NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Enam Bulan Penentuan

“Kemampuan bisa diukur.”

Suara itu memotong keheningan dengan stabil, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menoleh.

Are berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana. Tatapannya tajam, terkendali.

Zelia sedikit menoleh, matanya membesar. Ia tak menyangka Are akan bicara.

Atyasa mengerutkan kening, jelas tak menyukai interupsi itu.

“Dengan segala hormat,” lanjut Are datar, “argumen kalian bukan soal stabilitas. Ini soal mempertahankan kendali.”

Beberapa orang tampak gelisah.

Atyasa menatapnya sinis. “Tahu apa kau soal perusahaan?”

Are tidak terlihat terusik.

“Kalau ini benar soal stabilitas,” katanya, “maka yang dibahas seharusnya transisi manajemen, bukan menolak hak pemilik sah.”

Atyasa menyipitkan mata. Dalam hati bertanya,"Bukankah dia hanya tukang parkir? Kenapa bisa bicara seperti ini?"

Beberapa direksi saling pandang. Nada suara Are tidak meninggi, tapi setiap katanya terasa presisi.

Zelia menatapnya takjub. "Cara bicaranya… terlalu tenang untuk orang biasa," batinnya.

“Transisi kepemimpinan tidak harus mengganggu stabilitas jika dilakukan dengan struktur yang tepat,” lanjut Are. “Selama ada pengawasan cash flow mingguan, kontrol rasio likuiditas, dan pembatasan capex jangka pendek, risiko operasional bisa ditekan.”

Direktur keuangan mulai mengerutkan kening, terlihat berpikir.

“Selain itu, renegosiasi kontrak vendor utama bisa meningkatkan margin operasional tanpa harus efisiensi tenaga kerja. Jadi argumen bahwa stabilitas akan terganggu… tidak sepenuhnya tepat.”

Direktur keuangan menegakkan duduknya. “Itu… benar,” katanya pelan. “Strategi itu bisa menahan tekanan arus kas minimal dua kuartal.”

Suasana ruangan berubah. Tatapan yang tadinya meremehkan kini beralih menilai.

Zelia menatap Are tanpa berkedip. "Siapa sebenarnya pria yang aku nikahi ini…" gumamnya dalam hati.

Atyasa tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Menarik,” katanya pelan. Nada suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang. Ia menatap Are dari ujung kepala sampai kaki. “Tapi sayangnya… ini bukan ruang diskusi bebas.”

Suasana langsung menegang.

“Kau tidak punya posisi di perusahaan ini.” Nada suaranya mulai mengeras.

Beberapa orang tampak tidak nyaman.

Zelia baru akan membuka mulut ketika suara Are kembali terdengar.

“Benar,” katanya singkat. Ia tetap berdiri tanpa bergerak. “Saya tidak punya jabatan.” Tatapannya beralih ke Atyasa. “Tapi saya paham bagaimana perusahaan berjalan.”

Atyasa menatap tajam, rahangnya mengeras.

“Cukup!” suaranya meninggi. “Kau tidak punya hak ikut campur!”

Ketegangan kembali memenuhi ruangan.

“Kau hanya suami Zelia.” Tangannya perlahan mengepal di atas meja. “Jadi jangan ikut campur dalam urusan internal perusahaan.”

Zelia akhirnya bersuara.

“Dia memang tidak punya jabatan di sini,” katanya tenang namun tegas, “tapi dia punya hak bicara sebagai suamiku. Dan sebagai orang yang jelas lebih objektif daripada pihak yang punya kepentingan.”

Atyasa hendak membuka mulut, tetapi kembali terdiam. Kali ini ia kehilangan kata-kata.

Semua yang hadir membisu. Kata-kata Are dan Zelia terlalu logis untuk disangkal.

Seorang direktur di ujung meja menyipitkan mata. “Nada bicara Anda… seperti seorang CEO.”

Ruangan kembali sunyi.

“Siapa Anda sebenarnya?”

Are terdiam sesaat, lalu menjawab dengan suara terkendali, “Itu tidak penting.” Tatapannya beralih ke Zelia. “Yang penting… istri saya mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.”

Jantung Zelia berdegup lebih cepat. Ia menatap pria yang baru menjadi suaminya tanpa berkedip.

"Apa aku… tanpa sadar telah memungut berlian yang dibuang?"

Atyasa akhirnya kembali bicara. Nada suaranya kembali tenang, seolah tak terjadi apa pun.

“Apapun yang dikatakan suamimu… memang ada benarnya,” katanya pelan.

Zelia menegakkan punggung. Ia tahu kalimat pembuka seperti ini tidak pernah benar-benar berarti setuju.

Atyasa menyandarkan punggung ke kursi. “Tapi berbicara selalu lebih mudah daripada bekerja di lapangan.” Tatapannya beralih ke Zelia. “Jangan egois ingin menduduki posisi CEO hanya karena kamu pemilik perusahaan ini.”

Jari Zelia mengepal di bawah meja. Kata egois terasa seperti tamparan halus di depan semua orang.

Suasana ruangan kembali hening.

“Pikirkan juga ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini.”

Dada Zelia terasa sesak. Ia paling tahu betapa keras ia bekerja selama ini… tapi seolah semua itu tak terlihat.

