Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Paksa
Bus kota itu terasa semakin sesak, namun keheningan di antara Greta dan Leon seolah menciptakan sekat tak kasatmata yang memisahkan mereka dari kebisingan penumpang lain. Greta hanya menunduk, menatap ujung sepatunya dengan perasaan canggung yang luar biasa. Ia ingin memulai obrolan, tapi lidahnya terasa kelu. Di sisi lain, Leon tetap berdiri dengan ekspresi datarnya yang sulit dibaca, matanya menatap lurus ke jendela tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan itu hanya dipecah oleh suara mesin bus dan pengumuman pemberhentian.
Hingga akhirnya, bus melambat dan berhenti di halte tujuan Greta.
"Aku... turun dulu ya. Terima kasih, Leon, atas tempat duduknya," ucap Greta cepat. Ia segera bangkit dan mencoba merebut tasnya yang sedari tadi dipegang oleh Leon.
Namun, Leon tidak melepaskannya. Ia justru memegang tali tas itu lebih erat, membuat Greta tersentak pelan. Tanpa memberikan penjelasan, Leon justru melangkah mendahului Greta menuju pintu keluar bus. Greta yang bingung tak punya pilihan lain; ia harus segera keluar sebelum pintu otomatis bus tertutup dan membawanya menjauh.
Begitu kaki mereka berpijak di trotoar halte yang remang, Greta langsung menghampiri Leon yang masih menenteng tasnya.
"Leon... kenapa kamu turun di sini juga?" tanya Greta dengan napas sedikit terengah. Matanya mencari-cari jawaban di wajah pria itu. "Apakah rumahmu di sekitar sini?"
Leon menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arah jalanan yang mulai gelap sebelum kembali menatap Greta. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Tidak apa-apa, kan?"
Tanpa menunggu persetujuan Greta, Leon kembali berjalan mendahuluinya, membiarkan Greta berdiri mematung sejenak di belakangnya dengan rasa heran yang semakin menumpuk.
Langkah kaki mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kusam di ujung koridor lantai tiga. Greta segera berbalik, tangannya terulur untuk menyudahi kecanggungan ini.
"Terima kasih banyak, Leon. Sampai di sini saja," ucap Greta sambil berusaha mengambil tas dari genggaman Leon.
Namun, untuk kesekian kalinya, Leon dengan gesit memalingkan tangannya, menjauhkan tas itu dari jangkauan Greta. Mata tajamnya menatap daun pintu di depan mereka. "Aku izin masuk sebentar ya," ucapnya datar, lalu melangkah maju seolah itu adalah rumahnya sendiri.
"Ta... tapi! Apartemenku masih sangat kotor, Leon! Aku harus membersihkannya dulu. Aku sudah meninggalkannya beberapa hari sejak menginap di rumah Clara," gumam Greta panik. Ia membayangkan tumpukan barang yang berantakan, bekas serpihan barang pecah, dan kekacauan sisa perbuatan Norah dan teman-temannya beberapa waktu lalu.
Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menoleh sedikit dan memberikan senyuman tipis yang sulit diartikan—sebuah senyum yang membuat Greta kehilangan kata-kata.
Dengan perasaan pasrah dan wajah yang memerah karena malu, Greta memasukkan kunci dan memutar kenop pintu. Ia sudah bersiap untuk meminta maaf atas pemandangan kacau yang akan menyambut mereka. Namun, begitu pintu terbuka...
Klik.
Greta membeku di ambang pintu. Matanya mengerjap berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Apartemen kecil yang tadinya hancur berantakan, dengan buku-buku berserakan dan perabotan yang digulingkan oleh geng Norah, kini berubah total. Lantainya berkilau bersih, buku-bukunya tertata rapi di rak, bahkan aroma ruangan itu terasa segar seperti wangi pinus. Tidak ada satu pun debu atau bekas kerusuhan yang tersisa.
"Eh... ba... bagaimana bisa?" bisik Greta pelan, suaranya bergetar karena kaget. Ia melangkah masuk dengan ragu, menyentuh meja makannya yang kini tertutup taplak bersih.
Ia menoleh ke arah Leon yang sedang meletakkan tas-tasnya di sudut ruangan dengan santai. Leon berdiri tegak, memasukkan tangan ke saku jaketnya, dan menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi puas.
"Sepertinya ada 'peri' yang mampir saat kamu tidak ada," ucap Leon ringan".
Leon pun duduk dengan santai di atas tikar, matanya menatap tenang ke arah pemandangan kota di balik jendela luar yang mulai gelap. Greta, yang pikirannya masih berputar-putar mencoba memecahkan misteri apartemennya, segera melangkah ke dapur kecilnya.
Sambil menyalakan pemanas air, Greta terus membatin. Apa Luca yang melakukan semua ini? Dia kan tahu alamatku. Tapi sejak kapan dia punya kuncinya? Dan kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku? Tak lama kemudian, Greta kembali ke ruang tengah dengan secangkir teh hangat yang masih mengepul. "Ini... diminum dulu," ucapnya canggung sambil menyodorkan cangkir itu.
