Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Otw Jakarta
“Masih inget juga ternyata mereka sama gue,” ucap Ziya dengan wajah mematut.
Asep diam tak menyahut, dia faham betul kemarahan Ziya terhadap orang tuanya, tentunya karena mereka memaksa nya menikah dengan orang yang tidak dia cintai.
Malam harinya, Asep melihat Ziya tengah mengepak barang-barangnya kedalam koper, ‘dia membawa semua barang-barangnya, apa dia bermaksud untuk pergi selamanya? Tapi ini belum sampai tiga bulan, Neng apa sebegitu ingin perginya kamu dari saya?’ batin Asep, kemudian dia pun berlalu menuju kamarnya.
Sementara Ziya, dia memang membawa semua barang-barangnya karena ingin menukarnya dengan barang baru karena sudah bosan menggunakannya, sedang yang lain adalah barang yang selalu ia gunakan dan gak bisa ia tinggal begitu saja.
“Oke, semuanya udah siap,” ucapnya, setelah itu iya pun berbaring bersiap untuk tidur, sebenarnya dia senang karena bisa kembali kesana walau hanya sesaat amarahnya pun kini telah hilang.
***
Hari pun berganti.
Ziya dan Asep bersiap untuk pergi. Udin pun datang.
“Kalian mau pergi?” tanyanya.
“Iya Din, Papahnya Neng Ziya menyuruh kami kesana, saya titip rumah sama ladang ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya,” ujar Asep.
“Nya siap Sep, hati-hati di jalan.” Ucap Udin.
Mobil pun melaju meninggalkan Desa, jauh dan semakin jauh.
“Neng capek gak, mau Istirahat dulu?” tanya Asep.
“Apaan sih Sep, elu yang nyetir juga harusnya gue nanya gitu,” tanggap Ziya, “tapi kalau mau istirahat juga boleh, pegel juga duduk terus dari tadi, eh disana Sep ada mini market sekalian beli makanan,” tunjuk Ziya.
Asep pun menghentikan laju mobilnya di tepi jalan dekat mini market.
Ziya keluar pun dengan dirinya, kemudian masuk kedalam mini market untuk membeli makanan dan minuman untuk bekal di perjalanan.
Ziya mengambil sekeranjang penuh makanan seperti roti, minum dan makanan ringan lainnya.
“Udah Neng?” tanya Asep, sementara dia hanya membeli air putih dan kopi kemasan.
“Udah dong, kali ini elu yang bayarin,” ucap Ziya.
“Iya, sini biar saya bayar Neng tunggu aja diluar,” balasnya sambil tersenyum.
Ziya keluar setelah keranjangnya berpindah tangan, “wah ternyata begini rasanya jajan di bayarin cowok, biasanya kan gue serba beli sendiri atau enggak gue yang bayarin cowok, kalau di pikir-pikir ko gue mau ya dulu, ck,” Ziya menggelengkan kepalanya pelan.
Asep keluar dari mini market dengan kantong kresek besar di tangannya dan semua itu berisi jajanan Ziya semua.
“Wah thank you,” Ucapnya dengan wajah senang.
“Sama-sama,” sahutnya ikut senang.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, karena ini belum separuhnya sama sekali, setelah bosan makan Ziya pun tertidur. Asep melirik Ziya dengan tatapan sedih, mungkin ini akhir dari kebersamaan mereka, pikirnya.
“Neng, saya harus bagaimana? Sepertinya saya gak sanggup berpisah dari kamu? Jika saya katakan saya cinta sama kamu, apa kamu akan benci sama saya? Saya tidak berharap Neng mau nerima cinta saya, saya juga sadar diri saya bukan siapa-siapa,” gumam Asep, bimbang dan ragu terus melingkupinya hatinya, namun jika tidak dikatakan itu akan menjadi beban seumur hidupnya.
Jeduk... Aduh!!
Pekik Ziya, dia terbangun karena kepalanya membentur kaca mobil.
“Haish,” keluhnya sambil menggosok kepalanya yang agak berdenyut.
”Lu tadi ngomong ama siapa Sep?” tiba-tiba Ziya bertanya.
“Hah? Ka-kapan Neng, sa-saya gak ngomong apa-apa?” dustanya dengan wajah panik.
“Ck, gak usah bohong, meskipun mata gue merem telinga gue masih berpungsi ko, cuma suara lu gak terlalu jelas tadi,” ucap Ziya.
