NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat Arsyila

“Abiiii!” Azzura memekik senang begitu melihat abinya sudah duduk di ruang tamu bersama Ummanya, Oma, dan juga Aariz. Entah ke mana Azzam, Azzura pun tidak tau.

“Putri Abi sudah datang ternyata,” ujar Ustadz Athar sambil berdiri. Ia merentangkan tangan, membiarkan Azzura menghambur ke dalam pelukannya.

“Zura kangen Abi. Abi sudah lama datang? Biasanya Abi baru sampai rumah jam lima.”

“Mana mungkin Abi tidak cepat-cepat pulang begitu tau putri Abi sudah ada di rumah,” jawab Athar lembut.

“Pokoknya Zura kangen Abi,” ucap Azzura sambil menatap wajah abinya yang masih tampan meski usianya telah menginjak lima puluh tahun.

“Iya, Abi juga kangen,” balas Athar sambil mengeratkan pelukan.

“Kalau sudah ketemu, Umma pasti terlupakan. Suami Umma diambil, padahal kamu juga sudah punya suami,” cibir Arsyila, tentu saja hanya bercanda.

“Gantian dong, Umma. Aku kan sudah lama gak peluk Abi.”

“Tau nih, Kak Cila…” sahut Aariz

“Kamu juga, Riz. Jomblo jangan ikut komentar,” balas Arsyila santai.

Ustadzah Najwa hanya terkekeh. Pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa baginya.

“Mana menantu Abi?” tanya Athar.

“Oh, lagi siap-siap, Abi.”

“Siap-siap apa?”

“Siapin mental, kayaknya, buat ketemu Abi,” jawab Azzura asal, tentu saja tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.

Tak lama kemudian, Abidzar keluar dari kamar. Ia cukup terkejut melihat ayah mertuanya ternyata sudah tiba. Seandainya tau dari tadi, ia pasti bersiap lebih cepat. Dengan langkah sopan dan kepala sedikit menunduk, Abidzar menyalami Athar. Bukan sekadar mertua—Ustadz Athar juga pernah menjadi gurunya saat ia masih menempuh Tsanawiyah, sebelum keluarga Azzura pindah ke Jakarta.

“Abid, bagaimana putri Abi? Dia tidak menyusahkan kamu, kan?” tanya Athar.

“Abi…” protes Azzura.

“Tidak, Abi. Zuya tidak merepotkan sama sekali,” jawab Abidzar, sama seperti jawabannya setiap kali pertanyaan itu diajukan oleh Umma.

“Baguslah kalau begitu. Abi jadi sedikit lebih tenang.”

“Memangnya Abi selama ini gak tenang?” tanya Azzura heran.

“Iya. Setiap hari Abi nungguin telepon dari Gus Alif. Siapa tau putrinya bikin ulah di sana,” celetuk Arsyila.

“Emangnya aku semerepotkan itu, apa?” Azzura mendengus. “Asal Umma, Abi, Oma, dan terutama kamu, Aariz… aku di sana disukai banyak santri, tau. Ya aku tau sih, mungkin karena aku ini putri cantiknya Ustadz Athar. Tapi tetap saja, mereka semua menyukai aku. Soalnya belum ada yang tau kalau aku anaknya Ustadz yang ganteng pada zamannya, meski sekarang sudah tua." azzura terkekeh di akhir kalimatnya.

“Enak aja,” balas Arsyila terkekeh. “Tapi buat Umma, Abi kamu tetap ganteng meski sudah tua.”

Athar hanya menggeleng-geleng kepala pasrah.

“Alhamdulillah, Oma senang dengarnya. Ternyata sifat ceria kamu memang menular, Nak,” ujar Oma.

“Iya dong, Oma. Emang Aariz!” sahut Azzura tiba-tiba.

“Loh, kok aku?” Aariz menaikkan alis.

“Kamu tinggal pilih Laila atau Kak Ayesha.”

“Bunda… ayo pulang. Sepertinya aku tidak dibutuhkan di sini,” keluh Aariz.

“Eh, katanya lagi butuh bantuan abang kamu,” sahut Ustadzah Najwa cepat.

Azzura dan Arsyila langsung terkekeh melihat ekspresi Aariz.

Aariz adalah pewaris perusahaan Wijaya. Ia sudah memikul tanggung jawab besar sejak kepergian Bara tiga tahun lalu. Meski masih sekolah dan kuliah, Aariz perlahan belajar menjalankan perusahaan, terkadang dibantu oleh Athar, suami kakaknya. Sementara itu, Ustadzah Najwa lah yang saat ini paling aktif mengelola perusahaan.

Seharusnya Arsyila yang mengambil alih, namun ia menolak. Sejak awal sudah diputuskan bahwa pewaris Bara adalah Aariz, dan Arsyila menerimanya dengan ikhlas.

Aariz mewarisi darah Bara—cepat beradaptasi dan cekatan dalam urusan bisnis. Meski tampilan dan sikapnya terkesan tengil, di balik itu semua ia menanggung tanggung jawab besar di usia yang masih sangat muda.

Setelah Ashar dan perbincangan panjang mengenai perusahaan bersama Aariz, Azzam, dan Abidzar, para perempuan menghidangkan teh dan camilan. Mereka duduk santai di halaman belakang, bercengkerama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Pertanyaan pun bergulir ke arah rencana resepsi.

“Mau diadakan di mana resepsinya?” tanya Abi dengan nada penuh pertimbangan.

Azzura saling pandang dengan Abidzar, lalu ia menghela napas pelan sebelum menjawab.

“Kalau boleh, Zura ingin resepsinya di pesantren Abidzar saja, Bi,” ucapnya lembut.

Semua mata tertuju padanya.

“Zura kepikiran Kakek Abid,” lanjut Azzura pelan. “Kyai Abdul Hamid sudah tidak memungkinkan bepergian jauh. Zura ingin beliau tetap bisa menyaksikan hari bahagia cucunya tanpa harus memaksakan kondisi beliau.”

Abidzar terdiam. Dadanya menghangat oleh kalimat sederhana itu.

Bagaimana mungkin ia tidak jatuh cinta pada istrinya?

Di tengah pembicaraan tentang hari bahagia mereka, Azzura justru lebih dulu memikirkan kenyamanan orang lain—memikirkan kakeknya, memikirkan orang-orang yang ia cintai, bahkan di saat seharusnya ia bisa bersikap egois.

Abidzar menatap istrinya dengan rasa haru yang tidak bisa ia sembunyikan.

Wanita itu selalu seperti itu—lembut, penuh empati, dan tak pernah hanya memikirkan dirinya sendiri.

Dan saat itu, Abidzar kembali yakin… Ia tidak salah memilih Azzura sebagai pendamping hidupnya.

Abi mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan persetujuan tanpa ragu.

“Abi setuju,” ucapnya mantap. “Yang terpenting bukan megahnya acara, tapi keberkahan dan siapa saja yang bisa hadir dengan hati yang lapang.”

Oma Najwa ikut tersenyum, matanya berkaca-kaca menatap cucunya. “Oma juga sepakat, Nak. Kakek Abid pasti sangat bahagia bisa menyaksikan langsung. Itu jauh lebih bermakna daripada resepsi besar tapi menyusahkan orang tua.”

Arsyila menghela napas lega, lalu meraih tangan putrinya. “Umma ikut setuju. Kamu sudah memikirkan hal yang paling penting, Zura. Umma bangga punya anak yang hatinya sebaik ini.”

Azzura tersenyum kecil, menunduk malu. “Zura cuma ingin semuanya merasa bahagia dan tidak ada yang merasa diberatkan.”

Abidzar menatap istrinya lama.

Di tengah keluarga besar yang sepakat dan suasana hangat yang mengalir, ia kembali jatuh—lebih dalam dari sebelumnya.

Bukan karena keputusan itu saja, melainkan karena hati Azzura yang selalu lebih dulu memikirkan orang lain, bahkan di hari yang seharusnya menjadi tentang dirinya sendiri.

Selepas Oma Najwa dan Aariz berpamitan, rumah kembali terasa lebih tenang.

Kini yang tersisa hanyalah Abi Athar, Umma Arsyila, Abidzar, dan Azzura.

“Kamu senang di pesantren?” tanya Umma lembut.

“Senang, Umma. Di sana aku punya banyak teman, bisa berbaur dengan para santri, ikut kajian, sholawatan—pokoknya banyak banget kegiatannya,” jawab Azzura antusias.

“Alhamdulillah kalau begitu.” Arsyila lalu menoleh ke menantunya. “Tapi itu semua benar, kan Bid?”

“Benar, Umma,” jawab Abidzar tenang.

Azzura mengembuskan napas lega, hingga—

“Sampai Zura lupa pulang.”

