NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8.Cerita.

Ibunya tidak langsung menjawab.

Ia berdiri beberapa langkah dari Yun Lan, napasnya tidak teratur, dada naik turun seperti baru saja berlari jauh. Tangan yang biasanya cekatan menjahit kini menggantung kaku di sisi tubuhnya.

“Yun Lan… tenang dulu,” ucapnya pelan, hampir memohon.

Tetapi Yun Lan tidak bisa tenang.

Tidak malam itu.

Tidak setelah semua yang ia lihat.

Tidak setelah ia memegang sendiri bukti takdir yang dulu merenggut segalanya dari keluarganya.

“Sampai kapan Ibu dan Ayah membohongi aku?” suaranya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang terlalu lama ditahan. “Sampai kapan aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa?”

Ibunya menutup mata sesaat.

Seolah kata-kata itu adalah pisau yang pelan-pelan menekan dadanya.

“Bukan membohongimu…” bisiknya. “Kami hanya… ingin melindungimu.”

“Melindungiku dari apa?” desak Yun Lan. “Dari kenyataan bahwa Ayah bukan pandai besi biasa? Dari kenyataan bahwa keluarga Li bukan keluarga desa seperti yang orang-orang kira? Dari kenyataan bahwa Ayah akan pergi berperang dan mungkin tidak akan kembali?”

Air mata ibunya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

Dan di detik itulah, Yun Lan tahu.

Ia tidak perlu lagi berpura-pura.

Ibunya tahu bahwa putrinya sudah mengerti segalanya.

Perlahan, ibunya duduk di tepi tempat tidur.

Tubuhnya tampak rapuh.

Jauh lebih rapuh daripada yang pernah Yun Lan lihat sebelumnya.

“Kau ingin tahu kebenarannya?” tanyanya pelan.

Yun Lan mengangguk.

Ibunya menatap gulungan emas di tangan Yun Lan, lalu menatap wajah putrinya lama sekali.

Seolah sedang memutuskan sesuatu yang sangat berat.

Lalu… ia mulai bercerita.

“Saat kau masih di dalam perut Ibu… Negeri Qi berada dalam masa tenang karena dua jenderal sebagai tiang negeri Qi.”

Suara ibunya pelan, tetapi setiap katanya jelas.

“Pada masa itu, Kaisar hanya mempercayai dua orang untuk menjaga negeri ini.”

“Jenderal Li,ayahmu”

“Dan Jenderal Xin,sahabat ayahmu.”

Yun Lan menahan napas.

Nama itu.

Jenderal Xin.

Nama yang dulu tidak pernah disebut di rumah ini, dan Yun lan baru mendengarnya.

“Mereka seperti tangan kanan dan kiri kaisar. Ke mana pun bahaya datang, dua nama itu yang dipanggil. Mereka tidak pernah gagal. Tidak pernah kalah.”

“Ayahmu…” suara ibunya melembut. “Sangat disegani. Sangat dihormati.”

Mata Yun Lan terasa panas.

Karena gambaran itu begitu berbeda dengan sosok ayahnya yang batuk-batuk di depan tungku besi.

“Suatu malam,” lanjut ibunya, “Ayahmu mendapat tugas ke perbatasan timur. Hanya tugas kecil. Memberantas kumpulan bandit yang meresahkan rakyat.”

“Hanya tugas biasa. Tidak berbahaya. Tidak mendesak.”

“Ia berangkat dengan tenang. Ia bahkan sempat bercanda padaku sebelum pergi.”

Suara ibunya mulai bergetar.

“Tapi malam itu… rumah keluarga Li diserang.”

Tubuh Yun Lan menegang.

Untuk pertama kalinya dia mendengarnya.

Tetapi mendengarnya langsung dari mulut ibunya membuat dadanya terasa diremas.

“Mereka datang seperti bayangan,” bisik ibunya. “Tanpa suara. Tanpa peringatan.”

“Mereka membunuh semua orang.”

“Pelayan.”

“Pengawal.”

“Keluarga.”

Satu per satu.

Air mata mengalir deras di pipi ibunya.

“Kakekmu… Tuan Besar Li… menyeret Ibu ke ruang bawah tanah. Tempat persembunyian rahasia keluarga.”

“‘Apa pun yang terjadi, jangan keluar,’ katanya.”

“Dan setelah itu…” suara ibunya pecah, “ia kembali ke atas untuk menghadapi langsung para pembunuh misteri itu.”

Yun Lan bisa membayangkannya.

Kakek itu.

Berdiri sendiri menghadapi para pembunuh.

“Suara pedang,” bisik ibunya. “Jeritan. Bau darah.”

“Ibu tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu hanya bisa memeluk perutku… memelukmu… dan berdoa agar mereka tidak menemukan kita.”

Tangannya tanpa sadar memegang perutnya sendiri, seolah masih bisa merasakan ketakutan malam itu.

“Mereka membakar rumah.”

“Asap mulai masuk ke ruang bawah tanah.”

