Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Algoritma Tiktok
Slamet berdiri di bawah pohon kamboja pemakaman umum dekat rumahnya tepat pukul dua pagi. Di tangannya bukan lagi kemenyan, melainkan ring light portable yang dia beli pakai sisa limit kartu kredit terakhirnya. Di depannya, sesosok kain kafan putih berdiri tegak, tapi bahunya layu.
Pocong itu namanya Sugeng. Tapi di dunia ghaib, dia lebih dikenal dengan kode 'P-04'.
"Ayo dong, Geng. Jangan bungkuk gitu. Hantu itu harus tegap, harus punya wibawa!" perintah Slamet sambil mengatur posisi tripod.
Sugeng menghela napas, suaranya seperti plastik kresek yang bergesekan. "Gimana mau tegap, Met? Kemarin gue udah usaha maksimal nangkring di atas pagar rumah Pak RT. Eh, ada bocah SMP lewat bukannya lari malah bilang, 'Woi, guling laundry lewat nih! Bang, minta pargonya dong!'. Sakit hati gue, Met. Harga diri gue sebagai urban legend jatuh ke titik nol."
Slamet menepuk-nepuk (atau lebih tepatnya memukul pelan karena kainnya keras) bahu Sugeng. "Itu karena gaya lo jadul, Geng. Lo cuma loncat-loncat nggak jelas. Orang zaman sekarang itu nggak takut sama yang kaget-kagetan doang. Mereka itu haus konten. Kita harus bikin lo kelihatan 'aesthetic'."
"Aesthetic gimana? Gue cuma dibungkus kain putih, Met. Nggak ada kantongnya pula buat naruh HP," keluh Sugeng.
Slamet tersenyum licik. Dia mengeluarkan sebuah botol semprot berisi cairan bening. "Ini bukan air biasa. Ini campuran air doa dari Nyi Blorong dan cairan fosfor. Gue bakal bikin lo glow in the dark. Terus, lo nggak usah loncat. Lo harus 'glide', melayang pelan tanpa suara. Itu jauh lebih menyeramkan daripada suara 'gedebuk-gedebuk' lo yang kayak karung beras jatuh itu."
Slamet mulai bekerja. Dia menyemprotkan cairan itu ke kain kafan Sugeng. Tak lupa, dia merapikan ikatan di atas kepala Sugeng agar terlihat lebih simetris. "Nah, sekarang dengerin instruksi gue. Kita bakal bikin video TikTok 'Get Ready with Me' versi alam bar zah. Tapi twist-nya, lo bakal ngasih tips investasi supaya orang nggak dikejar pinjol kayak gue."
"Hubungannya apa sama nakutin orang?" tanya Sugeng bingung.
"Geng, dengerin. Hal yang paling nakutin buat manusia modern bukan muka hancur lo, tapi fakta bahwa mereka nggak punya masa depan. Kalau lo muncul sambil bilang, 'Masa depanmu bakal seputih kain kafanku kalau kamu nggak nabung sekarang,' mereka bakal kepikiran sampai subuh! Itu namanya horor psikologis-ekonomis!"
Slamet menyalakan kamera HP-nya. Lampu ring light menerangi wajah Sugeng yang pucat pasi (memang sudah mati sih).
"Action!" bisik Slamet.
Sugeng mulai beraksi. Sesuai arahan Slamet, dia tidak melompat. Dia bergerak maju dengan gerakan halus yang diajarkan Slamet (ternyata Sugeng pakai skateboard kecil yang disembunyikan di bawah kainnya). Di bawah sorotan lampu, kain kafannya bersinar kebiruan yang sangat mistis.
"Halo, para budak korporat yang masih lembur jam segini," suara Sugeng dibuat seberat mungkin, tapi tetap datar. "Kenalin, gue Sugeng. Gue mau kasih tahu, lembur itu boleh, tapi inget... di ujung jalan, kalian cuma bakal butuh kain kafan satu set kayak gue. Harganya naik lho tahun depan. Mending mulai cicil tanah makam dari sekarang daripada cicil iPhone. Jangan sampai pas mati, kalian masih ditagih bunga pinjol sama malaikat..."
Slamet menahan tawa di balik kamera. "Bagus! Sekarang kasih tatapan kosong ke kamera, Geng. Tahan... tahan... Oke, cut!"
Slamet langsung mengedit video itu dengan backsound musik "Lingsir Wengi" yang di-remix dengan beat jedag-jedug tipis. Dia menambahkan teks besar: SELF IMPROVEMENT DARI LIANG LAHAT.
