Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 : Semanis parasnya
Baru saja Ainur mau membantah lagi, tapi tayangan di cawan itu membuatnya tercengang, tubuh lemas, tangan terkulai diatas meja.
Stagen wanita berwajah keibuan, ternyata digunakan untuk mengencangkan perut pasca persalinan. Dia sedang menggendong bayi masih merah terbungkus kain jarik.
“Ainur, namanya. Dia tidak berharga, tak berarti apa-apa. Jangan pernah berharap dengan kehadirannya kamu bisa naik status dari seorang pelayan menjadi istri juragan Sugianto,” Warti dalam tampilan lebih muda, berkata tajam. Dia duduk di kursi tunggal dihadapan wanita tengah bersimpuh.
Pelayan tadi mengangguk lalu langsung menunduk dalam, kemudian dia mundur sampai sedikit jauh baru berdiri membawa bayinya ke paviliun khusus pekerja di hunian Sugianto.
Ainur termangu, masih sukar percaya – wanita yang selama ini dia panggil ibu, bisa berekspresi kejam dan tak berhati nurani. Belum pernah ia dapati tatapan benci, merendahkan Warti tadi.
Air cawan kembali putih, gambar-gambar tadi sirna meninggalkan luka menganga, kebingungan dalam hati wanita berwajah pias.
Kinasih duduk menyamping, lengan kirinya bertumpu pada permukaan meja. “Kamu keturunan Sugianto, tapi bukan anak kandung Warti. Dirimu calon tumbal yang selamat. Terlalu kuat, tidak dapat diruntuhkan dari rahim ibumu. Awalnya mereka mau melenyapkan, menganggap kehadiranmu layaknya hama pengganggu, terlebih berjenis kelamin perempuan.”
“Namun, seorang dukun datang – menimangmu seraya menerawang jauh ke masa depan. Ki Ageng, ya … dia memiliki keistimewaan, dapat mengintip nasib seseorang dan melihat kilas balik masa lalu. Dari mulutnya terlontar, jika kamu sangat subur, sembilan kali hamil. Bisa dijadikan tameng agar keturunan sah Jayadi, Sugianto, Tukiran – tetap hidup.” Kinasih menoleh ke Ainur, memastikan wanita itu masih mendengarkan.
“Lebih penting dari itu – dari rahimmu, penerus langka itu tercipta, anak laki-laki yang mana garis keturunannya tersisa pada Daryo, suamimu _”
Ainur menyela. “Kenapa harapan hanya bertumpu di dia, kan masih ada Citranti?”
“Garis keturunan dari pria, sedangkan Citranti gabuk, mandul tapi memiliki rahim. Tidak bisa dibuahi namun bisa menampung janin. Bukan cuma dia, Kamila dan Dayanti pun sama – keturunan buyut Wara, hanya tertinggal Daryo. Harapan terakhir agar garis keturunan tidak putus. Akan tetapi, pria itu juga memiliki masalah kesuburan, hanya wanita tertentu yang dapat menampung benihnya hingga jadi janin.”
“Apa ini semacam kutukan keluarga?” Ainur mulai meraba, menerka fakta gila ini.
“Tepat. Jayadi, Sugianto, Tukiran, pernah melakukan hal fatal. Mereka dikutuk. Kutukan yang perlahan-lahan membunuh keturunan mereka. Tersisa tiga orang wanita, dan setunggal pria – Daryo.” Kinasih menatap ke depan, memandangi jarum jam yang berhenti.
“Dua puluh tujuh tahun lalu. Ketiga bersaudara jauh memiliki buyut yang sama, Wara. Mereka adalah sosok arogan, memiliki hobi sama, berburu. Melewati batas garis telah dilarang dilewati antara dunia fana dan tak kasat mata. Membabi buta membunuh binatang, untuk dijadikan koleksi – kepala Menjangan bertanduk dipajang pada dinding rumah."
“Kulit harimau ditenun dibuat karpet lantai sebagai simbol kekuasaan kalau hewan buas itu ada dibawah kakinya. Burung-burung cendrawasih diawetkan, dimasukkan dalam kotak kaca. Pernah ditegur penjaga hutan Tugu Ireng, kamu tahu apa yang terjadi?” ia tersenyum hampa.
“Ki Daru dibunuh, anak gadisnya diculik, ditawan disebuah rumah – digilir disaat umurnya masih tujuh belas tahun. Dia dijaga ketat oleh pengawal, dicekoki ramuan agar tidak hamil.”
Dada Ainur kembang kempis, rasa sakit merayap hingga hulu hati. Suaranya lirih … “Mereka?”
“Kakek dan ibumu.”
Suara tenang Kinasih layaknya belati menghujam jantung Ainur. Dia menatap pilu dengan linangan air mata.
