NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghargai Sebuah Hubungan

Dean dan Valen sudah berada di kamar pribadi milik Dean. Valen mengobati Dean dalam diam karena dia tengah kesal dengan Dean dan juga wanita tadi meskipun dia bisa memberinya pelajaran tapi dia tetap saja kesal.

Di tambah lagi Valen tengah kedatangan periode nya, menjadi lah rasa kesalnya saat ini.

Dean yang sudah tak tahan di diamkan sang kekasih meraih dagu Valen dan langsung mencium bibir Valen dengan lembut. Valen yang sudah berkali kali di cium oleh Dean masih saja terkejut dengan tindakan Dean dan belum terbiasa dengan apa yang Dean lakukan. Selalu saja mata itu mengerjap berkali kali karena ulah Dean yang menyerang tiba tiba seperti ini. Dean tersenyum tipis di sela ciuman mereka.

Dean menjauhkan wajahnya dari wajah Valen, dan mengusap sisa ciuman mereka.

"Bernapas sayang, masih saja begitu padahal sudah sering banget kita melakukan itu," goda Dean pada Valen.

Valen yang tersadar mengerjapkan matanya langsung cemberut kembali dan memukul lengan Dean dengan keras.

Bukkk...

"Awww, sakit sayang..." rintih Dean dengan pura pura kesakitan.

"Rasain...." ceplos Valen kesal.

Valen akan berdiri mengembalikan kotak obat yang dia pakai tadi untuk mengobati Dean tapi sedetik kemudian tangannya di tarik oleh Dean kembali dan malah duduk di pangkuan Dean.

"Kakkk....." jerit Valen saat sudah terduduk di pangkuan Dean.

"Ishhh, suka banget bikin aku kaget. Lepasin dulu kak..." rengek Valen pada Dean

Tapi bukan Dean namanya jika dia melepaskan Valen begitu saja bahkan Dean masih teringat dengan keberanian Valen yang menicumnya terlebih dahulu tadi. Dia yang terus memeluk Valen dengan erat membuat Valen terus bergerak meronta dan akhirnya membuat Dean yang usil terjebak dengan permainannya sendiri.

hati. "Sial, malah bangun lagi..." rutuk Dean dalam

Dean berusaha mati matian menahan apa yang sudah bangun di bawah sana. Sementara Valen masih terus memberontak karena Dean tak mau melepaskannya.

"Sayang.... Stop, jangan bergerak lagi..." pinta Dean dengan suara seraknya.

Glek....

Valen seketika terdiam dan menelan ludahnya kasar. Dia sangat paham dengan apa yang di rasakan Dean saat ini. Di tambah dia merasakan ada yang mengganjal di bawah sana.

"Kak Dean... ini?"

Suara Valen tercekat karena dia bingung ingin mengatakan apa, sedangkan Dean terdiam untuk menghilangkan semua hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Jari jari Valen sudah bertautan karena dia takut jika Dean tak bisa mengontrol apa yang terjadi pada badannya saat ini.

Tangan Dean tiba tiba menyibak rambut panjang Valen dan mencium pudak Valen yang sedikit terbuka. Tubuh Valen kembali menegang karena ulah Dean. Sekujur tubuhnya merinding dan badannya semakin meremang karena Dean terus mengecup pundaknya itu.

"Sayang, aku nggak akan lakuin lebih dari ini. Promise... biarin ini sedikit lagi. Kamu tahu kan di bawah sana ada ular berbisa yang sewaktu waktu bisa bertelur kapan aja?" ceplos Dean yang membuat wajah Valen memerah.

Tentu saja Valen paham dengan apa yang di maksud oleh Dean. Baru tadi pagi dia meminta pada kedua orang tuanya agar bisa menikah dengan Dean karena ingin mempunyai bayi yang lucu. Tapi apa ini ketika Dean seperti ini dia malah ketakutan jika Dean menyerangnya dan membuatnya hamil.

Dean terus mengatur napasnya agar hawa panas yang ada di sekujur badannya bisa turun dan ternyata dia membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk membuat ular berbisa di bawah sana tenang kembali.

Dean mengangkat tubuh Valen dan memindahkan tubuh Valen ke sebelahnya.

Cup.....

Dean mencium sekilas pipi Valen dan mengusap kepala Valen dengan lembut. Dia tersenyum samar saat mengetahui Valen juga nampak ketakutan dengan apa yang barusan terjadi.

"Maaf udah buat kamu takut, aku nggak bakal lakuin itu sekalipun aku bisa dan aku mau. Karena aku bakal unboxing kamu kalau kita udah nikah dan jelas setelahnya aku nggak bakal lepasin kamu sedetik pun. Aku bakal kurung kamu di kamar selama beberapa hari," ucap Dean dengan nada sedikit bercanda.

