Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beneath The Prince's Mask
Sesi belajar di pinggir lapangan baseball yang awalnya direncanakan berlangsung formal, lama-lama berubah menjadi medan pertempuran ego yang dibumbui dengan tawa tertahan.
Sore itu, udara terasa lebih dingin, membuat ujung hidung Fraya memerah—pemandangan yang menurut Damian jauh lebih menarik daripada buku teks Grammatik di depan mereka.
"Fraya, kamu baru saja menggunakan kata kerja 'essen' untuk menjelaskan subjek yang meninggal. Kamu mau bilang dia makan atau dia mati?" Damian berkomentar sambil menahan senyum, jarinya menunjuk baris tulisan Fraya yang berantakan.
Fraya mengerang frustrasi, menjatuhkan pulpennya. "Hurufnya hampir mirip! Kenapa bahasa ini harus punya kata yang serumit ini hanya untuk hal-hal sederhana? Di Indonesia, makan ya makan. Mati ya mati. Titik!"
Damian terkekeh, tubuhnya condong ke depan, mendekat ke arah Fraya hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum cedarwood dan citrus yang maskulin.
"Makanya, Dokter Bedah masa depan, kamu harus teliti. Bayangkan kalau nanti di ruang operasi kamu salah sebut istilah. Bukannya membedah, kamu malah minta camilan."
Fraya melotot, mencoba memberikan tatapan mematikan yang biasanya berhasil membuat orang ciut. Namun bagi Damian, tatapan itu justru terlihat menggemaskan.
"Berhenti mengejekku, Harding. Fokus!" gertak Fraya.
"Aku sangat fokus, Fraya. Fokus melihat bagaimana alis kananmu naik setiap kali kamu bingung. And that was.. really informatif," goda Damian dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Fraya meremang diam-diam.
"Kamu benar-benar menyebalkan," gumam Fraya, wajahnya memanas. Ia segera menunduk, pura-pura sangat sibuk dengan kamusnya. "Cepat, ajarkan aku Dativ dan Akkusativ. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum aku benar-benar melempar kamus ini ke kepalamu."
"Galak sekali. But i like challenging," Damian menyeringai, matanya tidak lepas dari wajah Fraya yang sedang tersipu.
Keesokan harinya, Fraya sedang berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan beberapa referensi medis ketika ia melewati lorong belakang gedung sains yang biasanya sepi.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan rendah dari balik pilar.
Ia mengintip perlahan dan tertegun.
Di sana, Damian—si pangeran sombong yang kemarin baru saja menggodanya habis-habisan—sedang berjongkok di depan seorang murid kelas sepuluh yang tampak gemetar.
Murid itu, seorang anak laki-laki berkacamata tebal, sepertinya baru saja menjadi korban perundungan. Bukunya berserakan di lantai, dan kacamata kirinya retak.
Fraya bersiap untuk melihat Damian melontarkan hinaan atau sekadar berlalu dengan angkuh. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Damian memungut buku-buku yang berserakan dengan tenang. Ia membersihkan debu dari sampul buku itu sebelum menyerahkannya kembali pada anak itu.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Damian. Suaranya tidak dingin seperti biasanya, melainkan berat dan penuh wibawa.
"Hanya... anak-anak tim rugby, Kak," jawab anak itu pelan.
Damian mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada anak itu untuk mengusap wajahnya yang kotor.
"Pakai ini. Dan dengar, kalau mereka mengganggumu lagi, katakan saja kamu sedang mengerjakan tugas khusus untukku. Mereka tidak akan berani menyentuhmu."
Anak itu menatap Damian dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Kak Damian."
"Pergilah ke ruang kesehatan. Bilang pada perawat aku yang menyuruhmu," tambah Damian sambil menepuk pundak anak itu.
Fraya terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sisi Damian yang ini—sisi yang peduli dan melindungi tanpa ada kamera atau penonton—sama sekali tidak cocok dengan cerita "cowok brengsek" yang beredar di sekolah.
Saat Damian berdiri dan berbalik, ia menyadari keberadaan Fraya. Untuk sesaat, wajah Damian tampak kaku, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan. Namun, dengan cepat ia menguasai diri dan kembali memasang wajah datar andalannya.
Ia berjalan menghampiri Fraya yang masih mematung.
"Mengintai orang lain bukan hobi yang bagus untuk calon dokter bedah, Fraya," ucap Damian sambil melintas di sampingnya.
Fraya menoleh, menatap punggung Damian yang menjauh. "Ternyata kamu tidak seburuk yang terlihat, ya?" seru Fraya pelan.
Damian berhenti melangkah, namun tidak berbalik. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka ada sampah yang mengotori area sekolahku. Itu saja."
Fraya tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini benar-benar tulus.
"Terserah apa katamu, Harding. Tapi sapu tangan itu... sangat tidak 'brengsek' untuk ukuranmu."
Damian terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tak terlihat oleh Fraya, sebelum ia melanjutkan langkahnya dengan keangkuhan yang kini terasa seperti sebuah topeng di mata Fraya.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit