NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan...

Suara penjual sayur memecah keheningan pagi. Naina yang merasa stok bahan masakan sudah menipis di dalam kulkas memutuskan untuk berbelanja. Saat keluar rumah, seperti biasa sudah ramai ibu-ibu mengerumuni dan sibuk memilah-milah.

"Pagi, Ibu-ibu." Ucap Naina ramah saat tiba disana.

"Eh, Pagi, Mbak." Jawab ibu-ibu bergantian.

"Mau masak apa?" Tanya bu Salma basa-basi.

"Yang simpel-simpel aja, Bu. Maklum cuma berdua jadi masaknya tidak banyak."

"Sok atuh, tambah personil." Canda bu Ita.

"Belum ngisi kah, Mbak?" Tanya bu Vina, Ibu-ibu yang dandanannya paling mencolok diantara ibu-ibu yang lain.

"Belum, Bu." Jawab Naina di sertai senyuman kecil.

"Walah... Saya dulu satu bulan nikah langsung isi."

Mendengar ucapan bu Vina Naina hanya bisa tersenyum. Seolah mengerti dengan apa yang di rasakan Naina, bu Salma lantas mencubit kecil tangan bu Vina. "Haduh! Gak usah banding-bandingkan atuh, bu Vina. Setiap orang kan berbeda-beda."

"Apasih, kan saya cuma kasih tau!" Balas bu Vina seolah tidak mau disalahkan.

"Iya, ih! Kita do'akan saja semoga Mbak Naina segera diberi momongan." Sambung bu Ita.

"Sudah ibu-ibu. Aku tidak apa-apa. Terimakasih juga doanya." Naina menengahi obrolan ibu-ibu itu.

Setelah membayar belanjaan, Naina segera berlalu. Begitu juga bu Salma yang juga hendak pulang ke rumah.

"Sabar ya, Mbak. Bu Vina itu emang suka ceplas-ceplos orangnya." Ucap bu Salma sebelum masuk ke rumahnya.

"Tidak apa-apa, Bu."

"Yo, mari. Ibu masuk rumah dulu."

Naina mengangguk disertai senyuman, kemudian ia pun masuk ke dalam rumah.

"Bagaimana mau hamil? Hingga hari ini aku dan mas Dimas sama sekali belum pernah melakukannya." Naina mendengus, kesedihan terpampang jelas di wajahnya.

***

Naina yang baru saja hendak menutup pagar, berhenti sejenak. Matanya memperhatikan seorang anak kecil, perempuan sedang berada di halaman rumahnya. Gadis kecil yang berusia sekitar lima tahunan itu sedang duduk di depan tanaman bunga mawar yang disana terdapat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap.

Naina lantas menghampiri.

"Hai..." Sapa Naina yang ikut duduk jongkok di sebelah gadis kecil itu.

Sontak gadis kecil itu terperanjat. Lantas ia pun melihat sekeliling yang menurutnya tampak asing. "Astaga! Sorry, Tante." Ucapnya, berdiri kemudian membungkukkan badannya di depan Naina.

Naina tersenyum. "Tidak apa-apa, kok."

"Tadi aku ngikutin kupu-kupu itu, eh gak sengaja masuk ke halaman rumah Tante." Ucapnya panjang lebar menjelaskan. Walau masih kecil, kemampuan bicaranya cukup bagus, semua kata-katanya terdengar jelas.

"Nama kamu siapa? Kamu cantik sekali." Balas Naina dengan mata berbinar menatap gadis kecil itu. Hidungnya mancung, serta rambutnya yang hitam kecoklatan dan lebat terurai, yang kini berada di hadapan Naina.

Belum sempat gadis kecil itu menjawab, seorang wanita paruh baya berteriak memanggil-manggil, dengan raut wajah seperti sedang panik.

"Kimmy! Kamu dimana, Nak?!"

"Kimmy!"

Gadis kecil yang bernama Kimmy itu lantas menghampiri sumber suara. "Permisi ya, Tante. Oma ku memanggil." Ucapnya terburu-buru sembari berlari meninggalkan halaman rumah Naina.

Naina mengikuti, dan memperhatikan dari kejauhan.

"Kamu kemana aja, Sayang? Oma nyariin dari tadi." Ucap wanita paruh baya itu sembari memeluk dan mengelus rambut cucunya.

"Aku cuma jalan-jalan, Oma. Aku gak pergi jauh."

"Kenapa tidak bilang dulu sama Oma?"

"Udah bilang, Oma aja gak denger."

"Iyakah?"

"Iyaaaa."

"Yaudah, ayo pulang. Sebentar lagi Mama kamu datang menjemput."

Sebelum berlalu, Kimmy melihat ke arah Naina yang masih memperhatikan. Kimmy melambaikan tangan pada Naina sembari tersenyum yang juga di balas Naina dengan lambaian tangan dan juga senyuman.

"Melihat anak kecil, seketika pengen punya anak." Ucap Naina dengan mata sayu penuh harap sembari mengelus perutnya.

"Aduh! Apalah aku ini?" Ucap Naina geleng-geleng kepala. Ia pun masuk kerumah membawa semua belanjaan yang sudah ia beli.