Leon menerima teh itu, jemarinya yang panjang bersentuhan sesaat dengan tangan Greta. "Terima kasih, Greta," ucapnya pelan setelah menyesap teh tersebut.
Greta kemudian duduk melipat kakinya di atas tikar, tepat di samping Leon namun dengan jarak yang cukup aman. Ia kembali melirik ke setiap sudut ruangannya. Rak buku yang rapi, pakaian yang sudah dilipat, bahkan vas bunga kecil di sudut ruangan yang kini tampak segar. Pikirannya benar-benar buntu.
Tiba-tiba, suara bariton Leon memecah keheningan. "Greta..."
"Eh... ya? Kenapa?" jawab Greta tersentak dari lamunannya, menoleh cepat ke arah Leon.
Leon meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong ke atas meja kecil. "Aku keluar sebentar ya, mau pesan makan," ucapnya sambil bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat tenang.
"Hah? Tapi—" Greta ingin menahan.
"Tunggu di sini saja," tambah Leon sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
Greta hanya bisa terdiam dengan mulut setengah terbuka. Di dalam apartemen yang kini sangat bersih dan sunyi, ia merasa ada yang sangat aneh.
Setelah beberapa saat dalam kesunyian, suara kunci diputar terdengar. Leon kembali dengan dua kantong plastik besar berisi dua porsi nasi bento hangat dengan katsu yang renyah, serta dua botol teh hijau dingin. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia langsung menuju dapur, menyiapkan piring, dan menata semuanya di ruang tengah seolah-olah ia sudah sangat akrab dengan tata letak apartemen itu.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Greta keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar. Rambutnya yang masih setengah basah terbungkus handuk putih kecil, dan ia sudah berganti pakaian menjadi kaus oversized serta celana training santai. Aroma sabun mandi yang lembut tercium, kontras dengan bau keringat dari lapangan olahraga tadi siang.
"Maaf ya... aku tinggal mandi sebentar tadi. Badanku terasa tidak enak," ucap Greta sambil menggosok rambutnya pelan, wajahnya tampak sedikit kemerahan karena uap air hangat.
Leon mendongak sejenak, tatapannya menyapu penampilan Greta yang jauh lebih rileks. Ia hanya memberikan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Tidak apa-apa. Kebetulan makanannya baru saja siap. Ayo, kita makan."
Mereka pun duduk berhadapan di atas tikar dengan meja kecil di antara mereka. Uap panas dari nasi bento itu mengepul, membangkitkan selera makan yang tadi sempat hilang karena lelah.
Awalnya, mereka makan dalam keheningan yang tenang, hanya terdengar suara denting sumpit. Namun, suasana itu tidak terasa secanggung di bus tadi. Greta merasa nyaman dengan kehadiran Leon yang tidak banyak menuntut penjelasan, sementara Leon tampaknya menikmati ketenangan apartemen kecil itu.
"Bagaimana?" tanya Leon tiba-tiba sambil mengunyah katsunya. "Apa rencana selanjutnya untuk Norah besok?"
Greta hampir saja tersedak nasinya. Ia tertawa kecil sambil meminum teh hijaunya. "Entahlah. Aku rasa aroma itu masih akan menempel di kulit Norah sampai besok pagi.
"Apakah kalian selalu seperti itu?" tanya Leon pelan, sambil meletakkan sumpitnya. Matanya yang tajam menatap Greta, seolah mencoba memahami dinamika persahabatan dan permusuhan di kelas mereka.
Greta hanya mengangguk pelan sambil mengaduk nasinya. "Dari awal aku masuk ke kelas itu, dia selalu menggangguku. Entah apa salahku. Untuk sesekali... aku hanya ingin membalasnya. Aku ingin dia tahu kalau aku tidak selemah yang dia kira."
"Apa saja yang pernah ia lakukan kepadamu?" Leon bertanya lagi, suaranya merendah, terdengar lebih serius. "Apa ada yang sangat parah?"
Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Greta terhenti. "Aku... aku tidak ingin mengingatnya," bisik Greta lirih, matanya menatap kosong ke arah piring.
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Tiba-tiba, Greta merasakan pergerakan di sampingnya. Leon menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah Greta hingga jarak di antara mereka terpangkas. Aroma dingin khas Leon kembali menyapa indra penciuman Greta.
"Lalu..." Leon menjeda kalimatnya, matanya menatap lekat ke samping wajah Greta. "Apakah Luca itu pacarmu?"
Uhuk! Uhuk!
Greta tersentak hebat hingga tersedak teh yang baru saja ia sesap. Ia terbatuk-batuk dengan wajah yang seketika berubah merah padam, entah karena tersedak atau karena pertanyaan frontal dari pria di sampingnya itu.
