Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Cahaya Mulai Redup
Malam itu, rumah nomor 13 terasa sedikit lebih ramah. Aira meletakkan pot teratai pemberian Kara di ambang jendela kamarnya, tepat di titik yang paling banyak terkena cahaya bulan. Ia sempat tersenyum menatap kuncup bunga itu sebelum akhirnya tertidur dengan buku saku cokelat di bawah bantalnya.
Namun, kebahagiaan bagi seorang Lawana selalu memiliki harga yang harus dibayar.
Tengah malam, Aira terbangun bukan karena suara kaca pecah, melainkan karena keheningan yang terlalu pekat. Ia menoleh ke arah jendela. Tanaman teratai miliknya yang hampir mirip dengan tanaman yang diberi oleh Kara masih di sana, namun kuncupnya tampak layu dan menghitam, seolah baru saja disiram air mendidih.
Hati Aira mencelos. "Jangan sekarang... tolong jangan sekarang," bisiknya gemetar.
Keesokan paginya, suasana di sekolah mendadak berubah menjadi abu-abu. Saat Aira berjalan melewati koridor, ia melihat kerumunan siswa di depan papan pengumuman. Beberapa siswi kelas sepuluh tampak menangis.
"Ada apa?" tanya Aira pada Rini yang baru saja keluar dari kerumunan dengan wajah pucat.
"Syai... Pak Mulyono," suara Rini bergetar. "Beliau kecelakaan semalam waktu pulang dari sekolah. Katanya kondisinya kritis. Laboratorium ditutup sementara."
Dunia Aira seolah berhenti berputar. Pak Mulyono adalah satu-satunya guru yang mempercayainya, sosok yang memberinya "ruang aman" di laboratorium, dan sosok yang kemarin baru saja memperingatkannya tentang cahaya yang terlalu terang.
Aira merasa kakinya lemas. Ia segera mencari keberadaan Kara. Ia butuh logika Kara. Ia butuh banteng rasionalitas Kara untuk mengatakan bahwa ini semua hanya kebetulan.
Ia menemukan Kara di depan ruang OSIS. Namun, Kara tidak berdiri tegak seperti biasanya. Ia duduk di bangku panjang dengan kepala tertunduk. Di sampingnya, beberapa anggota OSIS tampak bingung.
"Kara..." panggil Aira pelan.
Kara mendongak. Untuk pertama kalinya, Aira melihat "Matahari" itu tampak redup. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan ia tampak kehilangan fokus.
"Aira," suara Kara serak. "Pak Mulyono... beliau kecelakaan tepat di jalan yang biasanya aku lewati untuk pulang."
"Ini salahku, Kara," bisik Aira. Air mata mulai menggenang. "Kemarin aku terlalu bahagia di lab. Kemarin aku merasa... aku merasa bisa memiliki segalanya. Dan sekarang takdir mengambilnya."
Kara berdiri, mencoba meraih tangan Aira, namun Aira mundur selangkah. Ketakutan purba itu kembali menguasai dirinya. Ia teringat teratainya yang menghitam semalam.
"Jangan menyentuhku, Kara. Jangan dekat-dekat," suara Aira meninggi, menarik perhatian siswa yang berlalu-lalang. "Setiap kali aku membiarkan seseorang masuk, sesuatu yang buruk terjadi. Pak Mulyono... beliau adalah 'korban' berikutnya."
"Aira, dengar! Itu kecelakaan lalu lintas! Ada truk yang remnya blong!" Kara mencoba menggunakan logikanya, namun suaranya sendiri terdengar tidak yakin. "Jangan hubungkan sains dengan takdir yang mengerikan itu."
"Tapi sains tidak bisa menjelaskan kenapa hatiku bilang ini salahku!" Aira berteriak, lalu berbalik lari meninggalkan Kara yang terpaku.
Sepanjang hari, Aira mengurung diri di perpustakaan, di pojok yang paling gelap. Ia tidak masuk kelas. Ia hanya menatap plester di jarinya yang kini mulai mengelupas. Ia merasa dirinya adalah monster.
Sore harinya, saat sekolah sudah mulai sepi, Aira memutuskan untuk pulang. Ia melewati laboratorium biologi yang kini digembok rapat. Di depan pintu lab, ia menemukan sesuatu yang membuatnya hancur.
Ada sebuah pot teratai yang pecah berkeping-keping. Itu adalah tanaman yang diberikan Kara kemarin. Entah siapa yang menjatuhkannya, atau apakah angin yang meniupnya, yang jelas bunga itu kini tergeletak di lantai, terinjak-injak oleh sepatu-sepatu yang lewat.
Aira berlutut di depan pecahan pot itu. Ia tidak menangis kali ini. Matanya kosong.
