Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 07: Ancaman dari Eksekutor
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Reggiano. Pasca insiden di gedung pusat, Organisasi seolah sengaja menimbunnya dengan tumpukan tugas. Bukan tugas strategis yang bersih, melainkan tugas-tugas lapangan yang kotor dan melelahkan, seolah-olah Vauclain ingin memastikan tangan Reggiano tetap berlumuran darah sehingga ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.
Sektor utara, pelabuhan barat, hingga distrik industri bawah tanah Reggiano bergerak seperti mesin. Ia nyaris tidak tidur, hanya didorong oleh kafein dan keinginan untuk segera menyelesaikan "pekerjaan kotor" ini agar bisa pulang.
Namun, di tengah jadwal yang mencekik itu, ada satu jadwal yang tidak pernah ia lewatkan.
Pukul 17.15.
Reggiano memarkir mobilnya di depan Flower’s Patisserie. Ia diam sejenak di dalam kabin, mengatur napasnya. Di bawah mantelnya, ia masih mengenakan rompi anti-peluru yang panas, dan bahunya terasa pegal karena beban holster senjatanya. Ia menyeka sisa noda minyak senjata di sela kuku jarinya dengan tisu basah, lalu memasang wajah "Herbert si pria kantoran" yang lelah namun ramah.
Ting.
Suara lonceng toko itu seperti air dingin yang menyiram api di kepalanya.
"Selamat sore, Nona Florence," sapa Reggiano. Suaranya sedikit serak, benar-benar menunjukkan kelelahan seorang pria yang habis bekerja lembur.
Seraphine sedang membersihkan meja kayu di sudut. Ia menoleh, matanya memindai sosok Reggiano dari kepala hingga kaki. Meskipun Reggiano sudah berusaha keras bersembunyi di balik topengnya, aura ketegangan dari medan tempur tidak bisa hilang begitu saja dalam lima menit.
"Sore yang berat, Tuan Herbert?" tanya Seraphine. Ia tidak tersenyum lebar, tapi sorot matanya tampak melembut melihat lingkaran hitam di bawah mata Reggiano.
"Akhir tahun selalu gila di kantor," jawab Reggiano sambil mendekati konter.
"Banyak laporan yang harus diselesaikan segera."
Seraphine meletakkan kain lapnya dan berjalan ke balik meja. "Anda terlihat seperti baru saja melewati badai, bukan sekadar laporan kantor. Duduklah sebentar. Saya akan ambilkan biskuit jahe yang baru keluar dari oven."
Reggiano ingin menolak karena ia merasa bayang-bayang agen intelijen mungkin masih mengawasinya di luar sana, namun tubuhnya terlalu lelah untuk berdebat. Ia duduk di kursi tinggi di depan konter.
"Terima kasih. Saya hanya butuh sesuatu untuk Elena, lalu saya akan segera pulang," ucap Reggiano.
Seraphine menyiapkan kotak kue dengan gerakan yang tenang dan ritmis. Sambil membungkus kue, ia berbicara dengan nada santai, seolah-olah kejadian tentang Gable kemarin benar-benar sudah terlupakan.
"Tadi siang ada pelanggan baru yang datang," cerita Seraphine ringan.
"Dia pria yang sangat rapi, memakai kacamata hitam meskipun di dalam ruangan. Dia bertanya banyak tentang biskuit favorit anda."
Reggiano menegang. Jantungnya berdegup lebih kencang.
"Benarkah? Apa dia bilang siapa namanya?"
"Tidak. Dia hanya bilang dia rekan kerja anda di... 'Pusat Logistik'," Seraphine melirik Reggiano.
"Dia bertanya apakah anda sering datang ke sini sendirian atau bersama adik anda."
Reggiano mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menjaga wajahnya tetap datar. Vauclain mulai bergerak. Mereka tidak lagi hanya mengawasinya, mereka mulai mengendus wilayah Seraphine secara langsung.
"Dia memang orang yang suka ingin tahu. Jangan terlalu dihiraukan," jawab Reggiano, mencoba terdengar acuh tak acuh.
Seraphine meletakkan kotak kue di atas meja, namun ia tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Reggiano tepat di mata.
"Tuan Herbert, toko ini kecil. Tapi saya tahu kapan seseorang datang untuk membeli roti, dan kapan seseorang datang untuk mengukur lebar ruangan."
Reggiano terdiam. Seraphine jauh lebih jeli daripada yang ia duga.
"Jika pekerjaan anda di kantor membuat anda dikelilingi orang-orang yang gemar mengukur ruangan, mungkin anda harus mulai memikirkan untuk mencari kantor baru," lanjut Seraphine dengan nada yang separuh bercanda, namun separuhnya lagi terasa seperti peringatan serius.
