Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mansion
Malam itu, hujan turun semakin deras, menyamarkan suara-suara di dalam Mansion Gou Tun yang sunyi. Chen Song tidak lagi berpura-pura menjadi menantu yang lemah. Aura predatornya keluar sepenuhnya, menguasai setiap sudut ruangan.
Minghua mencoba mengunci diri di kamar utamanya, namun ia lupa bahwa di depan Mata Dewa Chen Song, tidak ada pintu yang benar-benar tertutup. Menggunakan aliran Qi yang halus, Chen Song memanipulasi mekanisme kunci dari luar tanpa suara.
Saat Minghua sedang duduk gemetar di tepi ranjang, pintu terbuka perlahan. Chen Song berdiri di sana dengan tatapan yang sangat dalam dan binal.
Chen Song "Ibu Mertua, kenapa kau begitu takut? Bukankah Tun Zhang sudah memberikan izinnya padaku untuk 'menjagamu' dengan baik selama dia tidak ada?"
Minghua mencoba melawan, namun setiap kali ia ingin berteriak, Chen Song menekan titik meridian di lehernya dengan cepat, membuat suaranya hilang seketika. Minghua hanya bisa megap-megap, matanya membelalak ketakutan saat Chen Song mendekat.
Chen Song "Ingat David? Ingat Ayahmu? Nyawa mereka ada di ujung jariku. Jika kau melayaniku dengan baik malam ini, mungkin aku akan membiarkan mereka hidup sedikit lebih lama. Tapi jika kau menolak... aku bisa membuat mereka menderita dari jarak jauh sekarang juga."
Minghua Zhang, yang selama ini dikenal sebagai wanita paling angkuh di klan Zhang, akhirnya hancur. Rasa takut akan kematian keluarganya dan dominasi energi Qi yang dilepaskan Chen Song membuat pertahanannya runtuh.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang mewah, martabat Minghua sebagai ibu mertua ternoda sepenuhnya oleh menantu yang selama ini ia injak-injak. Chen Song menggunakan kesempatan ini bukan hanya untuk kepuasan, tetapi untuk menanamkan segel energi di tubuh Minghua agar ia menjadi "budak" yang patuh selamanya.
Keesokan paginya, Minghua terbangun dengan perasaan hancur. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Namun, yang aneh adalah tubuhnya terasa jauh lebih segar dan muda karena energi Qi yang ditinggalkan Chen Song di dalam tubuhnya.
Chen Song sudah berpakaian rapi, duduk di kursi rias Minghua sambil memutar-mutar cincin giok milik Tun Zhang.
Chen Song "Bagaimana rasanya, Minghua? Sekarang kau bukan lagi nyonya besar yang bisa memerintahku. Kau adalah milikku. Siapkan sarapan untukku."
Minghua hanya bisa mengangguk pelan, air matanya jatuh tanpa suara. Ia telah terjebak dalam sangkar emas yang dibuat oleh menantunya sendiri.
Satu pekan berlalu dengan sangat cepat bagi Luna Zhang. Di kawasan industri Gou Cheng City, ia tenggelam dalam tumpukan berkas dan rapat maraton bersama para peneliti Curek Biologi. Berkat saran "ajaib" Chen Song mengenai formula akar rumput ungu, perusahaan itu kini bangkit dari ambang kehancuran.
Luna merasa sangat bangga dan ambisius. Di pikirannya, ia bekerja keras untuk mengangkat martabat keluarganya dan membuktikan pada Kakek Tibet bahwa ia layak menjadi pewaris tunggal. Namun, ia benar-benar buta terhadap kenyataan bahwa "rumahnya" telah berubah menjadi sarang naga.
Setiap kali Luna menelepon ke rumah, suasananya selalu tampak normal—sebuah normalitas yang telah dirancang dengan sempurna oleh Chen Song.
Saat Luna menelepon ibunya, Minghua akan menjawab dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap terkendali.
Luna: "Ma, bagaimana keadaan di rumah? Ayah belum pulang dari Jiangnan?"
Minghua: (Sambil melirik Chen Song yang sedang duduk santai di depannya) "I-iya, Luna. Ayahmu bilang urusannya di Jiangnan sedikit rumit. Chen Song... dia sedang bekerja di Puri Utama. Jangan khawatirkan kami, fokuslah pada kontrakmu."
Luna tidak tahu bahwa saat Minghua berbicara, tangan Chen Song mungkin sedang berada di pundaknya, memberikan tekanan yang mengingatkan Minghua pada posisinya sebagai "pelayan" rahasia.
