Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UPACARA- AKHIRNYA NYATA
Perjalanan dari penthouse ke Taman Eden memakan waktu sekitar satu jam. Selama perjalanan, Mayra duduk dengan hati-hati supaya gaunnya tidak kusut, tangannya menggenggam buket dengan erat.
Papanya duduk di sampingnya, sesekali menggenggam tangan putrinya dengan lembut untuk memberikan dukungan.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Pak Bambang saat melihat Mayra menarik napas dalam-dalam.
"Aku gugup, Pa. Tapi tentu saja baik. Gugup yang bersemangat," jawab Mayra sambil tersenyum.
"Itu normal. Papa juga gugup saat menikah dengan Mama dulu. Tapi begitu Papa lihat Mama berjalan menuju Papa di altar, semua gugupnya entah bagaimana hilang. Yang tersisa hanya kebahagiaan," cerita Pak Bambang dengan nostalgia.
"Aku harap aku juga akan merasakan itu," kata Mayra.
"Tentu saja, anakku. Dev mencintaimu, dan kamu mencintainya. Itu yang paling penting," kata Pak Bambang dengan yakin.
Saat mobil memasuki gerbang Taman Eden, Mayra melihat parkiran sudah dipenuhi mobil-mobil tamu. Jantungnya berdebar semakin kencang.
Ini benar-benar terjadi.
Mobil berhenti di area khusus dekat ruang pengantin, kamar cantik yang sudah disiapkan untuk pengantin bersiap-siap sebelum upacara.
Karina sudah menunggu di sana dengan senyum lebar.
"Mayra! Kamu terlihat sangat memukau!" sapa Karina sambil membantu Mayra turun dari mobil dengan hati-hati. "Semua sudah siap. Tamu sudah hampir semua datang dan duduk. Dev sudah ada di gazebo dengan Marco. Band sudah siaga. Kita siap untuk mulai jam dua belas tepat."
Mayra mengangguk sambil menarik napas dalam.
Di ruang pengantin, Dina sudah menunggu dengan beberapa perlengkapan perbaikan riasan dan semprotan rambut.
"Oke, biar aku cek," kata Dina sambil memeriksa riasan dan rambut Mayra dengan teliti. "Sempurna. Tidak perlu perbaikan apapun. Kamu siap, May."
Mayra menatap pantulannya di cermin sekali lagi. Ini dia. Momen yang sudah ditunggu.
Ketukan di pintu membuat semua orang menoleh. Karina masuk dengan walkie-talkie di tangan.
"Oke semuanya, ini saatnya. Semua tamu sudah duduk. Dev sudah di posisi. Band sudah siap. Kita akan mulai dalam lima menit," Karina mengumumkan dengan lantang.
Mayra merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
"Kamu oke?" tanya Dina sambil memegang tangan Mayra.
"Aku oke. Aku siap," jawab Mayra dengan yakin meskipun tangannya gemetar sedikit.
Dina memeluknya dengan hati-hati supaya tidak merusak riasan atau gaun sahabat nya. "Aku sangat senang untukmu, bestie. Sekarang ayo, saatnya kamu menikah dengan cinta dalam hidupmu."
***
Di gazebo, Dev berdiri dengan tangan terlipat di depan, mencoba terlihat tenang meskipun jantungnya berdebar keras.
Di sampingnya, Marco berdiri dengan postur yang lebih rileks, sesekali berbisik untuk menenangkan Dev.
"Santai, bro. Kamu terlihat seperti mau pingsan," bisik Marco.
"Aku tidak akan pingsan. Aku hanya sangat gugup dan bersemangat," bisik Dev balik.
Di depan mereka, lima puluh tamu duduk di kursi-kursi putih yang ditata rapi dalam formasi setengah lingkaran menghadap gazebo. Dekorasinya sempurna, bunga-bunga putih dan pink di mana-mana, pita satin putih terikat di setiap kursi, dan gazebo dihias dengan rangkaian bunga yang indah dengan latar belakang pegunungan hijau yang megah.
Cuaca sempurna, cerah tapi tidak terlalu panas, dengan angin sepoi-sepoi yang lembut.