Valen memajukan bibirnya ke depan dan membuat Dean tertawa terbahak dengan lepas. Valen lagi lagi masih terpana dengan wajah Dean saat ini. Dia masih terus mengagumi wajah Dean meskipun sering sekali mereka berdua tertawa.

"Gue nggak salah kalau gue jatuh hati berkali kali dengan kak Dean. "bathin Valen.

Valen masih memerhatikan Dean yang tertawa dan nampak sekali jika Dean sangat lepas hari ini. Meskipun baru saja mereka mengalami kejadian yang tak menyenangkan tapi ternyata Dean tak memikirkannya kembali.

Dean yang merasa di perhatikan menghentikan tawanya dan beralih menatap Valen yang langsung gelagapan karena terpergok Dean sedang memerhatikannya. Dia lantas tersenyum tipis ke arah Valen.

"Aku tahu aku tampan sayang, tapi nggak harus sampai keluar air liur begitu," goda Dean pada Valen.

Valen reflek langsung mengusap bibirnya tapi kemudian Dean kembali tertawa karena menurutnya Valen sangat lucu hari ini.

"Hahaha, kamu lucu banget sih sayang. Aku cuma bercanda," ucap Dean lagi.

Valen berdecak kesal karena Dean terus menggodanya saat ini. Dean yang melihat wajah kesal langsung memeluknya erat dan mencium pundak kepalanya pelan.

"Maafin aku sayang, tapi kamu beneran lucu." ucap Dean lirih.

Valen menikmati pelukan Dean dan juga membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya.

Mereka berpelukan selama beberapa menit dan akhirnya Dean melepaskan pelukannya pada Valen saat menyadari sesuatu.

"Sayang, kamu nggak pergi kuliah?" tanya Dean tiba tiba.

Valen sendiri langsung terdiam dan mengingat kenapa dia tadi malah belok ke kantor Dean. Dan dia juga ingat jika dia akan ada pengenalan mahasiswa baru.

"Astaga kak, aku hampir aja telat,"

Valen menepuk keningnya pelan dan buru buru untuk bangun. Tapi saat Valen ingin pergi Dean meraih tangan Valen yang membuat Valen langsung berhenti dan berbalik ke arah Dean.

Valen menaikkan sebelah alisnya bingung dengan apa yang di lakukan Dean karena dia sudah hampir terlambat.

"Sayang, tenanglah, aku akan membuat kamu nggak terburu buru seperti itu. Aku akan menyuruh ketua pengganti untuk mengundurnya sedikit lagi. Dan kebetulan aku akan jadi pembicara di sana. Jadi lebih baik kita berangkat bersama setelah ini," ucap Dean pada Valen.

Valen menghembuskan napasnya lega karena dengan begini dia tak akan terburu buru kembali.

"Kak, aku akan memberi tahu Arlo juga jika begitu karena sudah jelas dia akan berangkat juga sekarang."

Dean mengangguk dan menunggu Valen untuk menghubungi Arlo. Setelah Valen selesai dia mengajak Valen keluar dari kamarnya dan ternyata semua kehebohan tadi sudah di bereskan oleh Gerald.

Dean memindai semua ruangan itu yang sudah

bersih dan terganti dengan perabotan yang baru.

Dean tersenyum puas dengan kinerja Gerald yang setiap saat selalu mengerjakannya dengan cepat dan rapi.

Dean segera mengajak Valen pergi dari sana tapi saat melewati meja Edward, dia tak melihat Edward di sana.

Gerald yang baru kembali ke atas langsung paham dengan ekspresi Dean yang sedang menanyakan keberadaan Edward.

"Edward tadi pingsan, jadi gue suruh dia istirahat terlebih dahulu di ruang kesehatan, dan kata dokter dia hanya terkejut dengan apa yang terjadi tadi," jelas Gerald pada Dean.

Valen meringis kecil karena sudah jelas itu karena kejadian dan karena ulahnya tadi.

"Baiklah, gue mau ke kampus yang lama karena gue ada undangan menjadi pembicara di sana. Sekalian gue antar Valen berangkat ke kampus," pamit Dean pada Gerald.

Gerald pun mengangguk karena karena hari ini tak ada pekerjaan yang begitu penting hari ini.

Dean segera melanjutkan langkahnya dan meninggalkan perusahaan dengan kecepatan sedang. Sementara Gerald melanjutkan kembali pekerjaan yang sedikit.

*

Di sisi lain, Arlo yang menerima pesan singkat dari Valen juga menjadi tak terburu buru dan memutuskan untuk menemui Ale terlebih dahulu di butik miliknya.

Arlo sendiri memang nampak santai karena dia berbeda jurusan dengan Valen.