Setiap kali Luna pulang sebentar untuk mengambil pakaian atau dokumen, ia merasa Mansion Gou Tun terasa lebih "hangat" dan segar. Tanaman di taman tumbuh subur secara misterius. Ia mengira itu hanya efek dari suasana hatinya yang membaik karena kesuksesan bisnis.
Padahal, itu adalah efek dari Cawan Penelan Langit yang disembunyikan Chen Song di tengah mansion, yang terus-menerus memurnikan energi Qi di sana.
Di depan Luna, Chen Song tetaplah "Chen Song yang membosankan". Ia tetap menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, dan tidak banyak bicara. Luna bahkan sempat berpikir untuk memberi Chen Song hadiah atau uang saku lebih karena "keberuntungannya" membantu formula obat tempo hari.
Luna dalam hati "Chen Song memang sampah yang tidak punya ambisi, tapi setidaknya dia penurut. Setelah kontrak ini selesai, mungkin aku akan membelikannya mobil baru."
Namun, ada beberapa hal kecil yang mulai mengusik logika Luna, meski ia terlalu sibuk untuk memikirkannya lebih dalam
Kesehatan Minghua Ibunya tampak sepuluh tahun lebih muda, kulitnya bercahaya, namun matanya selalu tampak gelisah dan ia selalu menghindari kontak mata dengan Chen Song.
Telepon Ayah Tun Zhang hampir tidak pernah bisa dihubungi, dan jika bisa, ia terdengar ketakutan seolah sedang diburu hantu.
Perhiasan Minghua Beberapa kalung giok mahal milik ibunya kini sering terlihat tergeletak di kamar Chen Song, yang menurut Minghua "hanya dipinjamkan untuk dibersihkan".
Malam ini, Luna memutuskan untuk memberikan kejutan dengan pulang lebih awal tanpa memberi tahu siapa pun. Ia ingin merayakan kesuksesan kontrak barunya dengan makan malam keluarga.
Kesuksesan besar Luna di Curek Biologi Industry membuat namanya harum di seluruh Gou Cheng City. Saham keluarga Zhang melonjak, dan Tibet Zhang memberikan pujian setinggi langit. Namun, karena Luna harus menghadiri perjamuan bisnis larut malam di luar kota, ia tidak bisa pulang untuk merayakannya.
Di Mansion Gou Tun yang sunyi, Minghua Zhang menyiapkan perjamuan pribadi—namun bukan untuk suaminya yang "hilang", melainkan atas perintah tuannya yang baru: Chen Song.
Minghua, yang kini sudah benar-benar "dijinakkan" oleh energi Qi dan intimidasi Chen Song, mengenakan gaun sutra terbaiknya. Ia memasak hidangan mewah dan menata meja makan dengan tangan gemetar. Di kepala meja, Chen Song duduk dengan angkuh, menyesap wine mahal yang dulu hanya boleh disentuh oleh Tun Zhang.
Chen Song "Ibu Mertua, lihatlah betapa hebatnya istrimu... maksudku, putri kesayanganmu. Berkat setetes pengetahuanku, dia sekarang menjadi ratu bisnis. Bukankah kita harus merayakannya dengan sangat... intim?"
Minghua tidak punya pilihan selain mengikuti permainan. Ia menuangkan wine ke gelas Chen Song, lalu dengan patuh berdiri di sampingnya.
Minghua (Suara parau) "Semua ini... berkat kau, Chen Song. Aku sudah melakukan semua yang kau minta. Tolong, jangan sakiti Luna jika dia pulang nanti."
Chen Song tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia menarik tangan Minghua, memaksanya duduk di pangkuannya di kursi utama tempat biasanya Tun Zhang duduk.
Chen Song"Luna adalah asetku yang paling berharga. Selama kau patuh, dia akan tetap menjadi 'Ratu' di mata dunia. Tapi di rumah ini... kau tahu siapa penguasa yang sebenarnya."
Menggunakan Cawan Penelan Langit yang ia letakkan di atas meja, Chen Song mengeluarkan setetes cairan energi berwarna hijau zamrud. Ia menyentuh bibir Minghua dengan jari-jarinya, memberikan cairan itu.
Seketika, Minghua merasakan gelombang panas yang nikmat sekaligus menyiksa menjalar ke seluruh tubuhnya. Kulitnya yang sudah cantik menjadi semakin kencang, auranya menjadi sangat memikat. Chen Song sengaja memberikan "kecantikan abadi" ini agar Minghua semakin terikat dan tidak bisa lepas darinya secara batin maupun fisik.
