Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata kehancuran
Siang itu, kafe di dekat kantor Kenzo terasa sejuk, namun suasana di meja makan tersebut perlahan memanas. Diandra duduk dengan anggun, ia mendominasi percakapan tentang proyek galeri terbaru dan sesekali memberikan saran tentang urusan bisnis kepada Kenzo. Sosok Diandra yang matang dan cerdas memang terlihat sangat serasi bersanding dengan Kenzo.
Tiba-tiba, Zella muncul bersama Alexa. "Wah, kebetulan sekali ketemu di sini!" seru Zella riang tanpa menyadari ketegangan yang ada. Mereka berdua akhirnya bergabung di meja tersebut.
Alexa duduk tepat di hadapan Kenzo. Ia terdiam, matanya yang tajam memperhatikan bagaimana Diandra berbicara dengan nada yang seolah-olah dialah wanita yang paling mengenal Kenzo.
Diandra bahkan sesekali menyentuh lengan Kenzo dengan percaya diri, seolah sedang menandai wilayahnya di depan Alexa.
Kenzo tetap tenang, namun batinnya bergejolak. Ia memperhatikan mata Alexa yang mulai memerah, tanda bahwa gadis itu sedang menahan emosi yang luar biasa. Kenzo merasa iba, ia tidak pernah bermaksud menyakiti perasaan Alexa yang sudah dianggapnya keluarga sendiri.
Namun, ia teringat peringatan ayahnya, Kenneth, dan pengakuan nekat Alexa tadi pagi.
Aku harus tegas. Jika tidak, dia tidak akan pernah berhenti, batin Kenzo.
Tepat saat Diandra sedang tertawa kecil menceritakan sesuatu, Kenzo melakukan hal yang tak terduga. Ia mengulurkan tangan, menarik lembut bahu Diandra, lalu mendaratkan ciuman singkat namun penuh penekanan di pucuk kepala Diandra.
Diandra tersentak kaget. Matanya membelalak karena Kenzo biasanya sangat menjaga privasi di depan umum. Interaksi manis ini adalah kemajuan besar dalam hubungan mereka, dan Diandra tersenyum malu-malu dengan wajah yang merona.
Namun bagi Alexa, gerakan itu lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.
Seluruh keberanian dan keangkuhan yang ia bangun tadi pagi runtuh seketika melihat pria yang ia puja memberikan kasih sayang sedalam itu kepada wanita lain di depan matanya sendiri. Alexa terpaku, bibirnya sedikit bergetar.
Kenzo melirik Alexa. Ia ingin melihat apakah ketegasannya berhasil. Saat itulah, ia melihat satu tetes air mata Alexa jatuh membasahi pipinya yang pucat. Alexa tidak segera menghapusnya, ia membiarkan Kenzo melihat luka yang ia torehkan.
"Al, kamu kenapa?" tanya Zella kaget saat menyadari air mata Adiknya yang dianggap sahabat.
Alexa segera berdiri, tangannya sedikit gemetar saat mengambil tasnya. "Maaf... tiba-tiba mataku terasa sangat perih karena debu. Aku ke toilet sebentar," ucapnya dengan suara yang pecah.
Ia melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di meja itu. Kenzo memejamkan mata sejenak, ada rasa bersalah yang menusuk, namun ia tahu ia tidak boleh mengejar Alexa jika ingin gadis itu menyerah.
Di dalam toilet, Alexa menatap bayangannya di cermin dengan tatapan yang kini berubah dari sedih menjadi gelap. Ia menghapus sisa air matanya dengan kasar.
"Pucuk kepala, Kenzo?" bisiknya pada cermin. "Kau pikir dengan menciumnya kau bisa mengusirku? Kau justru baru saja memberiku alasan untuk menghancurkannya lebih cepat."
Setelah Alexa pergi dengan terburu-buru, suasana di meja itu berubah drastis. Zella, yang merasa ada yang tidak beres, segera berdiri. "Aku susul Alexa dulu ya, Kak. Sepertinya dia benar-benar tidak enak badan," pamit Zella singkat sebelum berlari mengejar sahabatnya.
Kini, hanya tersisa Kenzo dan Diandra. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Diandra, yang tadinya merasa melambung karena ciuman di pucuk kepalanya, kini justru merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia adalah wanita yang peka, dan ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa air mata Alexa jatuh tepat setelah Kenzo menunjukkan kemesraan padanya.
Kenzo masih terdiam, matanya menatap kosong ke arah gelas kopinya. Tangannya yang tadi menyentuh Diandra kini mengepal di atas meja.
"Ken..." panggil Diandra pelan, memecah kesunyian.
Kenzo mendongak, berusaha memasang wajah setenang mungkin. "Ya?"
"Ada apa sebenarnya?" tanya Diandra langsung. "Kenapa aku merasa ciuman tadi bukan untukku, tapi... untuk menunjukkan sesuatu pada Alexa?"
Kenzo menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Diandra yang cerdas. "Alexa sedang melewati masa sulit, Di. Dia sedikit emosional akhir-akhir ini. Aku hanya ingin mempertegas batasan agar dia tidak salah paham."
Diandra menyipitkan mata, senyum ramahnya menghilang. "Mempertegas batasan? Kenzo, gadis itu menangis. Seorang adik tidak akan menangis seperti itu hanya karena kakaknya mencium kekasihnya. Dia mencintaimu, bukan?"
Kenzo tidak menjawab, dan diamnya Kenzo adalah jawaban yang cukup bagi Diandra.
"Kenzo, ini bukan hanya tentang dia yang emosional," lanjut Diandra, suaranya kini terdengar lebih serius. "Ini tentang bagaimana kau menanganinya. Jika kau menggunakan aku sebagai alat untuk menyakitinya, itu tidak adil bagiku. Dan jika kau merasa harus bersikap sekaku itu di depannya, berarti kau sendiri merasa terganggu olehnya."
Kenzo memegang tangan Diandra, mencoba meredam kecurigaan wanita itu. "Maafkan aku, Di. Aku tidak bermaksud menjadikanmu alat. Aku hanya ingin dia sadar bahwa posisinya adalah adik bagi keluargaku. Aku tidak ingin dia terjebak dalam obsesi yang salah."
Diandra menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak di hatinya. "Aku menghargai kejujuranmu. Tapi jujur saja, tatapan Alexa tadi... itu bukan tatapan gadis remaja yang sedang patah hati biasa. Itu tatapan seseorang yang merasa miliknya sedang dicuri."
Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
terimakasih
ceritanya bagus