Dev melihat wajah-wajah familiar di antara tamu, Pak Hendra duduk di barisan depan dengan ekspresi yang tenang dan mendukung, Rendra dan Fajar dengan istri masing-masing, beberapa rekan bisnis yang juga teman dekat, dan banyak lagi.
Pastor yang akan memimpin upacara berdiri di tengah gazebo dengan alkitab di tangan, tersenyum dengan ramah.
Tiba-tiba, musik berubah. Band langsung mulai memainkan instrumental dari "A Thousand Years", yang lembut, romantis, dan menyentuh hati.
Semua tamu berdiri dan berbalik menghadap ke lorong.
Dev menegakkan postur dan menatap ke arah lorong dengan napas tertahan.
Pertama yang muncul adalah Dina, berjalan dengan anggun dalam gaun dusty rose-nya, membawa buket kecil. Dia tersenyum ke arah tamu sambil berjalan perlahan.
Saat sampai di depan, Dina berdiri di sisi kiri gazebo sebagai pengiring pengantin.
Lalu, semua orang menunggu dengan antisipasi.
Dan akhirnya, Mayra muncul.
Di ujung lorong, dengan lengan melingkar di lengan Pak Bambang, dalam gaun putih yang mengalir sempurna, dengan senyum yang bersinar di wajahnya.
Dev merasakan napasnya benar-benar berhenti.
Dia sudah tahu Mayra akan terlihat cantik. Tapi ini, ini melampaui apapun yang dia bayangkan.
Mayra terlihat seperti malaikat. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Seperti segalanya yang pernah Dev inginkan dalam hidup, berjalan menuju dia di momen ini.
Mata Dev berkaca-kaca. Dia tidak peduli kalau orang-orang akan melihat. Ini momen yang terlalu berharga hingga dia tidak menyembunyikan emosinya.
Mayra mulai berjalan dengan perlahan di lorong yang ditaburi kelopak bunga mawar putih. Langkahnya stabil meskipun jantungnya berdebar keras.
Matanya terkunci dengan mata Dev di kejauhan, dan begitu mata mereka bertemu, semua gugup yang Mayra rasakan hilang.
Yang tersisa hanya cinta. Yang murni dan melimpah.
Pak Bambang berjalan di samping Mayra dengan penuh kebanggaan, sesekali menoleh untuk tersenyum pada putrinya.
Saat melewati baris demi baris tamu, Mayra bisa melihat wajah-wajah yang tersenyum, beberapa yang sudah menangis, termasuk beberapa tantenya yang emosional.
Tapi fokus Mayra tetap pada Dev. Pada pria yang menunggunya di gazebo dengan tatapan yang sangat lembut dan penuh cinta.
Semakin dekat, semakin jelas Mayra bisa melihat detailnya, Dev yang terlihat sangat tampan dalam jas navy-nya, kancing manset yang Mayra hadiahkan berkilau di pergelangan tangannya, dan yang paling penting, senyum di wajahnya yang membuat Mayra yakin dia membuat keputusan yang benar.
Akhirnya, setelah waktu yang terasa seperti selamanya tapi juga terlalu cepat, Mayra dan Papanya sampai di depan gazebo.
Musik perlahan memudar.
Pastor tersenyum dan berkata dengan suara yang hangat, "Siapa yang menyerahkan wanita ini untuk menikah dengan pria ini?"
"Saya, ayahnya," jawab Pak Bambang dengan suara yang bergetar.
Pria itu berbalik menghadap Mayra. Dengan tangan yang gemetar, dia mengangkat kerudung Mayra perlahan, membingkai wajah putrinya dengan lembut.
"Mama pasti sangat bangga melihatmu hari ini," bisik laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca. "Dan Papa juga. Sangat bangga."
Lalu Pak Bambang mencium kening Mayra dengan lembut, meninggalkan jejak air mata di pipi putrinya.
Lalu setelah itu dia meraih tangan Mayra dan menaruhnya di tangan Dev yang sudah terulur.
"Jaga dia dengan baik," bisik Papa pada Dev.
