Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika Hati
Suasana kantin yang tadinya tegang karena drama William dan Juliatte, mendadak berubah frekuensi saat Sonia, dengan segala keajaiban logikanya, menoleh ke arah Jax yang sedang sibuk mengunyah kentang goreng.
Sonia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Jax dengan tatapan yang sangat dalam, jenis tatapan yang biasanya membuat Jax ingin segera meretas satelit untuk kabur ke luar angkasa.
"Jaxie," panggil Sonia lembut, nada bicaranya tiba-tiba tenang, tidak melengking seperti biasanya.
"Apa lagi, Sonia? Aku sedang makan," jawab Jax tanpa menoleh, meski ia tidak menjauhkan lengannya saat Sonia mulai mendekat.
"Tadi aku melihat Jules... dia menderita sekali karena timbangan itu," Sonia menghela napas, matanya tampak tulus. "Lalu aku jadi berpikir. Kalau suatu saat nanti... kau tahu, kalau kita sudah menikah dan aku hamil anakmu... apa kau juga akan memintaku diet? Apa kau akan marah kalau berat badanku naik karena membawa mini-Jax di dalam perutku?"
Uhuk!
Leo yang sedang minum langsung tersedak, sementara Ethan terpingkal-pingkal sampai memukul-mukul meja. "Mini-Jax katanya! Astaga, Sonia, kau benar-benar!" seru Ethan di sela tawanya.
William, yang masih mengawasi Juliatte makan, hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum miring. Seluruh kantin mendadak senyap, menunggu jawaban sarkas dari sang ahli IT yang biasanya dingin itu.
Namun, Jax tidak tertawa. Ia meletakkan garpunya, terdiam sejenak, lalu menoleh menatap mata Sonia.
"Kau bodoh ya?" tanya Jax datar.
"Tuh, kan! Kau pasti akan memarahi..."
"Dengar dulu," potong Jax. Ia memperbaiki letak kacamatanya, lalu berkata dengan suara yang cukup jelas untuk didengar teman-temannya. "Secara biologis dan algoritma pertumbuhan, kenaikan berat badan saat kehamilan itu adalah variabel mutlak yang tidak boleh diinterupsi. Jika kau diet saat itu, kau hanya akan merusak sistem pendukung kehidupan di dalamnya."
Sonia berkedip-kedip, mencoba mencerna bahasa teknis Jax.
"Intinya," Jax melanjutkan, suaranya sedikit merendah dan entah ini perasaan Sonia saja atau bukan terdengar lebih lembut. "Aku tidak akan memintamu diet. Makanlah sebanyak yang kau mau. Aku akan meretas semua database toko perlengkapan bayi untuk memastikan kau dapat asupan terbaik. Lagipula... aku lebih suka kau yang berisik dan sehat daripada kau yang diam dan kelaparan seperti Fontaine."
Sonia tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Jadi... kau akan tetap mencintaiku meski aku jadi sebesar tangki motor William?"
Jax mendengus, kembali mengambil kentang gorengnya. "Selama kau tidak memborgol tanganku ke tempat tidur bayi nanti, aku rasa kita akan baik-baik saja."
"KYAAAAA! JAXIE SANGAT ROMANTIS!" Sonia langsung menghambur memeluk lengan Jax, dan anehnya, kali ini Jax tidak menghindar. Ia membiarkan gadis itu bersandar di bahunya, meski wajahnya tetap datar menatap layar ponsel.
"Lihat itu, Will," bisik Ethan pada William. "Hacker kita baru saja melakukan soft pada hatinya sendiri."
William melirik ke arah Juliatte yang sedang mengunyah steak-nya pelan. "Setidaknya ada satu orang di sini yang punya akal sehat tentang bagaimana cara memperlakukan wanita," sindir William, yang ditujukan langsung untuk menyentil rasa bersalah Juliatte karena terlalu patuh pada standar gila ayahnya.
Juliatte tersenyum tipis, senyum tulus pertamanya hari itu, melihat kebahagiaan aneh antara Sonia dan Jax. Untuk sesaat, aroma bensin di sekitar William terasa jauh lebih menenangkan daripada wangi lilin aromaterapi di rumahnya yang menyesakkan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