NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Luna melangkah masuk ke dalam kamar VVIP dengan langkah ringan, wajahnya kembali menampakkan senyum lembut nan polos seolah tidak ada kemarahan besar yang baru saja ia tumpahkan di gudang tua tadi.

Ia merapikan sedikit hijab hitamnya sebelum mendekati ranjang Pratama.

"Maaf ya, Mas, menunggu lama. Tadi antrean di bagian hadiah sangat panjang sekali, lalu Dokter juga banyak memberi pesan untuk perawatan Mas di rumah nanti," ucap Luna sambil meraih mangkuk bubur hangat yang sudah disiapkan rumah sakit.

Pratama menatap istrinya dengan lega. "Tidak apa-apa, Dik. Mas cuma khawatir kamu kelelahan bolak-balik."

Luna duduk di tepi ranjang, meniup sesendok bubur dengan perlahan.

"Ayo, sekarang Mas makan dulu sedikit ya, supaya tenaganya pulih."

Pratama menerima suapan itu, namun pikirannya jelas tidak tenang.

Setelah beberapa suapan, ia memegang tangan Luna, menghentikan aktivitas makan sejenak.

"Dik, dagangan Mas bagaimana? Gerobak dan sotonya masih di ruko, kan? Tadi pagi berantakan sekali karena kejadian itu," tanya Pratama dengan nada cemas.

"Setelah ini, tolong kamu ke sana ya? Tutup rukonya saja, sotonya dibuang saja kalau sudah basi. Mas takut ada orang jahat lagi yang datang."

Luna tersenyum tipis, mengusap punggung tangan suaminya yang kasar.

"Mas tidak usah pikirkan itu lagi. Mas tahu tidak? Tadi ada teman Arini yang kebetulan lewat di depan ruko. Karena dia tahu Mas sakit, dia langsung membantu merapikan semuanya."

"Membantu?" Pratama mengernyit heran.

"Iya, Mas. Dia bahkan bilang akan membantu jualan untuk sementara waktu selagi Mas di sini. Katanya sayang kalau pelanggannya hilang," lanjut Luna berbohong dengan lancar.

Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah Arini telah menyewa koki profesional untuk menjaga ruko itu agar tetap terlihat beroperasi normal.

Pratama menghela napas panjang, tampak sangat bersyukur.

"Alhamdulillah, masih banyak orang baik di sekitar kita ya, Dik. Mas jadi merasa tidak enak sudah merepotkan banyak orang."

Luna hanya mengangguk, meski hatinya berbisik, 'Bukan orang lain yang baik, Mas. Tapi ini adalah caraku menjagamu.'

Baru saja Pratama hendak melanjutkan makannya, ponsel Luna yang berada di atas nakas bergetar hebat.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Luna tahu persis siapa pengirimnya.

[Bagaimana keadaan suamimu yang malang itu, Luna? Masih betah di kamar VVIP pemberianmu? Atau aku harus mengirimkan foto-foto kemesraan kita di masa lalu ke ponselnya sekarang? Noah.]

Genggaman Luna pada sendok bubur mengeras, namun ia tetap mempertahankan wajah tenang di depan suaminya.

Luna menaruh mangkuk bubur itu dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya.

Ia memaksakan senyum tipis ke arah Pratama yang menatapnya dengan heran.

"Mas, aku ke kantin dulu ya, mau beli air mineral. Botol yang tadi sudah habis," pamit Luna singkat.

Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia segera melangkah keluar dan menutup pintu kamar VVIP itu rapat-rapat.

Begitu pintu tertutup, wajah manisnya berubah menjadi dingin dan penuh amarah.

Dengan langkah cepat, ia menuju lobi rumah sakit. Dan benar saja, di sana Noah berdiri dengan angkuh, mengenakan kacamata hitam dan setelan jas yang seolah-olah sedang memamerkan kekayaannya di tengah penderitaan orang lain.

Luna menghampirinya tanpa rasa takut sedikit pun.

Ia menarik Noah ke sudut lobi yang sepi agar tidak menarik perhatian.

"Mau apa lagi kamu datang ke sini, Noah?" desis Luna dengan suara rendah namun tajam.

"Apakah kamu belum puas melihat suamiku menderita? Kamu dalang di balik semua ini, kan?!"

Noah hanya tersenyum miring, merendahkan kacamata hitamnya sedikit untuk menatap Luna dengan pandangan meremehkan.

"Aku hanya ingin menjenguk, Luna. Katanya suami 'hebatmu' itu masuk rumah sakit karena dikeroyok preman? Kasihan sekali."

"Jangan berpura-pura!" bentak Luna tertahan.

"Apakah kamu lupa kalau kita sudah lama berpisah? Kamu yang mengkhianati aku! Kamu yang membuangku demi wanita lain dan kekuasaan! Dan sekarang kamu datang mengganggu hidupku yang tenang?"

Noah melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka.

"Tenang? Kamu menyebut hidup dengan tukang soto itu tenang? Kamu adalah Luna Jati, CEO Jati Grup. Kamu tidak pantas berada di gubuk kumuh bersamanya. Aku datang untuk membawamu kembali ke duniamu yang seharusnya."

"Duniaku bukan lagi bersamamu, Noah. Duniaku adalah bersama pria yang kamu sebut tukang soto itu. Dia jauh lebih berharga daripada semua hartamu. Pergi dari sini sekarang, atau aku akan memastikan polisi menyeretmu hari ini juga atas kasus pengeroyokan itu!"

Noah tertawa sinis saat mendengar perkataan dari Luna.

"Polisi? Kamu pikir aku bodoh? Aku tidak meninggalkan jejak. Tapi pikirkan ini, Luna. Bagaimana kalau suamimu yang lugu itu tahu siapa istrinya sebenarnya? Bagaimana kalau dia tahu kamu membiayai pengobatannya dengan uang yang tidak pernah dia bayangkan?"

Plak!

Suara tamparan keras itu menggema di sudut lobi yang sepi.

Kepala Noah tertoleh ke samping, bekas kemerahan jari tangan Luna tercetak jelas di pipinya yang angkuh.

Noah tertegun, ia tidak menyangka wanita yang dulu pernah sangat mencintainya kini memiliki keberanian untuk memukulnya.

"Jangan pernah sebut nama suamiku dengan mulut kotormu itu," desis Luna dengan mata yang menyala penuh amarah.

"Kamu bukan siapa-siapa, Noah. Kamu hanya sampah masa lalu yang lupa cara bercermin."

Noah menyentuh pipinya, seringai liciknya berubah menjadi tatapan gelap.

"Berani-beraninya kamu..."

"Aku bukan lagi Luna yang lemah yang bisa kamu injak-injak!" potong Luna tegas.

Kemudian ia mengangkat tangannya, memberi kode kepada dua petugas keamanan rumah sakit yang sudah disiagakan Arini sejak tadi.

"Pak, tolong usir pria ini. Dia mengganggu ketenangan pasien dan melakukan ancaman. Jika dia melawan, jangan ragu untuk menyerahkannya ke kantor polisi terdekat. Saya yang akan bertanggung jawab."

Dua petugas keamanan bertubuh tegap segera menghampiri Noah.

"Maaf, Pak. Silakan ikut kami keluar sekarang juga," ujar salah satu petugas sambil memegang lengan Noah dengan kuat.

Noah mencoba melepaskan diri dengan kasar.

"Lepaskan! Kalian tahu siapa saya?! Luna, kamu akan menyesali ini! Rahasiamu tidak akan aman selamanya!" teriaknya sambil diseret menjauh menuju pintu keluar lobi.

Luna berdiri tegak, mengatur napasnya yang memburu.

Ia melihat Noah dipaksa keluar hingga menghilang dari pandangan.

Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meluap-luap.

"Bu Luna, Anda baik-baik saja?"

Arini tiba-tiba muncul di sampingnya, membawakan sebotol air mineral yang tadi sempat dijadikan alasan oleh Luna.

"Aku baik-baik saja, Arini. Pastikan penjagaan di lantai VVIP diperketat. Jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin dariku, terutama pria itu."

"Baik, Bu."

Luna memejamkan mata sejenak, menghapus sisa amarah di wajahnya dan menggantinya kembali dengan raut wajah "Istri yang Lembut".

Ia harus kembali ke kamar sebelum Pratama merasa curiga lebih jauh.

Namun, saat Luna baru saja sampai di depan pintu kamar VVIP dan hendak membukanya, ia mendengar suara gaduh dari dalam. Suara gelas pecah dan rintihan pelan suaminya.

Luna membuka pintu dengan terburu-buru dan jantungnya hampir berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya.

Pratama tergeletak di lantai marmer yang dingin, selimutnya terseret jatuh, dan tiang infus di samping ranjang tampak miring hampir roboh.

"Astaghfirullah, Mas!!" teriak Luna histeris. Ia segera berlari mendekat dan berlutut di samping suaminya.

Wajah Pratama tampak meringis menahan sakit di bagian perut dan kepalanya.

Dengan sisa tenaganya, ia mencoba memegang lengan Luna, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat bersalah.

"Maafkan, Mas, Dik. Tadi Mas merasa gelisah, kamu lama sekali beli airnya. Mas mencoba turun untuk menyusulmu ke bawah, tapi kaki Mas masih lemas," ucap Pratama dengan suara parau.

"Jangan marah ya, Dik. Mas hanya khawatir terjadi sesuatu padamu di luar sana."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan Luna runtuh.

Air matanya menetes deras membasahi pipi. Hatinya perih; pria yang baru saja dihina dan dianiaya oleh suruhan Noah ini justru lebih mengkhawatirkan keselamatan Luna daripada dirinya sendiri.

"Mas, jangan begini. Aku tidak apa-apa. Mas yang harusnya istirahat," isak Luna sambil mencoba membopong bahu Pratama agar bisa kembali duduk di atas ranjang.

Beruntung, perawat segera datang membantu karena mendengar suara gaduh.

Pratama akhirnya kembali dibaringkan dengan aman.

Luna duduk di sampingnya, menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.

Luna mengusap air matanya. Ia merasa sangat bersyukur.

Untung saja suaminya tidak tahu jika hanya beberapa menit yang lalu, istrinya baru saja menampar seorang pria kaya raya di lobi dan berubah menjadi sosok CEO yang kejam.

Ia tidak ingin tangan Pratama yang tulus ini tahu bahwa tangan istrinya baru saja bersentuhan dengan wajah kotor Noah.

"Mas, janji ya? Jangan turun dari ranjang tanpa aku," bisik Luna lembut.

Pratama tersenyum kecil, mengusap air mata di pipi Luna.

"Iya, Dik. Maaf sudah membuatmu menangis. Mas hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres tadi, perasaan Mas tidak tenang."

Luna menganggukkan kepalanya dan sedikit terkejut dengan insting suaminya.

Ia merasa lebih hati-hati agar rahasianya tidak terbongkar.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!