Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roti Pizza dan momen yang manis
Hana terpaku. Sosok pria yang melangkah tegap ke arah Axel itu memiliki postur yang nyaris identik dengan masa lalunya. Jantungnya berpacu liar, namun saat mata pria itu bertemu dengan matanya, Hana menyadari itu adalah orang yang berbeda, meski tatapannya sama tajamnya.
"Daddy!" teriak Axel, memecah ketegangan. Bocah itu berlari kecil dan langsung memeluk kaki ayahnya.
Hana menghembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Ia mengusap dadanya pelan, mencoba menenangkan gemuruh di sana.
'Bukan dia... tenanglah, Hana. Itu bukan dia,' batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Pria itu, yang tampak terburu-buru, berjongkok di depan Axel tanpa memedulikan Hana lagi. "Axel, hari ini Daddy terakhir mengantarkan Axel, ya? Daddy harus segera ke Singapura. Kamu jangan nakal dan baik-baik di sini bersama Mommy."
Tepat saat itu, Sheila muncul dari arah belakang dengan langkah anggun namun wajah yang kaku. Ia meraih tangan Axel, menariknya lembut menjauh dari pria itu.
"Mulai sekarang jauhi Axel. Hak asuhnya telah jatuh padaku," ucap Sheila dingin, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Semoga kau berbahagia di sana dengan wanita pilihanmu!"
Sheila membuang muka, enggan menatap pria yang kini hanya bisa terdiam itu. Namun, saat tatapan Sheila beralih, matanya tertuju pada Hana yang masih berdiri tak jauh dari sana. Sheila mengernyitkan dahi. Ada kilatan pengenalan di matanya.
'Kok rasanya wajah wanita itu seperti pernah lihat, tapi di mana ya? Begini nih kelamaan tinggal di negeri orang, jadi lupa dengan orang yang pernah aku kenal, batin Sheila kesal pada ingatannya sendiri.
Hana memutuskan untuk menunggu El hingga jam pulang sekolah. Di ruang tunggu wali murid yang sejuk, ia duduk tak jauh dari Sheila. Suasana sempat canggung sebelum akhirnya Sheila melemparkan senyum tipis.
"Anak kita sepertinya cepat akrab ya," buka Sheila memulai percakapan ringan.
Hana mengangguk ramah, "Iya, Axel sopan sekali. Tadi dia memberikan sandwich untuk permintaan maaf pada El."
"Ah, syukurlah. Axel memang sedikit pemalu sejak kami pindah kembali ke sini," sahut Sheila.
Percakapan itu mengalir singkat, hanya seputar tumbuh kembang anak dan kurikulum sekolah. Sheila tampak menjaga jarak, seolah ada beban pikiran yang membuatnya tidak bisa mengobrol terlalu jauh. Di tengah pembicaraan, ponsel Hana bergetar. Sebuah pesan dari Tama muncul di layar.
"Aku sudah di jalan menuju sekolah El. Tunggu ya, biar aku yang jemput kalian."
Hana tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ia membalas pesan itu dengan singkat, menyetujui tawaran Tama.
Bel sekolah berbunyi. El dan Axel keluar kelas sambil tertawa bersama. El tampak bercerita dengan semangat, sementara Axel mendengarkan dengan antusias.
"El, besok kita main lagi ya! Kata Ibu Guru, besok kita harus membawa tanaman bunga," ujar Axel mengingatkan.
"Ok Axel! Kalau bunga... kebetulan di taman rumahku banyak sekali bunga!" jawab El bangga.
Mata Axel berbinar, "Wah, indahnya... Kapan-kapan boleh tidak aku main ke rumahmu?"
"Boleh banget, aku tunggu ya Axel!"
Hana bangkit dan menghampiri mereka. Ia berpamitan pada Sheila dengan sopan. "Kami duluan ya, Mbak Sheila. Jemputan kami sudah sampai."
"Oh, iya. Mari, Mbak Hana," balas Sheila sambil melambaikan tangan.
Sepanjang jalan menuju parkiran, El tak berhenti mengoceh. "Bun, Axel baik banget loh waktu di kelas. Dia merasa bersalah karena kemarin tidak sengaja menabrak ku."
"Terus El sudah memaafkan Axel?" tanya Hana lembut.
"Sudah dong, Bun! Tuhan saja maha pemaaf, masa kita sebagai manusia tidak mau memaafkannya?"
Hana tertegun, lalu tersenyum bangga. Hatinya luruh mendengar kebijakan yang keluar dari mulut mungil putranya. Begitu sampai di area parkir, mata El menangkap sosok pria tegap yang bersandar di mobil.
"Om Tama!" teriak El girang. Meski kakinya masih sedikit sakit, ia berlari kecil menuju pria itu.
Tama merentangkan tangannya lebar-lebar, menyambut tubrukan kecil El ke dalam pelukannya. Ia mengangkat El dan menggendongnya dengan mudah. Hana yang berjalan di belakang hanya bisa tersenyum melihat kedekatan mereka. Tama membalas senyuman Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, teduh sekaligus melindungi.
"Ayo El, hari ini Om Tama mau ajak El makan di luar. El mau makan apa?" tanya Tama sambil mencubit hidung El.
"Aku mau pizza, Om! Soalnya waktu di kampung belum pernah makan itu!" seru El jujur.
Deg!