"Pasti. Selamanya," janji Dev dengan serius.
Pak Bambang mengangguk, lalu mundur untuk duduk di kursi barisan depan, menghapus air matanya yang terus mengalir.
Dev membimbing Mayra naik ke gazebo. Mereka berdiri berhadapan, tangan bergandengan, menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kamu cantik sekali," bisik Dev dengan suara yang hanya Mayra bisa dengar.
"Kamu juga tampan sekali," bisik Mayra balik sambil tersipu dengan kedua pipinya merona.
Pastor berdehem pelan untuk memulai upacara.
"Keluarga dan teman-teman yang terkasih, kita berkumpul di sini di tempat yang indah ini, di hari yang sempurna ini, untuk menyaksikan pernikahan Dev dan Mayra," mulai Pastor dengan suara yang jelas dan hangat.
"Pernikahan adalah komitmen suci yang tidak boleh diambil dengan ringan. Ini adalah janji untuk mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain dalam suka dan duka, dalam kesehatan dan sakit, sampai maut memisahkan."
Pastor menatap Dev dan Mayra dengan senyum. "Dev dan Mayra telah memilih untuk menulis janji mereka sendiri. Dev, silakan."
Dev menarik napas dalam, menatap mata Mayra dengan intens, lalu mulai berbicara. Suaranya sedikit gemetar di awal tapi semakin mantap.
"Mayra, kamu datang ke kehidupan ku dengan cara yang tidak terduga, menawarkan sebuah proposal yang waktu itu ku anggap gila tapi ternyata kegilaan itu yang membuat ku akhirnya menyadari bahwa aku mencintaimu. "
Dev menggenggam tangan Mayra lebih erat.
"Kamu membuat ku percaya akan cinta lagi setelah hampir sepuluh tahun aku mengubur itu semua, kamu bukan hanya pasangan tapi rumah ternyaman ku untuk pulang."
Air mata mulai mengalir di pipi Mayra, tapi dia tetap tersenyum.
"Dan aku berjanji padamu hari ini, di depan semua orang yang kita cintai, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan mendukungmu dalam semua mimpi dan ambisimu. Aku akan menjadi tempatmu bersandar saat kamu lelah. Aku akan merayakan setiap kesuksesanmu dan menghiburmu di setiap kegagalan. Aku akan tertawa bersamamu di hari-hari bahagia dan menangis bersamamu di hari-hari sulit."
Dev menatap mata Mayra dengan sangat lembut.
"Aku berjanji akan jadi suami yang kamu butuhkan, ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti, dan sahabat terbaikmu sampai napas terakhir aku. Karena kamu adalah segalanya bagi aku, Mayra. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku membuktikan itu padamu. Aku mencintaimu. Selamanya dan selalu."
Mayra sudah menangis sepenuhnya sekarang, sama seperti banyak tamu di belakang mereka. Dina menyodorkan tisu tapi Mayra menggeleng. Dia tidak peduli kalau riasannya rusak.
Pastor tersenyum dan mengangguk ke Mayra. "Mayra, giliran kamu."
Mayra menarik napas dalam, menghapus air matanya dengan tangan yang gemetar, lalu mulai.
"Dev, saat aku pertama kali bertemu kamu, aku pikir kamu adalah solusi untuk masalahku. Cara untuk ku membalas dendam. Cara untuk keluar dari situasi yang menyakitkan. Dan pada awalnya, memang seperti itu."
Mayra tersenyum di tengah air matanya yang mengalir deras.
"Tapi perlahan, kamu menjadi lebih dari itu. Kamu menjadi alasan aku bersemangat untuk pulang ke rumah. Kamu menjadi orang pertama yang ingin aku beritahu saat ada hal baik atau buruk terjadi. Kamu menjadi tempat teramanku di dunia ini."
Sekarang giliran Dev yang matanya berkaca-kaca.
"Aku berjanji padamu hari ini, aku akan mencintaimu dengan sepenuh diriku. Aku akan mendukung semua yang kamu lakukan. Aku akan jadi pasangan yang kamu bisa andalkan dalam situasi apapun. Aku akan membuat kamu tertawa saat kamu sedih, memelukmu saat kamu lelah, dan merayakan setiap momen bahagia bersamamu."
Mayra menatap mata Dev dengan sangat tulus.
"Aku berjanji akan jadi istri terbaik yang aku bisa, ibu yang penuh kasih untuk anak-anak kita nanti, dan sahabat yang akan selalu ada sampai akhir. Karena kamu sudah mengubah hidupku dengan cara yang aku tidak pernah bayangkan. Kamu membuatku percaya pada cinta lagi. Dan aku akan mencintaimu sampai jantungku berhenti berdetak. Aku mencintaimu, Dev. Selamanya."
Tidak ada lagi mata yang kering di gazebo. Bahkan beberapa pria terlihat menghapus mata mereka dengan diam-diam.
Pastor harus menarik napas dalam sebelum melanjutkan, jelas juga terharu dengan janji yang dia dengar.
"Cincin, silakan," kata Pastor.
Marco maju dan menyerahkan dua cincin platinum yang sederhana tapi elegan, cincin pernikahan yang akan melengkapi cincin pertunangan mereka.
"Dev, silakan pakaikan cincin ini di jari Mayra dan ulangi setelah saya," instruksi Pastor.
Dev mengambil cincin untuk Mayra dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia meraih tangan kiri Mayra dan perlahan memasukkan cincin itu ke jari manis Mayra, tepat di atas cincin pertunangan.
"Dengan cincin ini, aku menikahimu," kata Dev sambil menatap mata Mayra. "Aku berjanji mencintaimu, menghormatimu, dan menjagamu, selama kita berdua hidup."
"Mayra, giliran kamu," kata Pastor.
Mayra mengambil cincin untuk Dev, sedikit lebih lebar, platinum yang sama dengan miliknya. Dengan tangan yang gemetar, dia memasukkan cincin itu ke jari manis Dev.
"Dengan cincin ini, aku menikahimu," kata Mayra dengan suara bergetar. "Aku berjanji akan mencintaimu, menghormatimu, dan menjagamu, selama kita berdua hidup."
Pastor tersenyum lebar. "Dengan kuasa yang diberikan padaku, dan di hadapan Tuhan dan para saksi di sini, aku dengan bahagia menyatakan kalian sebagai suami dan istri. Dev, kamu boleh mencium istrimu."
Dev tidak perlu diminta dua kali.
Dia menarik Mayra ke dalam pelukannya dan mencium istrinya dengan lembut tapi penuh cinta, ciuman yang membuat semua tamu bersorak dan bertepuk tangan dengan keras.
Saat mereka terpisah, keduanya tersenyum dengan air mata kebahagiaan di mata.
"Sekarang kamu benar-benar istriku," bisik Dev.
"Dan kamu benar-benar suamiku," bisik Mayra balik.
Pastor mengangkat tangannya ke arah tamu. "Hadirin sekalian, dengan sangat senang saya perkenalkan, untuk pertama kalinya sebagai pasangan yang menikah dengan benar, Tuan dan Nyonya Dev Armando!"
Tamu-tamu berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah. Beberapa bersorak, beberapa menangis bahagia.
Band mulai memainkan musik prosesi keluar yang penuh ceria dan sukacita.
Dev dan Mayra berjalan turun dari gazebo,dengan tangan bergandengan dengan erat, tersenyum lebar sambil berjalan melewati lorong yang sekarang dihujani dengan kelopak bunga yang dilempar oleh tamu-tamu.
Saat melewati Pak Bambang, Mayra berhenti sebentar untuk memeluk ayahnya yang menangis bahagia.
"Terima kasih, Pa," bisik Mayra.
"Selamat, sayang. Selamat," bisik Pak Bambang balik.
Lalu Mayra dan Dev melanjutkan perjalanan, keluar dari area upacara menuju area resepsi dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Akhirnya.
Akhirnya mereka menikah dengan cara yang benar, dengan cinta yang tulus, dan di depan orang-orang yang mereka sayangi.
******
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi