Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARU, CEMBURU JADI SATU.
"Anan tidak bohong, Ma, Pa. Adiva benar-benar memanggilnya 'Myma' tadi pagi. Suaranya jelas, bukan sekadar gumaman," ucap Adnan dengan nada yang bergetar karena antusiasme yang jarang ia tunjukkan.
Hendra dan Hartati duduk tegak di sofa ruang tamu, menatap cucu mereka dengan mata berkaca-kaca. Adiva duduk di antara mereka, memeluk boneka kelinci usangnya erat-erat. Ruangan itu hening, hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan.
"Diva sayang, ini Oma. Coba bilang lagi nak, panggil Mama atau Oma juga boleh," bujuk Hartati dengan suara lembut yang memohon.
Adiva hanya menunduk. Ia memainkan telinga bonekanya, bibirnya terkatup rapat seolah terkunci oleh gembok tak kasat mata. Sepuluh menit berlalu, kemudian tiga puluh menit, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Harapan yang tadi membubung tinggi di dada Adnan perlahan merosot, berganti dengan rasa sesak yang familiar.
"Mungkin kamu salah dengar, Adnan. Mungkin itu hanya halusinasi karena kamu terlalu ingin dia sembuh," keluh Hendra sambil menghela napas berat, bahunya merosot kecewa.
"Aku tidak salah dengar, Pa! Aku berani sumpah!" sergah Adnan frustrasi.
Tepat saat suasana sedang mendung, pintu depan terbuka dengan kasar. Suara decit sepatu basah di atas lantai marmer terdengar nyaring. Nayla masuk dengan penampilan yang membuat Hartati hampir pingsan di tempat. Jilbab putihnya berubah warna menjadi abu-abu kecokelatan, seragamnya penuh bercak lumpur, dan kaos kakinya basah kuyup.
"Assalamualaikum! Duh, licin banget itu lapangan, hampir aja gue cetak gol salto kalau nggak kepeleset," seru Nayla sambil mengibas-ngibaskan roknya yang kotor.
Adnan berdiri, wajahnya mengeras. "Nayla! Apa-apaan penampilanmu ini? Kamu dari sekolah atau dari sawah?"
Nayla mendongak, menyadari ada mertuanya di sana. Ia nyengir tanpa beban. "Eh, ada Opa sama Oma. Maaf ya penampilannya agak estetik begini. Tadi habis main bola di lapangan belakang sekolah, kebetulan ada kubangan sisa hujan semalam. Seru banget, Pak!"
"Main bola di kubangan? Kamu itu istri seorang pengusaha, Nayla! Wanita tidak pantas bermain bola seperti preman pasar!" bentak Adnan, suaranya menggelegar di ruangan itu.
Nayla baru saja hendak membalas dengan kalimat tengilnya saat sebuah tarikan kecil terasa di ujung roknya yang berlumpur. Adiva sudah berdiri di sampingnya, mengabaikan kotoran yang menempel di baju Nayla.
"My...ma... jangan... marah..." bisik Adiva. Suaranya kecil, namun di ruangan sesunyi itu, bunyinya seperti ledakan meriam.
Adnan tertegun. Kata-kata marahnya tertelan kembali di tenggorokan. Hendra dan Hartati saling berpandangan dengan mulut terbuka. Mereka melihat cucu mereka yang selama setahun ini seperti patung, kini berani bersuara hanya untuk membela gadis dekil di depan mereka.
"Dengar kan? Anak Bapak aja nggak masalah aku kotor, kenapa Bapak yang sewot?" Nayla menjulurkan lidahnya pada Adnan, lalu mengusap puncak kepala Adiva. "Bentar ya, Diva sayang. Myma mau mandi dulu, bau matahari ini."
Nayla melangkah menuju tangga. Adiva tidak kembali ke sofa, ia justru berjalan membuntuti Nayla dengan langkah kecilnya.
"Adiva, jangan ikut! Baju Myma kotor, nanti bajumu kena lumpur semua," cegat Adnan sambil mencoba memegang bahu putrinya.
Adiva menggeleng kuat. Ia menepis tangan ayahnya dan tetap mengikuti Nayla ke lantai atas. Adnan hanya bisa mematung di kaki tangga, menatap punggung istri kecilnya dan putrinya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.
Satu jam kemudian, rasa penasaran mendorong Adnan untuk mengecek ke kamar Nayla. Ia berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Di dalam, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa seperti dipukul benda tumpul. Nayla sudah berganti mukena bersih, begitu juga dengan Adiva yang memakai mukena kecil bermotif bunga.
Nayla duduk bersila di atas sajadah, membimbing tangan kecil Adiva menunjuk huruf-huruf di atas buku Iqra.
"A... Ba... Ta... Pinter. Lagi, Diva. Sa... Ja..." suara Nayla terdengar lembut, jauh dari nada tengil yang biasanya ia gunakan.
Adnan masuk ke dalam kamar, membuat Nayla menoleh. "Apa yang kau ajarkan pada anakku, Nayla?"
