NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik: Kehidupan Pernikahan Kedua

Pernikahan itu datang bukan sebagai kebahagiaan yang meledak-ledak, melainkan sebagai janji akan ketenangan.

Ibunya menangis saat hari itu tiba—bukan tangis duka, melainkan tangis lega. Untuk pertama kalinya sejak tragedi bertahun lalu, ia merasa tidak sendirian menghadapi dunia. Pria yang berdiri di sampingnya adalah seorang pejabat istana yang disegani, berwibawa, dan dikenal berperilaku lurus. Kata orang, ia bukan pria yang banyak bicara, tapi tahu tanggung jawab.

Bagi ibunya, itu sudah cukup.

Bagi Bai Ruoxue kecil, itu terasa… aman.

Ayah tirinya memperlakukannya dengan baik. Terlalu baik, bahkan. Ia sering memanggilnya dengan lembut, membelikan mainan, memuji kecerdasannya di depan orang lain. Saat mereka makan bersama, tangan pria itu kerap mengambilkan lauk lebih dulu untuknya.

“Ruoxue harus makan banyak,” katanya sambil tersenyum. “Anak pintar butuh tenaga.”

"Ruoxue, pakaianmu perlu diganti. Ayah sudah membelikanmu yang baru."

"Ruoxue, tadi ayah membelikanmu kalung giok."

Ibunya melihat itu dengan mata berkaca-kaca.

Dalam hatinya, ia berkata: Mungkin ini balasan atas semua penderitaan kami.

Hari-hari berlalu dengan tenang.

Rumah itu besar. Teratur. Tidak sehangat rumah lama, tapi cukup nyaman untuk disebut rumah. Ada aturan, ada batas, tapi juga ada perlindungan. Bai Ruoxue belajar cepat—ia selalu belajar cepat. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus tersenyum, kapan harus bicara seperlunya. Ia selalu berusaha untuk membanggakan ayahnya. Ia tahu, ayahnya akan sangat senang jika ia terus giat seperti ini. Semua pemberian ayah tirinya bisa ia balas dengan usaha dan kerja kerasnya. Ia sering belajar sampai larut malam demi menjadi anak yang semakin pintar dan pandai.

Dan untuk sementara, dunia tidak menamparnya.

Ia dimanja.

Dipakaikan baju bagus.

Dipuji di hadapan tamu.

Bahkan saudara tirinya—anak-anak dari pernikahan ayah tiri sebelumnya—masih bersikap biasa saja. Tidak ramah, tapi juga tidak kejam. Mereka terkadang memberi sesuatu kepadanya. Meskipun itu barang yang kecil. Tetapi bagi Bai Ruoxue, itu adalah barang yang sangat berharga. Ia selalu tersenyum riang saat menerimanya.

Seolah mereka semua sedang memainkan peran dalam satu sandiwara keluarga yang rapi.

Namun Bai Ruoxue tumbuh.

Dan seiring ia tumbuh, sesuatu mulai terasa… bergeser.

Awalnya kecil. Hampir tak terlihat.

Ayah tirinya tidak lagi menunggunya pulang belajar. Tidak lagi bertanya apakah ia sudah makan. Senyumnya masih ada, tapi tak lagi mencapai mata. Pujian berubah jadi anggukan singkat. Sentuhan di kepala menghilang.

“Anak perempuan tak perlu terlalu menonjol,” ucapnya suatu hari saat Bai Ruoxue dengan polos menunjukkan hasil belajarnya. “Cukup tahu batas.”

Ibunya tersenyum canggung, mencoba menengahi. “Dia hanya senang belajar.”

Namun Bai Ruoxue merasakan sesuatu yang dingin menyelinap ke dadanya.

Bukan karena kata-kata itu. Melainkan karena nada. Sejak hari itu, ia mulai menghitung. Berapa kali ayah tirinya memanggil namanya. Berapa kali ia diajak bicara. Berapa lama tatapan itu bertahan.

Dan angka-angka itu terus menurun.

Sementara itu, saudara tirinya mulai berubah.

Mereka bukan langsung kasar. Tidak bodoh. Mereka menunggu. Mengamati. Mengendus celah. Anak-anak seperti mereka tahu satu hal dengan naluri yang tajam: siapa yang sedang kehilangan perlindungan.

Komentar kecil mulai muncul.

“Kenapa kamu duduk di situ? Itu tempat kakak.”

“Baju itu bukan untukmu, kan? Ayah yang beli untuk kami.”

