Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kejutan di Ujung Malam
Malam itu, kediaman keluarga Dallas awalnya tampak tenang di bawah temaram lampu jalanan. Di ruang tengah, Dallas dan Syafana tengah menikmati teh hangat sambil sesekali mengobrol ringan dengan Sakala dan Lavanya, yang kebetulan malam ini anak dan menantunya menginap di rumah Dallas.
Namun, ketenangan itu pecah seketika saat deru beberapa mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka. Cahaya lampu mobil yang terang benderang menyapu kaca jendela, membuat seisi rumah saling berpandangan penuh tanya.
"Tamu siapa jam segini?" gumam Dallas sambil bangkit dari duduknya.
Sakala segera mengintip dari balik tirai. Matanya membelalak. "Pa, Ma... ini bukan cuma satu mobil. Ini rombongan! Dan sepertinya itu... keluarga Om Erkana."
Belum sempat Dallas menjawab, suara ketukan pintu terdengar. Saat pintu dibuka, Dallas benar-benar terpaku. Di hadapannya berdiri Erkana, Zahira, Arkala, Syapala, hingga Ernita dan suaminya. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Lettu Erlaga dengan kemeja batiknya yang sangat gagah, membawa sebuah kotak beludru merah di tangannya.
Senyum tipis sang perwira seolah menyiratkan bahwa "Operasi Senyap" yang ia rencanakan sedang berjalan menuju kemenangan.
"Erkana? Zahira?" Dallas bersuara dengan nada yang masih tidak percaya. "Ada apa ini? Kenapa membawa rombongan lengkap malam-malam begini?"
Erkana terkekeh, menepuk bahu sahabat lamanya itu. "Maafkan kami, Als. Laga, tiba-tiba memberikan perintah 'tempur'. Katanya kalau tidak diantar malam ini, dia tidak bisa tidur tenang."
Syafana yang melihat hantaran-hantaran cantik di tangan keluarga Erkana langsung menutup mulutnya. Jantungnya berdesir hebat. Sebagai seorang ibu, ia tahu persis apa arti semua ini. Tanpa menunggu komando, Syafana segera berlari kecil menuju lantai dua, menaiki anak tangga dengan terburu-buru hingga napasnya sedikit tersengal.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Syafina baru saja hendak merebahkan tubuhnya. Ia sudah mengenakan baju tidur satin berwarna biru muda, wajahnya polos tanpa riasan, dan ia sedang asyik memikirkan kenapa pesan singkatnya pada Erlaga sejak sore tadi hanya dibalas seadanya.
Tok tok tok!
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Syafana muncul dengan wajah yang memerah karena antusias sekaligus panik.
"Syafina! Bangun, Kak! Cepat ganti baju!" seru Syafana setengah berbisik namun dengan nada mendesak.
Syafina melonjak kaget, ia terduduk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama panik begitu? Ada kebakaran?"
"Bukan kebakaran, Sayang! Ada keluarga Erlaga di bawah! Ada Papa Mama Erlaga, kakak-kakaknya, semua ada! Mereka bawa hantaran!"
Syafina seolah tersambar petir di siang bolong. Kepalanya mendadak kosong. "Hah? Keluarga Kak Laga? Bawa hantaran? Tapi... tapi Kak Laga nggak bilang apa-apa, Ma!"
"Itulah sebabnya disebut kejutan! Cepat, jangan bengong saja! Ganti baju tidurmu, pakai gamis yang paling cantik. Mama bantu kamu dandan sedikit. Cepat, Nak, mereka sudah menunggu di bawah!"
Syafina benar-benar kalang kabut. Ia turun dari tempat tidur dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Pikirannya melayang pada percakapan mereka beberapa hari lalu di depan rumah makan. "Jadi ini jawabannya?" batin Syafina. Ia merasa jantungnya berdegup kencang, antara bahagia, tidak percaya, dan kesal karena Erlaga benar-benar tidak memberinya waktu untuk bersiap.
Dengan tangan gemetar, Syafina memilih gamis berwarna pastel dengan aksen renda yang sangat manis. Syafana dengan telaten memulas sedikit bedak dan lip cream berwarna peach ke bibir putrinya yang pucat karena syok.
"Ayo, Kak. Kamu cantik sekali. Jangan gemetar begitu, tarik napas dalam-dalam," bisik Syafana sambil menuntun Syafina keluar kamar.
Di ruang tamu, suasana sudah berubah menjadi sangat sakral. Dallas yang sudah berganti pakaian lebih rapi kini duduk berhadapan dengan Erkana. Erlaga duduk tegap di sisi ayahnya, matanya tidak lepas menatap ke arah tangga, menantikan kemunculan sang pujaan hati.
