Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Hadiah & Perpisahan Hangat
“Kau yakin tidak ingin menetap lebih lama? Dengan posisi Tetua Ma yang kosong, jalanmu menuju kursi murid inti terbuka lebar, Ji Zhen.”
Suara Patriark Fei Wang bergema di dalam ruang perpustakaan pribadi yang dipenuhi gulungan beraroma kertas tua. Ia menatap pemuda di depannya dengan saksama. Di atas meja jati di antara mereka, terletak sebuah kotak beludru hitam berisi sepuluh batu roh tingkat tinggi yang memancarkan cahaya biru murni, serta sebuah lencana emas beraksen merah yang memberikan akses tak terbatas ke lantai atas perpustakaan rahasia sekte.
Jelas tanpa keraguan di matanya, Ji Zhen mengambil lencana itu, memutarnya di sela jarinya dengan tangkas. Adapun senyumannya kelewat lebar, penuh percaya diri yang hampir menyentuh batas kesombongan. “Sekte ini sudah terlalu besar bagi pecundang seperti Ma Yingjie, Patriark. Tapi bagi ambisiku? Tempat ini sudah terlalu sempit.”
Mendengar itu,.Patriark Fei Wang menarik napas panjang, lalu terkekeh. Ia tidak merasa tersinggung. Di dunia kultivasi, keangkuhan yang didukung oleh kekuatan nyata adalah sebuah kejujuran. “Kota Nancheng, ya? Pasar harta karun di sana memang sedang memanas karena turnamen besar yang akan datang. Baiklah, aku tidak akan menahan elang yang ingin menembus awan.”
Patriark menggeser sebuah gulungan sutra kuning. “Ini surat rekomendasi resmi dariku. Di mata dunia, kau adalah murid berbakat kebanggaan Qingyun. Gunakan itu untuk masuk ke pelelangan tingkat tinggi.”
Resolusi hari itu tidak hanya berhenti pada Ji Zhen. Patriark, atas saran implisit dari Ji Zhen, memanggil Lian Shu. Gadis informan itu kini berdiri di samping Ji Zhen dengan pakaian yang lebih layak. Berkat perannya dalam menyingkap kebusukan faksi Ma, Patriark memberinya posisi sebagai Penjaga Arsip Senior. Itu adalah sebuah jabatan yang memberinya akses luas pada intelijen sekte, lengkap dengan jatah pil pemurni jiwa bulanan.
“Ini hadiah untuk kesetiaan dan bantuanmu pada murid paling berbakat kita,” ucap Patriark pada Lian Shu.
Suasana pun menjadi semakin hangat ketika Ibu Ji Zhen tiba di aula utama sekte. Wanita itu tampak terpana melihat kemegahan yang selama ini hanya ia dengar dari desas-desus. Patriark mengumumkan bahwa Ibu Ji Zhen diberikan sebuah rumah baru di area pemukiman aman di kaki gunung, lengkap dengan pengawalan serta pasokan emas dan pil umur panjang.
Saat wanita itu memeluk anaknya, Ji Zhen membalas dekapan itu dengan erat. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Beban untuk melindungi ibunya kini sudah terbagi dengan sekte. “Ibu, hiduplah dengan tenang di sini. Aku akan pergi sebentar untuk mengambil dunia ini ke dalam genggamanku. Aku berjanji akan kembali dengan membawa hadiah yang jauh lebih besar dari sekadar rumah ini.”
Ji Zhen tersenyum lebar, menatap ibunya dengan binar optimis. Ia merasa bangga bisa memberikan kehidupan yang layak sebelum ia melangkah ke wilayah yang lebih berbahaya.
Satu jam sebelum keberangkatannya, Ji Zhen kembali bertemu dengan Lian Shu di jembatan batu yang membelah sungai kecil sekte. Yang Huiqing berdiri beberapa langkah di belakang Ji Zhen, diam membisu dengan kepalanya yang tertunduk patuh, benar-benar memerankan perannya sebagai pelayan yang tidak terlihat.
Di saat yang sama Lian Shu melirik Yang Huiqing dengan tatapan sinis, ada kilat cemburu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Jadi sekarang kau membawa ‘peliharaan’ cantik ke mana-mana? Cepat sekali kau mengganti aliansi, Ji Zhen.”
Ji Zhen membalas dengan seringai sombong, mendekat ke arah Lian Shu hingga suara bisikannya yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. “Jangan salah paham. Dia bukan aliansi. Dia hanya anjing setia yang harus mematuhi setiap kata-kataku jika ingin namanya tetap bersih. Aku sudah mengikatnya secara mental. Dia pelayanku, bukan rekanku.”
Mata Lian Shu membelalak, ia menatap Yang Huiqing lalu kembali ke Ji Zhen. “Kau… kau memang jahat sekali, Ji Zhen. Benar-benar licik.”
“Dunia ini tidak ramah pada orang suci, kau tahu itu,” jawab Ji Zhen sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berisi kunci cadangan rumah ibunya dan beberapa catatan rahasia. “Lian Shu, aku titipkan ibuku padamu. Jaga dia dari sisa-sisa pengikut Ma yang mungkin masih memiliki dendam atau siapapun. Dan awasi juga sekte ini untukku.”
Segera saja Lian Shu mendesah, menerima kotak itu dengan berat hati meski tangannya menggenggamnya kuat. “Merepotkan sekali. Kau pergi bersenang-senang mengejar kekuatan, dan aku harus menjadi pengasuh?”
“Bukan cuma pengasuh,” Ji Zhen tertawa, suaranya terbawa angin. “Kau adalah jangkarku di sini.”
“Ke mana sebenarnya tujuanmu setelah Nancheng?” tanya Lian Shu, nadanya melunak.
“Ke mana saja selama itu bisa membuatku menjadi puncak kekuatan. Aku akan kembali suatu hari nanti, memberikan hadiah paling indah ke orang-orang yang tetap berdiri di sisiku saat semua orang meludahi namaku,” Ji Zhen menjawab dengan ambisi yang membara di matanya.
Lian Shu mendengus, mencoba menyembunyikan rasa harunya dengan tawa hambar. “Kau sudah benar-benar gila, Ji Zhen. Gila kekuatan. Tapi anehnya, aku percaya kau akan melakukannya. Aku menantikan hadiah itu.”
Alhasil mereka pun terdiam sejenak, membiarkan gemericik air sungai mengisi ruang di antara mereka. Sebuah perpisahan hangat yang tidak butuh banyak kata-kata puitis.
“Terima kasih sudah percaya padaku sejak aku masih bukan siapa-siapa,” Lian Shu berkata sambil menatap mata Ji Zhen. “Kalau kau butuh informasi apa pun tentang dunia luar, kirim kurir rahasia ke arsip. Dan satu hal lagi… jangan mati di luar sana. Kau masih punya hutang hadiah padaku.”
Ji Zhen menepuk lengan Lian Shu, tatapannya tegas. “Kau juga jangan mati karena bosan di arsip. Jaga dirimu baik-baik. Kita mungkin akan bertemu lagi di panggung dunia yang jauh lebih besar dari tempat terpencil ini.”
Setelah selesai, Ji Zhen berbalik, memberi isyarat pada Yang Huiqing untuk mengikutinya. Dengan tas punggung berisi batu roh dan surat rekomendasi, ia melangkah menjauh dari gerbang Sekte Qingyun. Tidak ada keraguan dalam setiap langkahnya. Pikirannya sudah terbang jauh menuju Kota Nancheng, menuju tantangan baru, dan menuju rahasia naga yang lebih dalam yang dijanjikan Zulong.