Asep menghela nafas lega, hampir saja dia ketahuan, “oh, tadi saya nyanyi Neng, maaf atuh suara saya ganggu tidur Neng ya,” dalihnya berbohong.
“Nggak juga sih, kuping guenya aja yang sensitif,” ucap Ziya, ‘Si Asep tadi ngomong apaan ya, samar-samar gue denger kata Neng, yang berarti kata-katanya dimaksudkan untuk gue kan? Tapi kenapa dia bohong, sayangnya dia ngomongnya pelan banget jadi gue gak bisa denger semuanya?’ wajah Ziya berubah masam.
Sekitar pukul 4 sore mereka pun sampai, kedatangannya pun disambut hangat oleh Pak Arman dan Bu Yulia.
“Ziya, Mamah kangen sama kamu, Nak,” ungkap Bu Yulia sambil memeluk sang putri.
“Ziya juga kangen sama Mamah,” balas Ziya.
“Sep, apa kabar?”
“Alhamdulilah saya baik Bu,” sahut Asep sambil mencium tangan Bu Yulia.
“Kamu makin gagah aja Sep,” puji Pak Arman sambil menepuk pundak Asep.
“Bapak bisa aja, saya mah begini-begini aja Pak,” sahut Asep dengan wajah malu.
Ziya menatap wajah sang Ayah dengan ekspresi wajah cemberut, Pak Arman tersenyum lembut sebagai balasan, lalu tanpa aba-aba Ziya pun menghambur ke pelukannya, amarah untuk sang Ayah dalam hati Ziya kini sudah padam.
“Apa kabar Nak?”
“Baik,” balas Ziya judes.
“Gimana hidup kamu disana?”
“Nanti aja ceritanya, Aku capek,” keluh Ziya.
“Ya sudah, kalian masuk dan istirahat, nanti Mamah panggil saat makan malam,” ucap Bu Yulia.
Asep mengikuti langkah Ziya menuju lantai atas, sambil membawakan kopernya, Ziya membuka pintu kamarnya dia pun masuk dan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka sengaja agar orang yang dibelakangnya ikut masuk, namun tentunya itu tidak terjadi, Asep hanya berdiri diluar pintu seakan ada penghalang di depannya.
“Ngapain lu berdiri disitu, ayo masuk,” tegur Ziya.
“Saya akan tidur di rumah belakang aja Neng,” tolaknya, rumah belakang itu adalah tempat para pelayan tinggal.
“Apaan sih enggak. Lu mau Papah marah, dan lu tahu siapa yang akan di marahin, itu gue cepetan masuk, atau gue seret lu kesini!” kesalnya.
Terpaksa Asep pun ikut masuk, kamar Ziya benar-benar luas tak seperti kamar yang ditempatinya di kampung, namun luar biasanya gadis ini tak mengeluh sama sekali padahal kehidupan disini dan disana jelas jauh berbeda.
Asep menundukkan pandangannya, wanita ini jelas jauh dari jangkauannya, meski saat ini statusnya adalah suami Ziya namun itu semua hanya tertulis di kertas.
“Wah kangen banget tidur disini, kaya gue udah pergi bertahun-tahun aja,” kekeh Ziya, sementara Asep memilih duduk di sopa.
“Sep kalau lu mau ke kamar mandi, kamar mandinya ada disana,” ucap Ziya.
“Eh, ngomong-ngomong barang lu mana? Lu gak bawa baju ganti?” tanya Ziya saat menyadari hanya ada satu kopernya disana.
“Ada di mobil Neng,” sahutnya.
“Kenapa gak dibawa kesini?”
“Buat apa dibawa kesini atuh Neng, biar aja disana,” ucap Asep.
Ziya mendengus kasar, “ambil sekarang dan bawa kesini.”
“Tapi Neng–,”
“Sekarang Asep!”
“I-iya Neng,” ucapnya segera dia pun bangkit dan pergi keluar.
“Heran gue sama dia, hal kecil gitu doang mesti gue perintah juga,” kesal Ziya.
Tak berselang lama Asep pun kembali dengan tas ranselnya, “nah gitu dong, apa kata Papah nanti kalau liat lu ganti baju di tempat lain.”
“I-iya Neng,” ucapnya dengan wajah tertunduk seakan tak berani menatap wajah Ziya.
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