"Apa?! Pacar?!" seru Greta setelah berhasil mengendalikan batuknya. Ia menoleh ke arah Leon dengan mata membelalak. "Kenapa... kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Leon hanya mengangkat bahu dengan santai, namun matanya tidak lepas dari Greta. "Habisnya, dia selalu ada di sekitarmu seperti penjaga keamanan pribadi.
"Luca itu... dia hanya teman baik. Sangat baik," jawab Greta pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya.
Leon mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu, namun ia tetap tidak menjauhkan posisi duduknya. "Begitu ya. Baguslah kalau begitu."
"Bagus..? Apa maksudmu bagus??" tanya Greta dengan dahi berkerut, merasa jawaban Leon benar-benar ambigu.
Leon tidak menjawab. Ia hanya menatap Greta selama beberapa detik dengan senyuman misterius yang sulit diartikan, lalu perlahan menggeser duduknya kembali ke posisi semula seolah tidak terjadi apa-apa. "Hanya bagus," gumamnya pendek sambil membereskan sisa makanan.
Setelah makan selesai, suasana kembali hening. Seperti biasa, Greta harus meminum obatnya sehabis makan. Ia berbalik memunggungi Leon, merogoh tas ranselnya, dan mengeluarkan sebuah botol obat kecil.
Leon, yang sedari tadi diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik Greta, mendadak memasang raut wajah serius. Matanya menyipit penuh rasa penasaran. Obat apa itu? pikirnya. Tanpa suara. Leon mulai mencondongkan tubuhnya ke depan, mengintip dari balik bahu Greta untuk melihat label di botol tersebut.
Tepat saat Greta membuka tutup botol dan hendak memasukkan pil ke mulutnya, ia merasa ada hawa hangat di belakang tengkuknya. Secara naluriah, Greta menoleh ke belakang dengan cepat.
DUAK!
Dahi mereka berbenturan dengan sangat keras. Karena jarak yang sudah sangat dekat, benturan itu tak terelakkan.
"Aduh...!" Greta memekik sambil memegangi keningnya yang tadi sudah memerah kena bola, kini ditambah hantaman kepala Leon.
"Ssshh... sakit juga," keluh Leon. Ia tidak menjauh, melainkan ikut mengusap dahinya sendiri sambil meringis.
Dalam posisi yang sangat dekat itu, keduanya saling menatap. Napas mereka memburu karena kaget. Tangan Leon yang tadinya ingin mengintip obat, kini justru reflek memegang pergelangan tangan Greta untuk menyeimbangkan tubuhnya. Mata mereka terkunci selama beberapa detik—sebuah momen yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya di tengah apartemen yang sepi itu.
"Kamu... sedang memata-matai aku ya?" bisik Greta, suaranya sedikit bergetar, masih dalam posisi dahi yang hampir bersentuhan.
Suasana romantis yang baru saja terbangun seketika pecah berkeping-keping. Leon, yang biasanya selalu terlihat tenang dan terkendali, mendadak bangkit berdiri dengan gerakan yang hampir membuat gelas di meja tersenggol.
"A... aku... pul... pulang dulu, Greta!" ucapnya dengan suara yang sedikit pecah karena gugup. Tanpa menunggu jawaban atau bahkan sempat mengambil jaketnya dengan benar, ia melangkah lebar-lebar menuju pintu dan bergegas keluar seolah-olah baru saja melihat hantu.
Brak!
Pintu apartemen tertutup rapat. Greta masih duduk bersimpuh di atas tikar, tangannya masih menempel di dahi yang berdenyut, matanya mengerjap-erjap menatap pintu yang kosong.
"Dia... kenapa?" gumam Greta bingung.
Di luar, udara malam yang dingin menusuk kulit, namun tidak cukup untuk mendinginkan wajah Leon yang masih terasa panas. Ia berjalan cepat menyusuri trotoar, menjauh dari gedung apartemen itu. Langkahnya terasa terburu-buru, seolah sedang melarikan diri dari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Namun, tepat di bawah lampu jalan yang berpijar remang, Leon tiba-tiba menghentikan langkahnya. Suara deru kendaraan di kejauhan menjadi latar belakang keheningan yang ia rasakan.
Ia memutar tubuhnya, menoleh ke belakang ke arah jendela lantai tiga di gedung apartemen tua milik Greta. Tatapannya yang tadi penuh kegugupan kini berubah kembali menjadi sangat serius, tajam, dan penuh selidiki. Ia teringat jelas label botol obat yang sempat tertangkap sekilas oleh matanya sebelum benturan tadi terjadi.
"Obat itu..." gumam Leon pelan, suaranya dingin tertiup angin malam.
"Aku harus memastikannya," ucapnya dengan nada penuh tekad, sebelum akhirnya ia berbalik dan menghilang ditelan kegelapan malam.
oke lanjut thor.. seru ceita nya