Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon bayaran 5 juta
Gaby langsung melongo. "Gila... lembur terus. Itu Bos apa mandor bangunan sih?"
Di tempat lain, di sekolah Ardi, suasana juga tidak kalah panas. Ardi yang baru mau ke kantin dicegat oleh Rendi, wali kelasnya.
"Di, kakak kamu sudah punya pacar ya?" tanya Rendi berusaha terdengar santai, padahal hatinya was-was.
"Belum Pak, kenapa tanya seperti itu?" Ardi balik bertanya dengan wajah polosnya.
"Itu... Bosnya kemarin kenapa kelihatan dekat sekali dengan dia?" selidik Rendi lagi.
"Nggak tahu ya Pak. Mungkin karena kakak saya terlalu cantik makanya Bosnya betah," jawab Ardi asal sambil tertawa, meninggalkan Rendi yang makin galau memikirkan saingannya yang seorang CEO kaya raya.
"Sayang," sapa Lea manis sembari duduk di sebelah Ardi. Ardi memang dikenal tampan, tak heran banyak gadis di sekolah yang menyukainya, namun hatinya sudah tertambat pada Lea.
Melihat kemesraan itu, teman-teman di sekitar mereka hanya bisa mencibir pelan. "Apaan sih si Lea, lebay banget! Padahal sudah jelas pacaran sama Ardi."
"Sayang, besok libur aku diajak kakak kamu jogging bareng Mbak Gaby. Kamu ikut?" tanya Lea antusias.
"Ya ikutlah! Masa enggak? Sekali-kali ditraktir bakso sama Mbak Syren," ucap Ardi semangat membayangkan traktiran kakaknya.
Sementara itu di kantor, setelah selesai makan siang, Syren berpamitan dengan sahabatnya. "Dah Gaby, gue duluan ya!"
Karena pikirannya sedang melayang, Syren sampai lupa aturan. Ia nyelonong masuk begitu saja ke ruangan CEO tanpa mengetuk pintu. "Pak... Pak Julian?" Syren mencari-cari keberadaan bosnya itu di balik meja kerja yang kosong.
Cklek!
Pintu toilet di sudut ruangan terbuka, dan Julian melangkah keluar. Ia terkejut mendapati Syren sudah berdiri di tengah ruangannya. "Syren! Ketuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk!" tegur Julian tegas.
Syren mematung, merasa sangat malu karena ketahuan tidak sopan. "Jadi... saya balik keluar terus ketuk pintu lagi nih, Pak?" tanya Syren polos.
Julian menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Syren yang masih berdiri kikuk. "Nggak usah Syren, jangan buang-buang waktu saya," ucapnya dingin. Sambil menunjuk kursi kosong yang berada sangat dekat di sebelah kursinya, ia memberi perintah singkat, "Duduk."
Syren pun menurut dan segera duduk di sebelah Julian. Jarak mereka yang begitu dekat membuat aroma maskulin dari parfum Julian kembali menyerbu indra penciumannya. "Jadi, tugas saya apa Pak Bos?" tanya Syren berusaha tetap profesional meski jantungnya mulai berulah lagi.
Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih setumpuk lembaran kertas berisi deretan angka dan tabel yang rumit, lalu memberikannya kepada Syren. "Cek data-datanya. Pastikan semuanya sama dengan yang saya tulis di laptop ini. Jangan sampai ada satu angka pun yang meleset," perintah Julian sambil mulai mengetik dengan fokus.
Syren menerima kertas itu dengan dahi berkerut. Ia harus benar-benar teliti jika tidak ingin kontrak "tanpa gajinya" ditambah oleh si Bos Peot ini.
Syren pun mulai fokus menatap lembaran kertas di tangannya, sementara Julian mulai mengetik di laptop. Suasana mendadak hening, hanya terdengar suara detik jam dinding dan denting tuts keyboard yang ditekan Julian dengan cepat.
"Data pertama, kode produksi AX-09, jumlah satuan... dua ribu lima ratus," ucap Syren memulai pengecekan.
"Sesuai," sahut Julian singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Data kedua, biaya logistik... tujuh ratus delapan puluh juta rupiah," Syren membacakan dengan teliti.
Karena jarak kursi mereka yang sangat dekat, Syren bisa merasakan hawa hangat dari tubuh Julian. Sesekali, saat Julian ingin memastikan angka yang dibaca Syren, ia condong ke arah Syren hingga bahu mereka bersentuhan. Wangi parfum Julian yang maskulin benar-benar mengganggu konsentrasi Syren.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan," tegur Julian saat menyadari Syren mendadak diam.
"E-eh... iya Pak. Selanjutnya, pajak penghasilan perusahaan..." Syren buru-buru menundukkan kepala, menyembunyikan pipinya yang mulai memanas.
Julian melirik Syren dari sudut matanya, menyadari kegugupan sekretarisnya itu. Ia sengaja tidak menjauh, malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah kertas yang dipegang Syren untuk melihat angka di sana, membuat helai rambut Syren hampir bersentuhan dengan pipinya.
"Bener-bener ya nih Bos!" batin Syren kesal, berusaha sekuat tenaga mengabaikan aroma parfum Julian yang makin tercium jelas karena posisi mereka yang sangat dekat.
"Besok malam kamu ada acara, Syren?" tanya Julian tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Suaranya terdengar datar, tapi entah kenapa terasa mengintimidasi.
"Hahh, apa Pak?" jawab Syren bertanya lagi, mencoba memastikan pendengarannya tidak salah.
"Besok malam, ada waktu buat saya?" Julian kini menoleh, menatap Syren dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah.
"Nggak ada Pak! Saya mau... saya mau arisan! Iya, saya mau arisan Pak Bos!" jawab Syren berbohong secepat kilat. Otaknya berputar mencari alasan paling masuk akal (meskipun sebenarnya absurd) karena ia merasa sangat aneh jika harus berurusan dengan sang CEO di malam libur.
Julian menyipitkan matanya, menatap Syren dengan pandangan menyelidik. "Arisan? Di umur kamu yang sekarang?"
"Iya Pak! Arisan... arisan pemuda-pemudi kompleks! Penting banget itu Pak, menyangkut harkat dan martabat saya sebagai warga yang baik," cerocos Syren berusaha meyakinkan, meski tangannya sibuk memilin kertas di pangkuannya.
Julian menyeringai tipis, seolah tahu Syren sedang membual. "Batalkan arisanmu. Besok malam kamu harus ikut saya makan malam di rumah Oma. Beliau yang meminta, dan saya tidak menerima penolakan."
Syren melongo. "Makan malam di rumah Oma Arum?! Tapi Pak, saya kan bukan siapa-siapa Bapak!"
"Status kamu di depan Oma adalah 'calon'. Jadi, siapkan pakaian yang sopan. Saya jemput jam tujuh malam," tutup Julian mutlak, lalu kembali fokus mengetik seolah baru saja memesan kopi, bukan mengajak "pacar bohongannya" ke rumah keluarga besar.
"Hah, yang bener aja Pak! Ngajakin ketemu orang tua kayak pesen kopi aja. Dikira saya ini cewek apaan dah!" jawab Syren spontan, mukanya sudah merah padam antara emosi dan tidak percaya dengan keberanian bosnya itu.
Julian menghentikan ketikannya sebentar, lalu melirik Syren dengan ujung matanya. "Saya bayar kamu 5 juta, Syren."
"Hah? Yang bener, Pak?" Syren langsung melongo, matanya yang tadi melotot marah sekarang berubah jadi berbinar-binar seperti melihat tumpukan harta karun.
"Iya, saya bayar kamu. Anggap saja itu upah lembur tambahan di luar kontrak ganti rugimu," ucap Julian dengan nada lempeng, seolah uang lima juta itu cuma seharga gorengan.
"Boleh, Pak! Boleh banget!" jawab Syren secepat kilat sambil nyengir lebar. Arisan "fiktif" kompleks langsung ia hapus dari ingatannya. Duit lima juta coy, lumayan buat stok skincare sama traktir Gaby bakso setahun! batinnya girang.
Julian hanya menggelengkan kepala melihat perubahan sikap Syren yang begitu drastis karena uang. "Dasar mata duitan. Ingat, besok malam jam tujuh. Pakai baju yang sopan, jangan yang aneh-aneh."
"Siap Bos Peot! Eh, maksud saya Pak Bos ganteng!" Syren memberi hormat dengan semangat juang 45.
Waduh, Syren langsung luluh sama kekuatan uang! Mentalitas berhemat yang diajarkan ayahnya, Pak Ridwan, ternyata kalah sama tawaran 5 juta dari
Julian.
"Udah selesai kan semua, Pak?" tanya Syren sambil meregangkan otot lehernya yang kaku. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Syren melirik ke arah kamar mandi Julian sekilas, lalu bergidik ngeri. Ia tidak mau mandi di situ lagi, takut kejadian "asetnya" terlihat lagi terulang kembali.
"Sudah Syren, kamu boleh pulang. Berani atau tidak jam segini naik motor sendiri?" tanya Julian sambil membereskan laptopnya.
"Beranilah Pak Bos! Masa takut sama aspal," jawab Syren sombong. Namun, baru saja ia hendak berdiri dengan semangat, kakinya tersandung tiang penyangga kursi yang melintang. Syren kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Julian yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Bruakk!
Julian dengan cepat menahan Syren agar tidak jatuh. "Hati-hati," ucapnya singkat sambil membantu Syren berdiri.
Syren merapikan bajunya yang sedikit berantakan. "Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja."
Julian hanya mengangguk, mengabaikan rona merah di pipi Syren. Ia kembali fokus pada laptopnya, sementara Syren merasa canggung dan ingin segera pergi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," kata Syren, berharap Julian mengizinkannya pulang.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Syren," jawab Julian tanpa menoleh.
Syren segera mengambil tasnya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Di luar, ia menarik napas lega. Hari ini benar-benar melelahkan dan penuh dengan kejadian tak terduga. Syren mempercepat langkahnya menuju parkiran motor, ingin segera sampai di rumah dan melupakan semua yang
terjadi.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui