NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 26

Beberapa hari telah berlalu seiring dengan berakhirnya hembusan angin pantai yang hangat.

Liburan musim panas resmi usai, digantikan oleh aroma buku baru dan suara riuh bel sekolah yang menandai dimulainya semester baru.

Siang itu, markas besar mereka—ruang OSIS—kembali menjadi tempat berkumpul.

Namun, suasana santai yang biasanya diisi dengan keluhan soal tugas mendadak berubah menjadi tegang saat Indah menggumamkan sesuatu di tengah kunyahan rotinya.

"Ehm... sebenarnya, kemarin ada seseorang yang menembakku untuk jadi pacarnya," ucap Indah pelan namun terdengar jelas.

Seketika, ruangan itu sunyi senyap. Aria yang sedang sibuk mengetik laporan bulanan langsung menghentikan jemarinya di atas *keyboard*.

Yudas yang sedang meneguk air mineral hampir tersedak, sementara Sasha yang tadinya bersandar malas langsung menegakkan tubuhnya dengan mata membelalak.

"Siapa orang nekat itu?" tanya Sasha dengan nada menginterogasi, seolah baru saja mendengar ada mata-mata yang menyusup ke wilayahnya.

Indah meremas bungkus rotinya dengan canggung. "Dia dari kelas 3-4, kalau tidak salah namanya Rudy."

Yudas mengernyitkan dahi, mencoba mencari nama itu di database otaknya "Rudy kelas 3-4? Aku tidak kenal."

Kael yang biasanya tahu segala gosip pun menggeleng. "Aku juga tidak kenal. Tapi tunggu dulu! Lalu kau terima dia?!" seru Kael dengan semangat yang meluap-luap.

"Belum," jawab Indah cepat. "Nanti pulang sekolah dia akan menagih jawabanku. Kemarin aku hanya bilang butuh waktu untuk berpikir."

Lily tersenyum kecil ke arah Indah. "Itu wajar saja, Indah. Kau memang sudah populer sejak kelas satu dulu. Tidak heran jika kakak kelas mulai berani mendekat."

"Benar," tambah Aria sambil menghela napas lega setelah keterkejutannya reda. "Indah punya citra siswi teladan yang manis."

Sasha terdiam sejenak, tatapannya berubah tajam. "Kau bilang dia dari kelas 3-4?"

"Iya, Kak. Memangnya ada apa?" tanya Indah bingung melihat perubahan ekspresi Sasha.

Sasha menyilangkan tangannya di dada. "Setahuku, kelas 3-4 itu dari dulu selalu diisi oleh para berandalan bermasalah. Kelas itu ibukota-nya murid bermasalah. Aku takut mereka hanya main-main saja denganmu."

Mendengar itu, Lily dan Indah tampak terkejut. Namun Aria mencoba memberikan sudut pandang lain "Kalau tahun sekarang, kelas 3-4 memang isinya laki-laki semua. Tapi sejauh ini, aku belum menerima laporan masalah dari sana. Mereka cukup tenang tahun ini."

Sasha mendengus remeh. "Benarkah? Jarang sekali kelas itu bisa tenang. Apa mereka mendadak tobat atau bagaimana?"

Raka yang sejak tadi menyimak sambil menyandarkan punggung di pintu akhirnya bersuara "Itu wajar saja, Sasha. Siapa yang berani membuat masalah selagi kau masih ada di sekolah ini?"

Sasha menoleh dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu?"

Raka membetulkan letak kacamatanya. "Kau lupa ingatan? Saat kau masih kelas satu dan dua, kau adalah satu-satunya murid yang paling sering membuat masalah dengan kelas 3-4. Dari tahun ke tahun, kau menghajar siapa pun dari kelas itu yang berani berlagak preman. Sekarang kau sudah kelas tiga, kau adalah 'senior' paling ditakuti. Siapa lagi yang berani cari mati dengan membuat keributan di bawah hidungmu?"

Sasha tertegun, lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Memangnya separah itu aku dulu?"

Aria menghela napas panjang, tatapannya penuh penderitaan masa lalu. "Sangat parah, Sasha. Aku bahkan sudah berhenti membuat daftar catatan masalahmu waktu itu karena bukuku sampai habis. Kau benar-benar monster waktu itu."

Sasha hanya bisa tertawa canggung mendengar kejujuran Aria. "Yah... namanya juga masa muda yang berapi-api."

Suasana kembali serius saat Lily bertanya, "Lalu sekarang kau akan melakukan apa, Indah?"

Indah tampak bimbang. Ia menatap teman-temannya dengan tatapan memohon. "Sebenarnya, bukannya aku tidak suka pada Rudy itu, tapi aku benar-benar belum mau pacaran sekarang. Aku ingin fokus belajar dan bermain bersama kalian. Tapi aku bingung bagaimana cara menolaknya tanpa membuat suasana jadi canggung atau membuatnya tersinggung."

Sasha berdiri dari kursinya, merapikan roknya dengan gerakan yang mantap.

Ia menyeringai tipis, sebuah seringai yang biasanya menandakan bahwa sang preman sekolah akan kembali beraksi.

"Jangan bingung, Indah. Serahkan saja urusan Rudy dan kelas 3-4 itu padaku. Aku akan memastikan dia mengerti posisi di mana dia berdiri," ucap Sasha dengan nada protektif yang kuat.