“Ibu pikir… kita akan mati di sana.”

Yun Lan menggigit bibirnya keras.

Dadanya terasa sesak.

“Lalu setelah itu apa bu?. ”

“Lalu… Ayahmu datang.”

Nada suara ibunya berubah.

Ada getaran yang berbeda di sana.

“Di tengah perjalanan, ia mendengar kabar bahwa rumah keluarga Li terbakar. Ia langsung memutar kudanya.”

“Ia menerobos api itu.”

“Mencari Ibu.”

“Menemukan pintu ruang bawah tanah.”

Ibunya menutup mata, mengingat jelas.

“Ketika pintu itu terbuka… wajah Ayahmu hitam oleh asap, pakaiannya terbakar di beberapa bagian… tapi matanya hanya mencari satu hal.”

“Ibu.”

“Kita keluarga yang tersisa.”

Yun Lan tidak bisa lagi menahan air matanya.

“Ia menggendong Ibu,” lanjut ibunya pelan, “dan menerobos kobaran api keluar dari rumah yang sudah runtuh setengahnya.”

“Setelah itu… Ayahmu tidak pernah kembali ke ibukota.”

“Ia menghilang.”

“Meninggalkan gelar.”

“Meninggalkan nama.”

“Meninggalkan segalanya.”

Hanya untuk satu hal.

“Melindungi garis terakhir keluarga Li.”

Ibunya menatap Yun Lan.

“Yaitu kau.”

Sunyi menyelimuti kamar itu.

Berat.

Penuh sejarah yang selama ini dikubur.

“Kita hidup di desa Ying,” lanjut ibunya, “tempat asal Ibu. Dengan nama baru. Kehidupan baru. Sebagai orang biasa.”

“Kami berharap… masa lalu itu mati bersama api yang membakar rumah keluarga Li.”

“Tapi ternyata tidak.”

Tangannya menunjuk gulungan emas di tangan Yun Lan.

“Istana akhirnya menemukan Ayahmu.”lanjut “itu yang selama ini menjadi kekhawatiran ibu. ”

Yun Lan menunduk.

Jadi ini bukan sekadar pemanggilan.

Ini adalah masa lalu yang mengejar mereka.

“Ibu…” suara Yun Lan pelan, “Kalau begitu kita bersembunyi lagi,kita bisa pergi dari sini?”

Ibunya menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Ayahmu seorang prajurit yang patuh,ayahmu tidak akan pernah berkata tidak dengan perintah Kaisar.”

“Kita akan membujuk ayah, bu. ”

“Tidak mungkin, nak. Bagi ayah mu itu adalah prinsipnya. ”

“Tapi aku juga tidak akan membiarkan ayah pergi begitu saja dengan kondisi tubuh seperti itu, itu sama dengan mengantar nyawanya sendiri. ”

Ibunya hanya diam tertunduk sedih.

Air mata Yun Lan berhenti.

Digantikan sesuatu yang lain.

Tekad.

Ia berdiri perlahan.

Tangannya masih memegang titah kekaisaran itu.

“Ayah tidak akan pergi,” ucapnya pelan.

Ibunya menatapnya.

“Kita tidak bisa melawan titah kaisar, Yun Lan…”

“Kita tidak perlu melawannya.”

Mata Yun Lan kini berbeda.

Tajam.

Pasti.

“Ibu,” katanya, “jika yang dibutuhkan istana adalah Jenderal Li…”

Ibunya menahan napas.

“Biarkan mereka mendapatkan putra Jenderal Li.”

Sunyi.

“Putra apa maksudmu?.”

“Aku.”

“Tidak..., ibu tidak akan izinkan. ”

Yun Lan menatap ibunya lurus.

“Ayah sudah bertarung seumur hidupnya.”

“Sekarang giliran aku.”

Wajah ibunya memucat.

“Yun Lan, jangan bicara sembarangan—”

“Aku tidak akan lari lagi.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa ragu.

Tanpa takut.

“Jika takdir ini akan menyeret keluarga Li kembali ke perang… maka biarkan aku yang berjalan ke sana.”

Ibunya menatap putrinya dengan mata penuh ketakutan.

Tetapi di balik itu… ada sesuatu yang lain.

Ia melihatnya.

Cara Yun Lan berdiri.

Cara matanya menyala.

Cara suaranya begitu mantap.

Untuk pertama kalinya… ia melihat bayangan Jenderal Li di diri putrinya.

Dan itu membuatnya semakin takut.

“Kau anak perempuan…”

Yun Lan tersenyum tipis.

“Tidak ada yang tahu itu di medan perang.”

Malam itu, di kamar kecil yang dipenuhi kenangan masa lalu, keputusan besar lahir tanpa saksi.

Bukan keputusan seorang jenderal.

Bukan keputusan seorang kaisar.

Tetapi keputusan seorang anak.

Yang menolak kehilangan ayahnya untuk kedua kalinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali…

Yun Lan tahu dengan pasti.

Ia tidak akan membiarkan sejarah terulang.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!