***

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Sejak kejadian Naina yang mengutarakan isi hatinya, Dimas tidak pernah lagi pulang malam. Walau komunikasi mereka belum terlalu intens, tapi setidaknya sekarang Dimas sudah meluangkan banyak waktu untuk berada di rumah.

"Assalamu'alaikum Nai, aku pulang." Ucap Dimas sembari mengetuk pintu. Karena tidak mendapat jawaban, pria itu lantas membuka pintu yang memang tidak terkunci.

Saat masuk kedalam, suasana sangat hening membuat Dimas sedikit kebingungan. Ia meletakkan tas kerjanya, kemudian berjalan ke dapur untuk memastikan keberadaan Naina.

Setelah sampai di dapur, gadis itu tak kunjung ia lihat. Hal ini membuat Dimas semakin bingung bercampur khawatir. Hingga akhirnya, ia menemukan Naina yang sedang sibuk di teras belakang rumah. Gadis itu terlihat basah kuyup.

"M--mas?" Ucap Naina gugup saat Dimas berasa di depannya.

"Kamu ngapain di sini?"

"Aku sedang mencuci baju. Hari ini agak kesorean nyucinya. Karena tadi aku ketiduran." Jawab Naina santai. Dimas memperhatikan, baju-baju yang berada di dalam baskom serta beberapa ember yang berisi air.

"Kenapa kamu tidak menggunakan mesin cuci?"

"Mesin... cuci?" Kali ini Naina yang kebingungan.

"Iya. Kenapa harus capek-capek mencuci di sini?"

" Aduh, maaf, Mas. Aku tidak mengerti menggunakan benda itu."

"Jadi selama ini kamu mencuci disini?"

"Iya,"

Dimas geleng-geleng kepala.

"Ganti dulu baju mu. Nanti aku ajarkan."

Naina mengangguk, kemudian ia berjalan melewati Dimas. Seperti adegan film, gadis itu malah terpleset.

Slwomo...

Hap!

Dengan sigap, Dimas menangkap tubuh Naina. Naina yang panik akan terjatuh, dengan erat ia menggantungkan tangannya di pundak Dimas.

Mereka terdiam beberapa saat dengan mata yang saling bertatap.

Naina segera melepaskan pegangan tangannya. Ia lantas tertunduk, "maaf, Mas." Ucapnya kemudian berlalu dengan terburu-buru kerena tidak ingin Dimas melihat wajahnya yang merah merona.

Dimas hanya diam mematung. Ia hanya memperhatikan langkah Naina yang menjauh. Adegan tadi, dan tubuh Naina yang basah membuat nya sedikit merasa panas di wajah dan juga di dada.

****

Naina datang, tentu dengan pakaian yang baru. Begitu juga Dimas yang sudah mengganti seragam kerjanya dengan kaos hitam polos serta celana pendek yang senada warnanya.

Kini mereka berdua berdiri di depan mesin cuci.

Dimas mengangkat semua baju-baju yang sebelumnya berada di teras belakang, dan memasukkan semua baju-baju itu kedalam mesin cuci. Naina diam memperhatikan.

"Masukan aja semuanya lalu tutup." Ucap Dimas yang dibalas Naina dengan anggukan.

"Kemudian kamu putar tombol ini, dan diamkan saja." Ucap Dimas sembari menunjuk tombol yang bertuliskan 'Putar'.

Lagi-lagi Naina mengangguk.

"Lalu, beres!" Ucap Dimas lagi yang membuat Naina kebingungan.

"Bilasnya?"

"Mesinnya sudah otomatis. Kamu gak perlu cuci bilas. Kamu tinggal duduk manis. Biar mesin itu yang melakukan. Nanti, kalo udah beres kamu tinggal jemur."

"Semudah itu?" Naina masih terbelalak.

"Ya."

"Astaga! Mesin ini mengajarkan kita menjadi malas." Ucap Naina yang membuat Dimas memijat kening.

"Bukan malas. Tapi lebih praktis. Kita bisa melakukan hal lain. Bukankah ini bagus. Teknologi semakin maju mengikuti perkembangan jaman. Kehidupan di kota serba cepat, jadi kita pun harus mengimbangi."

"Ini pasti harganya sangat mahal. Benda ajaib." Ucap Naina, Dimas tersenyum mendengarnya.

"Di desaku tidak ada yang seperti ini. Kami beramai-ramai mencuci di sungai. Walau capek, tapi seru bisa berbagi cerita serta tertawa bersama."

"Sekarang kamu disini. Disini mana ada sungai."

"Iya, ya, Mas. Di rumah ini banyak benda ajaib yang aku masih belum mengerti cara menggunakannya."

"Maafin aku juga gak inisiatif ngajarin kamu. Karena aku pikir kamu tau."

Naina terkekeh. "Aku cuma gadis desa, Mas. Benda-benda seperti ini tidak pernah aku lihat sebelumnya."

"Yasudah hari ini kita les menggunakan alat-alat yang kamu belum tau cara menggunakannya. Mau?" Tanya Dimas yang di sambut sangat antusias oleh Naina. "Mau banget, Mas!"

Dimas terseyum. "Gadis ini benar-benar polos!" Batinnya.

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!