---

Sore itu, taman sekolah yang biasanya tenang menjadi panggung sandiwara yang penuh ketegangan.

Indah berdiri dengan gelisah di dekat bangku kayu, sementara di sampingnya berdiri Yudas yang tampak sangat tidak nyaman dengan seragam yang sengaja dirapikan.

Beberapa jam sebelumnya di ruang OSIS, sebuah rencana gila lahir dari otak Sasha. "Sudah diputuskan! Jadikan saja Yudas pacar bohonganmu, Indah!" seru Sasha sambil menunjuk Yudas dengan telunjuknya yang mantap.

Seluruh ruangan mendadak hening. Yudas yang sedang mengikat tali sepatu hampir terjungkal. "Hah?! Apa-apaan idemu itu, Sasha? Jangan asal bicara!"

"Dengar dulu, Otot Kawat!" balas Sasha sambil berkacak pinggang. "Bukannya ini ide brilian? Kalau Rudy tahu kau adalah pacar Indah, dia tidak akan berani macam-macam lagi. Reputasimu sebagai atlet basket sudah cukup untuk mengintimidasi siapa pun."

"Tapi kenapa harus aku?" protes Yudas. "Kenapa tidak Kael saja? Dia kan senang kalau disuruh akting!"

Sasha melirik Kael yang sedang asyik memakan keripik, lalu menghela napas panjang. "Kael? Dia itu lebih cocok jadi adik kecil yang hilang daripada jadi pacar yang bisa diandalkan. Tidak ada aura pelindungnya sama sekali."

"Raka juga bisa!" tunjuk Yudas lagi ke arah sang Wakil Ketua.

"Raka?" Sasha mendengus. "Dia itu mulutnya terlalu tajam. Bukannya menyelesaikan masalah, dia malah akan memberikan ceramah tentang pasal-pasal kedisiplinan sampai Rudy pingsan karena bosan. Itu malah menambah masalah baru."

Raka yang merasa tersindir langsung memprotes, "Hei! Aku hanya bicara sesuai fakta!" Namun pada akhirnya, Yudas tidak bisa berkutik dan terpaksa menerima peran sebagai pacar bohongan Indah.

---

Kembali ke taman sekolah, Indah menatap Yudas dengan perasaan bersalah. "Kak Yudas, maafkan aku ya. Gara-gara masalahku, Kakak harus terjebak dalam sandiwara konyol ini."

Yudas menghela napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang sedikit tidak karuan karena berdiri terlalu dekat dengan Indah. "Sudahlah, tidak apa-apa. Anggap saja ini latihan akting sebelum aku benar-benar jadi bintang basket terkenal."

Sementara itu, di balkon lantai dua yang menghadap ke taman, Sasha, Aria, Lily, Raka, dan Kael sedang berjongkok dengan sangat rapat, mengintip dari balik pagar beton.

"Sasha, kau yakin ini aman?" tanya Aria dengan nada sangat khawatir. "Bagaimana kalau Rudy itu tipe yang suka kekerasan?"

"Tenang saja, Aria," jawab Sasha sambil mengepalkan tinjunya. "Jika orang itu tidak terima dan mulai berlagak kasar, aku akan langsung melompat dari sini dan menghajarnya di tempat!"

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. "Dia datang!" bisik Lily penuh antusias.

Seluruh anggota pengintai langsung menajamkan pandangan. Mereka mengharapkan seorang berandalan kelas 3-4 yang bertampang seram, penuh luka, atau setidaknya berantakan.

Namun, sosok yang muncul justru membuat mereka semua membeku.

Seorang siswa laki-laki berjalan masuk ke taman.

Ia bertubuh tinggi atletis dengan postur yang sangat bagus.

Rambutnya tertata rapi dengan gaya modern, kulitnya bersih, dan ia mengenakan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sangat intelek namun keren.

Ia datang sambil tersenyum canggung yang sangat menawan.

"Maaf ya, Indah, aku sedikit terlambat. Ada urusan sebentar tadi," ucap Rudy dengan suara bariton yang lembut.

Indah hanya bisa menjawab pelan, "T-tidak apa-apa, Rudy."

Yudas yang berdiri di sana hanya terbengong. Ia menatap Rudy dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan perasaan minder yang mendadak menyerang.

"Gila! Setampan ini ingin kau tolak, Indah? Kalau aku jadi perempuan, mungkin aku sudah pingsan sekarang,'" batin Yudas penuh ratapan.

Di balkon atas, kekacauan terjadi. Sasha, Lily, dan Kael secara refleks ingin berteriak, "GANTENG SEKALI!" namun Raka dan Aria dengan sigap menutup mulut mereka masing-masing dengan tangan.

"MMPH! MMPHHH!" Kael meronta-ronta ingin berteriak, sementara Lily menatap tak percaya ke bawah.

Sasha sendiri matanya hampir keluar karena kaget melihat musuh mereka ternyata adalah seorang pangeran sekolah.

Karena suara keributan kecil di atas, Rudy menghentikan bicaranya dan menoleh ke balkon lantai dua. "Suara apa itu tadi?" tanyanya curiga.

Dengan kecepatan cahaya, kelima orang di atas langsung merayap dan bersembunyi di balik tembok, menahan napas sekuat tenaga agar tidak ketahuan.

Rudy memperhatikan balkon itu selama beberapa detik, namun karena tidak melihat siapa pun, ia kembali menatap Indah dengan senyum tulusnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!