Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAPORAN BIMA DAN PERTANYAAN
Selasa pagi, Bambang duduk di kantornya yang kecil di dalam gudang logistik Cakung.
Meja kerjanya penuh dengan dokumen pengiriman, invoice, dan manifest. Tiga truk tua miliknya sudah berangkat sejak subuh untuk deliver paket LokalMart.
Bisnis mulai jalan lebih ramai sejak LokalMart launch. Order naik terus setiap hari. Kemarin saja ada empat puluh paket yang harus dikirim ke berbagai area Jabodetabek.
Bambang seharusnya senang. Ini pertanda bisnis tumbuh.
Tapi ada sesuatu yang mengganggunya sejak kemarin.
Salah satu kurir-nya, Andi, cerita bahwa ada orang yang nanya-nanya tentang LokalMart waktu lagi deliver paket.
Orang itu bilang dia dari perusahaan riset pasar, mau tahu review customer tentang platform baru. Tanya soal kualitas produk, kecepatan pengiriman, profesionalitas tim.
Pertanyaan standar sebenarnya. Tapi yang aneh, orang itu juga tanya soal Rajendra secara personal. Tanya tentang background dia, tentang keluarganya, tentang funding perusahaan.
Andi, yang polos, jawab beberapa pertanyaan sebelum sadar ini aneh dan langsung pergi.
Bambang tidak suka ini.
Ini bukan riset pasar biasa. Ini orang yang digging information dengan motif tertentu.
Bambang meraih ponselnya, menelepon Rajendra.
Nada sambung berbunyi beberapa kali, Rajendra angkat.
"Pak Bambang, ada apa?"
"Rajendra, kita perlu bicara. Ada yang aneh. Bisa kita ketemu hari ini?"
Rajendra terdiam sebentar.
"Aneh gimana?"
"Telepon bukan tempat yang tepat. Bisa kita ketemu?"
"Oke. Saya ke gudang Bapak sekarang. Setengah jam lagi."
"Baik. Saya tunggu."
Sambungan terputus.
Bambang menatap ponselnya dengan perasaan tidak enak.
Dia sudah cukup lama di dunia bisnis untuk tahu kalau ada orang yang mulai nanya-nanya dengan cara yang tidak biasa, itu pertanda ada yang sedang investigate atau planning sesuatu.
Dan dia tidak ingin Rajendra kena jebakan lagi seperti kasus laporan polisi palsu kemarin.
Tiga puluh lima menit kemudian, Rajendra sampai di gudang naik taksi.
Bambang menyambutnya di pintu, membawa dua gelas teh manis hangat.
"Masuk. Kita bicara di kantor."
Mereka masuk ke ruang kantor kecil Bambang. Rajendra duduk di kursi plastik, menerima gelas teh.
"Jadi ada apa, Pak?"
Bambang cerita tentang Andi yang ditanya-tanyai orang asing kemarin.
Rajendra mendengarkan dengan wajah serius.
"Orang itu tanya apa aja?"
"Tentang LokalMart, tentang kamu, tentang funding. Andi bilang orang itu specifically nanya apakah kamu pakai uang investor dengan benar atau ada transaksi mencurigakan."
Rajendra mengepalkan tangannya.
"Ini Dera lagi. Pasti dia."
"Dera?"
"Adik saya. Adik angkat. Dia yang bikin laporan polisi palsu kemarin. Sekarang dia coba cara lain."
Bambang mengerutkan dahi.
"Kenapa dia sampai sejauh ini? Ini kan cuma soal warisan?"
"Bukan cuma warisan, Pak. Ini soal kontrol. Kalau saya dapat enam puluh persen saham, saya bisa kontrol perusahaan. Mereka kehilangan power. Dan mereka gak mau itu terjadi."
Bambang menghela napas panjang.
"Keluarga itu complicated ya. Dulu saya kira cuma di film-film. Ternyata real life juga bisa sejahat ini."