"Kamu benar, Mbok Darmi," gumamnya datar. "Samudera tidak ditakdirkan untuk menyimpan bunga. Dia hanya ditakdirkan untuk menjadi makam bagi segala hal yang indah."
Di kejauhan, Kara memperhatikan Aira dari balik pilar koridor. Ia ingin mendekat, namun tangannya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, Abyasa Raditya Bagaskara merasakan sesuatu yang tidak logis: sebuah ketakutan bahwa mungkin, hanya mungkin, sinar mataharinya memang tidak cukup kuat untuk melawan kegelapan yang menghantui gadis itu.
Matahari mulai tenggelam, namun bagi mereka berdua, kegelapan datang jauh lebih cepat dari jadwalnya.
...
Aira masih berlutut di depan pecahan pot itu. Jemarinya gemetar saat mencoba memungut batang teratai yang sudah patah dan kotor. Air matanya jatuh tepat di atas kelopak bunga yang malang itu, namun ia segera menyekanya dengan kasar. Ia tidak boleh menangis. Menangis berarti mengakui bahwa ia punya perasaan, dan perasaan adalah umpan bagi kesialan yang lebih besar.
"Kenapa masih di sini?"
Suara itu muncul lagi. Tidak tegas, tidak memerintah, hanya terdengar sangat letih.
Aira tidak menoleh. Ia tahu itu Kara. "Kamu lihat ini?" Aira menunjuk pecahan pot dengan dagunya. "Kemarin kamu bilang ini investasi. Sekarang lihat, investasimu hancur berkeping-keping. Begitu juga Pak Mulyono. Begitu juga semua orang yang mencoba menjembatani jalanku."
Kara berjalan mendekat, tapi ia berhenti tiga langkah di belakang Aira. Ia tidak lagi mencoba masuk ke ruang pribadi gadis itu. "Itu cuma benda mati, Aira. Pot bisa pecah karena banyak hal. Mungkin petugas kebersihan tidak sengaja menyenggolnya saat mau menggembok pintu."
"Berhenti menggunakan logikamu untuk membela aku, Kara!" Aira berdiri, berbalik dengan mata yang berkilat marah namun terluka. "Logikamu itu egois. Kamu cuma mau merasa benar supaya kamu nggak perlu merasa takut. Tapi aku? Aku hidup dengan ketakutan ini setiap detik!"
Kara menatap Aira lurus-lurus. Cahaya senja yang masuk dari ventilasi koridor menyinari separuh wajahnya, membuat bayangannya jatuh memanjang dan menyentuh ujung sepatu Aira.
"Aku tidak takut," ujar Kara pelan, namun setiap katanya terasa berat. "Yang aku takutkan cuma satu, Aira. Aku takut kamu menyerah pada nasib yang bahkan belum tentu benar milikmu. Kamu menyebut dirimu samudera, tapi kamu bersikap seolah kamu cuma genangan air kecil yang takut kering karena sinar matahari."
"Karena aku memang kering, Kara! Aku sudah habis!" Aira melemparkan batang teratai yang patah itu ke arah dada Kara. Batang itu jatuh ke lantai sebelum sempat menyentuh seragamnya. "Pergi. Kembali jadi matahari yang lurus dan disiplin. Jangan kotori tanganmu dengan pecahan hidupku lagi."
Aira berlari meninggalkan koridor, melewati Kara yang masih berdiri mematung.
Kara tidak mengejarnya kali ini. Ia menunduk, menatap batang teratai di bawah kakinya. Pelan-pelan, ia memungutnya. Ia membersihkan sisa tanah yang menempel di batang itu dengan sapu tangannya. Tangannya yang biasanya stabil dan tidak pernah ragu, kini sedikit gemetar.
Ia merasakan sesuatu yang aneh. Penglihatannya sedikit kabur, seolah-olah cahaya senja di koridor itu tiba-tiba menjadi terlalu terang, atau justru terlalu redup—ia tidak bisa membedakannya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, namun rasa pening tiba-tiba menghantam pangkal hidungnya.
"Logika..." bisik Kara pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Semua ada penjelasannya. Aku cuma lelah. Hanya lelah."
Ia memasukkan batang teratai yang patah itu ke dalam sakunya. Di ujung koridor yang mulai gelap, sang Matahari menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus melangkah ke arah mana.
Malam itu, Aira mengunci diri di kamar. Ia membuang buku saku pemberian Kara ke dalam laci paling bawah dan menutupnya rapat. Ia bersumpah tidak akan membukanya lagi. Sementara di rumahnya yang megah dan terang, Kara duduk di meja belajarnya, menatap batang teratai yang ia letakkan di dalam gelas berisi air, berharap sebuah keajaiban bisa membuatnya tumbuh kembali.
Takdir sedang menarik napas panjang, bersiap untuk memberikan hantaman yang lebih besar bagi keduanya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