Ucapan Abidzar membuat Azzura langsung menoleh tajam ke arahnya. Tatapan protes yang jelas terbaca di wajahnya.

Arsyila langsung menegur putrinya dengan nada menasihati.

“Zura, kamu itu harus ingat waktu. Kalau pergi ya kabarin suami. Dan sekarang, cara panggilnya juga harus diubah. Jangan lagi sembarangan sebut nama.”

Azzura mendengus pelan, tapi mendengarkan.

“Meski kalian berteman sejak lama, sekarang Abidzar itu suami kamu, bukan lagi teman kamu. Zura, suami kamu itu calon pemimpin ke depannya, bukan hanya sebagai pemimpin dalam rumah tangga kamu. Kalau orang-orang lihat cara kamu memperlakukannya, kredibilitas Abidzar sebagai calon pemimpin pesantrennya bisa diragukan,sayang. Bagaimana bisa seorang suami yang tidak di perlakukan hormat pada istrinya bisa memimpin umat? Istrinya aja tidak berlaku hormat, bagaimana bisa orang lain akan hormat? Memimpin rumah tangga saja tidak bisa,apalagii memimpin Ummat? Semua itu harus kamu pahami,nak." lanjut Arsyila.

Athar terkekeh mendengar ucapan istrinya. Bagaimana tidak? Ia teringat masa awal pernikahan mereka dulu—saat Arsyila justru tak ingin banyak orang tau, bersikap kaku, bahkan sering ngambek gak jelas.

“Umma ini,” Athar tersenyum sambil menggeleng pelan, “kalau dulu dinasihati seperti ini, belum tentu mau dengar.”

Arsyila melirik suaminya, lalu tersenyum tipis. “Dulu beda. Sekarang kan aku udah belajar dari pengalaman. Agar Azzura tidak seperti aku, abang."

Azzura menunduk, bibirnya mengerucut kecil.

Sementara Abidzar hanya tersenyum samar—menikmati bagaimana istrinya, sedikit demi sedikit, sedang belajar menempatkan dirinya sebagai seorang istri.

"Jadi, Zura harus gimana Umma?"

"Ya mulai sekarang, kamu harus bisa belajar menganggap Abidzar sebagai seorang suami yang harus kamu hormati, bukan lagi teman akrabnya yang bisa kamu perlakukan sesuka hari. Mulai dengan bertutur kata lembut dan panggil Abidzar dengan sebutan yang hormat, jangan pakai nama sebagaimana kamu memanggil teman kamu. Kamu sudah lihat kan bagaimana Umma memanggil Abi kamu, kan?"

Azzura mengangguk lantas menatap Abidzar sembari menelan ludah. Apa ia bisa melakukannya dengan laki-laki yang sering membuat dirinya sebal ini?

"Iya umma. Akan Zura usahakan."

"Jangan diusahakan tapi dilakukan. Mulai pelan-pelan, seiring waktu kamu akan terbiasa."

Azzura mengangguk pasrah, "iya umma."

Malam mulai turun perlahan. Setelah Abi dan Umma masuk ke kamar, suasana rumah menjadi lebih lengang.

Azzura dan Abidzar berjalan berdampingan menuju kamar Azzura yang mereka tempati.

Begitu pintu tertutup, Azzura langsung menghentikan langkahnya.

“Abid.”

Abidzar menoleh. “Kenapa?”

Azzura menyilangkan tangan di dada. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan. “Kamu kenapa ngomong kayak gitu tadi? ‘Sampai Zura lupa pulang’? Itu di depan Umma dan Abi.”

Abidzar menatapnya beberapa detik. Tatapan datar, sulit ditebak.

“Aku salah ngomong?”

“Iya.” Azzura menjawab cepat. “Aku gak lupa pulang. Aku cuma ke pesantren, dan itu juga bukan hal aneh.”

Abidzar mendekat satu langkah. Tidak marah, tidak meninggikan suara—justru itu yang membuat Azzura sedikit terintimidasi.

“Aku tau kamu ke pesantren,” ucapnya tenang. “Aku juga tau kamu bukan anak yang keluyuran gak jelas.”

“Terus kenapa kamu bilang kayak gitu?”

“Karena kamu pergi tanpa pamit.”

Azzura terdiam.

“Aku nunggu kamu,” lanjut Abidzar, suaranya tetap rendah. “Kamu gak bawa ponsel, Magrib lewat, Isya hampir masuk. Kamu tau rasanya jadi aku?”

