Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEMO ATAU MATI
Sabtu pagi, kantor LokalMart sudah ramai sejak jam tujuh.
Rajendra datang paling pagi, membawa plastik berisi roti tawar dan selai kacang dari warung depan kos. Bukan sarapan mewah, tapi cukup untuk empat orang yang akan marathon testing seharian.
Arief datang jam tujuh lewat sepuluh menit, rambut masih basah, tas ransel di punggung penuh dengan kabel dan charger cadangan.
"Gue udah siapin test case semalam," katanya sambil membuka laptop. "Ada 47 scenario yang harus kita test. Kalau semua pass, platform siap demo."
Rian datang sepuluh menit kemudian, membawa laptop dan segelas kopi dingin dalam botol plastik bekas.
"Maaf telat. Macet."
"Gak papa. Dina belum datang juga."
Mereka menunggu lima belas menit lagi. Dina akhirnya muncul dengan napas terengah, rambut diikat asal, wajah sedikit pucat.
"Sorry. Bangun kesiangan."
"Lu oke?" tanya Rajendra sambil menatapnya.
"Oke. Cuma kurang tidur. Semalam finalisasi konten buat demo."
Dia duduk di mejanya, membuka laptop, menunjukkan layar ke Rajendra.
Ada slide presentation yang lebih rapi dari versi kemarin. Ada video demo singkat yang dia buat sendiri dengan screen recording. Ada mockup design untuk fitur-fitur yang belum dibangun tapi akan jadi roadmap.
"Bagus," komentar Rajendra. "Ini exactly yang gue butuhin."
Dina tersenyum tipis, tapi matanya tetap terlihat lelah.
"Oke. Sekarang kita mulai testing?" tanya Arief sambil crack jari-jarinya.
"Mulai."
Mereka bekerja selama empat jam tanpa henti.
Arief dan Rian duduk berdampingan, menjalankan test case satu per satu. Upload produk. Edit produk. Hapus produk. Tambah ke cart. Checkout. Pilih metode pembayaran. Konfirmasi order. Generate tracking number.
Setiap kali ada bug, mereka catat di spreadsheet. Setiap kali ada error, mereka screenshot dan simpan.
Dina testing dari sisi user experience. Dia pura-pura jadi seller baru yang belum pernah pakai platform, mencoba upload produk tanpa baca manual. Dia pura-pura jadi buyer yang bingung cara checkout.
"Ini button-nya kurang jelas," komentarnya sambil pointing ke layar. "Orang awam gak akan ngerti kalau harus klik sini dulu baru bisa lanjut."
Arief catat. "Oke. Gue tambahin tooltip atau ganti label button-nya."
Rajendra testing dari sisi bisnis logic. Dia coba berbagai edge case. Apa yang terjadi kalau seller upload produk dengan harga nol? Apa yang terjadi kalau buyer order tapi stok habis? Apa yang terjadi kalau tracking number salah generate?
Setiap masalah dicatat. Setiap bug diprioritaskan.
Jam dua belas siang, mereka berhenti sebentar untuk makan.
Rajendra pesan nasi goreng dari warung sebelah, empat porsi, pakai uang receh terakhir di dompetnya.
Mereka makan di lantai, laptop masih terbuka di sekeliling, bicara sambil ngunyah.
"Berapa bug yang udah ketemu?" tanya Rajendra.
Rian membuka spreadsheet di laptopnya. "23 bug. 5 critical, 10 medium, 8 minor."
"Bisa fix semua sebelum Senin?"
Arief berpikir sebentar. "Critical pasti bisa. Medium kita usahain. Minor bisa skip dulu, gak ganggu demo."
"Oke. Prioritas critical."
Mereka lanjut kerja setelah makan.
Arief dan Rian coding, fixing bug satu per satu. Dina testing ulang setiap bug yang sudah difix, memastikan tidak muncul bug baru.
Rajendra duduk di pojok ruangan, membuka laptop, menulis script untuk demo Senin. Apa yang harus dia bilang pertama kali? Bagaimana cara showcase fitur tanpa terlihat technical? Bagaimana cara handle kalau Richard tanya pertanyaan yang sulit?
Dia menulis. Hapus. Tulis lagi. Hapus lagi.
Sampai akhirnya dapat formula yang pas.
Script demo dibagi tiga bagian: problem, solution, traction.
Problem: e-commerce di Indonesia masih rendah karena trust issue.
Solution: LokalMart solve dengan COD, tracking real-time, quality control.
Traction: sudah ada tiga seller onboard, platform ready, target launch publik Agustus.
Simple. Jelas. Fokus.
Jam lima sore, Arief meregangkan tangan ke atas, menguap lebar.
"Critical bug sudah fix semua. Medium tinggal empat. Minor kita skip."
"Testing ulang?" tanya Rajendra.
"Harus. Biar yakin gak ada regression bug."