Langkah Tama terhenti sejenak. Ia tertegun, ada rasa nyeri yang menusuk ulu hatinya mendengar kejujuran polos itu. Bagaimana mungkin anak sekecil dan secerdas El belum pernah mencicipi makanan yang begitu umum di kota besar?
Tama mengeratkan gendongannya, menatap El dengan penuh kasih sayang. "Nanti El makan sepuasnya ya. Kalau perlu, Om belikan yang banyak untuk dibawa pulang!"
"Horeee! Beneran ya, Om?" El bersorak kegirangan. Tama tertawa kecil dan mengacak-acak rambut El dengan gemas, sementara Hana mengikuti dari belakang dengan perasaan syukur yang membuncah
Mobil Tama membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah mal mewah di pusat kota. El tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca mobil, takjub melihat deretan gedung yang seolah menembus awan. Bagi El, hari ini adalah petualangan besar.
Setibanya di restoran pizza ternama, aroma keju panggang dan saus tomat yang gurih langsung menyambut indra penciuman mereka. Tama tersenyum melihat binar mata El, lalu ia memanggil pelayan dan memesan menu terbaik, yaitu Pizza Premium Ukuran Jumbo.
Saat pesanan tiba, meja kayu di depan mereka hampir penuh oleh lingkaran roti besar dengan topping daging melimpah dan keju yang masih meleleh panas.
"Wawww... Rasanya seperti mimpi bisa makan pizza sebesar ini!" seru El dengan mata membulat. "Kalau saja ada Ghazi, pasti kami berdua sanggup menghabiskannya."
Hana terdiam sejenak, lalu mengusap kepala putranya dengan lembut. Ia tahu, di balik kegembiraan itu, ada secuil rindu yang terselip untuk kehidupan sederhana di kampung.
Tama yang menyadari perubahan suasana itu pun bertanya, "Ghazi itu siapa, El? Sepertinya dia teman yang hebat."
Sambil memegang potongan pizza pertamanya, El mulai bercerita dengan semangat. "Ghazi itu sahabat El, Om! Kami sering main layangan sampai sore, cari ikan di parit, sampai dikejar angsa tetangga. Ghazi itu kuat, tapi dia baik banget."
Tama mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk dan tertawa mendengar kepolosan El. Sementara itu, Hana hanya diam memperhatikan. Ia menatap wajah Tama yang tampak begitu tulus mendengarkan celotehan putranya, lalu beralih menatap El yang terlihat sangat nyaman. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Tama sempat melirik ke arah Hana, menyadari wanita itu sedang memperhatikannya, namun ia segera mengalihkan pandangan kembali ke El agar Hana tidak merasa canggung. El mulai menyantap pizzanya dengan lahap, membuat keju melar panjang dari mulutnya.
"Han, kok kamu tidak ikutan makan? Apa kamu tidak suka pizza?" tanya Tama membuyarkan lamunan Hana.
"Suka kok, Mas!" jawab Hana cepat. Ia bergegas meraih satu potong pizza dan mulai menikmatinya.
Suasana terasa sangat hangat. Di mata pengunjung lain, mereka tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, ayah yang protektif, ibu yang lembut, dan anak yang ceria. Namun, momen itu mendadak menjadi sangat intim ketika Tama menatap Hana yang baru saja menghabiskan potongannya.
Tanpa berkata-kata, Tama meraih selembar tisu. Dengan gerakan perlahan dan lembut, ia mengusap ujung bibir Hana yang terkena sedikit noda saus.
Hana tersentak. Jantungnya berdegup kencang, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia terkejut bukan main atas sikap perhatian Tama yang begitu tiba-tiba.
"Harusnya El yang makannya belepotan seperti ini, Han. Eh, malah kamu!" ejek Tama sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak magis itu.
Hana langsung menunduk dalam, pipinya merona merah karena malu. Ia tak berani menatap mata Tama. Sementara itu, El seolah tak peduli dengan "drama" orang dewasa di depannya, ia terlalu sibuk berperang dengan potongan pizza ketiganya.
Tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca restoran yang menghadap ke koridor mal, seorang wanita berpakaian modis berhenti melangkah. Ia menurunkan kacamata hitamnya, memastikan penglihatannya tidak salah.
"Bukankah itu Hana? Oh my God! Wanita itu ada di sini?" gumam Jesika dengan nada tidak percaya.
Ia menyipitkan mata, memperhatikan pria gagah yang duduk di depan Hana dan anak kecil yang tampak sangat akrab dengan mereka.
"Tapi siapa pria dan anak kecil itu? Apakah mungkin Hana sudah menikah lagi dan memiliki seorang anak? Tapi... bocah itu anaknya Mas Cakra atau pria itu?" Jesika mulai bertanya-tanya sendiri, otaknya berputar cepat mencari celah untuk membuat kekacauan.
"Aku harus segera memberi tahu Tante Inggit!"
Dengan senyum sinis, Jesika merogoh tas branded-nya dan mengeluarkan ponsel terbaru. Ia mengambil beberapa foto secara candid, menangkap momen saat Tama mengusap bibir Hana, serta tawa ceria El.
Klik!
Foto-foto itu langsung dikirimkan melalui pesan singkat kepada Nyonya Inggit dengan caption provokatif: "Lihat siapa yang sedang berpesta pora di Jakarta, Tante. Sepertinya mantan menantu rendahan tante sudah menemukan pengganti Mas Cakra."
Bersambung...