“Hingga suatu hari, tepat di malam satu suro, dimana batas antara dunia manusia dan alam gaib sangat tipis. Ketiga pria tersebut pergi berburu, masuk ke dalam hutan belantara bersama para kroconya." Kinasih berhenti sejenak.
"Membunuh bayi-bayi hewan masih menyusu pada induknya, sampai berhasil melepaskan anak panah ke perut seekor Macan kumbang yang sedang mengandung. Panah itu beracun, langsung melumpuhkan. Tidak sampai di sana, Tukiran menghunuskan tombak ditempat yang telah bersimbah darah,” Kinasih melirik dengan bahu terkulai.
“Diambang kematian induk Macan kumbang, hal aneh terjadi. Sosok binatang yang sudah sekarat berubah menjadi wanita anggun berwajah pucat, mulut berdarah. Dia mengutuk para manusia biadab, mengatakan – satu persatu buah hati ketiga pria laknat itu akan mati hingga garis keturunan habis tak bersisa. Awalnya hanya dianggap angin lalu. Pun, saat Macan kumbang menghilang dari pandangan, Jayadi serta lainnya menolak percaya,” sambungnya.
“Kutukan yang dianggap takhayul, perlahan menjadi nyata sekaligus momok mengerikan – putra sulungnya Sugianto masih berumur dua tahun tiba-tiba meninggal, setahun kemudian disusul kematian putra kedua.” Kinasih tersenyum puas, matanya berkilat.
“Ditahun berikutnya, putra pertama dan bungsu keluarga Jayadi juga meninggal. Penyebabnya tidak ada yang tahu. Hal tersebut membuat ketiga keluarga besar dirundung duka mendalam sekaligus ketakutan luar biasa. Mereka mencari cara untuk menghentikan kutukan.”
Ainur menatap Kinasih yang tertawa puas dengan ekspresi bengis.
“Diambang keputusasaan, ketakutan, ki Ageng datang. Dia memiliki tujuan tersendiri dibalut menawarkan bantuan. Setiap tahun, dimalam kematian sang Macan kumbang – diwajibkan mempersembahkan satu tumbal demi menyelamatkan keturunan yang tersisa. Bukan nyawa telah berwujud manusia, tapi janin masih berupa gumpalan darah, ada juga baru terbentuk anggota tubuhnya. Percobaan pertama mereka adalah ibumu.” Kinasih menatap iba pada Inur yang sesenggukan.
“Larasani namanya, semanis parasnya. Dia dilepaskan dari rumah tahanan buatan ketiga iblis berwujud manusia itu, lalu dimasukkan ke dalam hunian Sugianto. Digauli hingga hamil, setiap malam satu suro, janinnya dicuri melalui Ritual Pujon Bayi.”
Ainur terkesiap, hanya bisa memandang dengan binar kesakitan, tak lagi mampu berkata-kata.
“Ritual Pujon Bayi, penyelamat keluarga keturunan Wara. Sekaligus membawa rezeki melimpah sampai mereka bisa kaya raya seperti sekarang. Pada percobaan ketiga, kala ibumu mengandung kamu … ritual itu gagal. Ki Ageng tak berhasil mengambil paksa dirimu, sehingga keluarga Tukiran terkena imbasnya. Putra sulung mereka meninggal dunia. Tersisa Citranti dan Daryo.”
"Keluarga Tukiran memendam benci kepadamu, menganggap kehadiranmu kesialan mereka, tapi tak berani bertindak gegabah karena dilarang oleh ki Ageng."
"Lantas ibuku apa masih hidup?" suaranya parau.
"Telah meninggal dunia, setelah janin keempatnya berhasil dijadikan tumbal."
"Meninggal atau sengaja dilenyapkan?" Ainur tidak percaya.
"Dibunuh dengan cara sangat keji nan hina. Seminggu setelah kehilangan calon adik mu, ibumu dirudapaksa ki Ageng, dia diperdaya, dicekoki ramuan yang membuatnya seperti orang mabuk, berhalusinasi."
"Apa sebabnya? Apa karena ibu sudah tak bisa lagi memberikan keturunan?"
"Benar. Pada saat itu dirimu mulai bisa mengenali sosok ibu kandungmu. Warti, Mamik, Sasmita – mereka cemas, takut tak bisa mengendalikan sepenuhnya hidupmu, menyetir, mendoktrin."
Sebuah tanya besar hinggap di hati Ainur. Selama ini, baik Warti, Mamik, Sasmita – terlihat elegan, bijaksana, berjiwa welas asih. "Setega itu? Apa dari awal mereka tahu tentang kutukan, atau dipaksa menerima kenyataan tanpa berkesempatan mengajukan protes?"
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.