Begitu Syafina muncul di puncak tangga, suasana mendadak hening. Erlaga sempat menahan napas. Ia melihat Syafina berjalan perlahan dengan kepala menunduk, tampak sangat anggun meski raut wajahnya masih memperlihatkan sisa-sisa keterkejutan.
Syafina menghampiri ruang tamu lalj duduk di samping Mamanya, ia meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin.
Erkana berdehem, membuka pembicaraan yang paling ditunggu. "Dallas, sahabatku. Kedatangan kami malam ini mungkin sangat mendadak dan tidak sopan karena tanpa kabar. Namun, putra kami, Erlaga, sudah tidak bisa lagi menunda niat baiknya. Ia ingin meminta izin darimu, juga dari Syafana."
Erlaga kemudian memperbaiki posisi duduknya. Ia menatap Dallas dengan sorot mata seorang prajurit yang penuh tekad, lalu beralih menatap Syafina yang masih tertunduk.
"Om Dallas, Tante Syafana." Suara Erlaga terdengar yakin memenuhi ruangan. "Sejak kepulangan saya dari Sudan, satu hal yang paling saya inginkan adalah memberikan kepastian pada seorang gadis. Saya menyadari, status 'kekasih' yang saya tawarkan beberapa hari lalu tidak sebanding dengan kehormatan Syafina sebagai wanita yang sangat menjaga dirinya. Saya tidak ingin hubungan kami berada di zona yang tidak jelas."
Erlaga menarik napas panjang, ia membuka kotak beludru di tangannya, memperlihatkan sebuah cincin berlian yang jauh lebih indah dari yang ia berikan sebelumnya.
"Malam ini, di hadapan keluarga besar saya dan keluarga Om Dallas, saya, Erlaga Patikelana, memohon izin untuk melamar Syafina menjadi istri saya. Saya ingin membangun masa depan bersama Syafina dalam ikatan yang halal. Apakah Om Dallas mengizinkan saya?"
Suasana menjadi sangat sunyi. Syafina merasa oksigen di sekitarnya seolah menghilang. Ia menoleh ke arah sang Papa. Dallas terdiam sejenak, ia melirik Sakala yang mengangguk mantap, lalu beralih ke Syafana yang sudah berkaca-kaca.
"Syafina," panggil Dallas lembut. "Kamu dengar sendiri apa yang disampaikan Erlaga. Dia datang bukan untuk bermain-main. Dia datang untuk meminta hidupmu. Keputusan ada di tanganmu, Nak. Apakah kamu menerima lamaran dari perwira ini?"
Syafina perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Erlaga. Di mata pria itu, ia melihat kejujuran yang luar biasa, kejujuran yang pernah ia tunggu selama setahun dalam kesunyian. Rasa bingung dan kalang kabutnya tadi perlahan berubah menjadi rasa haru yang luar biasa.
"Bismillah...." Suara Syafina bergetar. "Atas izin Papa dan Mama, Syafina menerima niat baik Kak Laga."
Semua yang ada di sana hening sejenak, bahkan ada sebagian yang saling tatap tidak percaya. Namun, keheningan itu kembali mencair.
"Alhamdulillah!" seru semua yang ada di ruangan itu serempak.
Zahira dan Syapala langsung bangkit dan memeluk Syafina bergantian. Syapala membisikkan sesuatu di telinga Syafina. "Selamat ya, Adik ipar. Kamu luar biasa bisa membuat tentara kaku ini bertekuk lutut."
Erlaga menghembuskan napas panjang, seolah seluruh beban di pundaknya luruh seketika. Ia menatap Syafina dengan senyum kemenangan. "Operasi Senyap" ini adalah operasi tersukses yang pernah ia jalankan seumur hidupnya.
Malam itu, di kediaman Dallas, sebuah kesepakatan besar tercapai. Tanggal pernikahan mulai dibicarakan secara serius. Syafina menatap cincin baru yang kini terpasang di jari manisnya, menggantikan cincin pemberian Erlaga sebelumnya. Ia menyadari satu hal, ketika seorang wanita menjaga kehormatannya, Allah akan mengirimkan pria yang sanggup memberikan bukti, bukan sekedar janji. Dan pria itu adalah Lettu Erlaga, yang kini sah menjadi calon imamnya.
Lanjut gak nih? Besok aja ya, mau mikir lagi gimana alur bab 21. 🤦♀️🤦♀️