Nayla menutup buku Iqra itu perlahan. "Ya ngajarin ngaji, Pak. Emangnya Bapak nggak pernah ngajarin?"
Adnan terdiam. Ia membuang muka. Sejak istrinya meninggal, ia merasa Tuhan tidak adil padanya. Ia berhenti menginjakkan kaki di masjid, apalagi menyentuh sajadah. Baginya, ibadah adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
"Pak Adnan," panggil Nayla pelan. "Kata guru ngaji saya dulu, kalau mau masuk surga dan ketemu orang yang kita sayang lagi di sana, kita harus rajin sholat, ngaji, dan banyakin buat baik. Kalau Bapak cuma marah-marah terus, emang Bapak nggak mau ketemu almarhumah istri Bapak di surga nanti?"
Kalimat itu menghantam ulu hati Adnan sekali lagi. Ia merasa seperti ditampar oleh seorang remaja yang umurnya bahkan belum genap dua puluh tahun. Tanpa sepatah kata pun, Adnan berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan agar mereka tidak melihat matanya yang mulai memanas.
Malam itu, Adiva menolak untuk kembali ke kamarnya. Ia meringkuk di samping Nayla, memeluk pinggang "Myma"-nya hingga terlelap. Tengah malam, Adnan masuk bermaksud memindahkan Adiva, namun langkahnya terhenti. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat Adiva tidur dengan raut wajah paling tenang yang pernah ia lihat dalam setahun terakhir. Tangan kecilnya memeluk erat lengan Nayla.
Ada perasaan aneh yang bergejolak di hati Adnan. Haru, cemburu, dan rasa hangat yang perlahan mencairkan es di hatinya.
---
Keesokan paginya, Adnan turun ke ruang makan dan melihat Nayla sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Gadis itu sedang menyuapi Adiva dengan telaten. Adiva sesekali tertawa kecil saat Nayla membuat gerakan pesawat dengan sendoknya.
"Diva, ini sarapan untukmu. Papa sudah buatkan roti gandum," ucap Adnan sambil meletakkan piring di depan putrinya.
Adiva hanya melirik sekilas, lalu kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan nasi goreng dari tangan Nayla, dan mengabaikan Adnan
Adnan merasa ada sesuatu yang retak di hatinya. Cemburu. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia berdehem keras untuk menutupi kecanggungannya. "Ini, kunci kendaraanmu. Sudah ada di depan," ucap Adnan sambil melempar sebuah kunci dengan gantungan logo otomotif ternama ke atas meja.
Mata Nayla berbinar. "Wah! Ninja ya? Atau moge yang suaranya brom-brom itu?"
"Lihat saja sendiri," sahut Adnan singkat sambil melanjutkan makannya.
Nayla menghabiskan suapan terakhirnya dan berlari ke luar rumah dengan semangat berapi-api. Bayangannya adalah sebuah motor sport hitam yang gagah, yang akan membuatnya menjadi ratu di sekolah. Namun, begitu kakinya menginjak halaman, langkahnya terhenti. Mulutnya menganga.
Di depan matanya, terparkir sebuah motor bebek model lama dengan keranjang di bagian depan, dan yang paling parah, warnanya pink menyala dengan stiker bunga-bunga.
"ADNAAANNN!!!" teriak Nayla hingga burung-burung di pohon beterbangan. "Dasar balok es pelit! Gue nggak mau naik motor bencong kayak gini!"
Adnan muncul di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum kemenangan yang sangat tipis. "Kenapa? Kamu kan wanita, Nayla. Bukankah wanita suka warna pink? Itu motor paling aman dan sopan untuk seorang istri."
Nayla menghampiri Adnan dengan wajah memerah karena marah. "Mana ada petarung MMA naik motor keranjang begini! Bapak sengaja ya mau bikin saya malu di sekolah?"
"Ooh tadi kamu panggil aku apa tadi? Dan ya, itu motor yang cocok untukmu agar kamu tidak bisa kebut-kebutan atau main bola lagi," balas Adnan telak.
Nayla mendengus keras. Nafasnya naik turun. Ia membanting kunci motor itu ke lantai. "Huh! Daripada naik motor bencong itu, mending saya naik angkot! Simpan saja motor itu buat Bapak pergi ke kantor!"
Nayla berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang dengan langkah menghentak-hentak. Adnan memperhatikan punggung istrinya yang keras kepala itu hingga menghilang di tikungan jalan. Ia tidak marah, justru ada rasa geli yang merayap di hatinya.
"Dion," panggil Adnan pada asistennya yang sejak tadi menahan tawa.
"Iya, Pak?"
"Tarik motor itu. Ganti dengan motor yang dia mau. Tapi pastikan mesinnya sudah dibatasi kecepatannya," perintah Adnan sambil berbalik masuk ke rumah, merasa bahwa hari ini mungkin tidak akan seburuk biasanya.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