"Gue bawakan apa yang Ale? Apa dia sedang sibuk? Sejak tadi gue telfon nggak di angkat?"

gumam Arlo pelan.

Mischa yang melihat sang putra bingung mengerutkan keningnya. Karena merasa Arlo hari ini sedikit gelisah sambil sesekali memeriksa ponselnya.

Puk...

Mischa memutuskan untuk menepuk pelan pundak Arlo dan membuat Arlo tersadar dan menoleh ke arah sang mama.

Arlo menggaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa di pergoki oleh sang mama.

"Mama, ngagetin aja. Ada apa? Apa mamam butuh sesuatu?" tanya Arlo langsung pada sang mama.

Mischa menggelengakan kepalanya pelan dan tersenyum lembut pada Arlo.

"Bukan mama yang butuh sesuatu, tapi kamu kenapa? Mau berangkat malah kelihatan bingung begitu."

Arlo menghela napasnya pelan dan dia sedikit ragu untuk mengatakannya pada sang mama. Tapi dia memang harus bicara pada sang mama agar apa yang sedang dia pikirkan tak membuatnya bimbang lagi.

"Ma, aku kepikiran sama Ale, sejak tadi Ale nggak bisa aku hubungi. Aku ingin pergi ke kampus dan ingin mampir ke butiknya tapi aku ragu, takut mengganggu dia."

Arlo menghela napasnya panjang, karena memang semenjak Arlo memutuskan mengambil kuliah dengan jurusan manajemen bisnis yang sama dengan Dean, Ale sedikit banyak berubah entah karena apa.

Mungkin karena dulu mereka ingin berangkat ke luar negeri untuk memperdalam kemampuan fashion dan model mereka. Tapi karena banyak hal yang menjadi pertimbangan dan Mahessa beberapa kali sakit, Arlo memutuskan untuk mengambil jurusan itu agar dia bisa membantu sang papa nantinya.

"Apa kamu berpikir jika Ale menjauhimu karena kalian beda kampus saat ini?" tanya Mischa menebak dengan tepat apa yang menjadi pikiran Arlo anaknya.

Arlo mengangguk pelan dan nampak murung.

Dan Mischa merasa kasihan kepada sang putra karena sang putra beberapa hari ini memang nampak bersedih.

"Percaya sama Ale, dia tak akan berpikiran pendek hanya karena kalian berbeda jurusan. Yang mama tahu Kak Zurra dan Kak Altezza mendidik putri kembarnya dengan baik. Apalagi untuk menghargai sebuah hubungan, aku yakin Ale sedang sibuk menyiapkan sesuatu saat ini. Kalau kamu merasa perlu bicara dengan Ale lebih baik kamu ke butiknya dan menemuinya sehingga kamu bisa lega nantinya," jelas Mischa lembut pada sang putra.

Arlo memeluk sang mama dan tersenyum lebar, dia memang benar kalau dia harus bicara dengan Mischa yang akan memberikan nasihat kepadanya.

"Ah, aku lega bisa bicara pada mama. Terima kasih untuk semua pencerahannya dan setelah ini Arlo akan langsung jemput Ale di butiknya," ucap Arlo senang.

Mischa menepuk pelan punggung Arlo dan tersenyum tipis.

"Berangkatlah dan ingat hati hati di jalan, apapun masalah kalian selesaikan dengan baik."

pesan Mischa pada Arlo.

Arlo mengangguk dan segera bergegas menemui Ale yang ada di butik. Tak butuh lama Arlo sampai di butik itu dan masuk tergesa gesa ke dalam butik.

Cringgg....

Arlo mengedarkan pandangannya dan mencari Ale, tapi nampak di sana Ale sedang menata baju yang ada di atas. Tapi ada seseroang yang menabrak kursi yang di pakai Ale dan membuat Ale goyah.

"Aleee, awasss....!!!!"

Arlo berlari kencang ke arah Ale dan berhasil menangkap tubuh Ale yang terjatuh dari atas kursi.

Insiden itu membuat semua orang mengerubungi Ale dan Arlo.

"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Arlo dengan wajah panik.

Ale yang sudah tersadar dari rasa terkejut nya langsung menggelengkan kepalanya pelan. Dia mencoba bangkit tapi kakinya terasa ngilu.

"Ssshhh, Arlo kaki gue sakit..." rintih Ale pada Arlo.

Arlo memeriksa pergelangan kaki Ale dan nampak di sana ada memar. Arlo segera mengangkat Ale agar dia bisa mengobatinya tapi mata Arlo menatap tajam ke arah satu orang yang tadi menabrak kursi Ale dan membuatnya terjatuh.

"Jangan biarkan semua orang yang ada di sini pergi terlebh dahulu,"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!