yang merencanakan kebangkitannya, maka setiap langkah yang ia ambil untuk membalas dendam mungkin adalah bagian dari rencana mereka.

"Kau berbohong!" Alaric menerjang maju dengan kecepatan kilat. Duskbringer menebas udara, mengincar leher Julian.

Julian menghilang dalam kepulan asap emas dan muncul kembali beberapa meter di belakang mereka. "Alaric, kau selalu begitu kasar. Tapi kau tidak bisa menghentikan apa yang sudah dimulai. Ritual ini membutuhkan pengorbanan... dan lihatlah sekelilingmu."

Tiba-tiba, dinding-dinding lorong mulai mengeluarkan cairan hitam. Dari dalam cairan itu, muncul makhluk-makhluk bayangan yang tidak memiliki wajah, hanya lubang besar di tempat mulut mereka yang mengeluarkan suara jeritan tanpa suara.

"Lindungi Elara!" perintah Alaric kepada ksatria bayangan yang ada di dekatnya.

Pertempuran pecah di dalam labirin yang sempit. Alaric bertarung seperti monster, setiap tebasan pedangnya memusnahkan tiga hingga empat makhluk bayangan sekaligus. Namun, jumlah mereka seolah tidak ada habisnya.

Elara menyadari bahwa ia tidak bisa hanya diam. Ia mengeluarkan belati obsidian-nya. Di kehidupan sebelumnya, ia belajar tentang titik-titik lemah sihir hitam saat ia mencoba mencari cara untuk menyembuhkan ayahnya. Ia mulai menggoreskan simbol-simbol pembalik di lantai marmer menggunakan darahnya sendiri yang sengaja ia lukai di telapak tangan.

"Jika aku adalah kuncinya," teriak Elara sambil menyelesaikan simbol terakhir, "maka aku juga adalah penjara bagi kalian!"

Cahaya pink yang menyilaukan meledak dari simbol yang dibuat Elara. Makhluk-makhluk bayangan itu memekik dan menguap saat terkena cahaya tersebut. Julian terlempar ke dinding, tato emas di wajahnya mulai terbakar.

"Berani-beraninya kau!" Julian berteriak murka. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan! Tanpa Cawan itu, kekaisaran ini akan hancur dalam kegelapan!"

"Aku lebih suka melihat dunia ini hancur dalam kegelapan daripada melihatnya diperintah oleh orang sepertimu!" balas Elara.

Julian tertawa gila sambil mengeluarkan sebuah jimat kecil. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat pertahananmu saat dermaga ini runtuh!"

Julian menghancurkan jimat itu, dan seketika, seluruh labirin mulai bergetar hebat. Langit-langit batu mulai retak, dan air laut mulai merembes masuk dengan deras dari celah-celah dinding.

"Tempat ini akan tenggelam!" teriak Kael.

Alaric segera menyambar pinggang Elara. "Kita harus keluar sekarang!"

"Tapi segelnya, Alaric! Jika air laut masuk, segel itu akan rusak selamanya dan kekuatannya akan bocor ke permukaan!" Elara mencoba memberontak, ingin menyelesaikan penyegelannya.

"Nyawamu lebih penting daripada segel manapun!" Alaric tidak mendengarkan. Ia menggendong Elara dan berlari menuju tangga, diikuti oleh sisa ksatria bayangannya saat gelombang air laut mulai mengejar mereka dari belakang.

Saat mereka berhasil mencapai permukaan gudang nomor empat, dermaga tujuh di belakang mereka runtuh ke dalam laut dengan suara dentuman yang dahsyat, menciptakan pusaran air raksasa yang menelan segala yang ada di sekitarnya.

Elara berdiri di tepi dermaga yang tersisa, napasnya tersengal, pakaiannya basah kuyup. Ia menatap ke arah pusaran air tempat Julian menghilang. Meskipun mereka selamat, ia tahu bahwa ini bukanlah kemenangan. Julian telah berhasil merusak fondasi pelabuhan, dan dengan runtuhnya segel kuno itu, sesuatu yang jauh lebih kuno dan berbahaya kini telah terbangun di dasar laut Pelabuhan Utara.

"Dia sengaja melakukannya," bisik Elara sambil menatap tangannya yang bergetar. "Dia ingin aku menghancurkan segelnya dengan sihir pemurniku. Aku baru saja membantunya..."

Alaric memeluknya erat dari belakang, mencoba memberikan kehangatan di tengah badai yang mulai mengamuk di laut. "Kita akan mencari cara lain, Elara. Sekarang, dunia tahu bahwa perang telah dimulai. Dan kali ini, kita akan membawa seluruh pasukan kekaisaran bersamamu."

Di kejauhan, di tengah pusaran air yang mulai mereda, sebuah cahaya emas redup muncul sesaat sebelum menghilang di kedalaman laut. Matahari terbelah baru saja mendapatkan kekuatannya kembali, dan Elara Lane baru saja menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan selama berabad-abad.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!