“Aneh ya, dulu Ayah sering sekali menyebut namamu.”

Nada mereka ringan. Hampir bercanda.

Tapi mata mereka tidak tertawa.

Pada awalnya, Bai Ruoxue mengira perasaan itu hanya salah paham.

Ia duduk lebih tegak saat ayah tirinya lewat. Menyapa lebih sopan. Belajar lebih rajin. Ia berpikir—jika ia cukup patuh, cukup pintar, cukup tidak merepotkan—maka perhatian itu akan kembali.

Ia masih percaya pada usaha.

Saat dipuji saudara tirinya dengan senyum miring, ia menanggapinya dengan tawa kecil. Saat didahulukan terakhir, ia berkata pada dirinya sendiri, tidak apa-apa. Saat makanan di mejanya berkurang, ia mengunyah lebih pelan agar terlihat kenyang.

Ia menyesuaikan diri. Terus menyesuaikan diri.

Namun ada malam-malam ketika ia berbaring menatap langit-langit kamar, bertanya dalam diam: Apa aku melakukan kesalahan tanpa sadar?

Ia mengulang hari-harinya di kepala. Mencari satu titik di mana ia mungkin terlalu bersuara. Terlalu terlihat. Terlalu berharap.

Dan yang paling menyakitkan bukan perubahan sikap ayah tirinya—melainkan kesadarannya bahwa perubahan itu disengaja.

Bai Ruoxue tidak mengadu.

Ia melihat ibunya yang semakin sering diam. Semakin sering lelah. Ia tahu ibunya sedang berusaha keras mempertahankan rumah ini. Maka ia memilih menelan semuanya sendiri.

Namun dunia tidak berhenti di situ.

Suatu hari, tanpa peringatan, ayah tirinya berkata di meja makan, “Mulai sekarang, Ruoxue tak perlu ikut jam belajar tambahan. Terlalu mahal.”

Ibunya terkejut. “Tapi—”

“Dia bukan anak yang akan masuk jalur penting,” potongnya dingin. “Kita harus realistis.”

Kata bukan itu menghantam telinga Bai Ruoxue.

Bukan siapa?

Bukan anaknya?

Bukan bagian keluarga?

Atau bukan layak?

Sejak saat itu, segalanya berubah lebih cepat.

Saudara tirinya tidak lagi menahan diri. Dorongan kecil di lorong. Buku yang disembunyikan. Makanan yang sengaja diambil lebih dulu. Dan ketika Bai Ruoxue menatap ayah tirinya—mencari perlindungan—ia hanya mendapat satu balasan:

“Jangan berlebihan.”

Kalimat itu menjadi palu terakhir. Ia mengerti. Bukan karena mereka benar. Melainkan karena ayah tirinya membiarkan.

Malam itu, Bai Ruoxue duduk sendirian di kamar. Lampu kecil menyala redup. Ia memeluk lututnya, menatap bayangan sendiri di lantai.

Ia mengingat masa ketika ia dimanja. Ketika namanya disebut dengan bangga. Ketika ia merasa dipilih.

Dan kini, ia mengerti satu hal yang terlalu dewasa untuk usianya: cinta bisa berubah…saat kau tak lagi menguntungkan.

Saat saudara tirinya mendorongnya di lorong dan berbisik,

“Jangan sok istimewa. Kau cuma anak bawaan.”

Bai Ruoxue tidak membalas. Bukan karena ia tidak bisa. Melainkan karena ia tiba-tiba mengerti: membela diri hanya akan mempercepat kejatuhannya.

Ia mulai memperhatikan arah tatapan ayah tirinya.

Tatapan yang dulu mencari—kini melewati.

Tatapan yang dulu berhenti—kini menghindar.

Dan pada hari ia memberanikan diri menatap balik, berharap setidaknya ada sisa empati, yang ia temukan hanyalah… perhitungan.

Seperti seseorang yang menilai barang:masih berguna atau tidak.

Di situlah sesuatu dalam diri Bai Ruoxue patah—bukan hancur, tapi berubah bentuk.

Ia berhenti ingin dipeluk. Berhenti ingin dipuji. Berhenti ingin dipilih. Ia belajar menyembunyikan rasa sakit di tempat yang paling aman: wajah biasa.

Saat saudara tirinya tertawa melihatnya dimarahi atas kesalahan kecil, ia menunduk.

Bukan karena malu. Tapi karena ia sedang menyimpan satu kesimpulan: jika aku tak disayang, maka aku tak boleh terlihat butuh disayang.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!