Baru sepuluh menit diunggah ke akun baru @Sugeng The.Spirit, videonya meledak.
User123: "Anjir, pocongnya bener juga. Gue langsung cek saldo tabungan sambil merinding."
Investor Muda: "Ini marketing asuransi jiwa atau gimana? Serem tapi edukatif!"*
Pinjol Hater: "Dengerin tuh! Daripada dikejar debt collector, mending dikejar Sugeng!"
Slamet melihat statistik akunnya. Viewer nya tembus 500 ribu dalam sekejap. Di sudut layarnya, muncul notifikasi dari sistem K.MN: [Status: Grafik Ketakutan Sektor Pemakaman Meningkat 25%. Alasan: Manusia mulai merasa eksistensinya terancam secara finansial.]
"Berhasil, Geng!" seru Slamet kegirangan.
Sugeng tampak terharu, meski matanya tetap melotot karena memang nggak punya kelopak mata. "Met... gue ngerasa berguna lagi. Ternyata jadi hantu nggak harus selalu bikin orang pingsan ya? Bikin orang mikir itu lebih memuaskan."
Namun, di tengah euforia itu, tiba-tiba suhu udara di pemakaman turun drastis. Jauh lebih dingin daripada biasanya. Ring light Slamet tiba-tiba meledak, dan HP-nya mati total.
Dari balik pohon kamboja paling besar, muncul sesosok makhluk yang sangat kecil, tapi auranya membuat Slamet sulit bernapas. Itu adalah Tuyul yang tadi dia temui di kantor pusat, tapi kali ini dia tidak memakai hoodie. Dia memakai setelan jas lengkap berukuran mini dan membawa koper besi.
"Slamet," suara si Tuyul melengking tajam. "Nyi Blorong puas dengan hasil kerja lo di TikTok. Tapi, ada satu masalah besar. Lo baru saja menyinggung 'Serikat Pinjol Dunia Ghaib'. Mereka nggak suka lo bikin konten yang nyuruh manusia berhenti berutang. Itu mematikan bisnis mereka."
Slamet melongo. "Tunggu... Pinjol juga ada serikat ghaibnya?!"
"Lu kira siapa yang ngasih ide bunga 100% ke pemilik aplikasi pinjol di dunia manusia? Itu bisikan dari kami!" si Tuyul menyeringai. "Sekarang, lo punya dua pilihan: Hapus video Sugeng, atau lo bakal berhadapan sama 'Dept Collector Ghaib' yang nggak bakal nagih lewat telepon, tapi langsung lewat mimpi buruk setiap malam sampai lo gila."
Slamet menoleh ke arah Sugeng yang ketakutan sampai kain kafannya gemetar. Slamet mengepalkan tangannya. Dia sudah muak dikejar pinjol di dunia nyata, masa di dunia ghaib dia juga harus kalah?
"Kasih tahu bos lo, si Serikat Pinjol itu," kata Slamet dengan nada berani (padahal kakinya gemetaran). "Gue nggak bakal hapus videonya. Justru, besok gue bakal bikin konten bareng Kuntilanak soal cara 'Ghosting' debt collector. Kalau mau perang, ayo! Gue udah nggak punya apa-apa lagi buat di rugi in selain nyawa gue sendiri!"
Tuyul itu terdiam, lalu tertawa kecil. "Berani juga lo. Oke, kita liat seberapa lama lo bisa bertahan kalau semua hantu di bawah naungan K.MN ditarik akses internetnya oleh Serikat."
Si Tuyul menghilang dalam kepulan asap hitam yang bau hangus.
Sugeng mendekati Slamet. "Met... lo nekat banget. Terus sekarang gimana? HP lo mati, ring light lo pecah."
Slamet menghela napas panjang, menatap langit malam Jakarta yang tanpa bintang. "Gue butuh bantuan profesional, Geng. Kita nggak bisa cuma main medsos. Kita harus cari 'Hacker Ghaib'. Gue pernah denger ada arwah hacker yang mati gara-gara kebanyakan minum kopi pas lagi nge-retas situs pemerintah. Kita harus cari dia di warnet hantu terdekat."
Malam itu, Slamet sadar bahwa pekerjaannya bukan cuma soal konten, tapi soal perang sistem. Perang antara rakyat jelata (manusia dan hantu) melawan korporat ghaib yang rakus.