Mereka testing lagi. Kali ini lebih cepat karena sudah tahu flow-nya.
Upload produk. Lancar.
Checkout. Lancar.
Payment confirmation. Lancar.
Tracking number generate. Lancar.
Jam tujuh malam, Rian menutup laptopnya.
"Done. Semua critical dan medium sudah fix. Platform siap demo."
Rajendra menghela napas panjang, pertama kalinya sejak pagi.
"Bagus. Besok Minggu kita libur. Senin jam dua, Richard datang. Kita harus ready."
Arief dan Rian mengangguk. Dina hanya tersenyum tipis, matanya masih terlihat lelah.
"Lu pulang duluan, Din," kata Rajendra. "Lu keliatan capek banget."
"Gue oke."
"Gak. Lu pulang sekarang. Besok istirahat. Senin gue butuh lu fresh, bukan setengah mati."
Dina menatapnya, seperti mau protes, tapi akhirnya mengangguk.
"Oke. Thanks."
Dia packing laptopnya, memasukkan ke tas, lalu berdiri. Tapi begitu berdiri, tubuhnya sempat goyah sedikit.
Rajendra langsung berdiri, menahan bahunya.
"Lu yakin oke?"
"Iya. Cuma pusing dikit. Kurang tidur aja."
"Naik taksi pulang. Jangan naik bus."
"Gue gak punya duit buat taksi."
Rajendra meraih dompetnya, mengeluarkan uang lima puluh ribu terakhir.
"Ini. Naik taksi. Jangan keras kepala."
Dina menatap uang itu, lalu menatap Rajendra.
"Lu yakin? Ini uang terakhir lu kan?"
"Gue yakin. Pulang sekarang."
Dina menerima uang itu, memasukkannya ke saku celana.
"Thanks, bos. Gue kabur duluan ya."
"Hati-hati."
Dina keluar dari kantor, menutup pintu pelan.
Arief menatap Rajendra dengan senyum kecil.
"Lu perhatian banget sama Dina."
"Dia udah kerja keras. Gue gak mau dia sakit."
"Bukan cuma itu kan?"
Rajendra menatapnya. "Maksud lu?"
Arief nyengir. "Gak ada. Cuma observation."
Rajendra tidak menjawab, hanya kembali duduk di mejanya, membuka laptop lagi.
Rian tertawa kecil, tapi tidak ikut komen.
Jam delapan malam, mereka bertiga akhirnya selesai.
Arief dan Rian packing barang, siap pulang.
"Besok gue gak bakal buka laptop," kata Arief sambil memasukkan laptopnya ke tas. "Gue mau istirahat total. Main game. Tidur seharian."
"Bagus. Lu emang harus istirahat. Minggu depan bakal lebih gila lagi."
"Kenapa?"
"Kalau demo Senin berhasil, kita dapat funding. Kalau dapat funding, kita harus hire orang baru, scale operation, handle seller lebih banyak. Lu siap?"
Arief diam sebentar, lalu tersenyum lebar.
"Siap. Gue udah nungguin ini dari awal."
Mereka keluar kantor bersama, mengunci pintu, lalu turun tangga.
Di luar, Jakarta malam sudah gelap. Jalanan masih ramai meski sudah malam, warung-warung makan masih buka, orang-orang masih hilir mudik.
Arief dan Rian naik motor ojek online, melambai ke Rajendra sebelum pergi.
Rajendra berjalan ke halte bus sendirian, tangan di saku jaket, pikiran sudah di Senin.
Demo dengan Richard.
Ini make or break moment.
Kalau berhasil, LokalMart bisa jalan lebih cepat.
Kalau gagal, mereka harus cari investor lain atau jalan pelan dengan budget terbatas.
Ponselnya bergetar, pesan dari nomor tidak dikenal.
Rajendra hampir tidak buka, tapi akhirnya tetap buka.
"Rajendra. Ini Ibu. Tolong bales pesan Ibu. Papa semakin parah. Beliau mulai sakit jantung gara-gara stress. Dokter bilang harus bedrest. Rajendra, please. Kita masih keluarga."
Rajendra menatap pesan itu lama.
Papa sakit jantung.
Bedrest.
Ada bagian kecil di dadanya yang terasa sakit mendengar itu.
Tapi dia ingat, kehidupan pertamanya. Julian tidak pernah sakit hati karena Rajendra. Julian sakit hati karena tidak bisa kontrol Rajendra lagi.
Ini bukan tentang kesehatan.
Ini tentang power.
Rajendra menghapus pesan itu tanpa balas, lalu blokir nomornya.
Lagi.
Bus datang lima menit kemudian, setengah penuh.
Rajendra naik, duduk di pojok belakang, menatap jendela.
Lampu-lampu kota bergerak cepat di luar, seperti kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli siapa yang tertinggal.
Dia menutup mata, mencoba rileks.
Besok Minggu. Hari terakhir sebelum demo.
Dia harus istirahat. Harus tidur yang cukup. Harus siap mental.
Tapi pikiran tidak bisa berhenti.
Selalu ada sesuatu yang harus dikhawatirkan.
Selalu ada sesuatu yang bisa salah.
Sampai di kamar kos jam sepuluh malam, Rajendra langsung berbaring di kasur tanpa ganti baju.
Terlalu lelah untuk ganti baju. Terlalu lelah untuk mandi.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini panggilan.
Dari Hartono.
Rajendra mengangkat.
"Halo, Pak Hartono."
"Rajendra. Kabar baik. Saya sudah dapat konfirmasi dari ahli grafologi. Dia bersedia jadi saksi sidang berikutnya untuk analisis tanda tangan di dokumen klinik."
"Bagus. Biayanya berapa?"
"Lima juta. Tapi tenang, ini saya yang cover. Anggap saja bagian dari pro bono."
Rajendra diam sebentar, merasa bersalah.
"Pak, saya tidak bisa terus-terusan terima bantuan gratis. Pak Hartono sudah banyak bantu, sampai keluar uang pribadi."
Hartono tertawa kecil di seberang.
"Rajendra, ini bukan soal uang. Ini soal keadilan. Kakekmu orang baik, dia tidak pantas dihina seperti ini. Saya akan pastikan kebenaran menang di pengadilan."
Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya.
"Terima kasih, Pak. Serius. Saya gak tahu harus bales gimana."
"Menangkan kasus ini. Itu cukup. Oh ya, satu lagi. Dr. Sutanto sudah confirm hadir di sidang berikutnya. Dia akan bawa rekam medis lengkap almarhum dari RSCM. Kita punya amunisi kuat."
"Kapan sidangnya lagi?"
"29 Juli. Dua minggu dari sekarang. Kamu siap?"
"Saya siap."
"Bagus. Istirahat yang cukup. Jangan terlalu stress."
"Saya usahakan."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja, menatap langit-langit gelap.
Dua minggu lagi sidang.
Dua hari lagi demo investor.
Semuanya datang bersamaan, seperti ombak yang bertubi-tubi tanpa jeda.
Tapi dia tidak akan tenggelam.
Tidak kali ini.
Dia sudah tenggelam sekali di kehidupan pertamanya.
Kali ini dia akan tetap mengapung.
Apapun yang terjadi.
Minggu pagi, Rajendra bangun jam sepuluh.
Pertama kalinya dalam berminggu-minggu dia tidur sampai jam segini.
Tubuhnya masih terasa berat, otot-otot pegal, tapi pikirannya sedikit lebih jernih.
Dia duduk di tepi kasur, menatap jendela yang menampilkan cahaya matahari cerah.
Hari libur.
Tidak ada meeting. Tidak ada deadline. Tidak ada yang harus dikerjakan.
Tapi dia tidak bisa santai sepenuhnya.
Besok demo. Besok harus perfect.
Rajendra mandi, ganti baju bersih, lalu keluar kamar.
Dia berjalan ke warung makan terdekat, pesan nasi uduk dan teh manis, duduk sendirian di meja plastik kecil, makan pelan sambil menatap jalanan.
Jakarta Minggu pagi lebih sepi. Orang-orang pada libur, jalan tidak semacet biasa.
Tenang.
Rajendra menikmati ketenangan itu, meski tahu besok akan kacau lagi.
Setelah makan, dia jalan kaki tanpa tujuan, hanya mengikuti kaki yang membawanya kemana.
Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah taman kecil di kawasan Tebet.
Taman dengan bangku kayu tua, pohon-pohon rindang, beberapa anak kecil main bola di lapangan rumput.
Rajendra duduk di salah satu bangku, menatap anak-anak yang main dengan teriakan ceria.
Dulu dia juga seperti itu.
Main bola di taman dengan teman-teman sekolah. Pulang sore dengan baju kotor dan lutut lecet. Tidak ada beban. Tidak ada tekanan. Tidak ada musuh di mana-mana.
Kapan semuanya jadi serumit ini?
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Bos, gue udah bangun. Udah seger. Thanks kemarin udah maksa gue pulang. Lu bener, gue emang butuh istirahat."
Rajendra tersenyum kecil, mengetik balasan.
"Bagus. Besok gue butuh lu 100 persen. Ready?"
"Ready. Kita bakal crush demo itu."
"Emang."
Rajendra memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu bersandar di bangku, menutup mata, merasakan angin sepoi-sepoi di wajah.
Besok adalah hari penting.
Tapi hari ini, untuk beberapa jam saja, dia akan coba lupakan semua itu.
Coba jadi orang biasa yang duduk di taman, menikmati Minggu pagi.
Tanpa beban.
Tanpa pikiran.
Hanya napas dan detakan jantung yang pelan.
Untuk beberapa jam saja.
[ END OF BAB 14 ]