Reggiano menerima kotak kue itu. "Akan saya pertimbangkan, Seraphine. Terima kasih."
Saat Reggiano bangkit berdiri, Seraphine tiba-tiba menyodorkan setangkai bunga mawar kecil yang batangnya sudah dibungkus kertas.
"Untuk anda. Bukan untuk Elena. Simpan di meja kerja anda. Wanginya membantu untuk tetap fokus saat situasi menjadi... berantakan."
Reggiano mengambil bunga itu. Mawar itu berwarna putih dengan semburat ungu yang sangat pucat. Saat ia menghirup aromanya, rasa lelah yang menghimpit bahunya seolah sedikit berkurang.
"Sampai jumpa besok, Nona Florence," ucap Reggiano.
"Hati-hati di jalan, Tuan Herbert. Kadang jalan pulang tidak seaman yang kita ingat," balas Seraphine pelan.
Reggiano keluar dari toko.
Di dalam mobil, ia meletakkan mawar itu di dasbor. Ia tahu, meskipun ia berusaha menyembunyikan identitasnya, Seraphine sudah menyadari bahwa ada bahaya yang mengikuti bayangannya dan yang paling mengkhawatirkan adalah Organisasi kini tahu, bahwa Reggiano peduli pada apa yang dilakukan gadis penjual bunga ini.
Pukul 08.00 pagi Gedung pusat Organisasi tampak seperti benteng beton yang dingin di bawah langit mendung. Reggiano melangkah masuk melalui lobi utama tanpa prosedur pemeriksaan standar. Penjaga yang mencoba menghentikannya terlempar ke dinding hanya dengan satu dorongan bahu; tatapan Reggiano hari ini tidak menyisakan ruang untuk kompromi.
Ia tidak menuju ruang laporan. Ia langsung menuju lantai teratas, ruang kerja pribadi Vauclain.
BRAK!!
Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu terbuka paksa. Dua pengawal pribadi Vauclain langsung menghunuskan senjata, namun Reggiano bergerak lebih cepat.
Dalam satu gerakan yang nyaris tak tertangkap mata, ia sudah berada di antara mereka, mencengkeram pergelangan tangan keduanya hingga terdengar suara tulang retak yang mengerikan. Senjata mereka jatuh ke lantai sebelum mereka sempat menarik pelatuk.
"Keluar," desis Reggiano. Suaranya rendah, namun mengandung getaran yang membuat nyali siapapun menciut.
Vauclain, yang sedang duduk tenang di balik meja besarnya, memberi isyarat agar pengawalnya yang kesakitan mundur. Ia merapikan kacamatanya, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya di hadapan monster yang ia ciptakan sendiri.
"Reggiano. Tindakan ini sangat tidak profesional," ucap Vauclain, meski jarinya sedikit gemetar saat meletakkan pena.
Reggiano melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di atas meja emas Vauclain. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam pupil mata sang petinggi.
"Dengarkan aku baik-baik, Vauclain. Aku tahu kau mengirim orang ke Flower’s Patisserie. Aku tahu kau mulai mengendus apartemenku," suara Reggiano terdengar sangat tenang, dan itulah yang membuatnya menakutkan.
"Ini adalah peringatan pertama dan terakhirmu."
"Kau mengancam Organisasi?" Vauclain mencoba tertawa hambar. "Tanpa kami, kau hanyalah pembunuh yang tidak memiliki tujuan."
Reggiano tersenyum, sebuah senyuman predator yang sangat haus darah.
"Tanpa aku, Organisasi ini akan runtuh dalam semalam karena tidak ada yang berani melakukan pekerjaan kotor yang kulakukan," Reggiano merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan mematikan.
"Jika kau, atau siapapun dari kalian, kembali mendekati Nona Seraphine atau Elena adikku... aku akan berhenti menjadi alat kalian. Aku akan menjadi musuh kalian."
Ia menjeda sejenak, memberikan tekanan udara yang mencekam di ruangan itu.
"Aku akan memburu kalian satu per satu. Aku tidak akan hanya menembak kepala kalian. Aku akan mencabik-cabik kalian, memastikan tidak ada satu pun organ tubuh kalian yang tersisa utuh untuk dikuburkan. Aku akan menghapus nama kalian dari sejarah kota ini dengan cara yang paling buas yang bisa dibayangkan manusia."
Vauclain terdiam. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Ia telah melihat Reggiano bekerja; ia tahu pria di depannya ini tidak pernah menggertak.
Jika Reggiano memutuskan untuk menjadi "buas", maka seluruh pasukan elit Organisasi pun tidak akan cukup untuk menghentikannya.
Reggiano adalah variabel yang terlalu berbahaya untuk dijadikan musuh.
"Tarik semua agenmu dari Distrik Timur. Detik ini juga," perintah Reggiano. "Dan jangan pernah sebut nama toko itu lagi dalam rapat-rapat busuk kalian. Apa aku cukup jelas?"
Vauclain menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Jelas, Reggiano. Kami akan... menyesuaikan prosedur kami."
Reggiano berdiri tegak, merapikan jas abu-abunya yang tidak sedikitpun berkerut. Aura haus darah yang tadi memenuhi ruangan tiba-tiba menghilang, berganti kembali menjadi kedinginan yang sopan.
"Bagus. Aku akan kembali bekerja. Jangan buat aku harus datang lagi ke sini untuk hal yang sama," ucap Reggiano.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah tenang. Para agen di koridor menepi, memberi jalan seolah-olah seorang raja iblis baru saja lewat. Organisasi, dengan segala kekuasaannya, baru saja menyadari bahwa mereka tidak memiliki kendali atas Reggiano Herbert; mereka hanya memiliki kesepakatan rapuh yang bisa hancur kapan saja.
Sore harinya, Reggiano kembali ke toko Seraphine. Beban di bahunya terasa sedikit lebih ringan karena ia tahu para pengintai itu sudah ditarik mundur.
Ting.
"Selamat sore, Nona Florence," sapa Reggiano, kembali dengan topeng pria kantorannya yang lembut.
Seraphine menoleh dari balik oven, menatap Reggiano cukup lama. Ia tidak tahu apa yang baru saja dilakukan pria ini di pusat kota, tapi ia bisa merasakan perubahan pada atmosfer di sekeliling Reggiano.
"Sore, Tuan Herbert," sahut Seraphine dengan senyum yang sedikit lebih tulus dari kemarin. "Anda terlihat... jauh lebih lega hari ini. Apa masalah di kantor sudah selesai?"
Reggiano tersenyum tipis sambil menyesuaikan letak kacamata peraknya.
"Ya. Saya baru saja menyingkirkan beberapa 'gangguan' yang tidak perlu."
Reggiano berdiri di depan konter, mencoba terlihat sealami mungkin. Namun, saat ia merogoh dompet untuk membayar kue pesanan Elena, kain manset kemejanya sedikit tersingkap. Di punggung tangannya, terdapat luka sobek memanjang, bekas gesekan dari tulang rahang salah satu pengawal Vauclain yang ia hantam pagi tadi. Luka itu memerah dan sedikit membengkak, sebuah tanda kekerasan yang tidak cocok dengan seorang "pria kantoran".
Mata Seraphine yang tajam tidak melewatkan detail itu.
"Tangan anda," ucap Seraphine pendek. Ia tidak bertanya, itu adalah sebuah pernyataan yang menuntut perhatian.
Reggiano segera menarik tangannya kembali, mencoba menutupi luka itu dengan lengan jasnya.
"Ah, ini... hanya kecelakaan kecil. Terkena pinggiran laci meja yang tajam saat merapikan berkas. Saya belum sempat mengobatinya."
Seraphine tidak tampak percaya. Ia meletakkan kotak kue yang sedang ia pegang, lalu berjalan keluar dari balik konter. Ia mendekati Reggiano, dan entah mengapa, otoritas yang terpancar dari gerakannya membuat sang Eksekutor tidak mampu melangkah mundur.
"Laci meja tidak akan meninggalkan jejak memar seperti itu, Tuan Herbert," bisik Seraphine. Ia meraih tangan Reggiano dengan lembut.
Sentuhan Seraphine terasa sejuk, seperti embun pagi yang menyentuh kulit yang terbakar. Reggiano merasakan napasnya tertahan saat Seraphine menuntun tangannya ke atas meja kayu. Perempuan itu kemudian mengambil sebuah wadah kecil dari porselen putih yang berada di rak di belakangnya.
Di dalamnya terdapat pasta berwarna hijau pucat yang mengeluarkan aroma hutan setelah hujan, sangat segar, namun ada jejak aroma purba yang sulit dijelaskan.
"Ini salep herbal buatan saya sendiri. Campuran dari beberapa kelopak bunga yang hanya mekar di bawah sinar bulan," ucap Seraphine sambil mengambil sedikit pasta itu dengan ujung jarinya.
Begitu Seraphine mengoleskan pasta itu ke luka Reggiano, sebuah sensasi aneh menjalar. Itu bukan rasa perih layaknya alkohol atau obat merah. Rasanya seperti ribuan arus listrik kecil yang menenangkan, masuk ke dalam pori-porinya dan langsung mematikan rasa sakit.
Reggiano terpaku.
Di depan matanya sendiri, sesuatu yang mustahil terjadi.
Gurat merah yang membengkak di kulitnya mulai memudar dalam hitungan detik. Pinggiran luka yang sobek itu seolah-olah ditarik oleh benang-benang tak kasat mata, menyatu kembali dengan sempurna tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, kulit punggung tangan Reggiano kembali mulus, seolah-olah bentrokan berdarah di kantor Vauclain hanyalah mimpi buruk.
Reggiano menarik tangannya, menatapnya dengan rasa tidak percaya yang luar biasa. Ia adalah ahli dalam hal luka dan anatomi; ia tahu luka sedalam itu seharusnya butuh waktu seminggu untuk kering.
"Apa... apa ini?" suara Reggiano sedikit bergetar.
Seraphine hanya tersenyum tenang sambil menutup kembali wadah porselennya.
"Hanya keajaiban kecil dari alam, Tuan Herbert. Kadang-kadang, tanaman memiliki cara yang jauh lebih baik untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia."
Ia menatap Reggiano, matanya seolah bisa menembus hingga ke dalam jiwanya yang kelam.
"Hati-hati dengan 'laci meja' anda besok-besok. Tidak semua luka bisa hilang hanya dengan salep ini jika anda terus memaksanya untuk terbuka."
Reggiano menelan ludah. Keajaiban yang baru saja ia saksikan memperjelas satu hal. Seraphine bukan hanya sekadar wanita misterius, dia adalah sesuatu yang berada di luar nalar dunia gelap yang Reggiano huni.
"Terima kasih, Seraphine," ucap Reggiano lirih. Ia mengambil kotak kuenya dan segera keluar, merasa butuh udara segar untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Di dalam mobil, ia terus memperhatikan punggung tangannya yang kini bersih tanpa cela. Ia merasa Seraphine baru saja memberinya lebih dari sekadar pengobatan; dia memberinya sebuah pesan bahwa di toko kecil itu, hukum dunia yang kejam tidak berlaku.
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis apartemen Reggiano, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu yang biasanya terasa kaku dan dingin. Reggiano duduk di meja makan, menyesap kopi hitamnya dalam keheningan yang biasa. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Kesunyian apartemennya tidak lagi terasa hampa dan berdebu, ada sebuah kesegaran yang mengalir di setiap sudut ruangan, seolah-olah seseorang baru saja membuka jendela lebar-lebar di tengah hutan pinus yang basah oleh embun.
Ia melirik ke arah punggung tangannya.
Tidak ada gurat merah, tidak ada bekas luka, bahkan tidak ada kerutan tipis. Kulitnya di sana terasa lebih lembut daripada bagian tubuhnya yang lain. Salep dari Seraphine telah bekerja dengan efisiensi yang mengerikan, sebuah efisiensi yang melampaui standar medis terbaik yang dimiliki Organisasi.
Suara langkah kaki ringan terdengar dari arah koridor. Elena muncul dengan piyama flanelnya, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Namun, bukannya langsung menuju dapur untuk mencari sereal, ia berhenti di tengah ruangan. Gadis itu memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam dengan hidungnya yang mungil.
"Kak?" panggil Elena dengan suara serak khas bangun tidur.
Reggiano menurunkan cangkir kopinya.
"Ya, Elena? Ada apa?"
Elena berjalan mendekat, wajahnya tampak bingung namun berbinar.
"Apa Kakak membeli pengharum ruangan baru? Atau... apa Kakak membiarkan jendela terbuka semalaman?"
"Tidak, jendela tetap tertutup. Kenapa?"
Elena menggelengkan kepalanya pelan, matanya menyapu sekeliling ruang tamu yang minimalis itu.
"Baunya... aneh. Tapi aneh yang enak. Seperti bau hujan, tapi ada manisnya bunga yang belum pernah aku cium sebelumnya. Baunya menempel di mana-mana, Kak. Rasanya seperti aku tidak sedang berada di apartemen di tengah kota yang penuh polusi."
Reggiano terdiam. Ia baru menyadari bahwa aroma dari salep di tangannya semalam tidak hilang meski ia sudah mandi. Justru, aroma itu tampaknya menyatu dengan baik, memenuhi udara di sekitarnya itu tidak hanya sekadar menjadi salep, tetapi seakan dijaga oleh penjaga taman.