NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tanpa Typo?

​​Hujan tipis baru saja reda sore ini, menyisakan aroma hujan dan udara dingin yang bikin siapa pun pengen pesen mi instan pakai rawit. Tapi di sini gue sekarang, duduk di kafe yang sama di hotel tempat drama "Kastara Mati" itu dimulai.

​Gue melirik pria di depan gue. Genta nggak lagi pakai kemeja kantor yang dikancing sampai leher. Dia pakai sweater abu-abu yang bikin tampilannya jauh lebih santai, meski tangannya masih tetap sibuk sama laptop.

​Seorang pelayan datang nganterin pesanan kami. Dua cangkir kopi.

​"Bapak... eh, Genta, kamu serius pesan ini?" tanya gue sambil menunjuk cangkirnya.

​Genta sruput kopinya dengan tenang. "Kenapa? Ada yang salah secara struktur?"

​"Itu... itu kopi pakai gula?" gue melongo. "Sejak kapan robot efisiensi kayak kamu toleransi sama glukosa?"

​Genta meletakkan cangkirnya, lalu menatap gue dengan tatapan yang bikin gue selalu ngerasa jadi tokoh utama paling beruntung sedunia. "Sejak draf hidup saya terlalu manis karena ada kamu. Rasanya aneh kalau lidah saya tetap pahit sementara hati saya sudah nggak lagi."

​Gue mendengus, mencoba menahan senyum biar nggak kelihatan terlalu baper. "Dih, sejak kapan pinter gombal? Pasti kebanyakan baca naskah romance ya?"

​"Saya belajar dari penulis favorit saya," balasnya cepat, lalu menarik laptop gue mendekat ke arahnya. "Ngomong-ngomong, bab terakhir buat proyek rebranding kita sudah selesai saya kurasi."

​Gue ikut mendekat, melihat layar laptop. Di sana tertulis judul naskah baru kami: 'Draf Hidup Tanpa Revisi'.

​"Tanpa revisi?" gue ketawa kecil. "Kamu yakin? Kita ini kan gudangnya masalah. Baru kemarin aja kita debat gara-gara kamu mau ngatur jadwal tidur gue pakai tabel Excel."

​Genta menggenggam tangan gue di atas meja. "Itu bukan debat, Aruna. Itu sinkronisasi data."

​"Terserah kamu deh, Sayang," balas gue manja, yang langsung bikin telinga Genta memerah instan. Sukses! Ternyata bikin dia salting masih jadi hobi favorit gue sampai sekarang.

​Gue nyender ke bahunya, memperhatikan orang-orang yang lewat di luar jendela kafe. Rasanya semua sudah sempurna. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi tinta merah yang menyakitkan. Cuma ada gue, Genta, dan masa depan yang kelihatan cerah.

​Tapi, tepat saat gue mau memejamkan mata menikmati momen itu, ponsel Genta dan ponsel gue bergetar barengan di atas meja. Bunyinya bukan notifikasi biasa. Itu bunyi darurat dari aplikasi penerbitan pusat.

​Gue dan Genta refleks saling lirik. Gue meraih ponsel gue duluan.

​"Apa ini?" gumam gue, ngerasain firasat nggak enak.

​Mata Genta menyipit saat membaca layar ponselnya. Wajah santainya mendadak hilang, berganti jadi mode 'Editor Kepala' dalam sekejap.

​"Aruna... naskah novel kamu yang baru saja terbit..." Genta menggantung kalimatnya, wajahnya kelihatan pucat.

​"Kenapa? Penjualannya anjlok?" tanya gue panik.

​"Bukan. Di halaman seratus lima puluh... ada satu paragraf yang nggak sengaja masuk. Itu bukan draf final," suara Genta bergetar. "Itu catatan pribadi kamu tentang... rahasia Pak Hermawan dan skandal perusahaan yang harusnya kita hapus bulan lalu."

​Jantung gue serasa berhenti berdetak. "Hah? Kok bisa?! Bukannya kamu yang kurasi terakhir?"

​"Gue... gue rasa ada yang sabotase akun kita," bisik Genta, kali ini dia nggak panggil gue 'Aruna', tapi 'Gue'. Tanda kalau situasinya benar-benar gawat.

​Belum sempat gue nanya lebih lanjut, pintu kafe tiba-tiba terbuka dengan kasar. Beberapa orang berpakaian jas hitam masuk dengan wajah garang, mata mereka langsung menyapu ruangan dan berhenti tepat di meja kami.

​Genta langsung berdiri, narik gue ke belakang punggungnya. "Aruna, tutup laptopnya sekarang. Lari ke arah parkiran belakang."

​"Tapi, Genta."

​"LARI, ARUNA! Typo kali ini bukan cuma soal kata, tapi soal nyawa kita!"

​Gue nggak sempat mikir lagi. Gue sambar laptop, dan saat gue mulai lari, gue sempat melihat Genta menghadapi orang-orang itu dengan tatapan paling dingin yang pernah gue lihat—jauh lebih dingin dari saat dia mencoret naskah gue dulu.

​Ternyata, bab 'bahagia selamanya' kami baru saja kena revisi besar-besaran. Dan kali ini, musuhnya bukan lagi soal tanda baca.

​[SEASON 1 SELESAI]

​Siapa dalang di balik sabotase naskah Aruna?

​Masa lalu Genta yang ternyata punya koneksi dengan organisasi 'tinta hitam'.

​Aruna yang harus belajar jadi detektif dadakan sambil dikejar deadline dan kejaran preman.

​Akankah kencan mereka selanjutnya tetap makan seblak, atau malah makan peluru?

​"Kadang, musuh terbesar penulis bukan cuma writer's block, tapi masa lalu yang lupa dikasih titik."

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!