Rajendra tersenyum pahit.
"Real life lebih jahat dari film, Pak. Karena ini nyawa orang beneran yang dipertaruhkan."
"Kamu mau gimana sekarang? Mau saya suruh kurir-kurir saya waspada kalau ada orang nanya-nanya lagi?"
"Iya, tolong. Dan kalau ada orang approach lagi, jangan jawab apa-apa. Langsung telepon saya."
"Siap."
Mereka ngobrol beberapa menit lagi tentang operational logistik, lalu Rajendra pamit.
Di dalam taksi pulang, Rajendra menatap keluar jendela dengan pikiran penuh.
Dera mulai bergerak lagi. Kali ini lebih subtle. Bukan pakai dokumen palsu yang bisa dilacak, tapi pakai strategi information gathering.
Dia planning sesuatu. Sesuatu yang lebih besar.
Dan Rajendra harus selangkah lebih cepat.
Sore itu, Rajendra sampai kantor jam tiga siang.
Arief dan Rian sedang coding, Dina sedang telepon dengan calon seller baru.
Rajendra duduk di mejanya, membuka laptop, mengecek email.
Ada email baru dari Bima yang masuk pagi tadi.
Subject: Final Report - Analisis Dokumen Palsu
Rajendra,
Attached final report sesuai revisi yang lu minta kemarin. Semua findings sudah dikompilasi dengan format yang bisa lu pakai untuk legal purpose.
Satu tambahan: gue coba trace IP address dari file metadata yang gue dapat. Hasilnya mengarah ke komputer di area Menteng, Jakarta Pusat. Gak bisa lebih spesifik dari itu tanpa akses ke ISP provider, tapi itu bisa jadi starting point kalau lu mau investigasi lebih lanjut.
Invoice untuk payment gue kirim terpisah. Transfer kapan lu bisa.
Good luck!
Bima
Rajendra membuka attachment, membaca final report yang sudah lebih rapi dan terstruktur.
Dan yang paling penting: IP address trace yang mengarah ke Menteng.
Menteng. Area dimana rumah keluarga Baskara berada.
Ini bukan bukti konklusif, tapi ini satu lagi piece of puzzle yang mulai lengkap.
Rajendra forward email ini ke Hartono dengan note singkat:
Pak Hartono, ini laporan dari ahli digital forensic yang saya hire. Belum certified tapi bisa jadi starting point. Mohon review dan advice apakah ini cukup untuk gugat balik setelah sidang selesai.
Email terkirim.
Rajendra menutup laptop, menatang tim yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mereka tidak tahu betapa complicated situasi dia sebenarnya. Mereka cuma tahu dia ada masalah keluarga, tapi tidak tahu detailnya.
Dan Rajendra ingin keep it that way. Dia tidak mau burden mereka dengan drama keluarganya.
"Bos, lu oke?" tanya Dina yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Rajendra mendongak.
"Oke. Kenapa?"
"Lu keliatan tegang dari tadi. Ada masalah?"
"Enggak. Cuma mikir."
Dina tidak terlihat convinced, tapi dia tidak push lebih jauh.
"Oke. Kalau lu butuh ngobrol, gue available."
"Thanks."
Dina kembali ke mejanya.
Rajendra meraih ponselnya, membuka notes app, menulis timeline untuk minggu ini.
Rabu: Monitor LokalMart, follow up seller baru.
Kamis: Prepare dokumen untuk sidang, review bukti dengan Hartono.
Jumat: Hari tenang sebelum sidang, usahakan gak stress.
Sabtu: Sidang putusan. Jam 10 pagi.
Empat hari lagi.
Empat hari sebelum hidupnya berubah total. Entah ke arah yang lebih baik atau lebih buruk.
Malam itu, di apartemen mewah Dera, Jessica duduk di sofa dengan wajah pucat.
Dera duduk di seberangnya dengan laptop terbuka, menunjukkan sesuatu di layar.
"Ini," kata Dera. "Informasi dari orang yang gue hire untuk spy operasi LokalMart. Ternyata Rajendra hire digital forensic specialist untuk analisis dokumen palsu kita."
Jessica menatap layar dengan mata melebar.
"Dia sudah tahu dokumen kita palsu?"
"Dia sudah suspicious dari awal. Tapi sekarang dia punya technical evidence. Belum certified, tapi cukup untuk bikin masalah buat kita kalau dia decide untuk gugat balik."
"Terus kita mau gimana?"
Dera menutup laptop, menatap Jessica dengan tatapan dingin.
"Kita accelerate plan. Gak tunggu sampai setelah sidang. Kita execute sekarang, sebelum dia sempat compile semua evidence dan report ke polisi."
"Execute gimana?"
Dera mengeluarkan flashdisk kecil dari saku.
"Ini. File yang udah gue plant di komputer Rajendra lewat orang dalam."
"Orang dalam? Siapa?"
"Gak perlu kamu tahu. Yang penting, file ini berisi dokumen yang seolah-olah Rajendra transfer dana investor ke rekening offshore untuk kepentingan pribadi. Ada screenshot transaksi, ada email komunikasi dengan banker, semua palsu tapi terlihat real."
Jessica menggeleng cepat.
"Dera, ini terlalu berbahaya. Kalau ketahuan—"
"Gak akan ketahuan kalau kita smart. File ini akan auto-activate Jumat malam, sehari sebelum sidang. Polisi akan terima tip anonymous tentang file ini. Mereka akan investigate. Aset Rajendra akan dibekukan untuk investigasi. Dia gak bisa pakai warisan meski dia menang di sidang."
"Tapi ini framing. Ini ilegal."
"Semuanya yang kita lakuin sejauh ini juga ilegal, Jess. Kita sudah terlanjur. Gak bisa mundur sekarang."
Jessica menatang flashdisk kecil itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan desperate.
Sebagian dari dirinya ingin lari. Ingin stop semua ini sebelum terlambat.
Tapi sebagian lain tahu Dera benar. Mereka sudah terlanjur basah. Mundur sekarang sama saja dengan bunuh diri sosial.
"Oke," kata Jessica akhirnya dengan suara gemetar. "Aku ikut. Tapi ini terakhir kali. Setelah ini, apapun hasilnya, kita stop."
Dera tersenyum, meraih tangan Jessica.
"Deal. Setelah ini, kita aman. Trust me."
Tapi di mata Dera, tidak ada kepastian.
Hanya kalkulasi dingin dari seseorang yang sudah terlalu jauh melangkah ke dalam kegelapan.
Di kamar kosnya, Rajendra berbaring di kasur dengan mata terbuka.
Tidak bisa tidur meski sudah jam dua belas malam.
Ada perasaan aneh yang mengganggunya sejak sore tadi. Perasaan bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang besar.
Tapi dia tidak tahu apa.
Ponselnya bergetar, pesan dari Hartono.
"Rajendra, saya sudah review laporan dari Bima. Bagus. Ini bisa jadi foundation untuk gugat balik. Tapi kita tunggu hasil sidang dulu. Kalau menang, posisi kita lebih kuat untuk fight balik. Istirahat yang cukup. Empat hari lagi kita hadapi hari penting."
Rajendra mengetik balasan.
"Terima kasih, Pak. Saya usahakan istirahat."
Tapi dia tahu dia tidak akan bisa istirahat dengan tenang.
Tidak sampai sidang selesai.
Tidak sampai semua ini berakhir.
Dia menatap langit-langit kamar yang retak, mendengar suara traffic Jakarta yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan di tengah malam.
Empat hari lagi.
Empat hari sebelum semuanya berubah.
Dan dia cuma bisa berharap dia sudah prepare dengan cukup baik untuk apapun yang akan datang.
[ END OF BAB 29 ]