NovelToon NovelToon
Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".

Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi

Suasana di warung sate maranggi yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi lebih dingin daripada freezer supermarket. Slamet masih terpaku menatap Meta, mantannya yang dulu pergi saat Slamet sedang di titik terendah titik di mana dia makan satu bungkus mie instan dibagi dua untuk makan siang dan makan malam.

"Mas Slamet, ini siapa tadi?" tanya Arini dengan nada suara yang naik satu okta , meski senyumnya tetap terjaga secara profesional. Tangannya meremas garpu dengan kekuatan yang bisa membengkokkan baja.

"E....e..eh, ini Meta, Rin. Teman lama. Sangat lama. Hampir purba," jawab Slamet gugup. Dia menoleh ke Meta. "Met, kamu bilang suamimu bukan manusia? Bukannya kamu nikah sama pengusaha properti di Singapura?"

Meta menunduk, air mata (yang tampak seperti butiran pixel bening) jatuh ke meja. "Itu cuma kedok, Slamet. Dia adalah agen dari IGM.F yang menyamar. Namanya Mr. Gold. Dia membeli 'Kontrak Hidup'-ku dari orang tuaku yang terlilit hutang ghaib. Sekarang, dia menggunakan jiwaku sebagai 'Server Cadangan' untuk menyimpan data-data ilegal Serikat Pinjol Internasional."

Arini menyipitkan mata. Dia mengeluarkan HP nya, diam-diam menyalakan aplikasi 'Spec ter Scanner' buatan Bang Omen. "Mas, jangan langsung percaya. Di dalam dadanya ada detak jantung digital. Dia ini bukan Meta sepenuhnya. Dia adalah 'Bio-Android Ghaib' yang ditanami memori Meta."

Slamet tertegun. "Maksudmu dia... Trojan Horse?"

Tiba-tiba, Meta mendongak. Pupil matanya berubah menjadi logo bar-code yang berkedip. "Slamet... tolong aku. Masuklah ke dalam sistem pribadiku. Kunci enkripsinya adalah tanggal jadian kita dulu. Hanya kamu yang bisa mematikan bom data yang ada di dalam kepalaku!"

Slamet bimbang. Jika dia menolak, Meta (atau apapun itu) mungkin akan meledak dan menghancurkan setengah dari server Berkah-Go di Jakarta. Jika dia membantu, dia harus "berhubungan" secara digital dengan memori masa lalunya hal yang sangat berisiko bagi hubungannya dengan Arini.

"Rin, aku harus lakukan ini," bisik Slamet. "Bukan karena aku masih cinta, tapi karena ini masalah keamanan nasional ghaib. Kalau data ilegal itu meledak, seluruh Jakarta bakal kena 'Spam Santet' seumur hidup."

Arini menghela napas panjang, lalu menyerahkan kabel data ghaib miliknya. "Oke. Tapi aku ikut masuk sebagai 'Firewall'. Jangan harap kamu bisa nostalgia sendirian di sana, Mas."

Maka, di pojok warung sate itu, terjadilah sesi 'Deep Dive' paling aneh. Slamet dan Arini menyentuh tangan Meta, dan seketika kesadaran mereka tersedot masuk ke dalam ruang memori Meta.

Ruang itu berbentuk seperti Jakarta tahun 2020, saat Slamet masih jadi kurir paket dan sering telat bayar kosan. Mereka berada di depan sebuah cafe kecil. Di sana, mereka melihat 'Slamet Masa Lalu' sedang memberikan kado ulang tahun berupa jepit rambut murah kepada 'Meta Masa Lalu'.

"Oh, jadi ini alasan kamu dulu galau sebulan, Mas? Jepit rambut lima ribuan?" Arini berkomentar sambil melihat proyeksi memori itu dengan tangan bersedekap.

"Rin, hargai perjuangan ekonomi saya waktu itu!" protes Slamet.

Tiba-tiba, langit di memori itu retak. Sesosok pria raksasa berbaju jas emas muncul. Itulah Mr. Gold. "Slamet! Kamu terjebak! Tidak ada bom data di sini. Yang ada hanyalah 'Virus Penyesalan'! Begitu kamu masuk ke sini, kamu akan dipaksa mengulang masa lalumu selamanya sampai kamu gila oleh rasa bersalah!"

Mr. Gold tertawa, suaranya seperti koin yang berjatuhan. "Meta hanyalah umpan! IGM.F tahu bahwa kelemahan manusia Indonesia adalah 'Gagal Move On'!"

Slamet merasakan tarikan yang kuat. Memori-memori sedih mulai menyerangnya. Dia teringat saat Meta meninggalkannya di tengah hujan. Dia teringat saat dia menangis di depan ATM yang saldonya tinggal lima puluh ribu rupiah.

