"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belati di Balik Nama
Mansion Arkananta malam itu tampak seperti monumen duka yang megah. Arsitektur bergaya neoklasik yang biasanya memancarkan kemewahan kini terasa menekan, seolah-olah setiap pilar marmernya adalah jeruji penjara yang dingin. Langit Jakarta yang tertutup polusi tak menyisakan satu pun bintang, menciptakan kegelapan absolut di luar jendela kaca setinggi langit-langit. Hening yang menyelimuti rumah ini bukan lagi keheningan yang memberikan ketenangan, melainkan kesunyian yang mencekam—sebuah jeda napas yang mengerikan sebelum guncangan gempa bumi meruntuhkan segalanya.
Arkan telah mengurung diri di ruang kerjanya sejak kepulangan mereka dari konfrontasi melelahkan di kediaman Bianca. Pria itu menolak bicara, menolak makan, dan menolak kehadiran siapa pun. Ia seperti nakhoda yang memilih untuk tenggelam sendirian bersama rahasia kapalnya.
Di kamar utama, Alana duduk terpaku di tepi ranjang king-size yang terasa terlalu luas untuknya. Gaun hitam sutra yang ia kenakan di pesta tadi kini tergeletak tak berdaya di lantai, seperti kulit ular yang baru saja ditanggalkan. Ia kini hanya mengenakan jubah tidur sutra tipis yang sama sekali tidak bisa menghalau rasa dingin yang merayap dari ubin lantai menuju tulang-tulangnya.
Pikirannya terus berputar secara obsesif pada satu objek: foto buram yang ia lihat di dalam brankas rahasia Bianca. Sosok pria itu. Garis rahangnya, sorot matanya yang tajam namun terluka, dan yang paling mengerikan—bekas luka panjang yang membelah pipinya, sebuah tanda lahir dari kekerasan masa lalu. Nama pria itu bergema di kepala Alana seperti mantra kutukan.
Adrian.
Dulu, nama itu hanyalah hantu dalam cerita kelam Arkan. Namun kini, Adrian adalah ancaman nyata yang sedang bernapas, mungkin sedang mengawasi mereka dari sudut kota yang remang. Adrian bukan lagi sekadar memori yang ditenggelamkan di Danau Jenewa; dia adalah badai yang sedang menuju ke arah mereka dengan satu tujuan tunggal: kehancuran.
Tiba-tiba, keheningan kamar itu pecah oleh getaran halus dari ponsel pribadi Alana yang disembunyikan di bawah bantal. Notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama, hanya satu huruf kapital yang dingin sebagai identitas pengirim: "A".
Alana membuka pesan itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"Bagaimana rasanya memakai mahkota yang berlumuran darah saudaramu sendiri, Alana? Jangan terlalu nyaman di ranjang itu. Pemilik aslinya sedang dalam perjalanan pulang untuk menagih hutang nyawa."
Darah Alana seolah membeku seketika. Ia melempar ponsel itu ke atas kasur seolah benda itu baru saja berubah menjadi bara api yang membakar telapak tangannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya memantul di dinding kamar.
Pertanyaan yang paling menyiksa pikirannya adalah: Bagaimana dia tahu nama aslinya?
Selama berbulan-bulan, penyamarannya sempurna. Di mata dunia, di mata media, bahkan di mata pelayan-pelayan di mansion ini, dia adalah Elena Arkananta. Hanya segelintir orang yang mengetahui kebenaran pahit bahwa Alana hanyalah seorang "kembaran cadangan" yang dibayar untuk memainkan peran. Arkan, Baskara, dan... Elena yang asli.
"Elena," bisik Alana. Kemarahan tiba-tiba menyapu rasa takutnya.
Konfrontasi di Penjara Kaca
Tanpa memakai alas kaki, Alana menyambar jubah wolnya dan berlari keluar kamar. Ia menyusuri koridor panjang menuju paviliun belakang—sebuah bangunan terpisah yang didesain indah namun berfungsi sebagai penjara medis bagi Elena yang asli. Ia mengabaikan tatapan heran dua penjaga di pintu masuk dan langsung mendobrak pintu kamar Elena tanpa mengetuk.
Di sana, di tengah remang lampu tidur, Elena sedang duduk tenang di kursi chaise longue dekat jendela. Ia sedang menatap bulan sabit yang sesekali tertutup awan hitam. Elena tidak sedikit pun tersentak mendengar suara pintu yang didobrak.
"Kau memberitahunya, bukan?" suara Alana pecah, antara amarah dan isak tangis yang tertahan. "Kau memberikan namaku padanya! Kau bekerja sama dengan Adrian untuk menghancurkan pria yang telah membiayai hidupmu selama ini!"
Elena berbalik perlahan. Wajahnya yang pucat tampak jauh lebih waras dan tajam malam ini, sebuah pemandangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada kegilaannya. Senyum tipis merayap di bibirnya yang kering.
"Adrian tidak butuh diberitahu, Alana sayang," suara Elena terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. "Dia selalu tahu. Dia adalah bayangan yang tumbuh di dalam kegelapan yang diciptakan Arkan. Jika suamimu yang kaku itu adalah es, maka Adrian adalah badai kutub yang akan membekukan es itu hingga pecah berkeping-keping."
"Kenapa kau setega ini? Kau adalah istrinya Arkan secara hukum! Kau berhutang nyawa padanya!" teriak Alana.
Elena tertawa. Suara tawanya terdengar sumbang dan memilukan. "Istri? Aku hanyalah alat pertukaran. Arkan menikahiku bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah. Dia membeliku untuk membungkam mulutku tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal itu sepuluh tahun lalu. Dia mencintai rasa sakitnya sendiri, bukan aku. Tapi Adrian..." Elena menjeda, matanya berkilat penuh obsesi. "Adrian mencintaiku dengan kegilaan yang setara dengan penderitaanku."
Elena bangkit berdiri, melangkah mendekat dengan gerakan yang lambat namun mengintimidasi. "Pesan singkat itu hanya makanan pembuka. Adrian akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dia akan mengambil Arkananta, dia akan mengambil aku, dan dia akan melenyapkanmu. Karena baginya, kau hanyalah sebuah 'produk tiruan' yang cacat, Alana. Sebuah barang imitasi yang mencoba duduk di singgasana asli."
Langkah Pertama Sang Bayangan
Keesokan paginya, serangan fisik pertama terhadap kekaisaran Arkananta dimulai bukan dengan peluru, melainkan dengan angka-angka di layar bursa saham. Saat matahari baru saja terbit, berita utama di televisi dan portal berita keuangan meledak.
Sebuah firma investasi anonim yang baru saja terdaftar, bernama "A-Genesis", melakukan langkah bunuh diri yang brilian. Mereka mulai memborong secara agresif saham-saham minoritas Arkananta Group di pasar sekunder dengan harga di atas pasar. Gerakannya sangat taktis, sangat sistematis, dan seolah-olah mereka memiliki "peta dalam" yang menunjukkan kelemahan struktur kepemilikan saham keluarga Arkananta yang sedang rapuh pasca skandal Kevin.
Arkan memanggil Alana ke kantornya pukul delapan pagi. Ruangan itu dipenuhi asap rokok, sesuatu yang jarang dilakukan Arkan kecuali dia sedang dalam tekanan ekstrem. Wajah pria itu tampak lebih tua sepuluh tahun; lingkaran hitam menghiasi matanya yang cekung.
"Dia sudah melepaskan anjing-anjingnya," ucap Arkan dengan suara parau yang nyaris habis. Ia menunjuk ke arah deretan monitor yang menampilkan grafik saham Arkananta yang memerah tajam. "A-Genesis. Nama yang sangat sombong. Dia ingin menciptakan 'Kejadian' baru dengan menghancurkan fondasi yang kubangun selama satu dekade terakhir."
Alana mendekat ke meja kerja Arkan, merasa kecil di hadapan kehancuran raksasa ini. "Tuan, apakah ini Bianca? Apakah dia menggunakan informasi dari brankas itu?"
"Bukan," Arkan menggeleng mantap. "Bianca adalah wanita yang mencintai keteraturan. Dia ingin merger, dia ingin kekuasaan yang stabil. Tapi gerakan A-Genesis ini... ini adalah sabotase murni. Ini adalah tindakan seseorang yang ingin membakar seluruh gedung hanya untuk melihatku mati lemas di dalamnya."
Arkan mematikan rokoknya dan berdiri, berjalan mendekati Alana. Ia meletakkan tangannya di bahu Alana, cengkeramannya terasa berat dan putus asa. "Alana, situasi ini sudah di luar kendali. Adrian tidak akan berhenti pada saham. Dia akan menyerang titik lemahku satu per satu. Dan ketahuilah... titik lemahku yang paling nyata saat ini adalah kau."
Alana tertegun. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti pengakuan cinta yang manis di dunia normal, namun di tengah badai ini, kata-kata itu terdengar seperti vonis isolasi.
"Aku akan mengirimmu pergi malam ini. Baskara sudah menyiapkan tempat perlindungan di luar negeri. Kau harus menghilang sampai aku bisa membereskan iblis ini," perintah Arkan.
"Tidak, Tuan. Saya tidak akan pergi," Alana memegang tangan Arkan yang terasa sedingin es. "Jika saya pergi sekarang, penyamaran ini akan runtuh dalam hitungan jam. Kakek akan langsung curiga, para pemegang saham akan panik, dan Bianca akan mengambil celah itu untuk mendepak Anda dari kursi CEO. Kita harus menghadapinya bersama, tetap di depan publik seolah-olah tidak ada yang terjadi."
Arkan menatap mata Alana selama beberapa menit yang terasa sangat lama. Ia mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang keras kepala. Ia sadar, gadis yang awalnya ia anggap sebagai bidak ini kini telah bermutasi menjadi ratu yang berani berdiri di depan rajanya.