Azzura membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Aku bukan ngomong itu buat mempermalukan kamu,” Abidzar menambahkan. “Aku cuma pengn Umma dan Abi tau kalau sekarang kamu bukan sendiri.”

Azzura menunduk. Nada suaminya bukan menuduh, tapi… terluka. “Tapi kamu bisa ngomongnya pas berdua aja,” gumamnya.

Abidzar menghela napas pelan. Ia mengangkat dagu Azzura, memaksanya menatap.

“Aku cemburu, Zuya.”

Azzura terkejut.

“Aku khawatir. Dan aku gak pandai menyembunyikan itu,” lanjutnya jujur. “Aku belum terbiasa punya istri yang… seenaknya pergi tanpa bilang.”

“Aku gak bermaksud bikin kamu khawatir,” suara Azzura melembut. “Aku cuma lupa.”

“Dan itu yang bikin aku takut.”

Azzura mengerutkan kening. “Takut kenapa?”

“Takut kamu masih hidup seperti sebelum menikah,” jawab Abidzar pelan. “Seolah aku belum benar-benar ada dalam hidup kamu.”

Kalimat itu membuat dada Azzura terasa sesak.

Ia melangkah mendekat, menatap Abidzar dengan mata yang lebih jujur.

“Aku masih belajar, Bid. Aku gak langsung bisa berubah.”

“Aku tau.” Abidzar mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Makanya aku juga belajar sabar.”

Azzura terdiam sejenak, lalu menghela napas.

“Lain kali… aku pamit. Dan kabarin.”

Abidzar tersenyum kecil. “Itu aja yang aku mau.”

Azzura meliriknya, ragu-ragu. “Tapi kamu juga jangan nyindir aku di depan orang tua lagi.”

Abidzar mendekat, suaranya berbisik di telinga Azzura. “Kalau kamu janji pamit, aku janji cemburu cuma buat kamu dengar.”

Azzura mendengus kecil, tapi bibirnya tersenyum. Dasar suami posesif.

Abidzar masih berdiri dekat Azzura. Suasana sudah jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu.

Ia menatap istrinya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang ingin ia ucapkan.

“Zuya…”

“Hm?” Azzura mengangkat wajahnya.

“Kamu boleh gak… berhenti manggil aku pakai nama?”

Azzura terdiam. Alisnya sedikit terangkat. “Maksud kamu?”

“Panggil aku dengan sebutan yang baik,” ucap Abidzar pelan. “Sebutan suami. Bukan nama lagi.”

Azzura menghela napas kecil. Ia mengalihkan pandangan, jelas merasa canggung.

“Abid… eh—”

Abidzar tersenyum tipis. “Nah. Itu dia.”

Azzura mendengus. “Kamu tau kan aku masih kagok.”

“Aku tau,” jawabnya lembut. “Makanya aku gak maksa. Aku cuma minta kamu usahakan.”

Azzura menatapnya lagi. “Kenapa itu penting banget buat kamu?”

Karena kalau kamu manggil aku pakai nama, rasanya kamu masih nganggep aku temen.

Tapi Abidzar tidak mengucapkannya lantang.

“Karena aku pengen kamu terbiasa mengakui,” katanya akhirnya. “Bukan ke orang lain. Ke diri kamu sendiri. Kalau sekarang kamu punya suami.”

Hening sejenak.

Azzura mengangguk pelan. “Aku gak janji langsung bisa.”

“Gak apa-apa.”

“Tapi aku janji akan coba.”

Itu cukup.

Abidzar tersenyum—senyum yang benar-benar tulus. Ia mengangkat tangan Azzura dan menggenggamnya pelan.

“Pelan-pelan aja. Aku nunggu.”

Azzura menelan ludah. Bibirnya bergerak ragu, nyaris tak terdengar.

“Mas…”

Abidzar terdiam. Tangannya mengencang refleks.

Azzura cepat-cepat menambahkan, wajahnya memerah. “Itu… kepikiran aja. Bukan sengaja.”

Abidzar terkekeh pelan, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Azzura.

“Gak apa-apa. Mulai dari kepikiran juga sudah kemajuan.”

Ia mengusap kepala istrinya dengan lembut.

“Terima kasih sudah mau mengusahakan, Zuya.”

Azzura membalas lirih, nyaris berbisik. “Iya… Mas.”

Dan kali ini, Abidzar tidak tertawa.

Ia hanya memejamkan mata sebentar mensyukuri satu hal kecil yang terasa sangat besar baginya.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!