Beberapa direksi mengangguk pelan, setuju dengan pernyataan itu.

Seorang direktur ikut menimpali,

“Meski kami mendampingi Bu Zelia, proses adaptasi tetap akan memperlambat laju perusahaan. Posisi CEO bukan posisi sembarangan.”

“Tidak mudah,” tambah yang lain.

Tatapan Zelia menyapu ruangan. Tidak satu pun wajah yang benar-benar berpihak padanya.

Are akhirnya bersuara, tegas, tanpa emosi. “Kalau begitu… berarti kalian bersikeras tidak mau menyerahkan hak istri saya.”

Zelia menoleh sekilas ke arah Are. Ada kehangatan kecil muncul di tengah tekanan yang menghimpit dadanya.

Atyasa tersenyum tipis. Senyum yang penuh perhitungan. “Bukan begitu.” Ia menautkan jari-jarinya di atas meja. “Begini saja.”

Semua orang langsung menoleh.

“Kita beri kesempatan.” Tatapannya kembali ke Zelia. “Dalam waktu enam bulan, kamu duduk di kursi CEO.”

Napas Zelia tertahan. Enam bulan bukan waktu yang lama untuk membuktikan sesuatu sebesar ini.

Ruangan langsung hening.

“Jika dalam masa itu kamu mampu meningkatkan keuntungan perusahaan lebih baik dibanding saat Papa memegang kendali… kamu tetap menjadi CEO.”

Beberapa orang mulai saling pandang.

Zelia bisa merasakan jebakan itu semakin jelas. Target itu terlalu spesifik. Terlalu mudah dipelintir.

Atyasa berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin,

“Tapi jika tidak…”

Ia menatap Zelia dalam-dalam.

“Kamu harus menyerahkan kembali kendali perusahaan.”

Keheningan langsung terasa berat. Detak jantung Zelia berdentum di telinganya sendiri. Semua orang saling bertukar pandang.

Atyasa kemudian berkata santai, “Siapa yang setuju?”

Satu per satu tangan terangkat. Hampir semua.

Kecuali Zelia… dan Are.

Zelia terdiam. Pandangannya terasa panas. Ia seperti melihat garis batas yang perlahan menutup di sekelilingnya.

Enam bulan.

Meningkatkan profit lebih tinggi dari masa kepemimpinan Atyasa bukan perkara mudah.

"Dasar licik…" batinnya.

Ia tahu ini bukan kesempatan. Ini jebakan.

“Bagaimana?” tanya Atyasa dengan senyum penuh keyakinan. Ia yakin Zelia tidak akan mampu menjawab.

Ruangan kembali sunyi.

Zelia menarik napas panjang. Berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.

“Enam bulan…” gumamnya pelan. Ia menatap Atyasa. "Itu bukan waktu yang lama. Apalagi untuk melampaui Papa yang sudah puluhan tahun berpengalaman."

Senyum pahit terbit di bibirnya. "Papa memaksaku menyerahkan posisi? Perusahaan ini milik ibuku… hasil kerja kerasnya dan mendiang kakek. Tak ada sedikit pun kontribusi Papa membangun semua ini."

Tatapan Atyasa menajam.

“KAU—”

 

...✨“Kebenaran tidak selalu dimenangkan oleh suara terbanyak.”...

...“Kadang yang paling berbahaya bukan yang paling keras… tapi yang paling tenang.”...

...“Hak bisa diperdebatkan. Tapi keberanian harus diperjuangkan.”...

...“Berlian tetap berlian… bahkan ketika dibuang.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
rencana apa lagi nih, yang sedang dimainkan Atyasa , Dian,dan Desti,,
Kyky ANi
bagus Are,, berikan bukti yang lebih kuat lagi,,
abimasta
belum terima juga kekalahannya fero
Kyky ANi
semoga Zelia, bisa menang dalam kasus ini,,
Anitha Ramto
sayangnya Zelia dan Are hanya Akting karena ada si Desti yang ngintip,,terobsesi kamu Desti sama Are..

Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Cicih Sophiana
hati hati Zelia ada dua manusia licik bersatu jgn lengah sedikit pun...
love_me🧡
iya orang yg percaya diri mudah dijatuhkan & contohnya itu seperti kalian 😀
Cicih Sophiana
Are mulai menelan ludah nya tuh... saking gemes nya mau gigit bibir Zelia 🤭😂😂
Cicih Sophiana
Desti iri dengki akhir nya memfitnah...
Dek Sri
tetap waspada ya zelia dan are
love_me🧡
gantung terus thooorrr gantuuuuuung, udah gak Imlek iniiih udah panas gak hujan lagi jemurannya tolong jangan digantung mulu 😀😀
abimasta
gagal lagi rencana atyasa
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
Are akankah kamu tega meninggalkan istri mu
Anitha Ramto
sepertinya Are sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap bibirnya Zeliaa wkwkwkwk🤣
tse
aduh apa yang di lakukan Are ya.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
phity
hati2 dian lgi merekam
Puji Hastuti
Dan..... Zelia tidak jadi tanda tangan.
abimasta
desti mau ngerayu are
Anitha Ramto
diiih si Desti niatnya mau jelekin Zelia dan menarik Perhatian Are tapi nyatanya Are tidak peduli huh dasar wanita murahan

Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!