"Slamet... tetaplah di sini," suara Meta masa lalu mem bisik di telinganya. "Kita bisa perbaiki semuanya. Kita bisa kaya tanpa harus jadi menteri hantu. Kita bisa hidup normal."

Slamet mulai goyah. Matanya sayu. Namun, tiba-tiba sebuah tamparan ghaib mendarat di pipinya. PLAK!

"Mas Slamet! Bangun!" Arini berteriak. Dia berdiri di depan Slamet, memegang tablet cahayanya yang menampilkan grafik masa depan. "Jangan liat ke belakang! Masa lalu itu kayak Pinjol, Mas! Kalau kamu terus-terusan liat bunganya, kamu nggak bakal pernah lunas! Liat aku! Liat apa yang kita bangun sekarang!"

Arini menyalakan fitur 'Future-Brightness' di aplikasinya. Cahaya masa depan yang penuh dengan harapan, kopi, dan tawa menyapu bersih mendung memori tahun 2020 itu.

Slamet tersadar. Dia melihat ke arah Mr. Gold yang mulai mengecil karena kekuatannya berbasis pada kesedihan targetnya.

"Mr. Gold," Slamet berdiri tegak. "Meta yang asli mungkin memang menderita, tapi Meta yang ada di depan saya sekarang cuma kode pemrograman sampah! Saya sudah melunasi semua penyesalan saya saat saya memutuskan untuk menyelamatkan hantu-hantu Jakarta!"

Slamet mengepalkan tangannya, memanggil 'Update Patch' dari server Berkah-Go. "Menurut Pasal 'Hak Untuk Dilupakan' (Right to be Forgotten) dalam UU ITE Ghaib, saya nyatakan memori ini... DIHAPUS!"

Slamet menekan tombol 'Delete' virtual di udara.

BOOM!

Ruang memori itu hancur. Slamet dan Arini tersentak kembali ke kursi warung sate. Meta (si Android) mendadak mati total, tubuhnya berubah menjadi tumpukan kepingan sirkuit emas yang tidak bernyawa.

Di saat yang sama, di Singapura, Mr. Gold yang asli berteriak karena server pribadinya hangus terbakar.

Slamet terengah-engah. Dia melihat tumpukan sirkuit emas itu, lalu menatap Arini yang wajahnya masih terlihat kesal namun lega.

"Mas..." kata Arini pelan. "Jepit rambutnya beneran lima ribuan?"

Slamet nyengir kuda. "Eeh, iya Rin. Tapi sekarang kan aku bisa beliin kamu mahkota mutiara dari Nyi Blorong."

"Nggak perlu mahkota," Arini merapikan kerah baju Slamet. "Cukup jangan simpen 'Trojan' lagi di hati kamu. Karena kalau ada virus lagi, aku nggak bakal cuma nampar ghaib, tapi aku laporin ke bagian Penertiban Ibadah."

Tiba-tiba, HP Slamet berbunyi. Ada pesan masuk dari Gabriel (Auditor Langit).

Pesan: Slamet, selamat. Kamu baru saja melewati ujian 'Godaan Masa Lalu'. Skor Integritasmu naik menjadi 95. Tapi waspadalah, IGM.F sangat marah. Mereka baru saja mendaftarkan tuntutan baru di Mahkamah Internasional Pencemaran Nama Baik Kapitalisme Ghaib. Kamu dipanggil ke Den Haag minggu depan."

Slamet menghela napas. "Den Haag lagi, Den Haag lagi. Rin, siapin koper. Kayaknya kita harus bawa Tuan Meneer sebagai saksi kunci."

"Siap, Mas Menteri!" jawab Arini semangat.

Namun, di balik kegelapan malam, sesosok bayangan dari arah pelabuhan memperhatikan mereka. Itu bukan hantu, bukan robot. Itu adalah seorang pria tua dengan jas hujan lusuh yang memegang foto Slamet.

"Jadi ini anak yang mengacaukan bisnis kami di seluruh Asia?" gumam pria itu. "Slamet Sudjatmiko... saatnya kamu bertemu dengan 'Bapak Pinjol Nasional' yang asli."

Masalah Slamet belum selesai. Dari mantan pacar, kini dia harus berhadapan dengan "Legenda Hidup" yang membangun imperium hutang di Indonesia. Perjalanan ini semakin mendaki dan penuh dengan duri birokrasi yang mematikan.

1
Yeni Yeni
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kok geli jadinya ya, ceritanya lucu
Wayan Surya Mahardani
😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!