Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 - Pantulan
Panggilan itu datang sebelum pukul delapan pagi.
Bukan dari timnya.
Bukan dari media.
Dari pengawas internal.
Karina mendengarkan tanpa menyela. Nada di seberang telepon formal, netral, namun terlalu hati-hati untuk dianggap biasa.
“Ada pertanyaan terkait proses interogasi saksi tambahan dalam kasus korban ketiga.”
Karina berdiri di dekat meja kerjanya. “Pertanyaan dari siapa?”
“Permintaan klarifikasi prosedural. Tidak resmi. Untuk saat ini.”
Tidak resmi.
Itu artinya ada yang membicarakan.
Ia menutup panggilan dengan kalimat singkat. “Saya akan kirimkan dokumentasi lengkap.”
Begitu telepon mati, ia tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa detik, membiarkan pikirannya menata ulang struktur.
Seseorang di dalam sistem berbicara.
Atau seseorang di luar mulai mendorong dari tepi.
Di kantor, suasana terasa berbeda sejak pagi.
Tidak ada yang menatapnya aneh. Tidak ada bisik-bisik terbuka. Tapi jarak itu terasa. Seperti ruang di antara kata-kata menjadi sedikit lebih lebar.
Ia memanggil rapat singkat.
“Kita akan audit ulang semua interogasi saksi tambahan,” katanya tanpa pengantar panjang.
Beberapa wajah terlihat terkejut.
“Audit, Bu?”
“Untuk memastikan tidak ada celah prosedural.”
Kalimat itu terdengar profesional. Terukur. Tidak defensif.
Namun di dalam dirinya, ia tahu ini bukan sekadar audit.
Ini penguatan struktur.
Jika sistemnya dianggap tidak sepenuhnya tertutup, maka ia akan membuatnya lebih rapat.
Menjelang siang, ia menerima email resmi: permintaan rekaman lengkap interogasi saksi yang deskripsinya berubah.
Permintaan itu tidak menyebut namanya secara langsung.
Tapi semua orang tahu siapa yang memimpin sesi tersebut.
Salah satu juniornya mendekat. “Bu, ini karena laporan forensik kemarin?”
“Bisa jadi,” jawab Karina singkat.
“Apakah kita perlu khawatir?”
Ia menatap layar laptopnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Khawatir tidak membantu.”
Ia menekan tombol kirim.
Rekaman terkirim.
Untuk sepersekian detik, ada sensasi seperti melepaskan sesuatu dari kendali.
Namun ia segera menata ulang pikirannya.
Transparansi adalah bentuk kontrol juga.
Pukul 15.12, pesan anonim masuk.
Menarik melihat sistem mulai menguji dirimu.
Ia membaca sambil tetap duduk tegak.
Kali ini tidak ada pembuka. Tidak ada permainan kata.
Ia membalas lebih cepat dari biasanya.
Sistem selalu menguji dirinya sendiri.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Tapi kali ini kamu yang sedang di dalamnya.
Kalimat itu berhenti lebih lama di benaknya.
Di dalamnya.
Apakah ia sedang menjadi objek evaluasi?
Atau memang sejak awal begitu?
Ia menutup percakapan tanpa membalas lagi.
Sore hari, hasil audit internal sementara keluar.
Tidak ada pelanggaran prosedural yang jelas.
Namun ada catatan: “Teknik interogasi bersifat sugestif.”
Sugestif.
Kata itu lebih tajam daripada tuduhan.
Sugestif berarti memengaruhi tanpa memaksa.
Sugestif berarti membentuk tanpa terlihat membentuk.
Ia membaca ulang catatan itu beberapa kali.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kepanikan.
Hanya analisis.
Jika tekniknya sugestif, berarti efektif.
Jika efektif, berarti berhasil.
Tapi keberhasilan yang dipertanyakan selalu memiliki konsekuensi.
...----------------...
Malam itu, hujan kembali turun.
Karina duduk sendirian di ruang tamu rumahnya, menonton ulang sebagian rekaman interogasi.
Ia memperhatikan dirinya sendiri seperti objek studi.
Nada suara stabil.
Jeda terukur.
Asumsi diselipkan dengan ringan.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tekanan kasar.
Hanya arah.
Ia memutar ulang bagian ketika saksi mulai mengubah deskripsinya.
Apakah itu terlalu cepat?
Apakah ia memberi ruang cukup bagi ketidakpastian?
Ia menghentikan rekaman.
Pertanyaan itu terasa asing.
Bukan karena tidak penting.
Tapi karena ia jarang mempertanyakan metodenya sendiri.
Ponselnya kembali bergetar.
Kamu mulai melihat dirimu dari luar.
Ia tidak terkejut lagi bahwa orang itu tahu.
Seolah setiap langkahnya memang sedang dipantau.
Ia mengetik pelan.
Evaluasi adalah bagian dari penguatan.
Balasan:
Atau bagian dari retakan.
Ia meletakkan ponsel tanpa menjawab.
...****************...
Di tempat lain, seseorang membaca notifikasi pengiriman rekaman audit.
Ia tidak membutuhkan keputusan besar hari ini.
Ia hanya butuh tekanan yang tepat.
Sistem mulai mengawasi Karina.
Tim mulai merasakan jarak.
Keraguan kecil mulai beredar.
Tidak ada yang runtuh.
Belum.
Tapi pantulan sudah terjadi.
Dan pantulan sering kali lebih mengganggu daripada dorongan langsung.
...****************...
Menjelang tengah malam, Karina berdiri di depan cermin kamar mandi.
Wajahnya terlihat sama.
Tenang. Terstruktur. Tidak goyah.
Namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia menatap bayangannya.
Bukan pertanyaan.
Lebih seperti pengukuran.
Seberapa jauh ia sudah melangkah?
Dan apakah ia masih mengendalikan arah?
Ia mematikan lampu.
Dalam gelap, satu pikiran melintas tanpa suara:
Jika ini permainan, maka fase berikutnya bukan tentang korban—
tapi tentang posisi.
Dan untuk pertama kalinya,
ia tidak sepenuhnya yakin apakah ia masih berada di sisi yang sama seperti ketika permainan itu dimulai.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y