Di tengah "perayaan" binal tersebut, terdengar suara gerbang mansion terbuka. Luna Zhang ternyata pulang lebih awal karena perjamuannya selesai lebih cepat. Ia ingin memberikan kejutan pada ibunya dan berbagi kebahagiaan.
Minghua panik, ia mencoba berdiri dan merapikan gaunnya yang sudah berantakan.
Chen Song tetap tenang, ia justru sengaja meninggalkan jejak (seperti aroma parfum Minghua di bajunya atau gelas wine yang berjejer dua).
Chen Song dengan cepat berpura-pura sedang memijat kaki Minghua yang "terkilir", membuat alasan bahwa ibunya cedera saat menyiapkan pesta untuk Luna.
Luna masuk dan melihat wajah ibunya yang memerah dan berkeringat. Meski Minghua mencoba tersenyum, Luna merasakan ada aura "aneh" antara ibu dan suaminya.
Chen Song sengaja tidak mengganti posisinya, membiarkan Luna melihat kedekatan yang tidak wajar itu untuk menguji mental istrinya.
Luna Zhang, yang kelelahan setelah maraton rapat di kawasan industri, tidak menaruh curiga sedikit pun. Baginya, wajah ibunya yang memerah hanyalah efek dari wine atau rasa bangga yang meluap-luap.
"Ma, Chen Song... aku benar-benar lemas. Besok pagi aku harus presentasi di depan dewan komisaris besar. Aku tidur duluan ya," ucap Luna sambil mencium pipi ibunya dan memberikan tepukan ringan di bahu Chen Song. "Tolong bereskan sisanya, Chen Song."
Begitu suara pintu kamar Luna di lantai atas tertutup dan lampu lorong meredup, suasana di ruang makan berubah drastis. Kehangatan keluarga yang pura-pura itu menguap, digantikan oleh ketegangan binal yang menyesakkan.
Chen Song menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati yang besar. Ia tidak lagi bergerak seperti "pelayan". Dengan jentikan jari, ia mengaktifkan sedikit energi Qi untuk meredupkan lampu ruangan, menyisakan cahaya remang yang menggoda.
"Dia sudah tidur, Minghua," bisik Chen Song dengan nada suara yang rendah namun penuh otoritas. "Sekarang, lanjutkan pelayananmu yang tertunda."
Minghua mencoba berdiri untuk melarikan diri ke kamarnya, namun Chen Song menggunakan Cawan Penelan Langit yang tergeletak di meja. Cawan itu memancarkan daya tarik magnetis yang membuat kaki Minghua terasa berat dan lemas.
"Aku merasa kau masih memiliki banyak energi negatif dari rasa cemasmu terhadap Tun Zhang," ucap Chen Song sambil berdiri dan berjalan perlahan memutari kursi Minghua. "Sebagai menantu yang baik, aku akan membantumu 'membersihkan' jalur meridianmu malam ini."
Chen Song meletakkan tangannya di leher Minghua, merasakan detak jantung ibu mertuanya yang berdegup kencang seperti drum perang. Dengan Mata Dewa, ia bisa melihat titik-titik sensitif di tubuh Minghua yang bereaksi terhadap keberadaannya.
Malam itu, di bawah atap yang sama dengan istrinya yang sedang terlelap, Chen Song menunjukkan betapa binalnya kekuatan seorang kultivator. Ia tidak hanya merusak martabat Minghua, tetapi juga secara sistematis menghapus setiap sisa kesetiaan Minghua terhadap suaminya, Tun Zhang. Minghua menyadari bahwa meskipun secara status dia adalah ibu mertua, secara realita, dia hanyalah mainan di tangan naga yang sedang bangkit.
Pagi harinya, Luna turun ke bawah dengan semangat baru, siap untuk rapat besarnya. Ia menemukan sarapan sudah tersedia di meja. Ia melihat Chen Song sedang menyapu lantai dengan patuh, dan ibunya, Minghua, sedang menyiapkan teh dengan gerakan yang sangat anggun—meskipun sedikit kaku.
"Ma, kau tampak sangat cantik pagi ini. Seperti sedang jatuh cinta lagi," canda Luna sambil meminum kopinya.
Minghua hanya bisa tersenyum getir, tangannya gemetar saat menuangkan air panas. Ia melirik Chen Song yang memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan di balik punggung Luna.