Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter kandungan
Pagi itu rumah Herry sudah ramai dengan aroma ikan goreng dari dapur. Matahari belum tinggi, tapi Anggika sudah rapi dengan dress lembut dan makeup natural.
Kulsum berdiri di depan kamar, memandangi putrinya yang sedang mengoleskan lipstik.
“Tumben kamu sudah bangun pagi, Gi. Biasanya azan zuhur baru bangun kesambet apa kamu,Gi?”
Anggika tersenyum kecil lewat cermin.
“Aku mau jalan sama Mario, Mak.”
Kulsum menyilangkan tangan.
“Lho, kemarin siapa yang bilang amit-amit kalau cowok tinggal Mario satu-satunya di dunia, mending nggak nikah? Sekarang malah kecintaan banget kamu ,Gi. Jangan-jangan kamu di pelet,Gi.”
Anggika berdehem pelan.
“Mak itu ya… jangan diungkit lagi.”
Tiba-tiba terdengar suara berdeham dari arah pintu.
“Ehem.”
Kulsum menoleh cepat.
“Eh, Mario! Sudah datang, Nak?”
Mario tersenyum sopan.
“Assalamu’alaikum, Mak. Iya, baru sampai.”
“Waalaikumsalam. Duduk dulu ya. Mak lagi goreng ikan. Mau minum apa kamu kopi, teh, air putih ?”
“Iya, Mak. Nggak usah repot.”
Anggika keluar kamar dan berhenti di depan Mario.
Mario menatapnya beberapa detik.
“Kamu cantik banget hari ini.”
Anggika mengangkat alis.
“Biasanya nggak cantik, ya?”
“Biasanya cantik sih…” Mario pura-pura mikir, “tapi lebih keliatan judesnya.”
Anggika mencubit pelan lengan Mario.
“Kamu mau sarapan dulu nggak?”
“Nggak usah. Tadi sudah ngopi.”
“Ya sudah. Mak, kita berangkat dulu ya.”
Kulsum keluar dari dapur sambil membawa spatula.
“Harusnya kalian itu dipingit, bukan malah pergi berduaan. Kata orang dulu pamali sebelum nikah keluyuran terus.”
Mario cepat menjawab, nadanya meyakinkan.
“Kita cuma cek kesehatan, Mak. Sekalian urus persyaratan pernikahan.”
“Oh, begitu. Ya sudah kalau urusan penting. Hati-hati di jalan, Rio. Jagain Anggi.”
“Siap, Mak.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Mereka berjalan keluar. Di depan rumah sudah ada dua pria berdiri.
“Permisi, ini rumahnya Pak Herry?” salah satu pria bertanya.
“Iya, betul,” jawab Mario.
“Kami dari Elena Wedding, mau pasang dekorasi.”
“Oh, silakan masuk. Ada Ibu Kulsum di dalam,” kata Anggika ramah.
Setelah memastikan semuanya beres, Mario membukakan pintu mobil untuk Anggika.
“Silakan, kanjeng ratu.”
Anggika tersenyum tipis.
“Gombal lagi.”
“Bukan gombal. Latihan jadi suami siaga.”
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, membawa mereka menuju hari yang semakin dekat dengan akad.
Di dalam mobil suasananya sempat hening beberapa detik. Mario melirik Anggika yang pura-pura fokus melihat ke luar jendela.
“Gi, tadi emak kamu bilang amit-amit nikah sama aku kalau cuma aku pria terakhir di dunia. Itu maksudnya apa, sih?” tanya Mario nada serius.
Anggika salah tingkah.
“Emm… itu kan dulu. Kamu nyebelin banget soalnya.”
Mario terkekeh.
“Alasan klasik. Sekarang malah mau nikah sama aku. Berarti kamu lagi jilat ludah sendiri dong?”
“Ih, kamu ini! Jangan dibahas lagi,” Anggika memalingkan wajahnya, pipinya mulai merona.
“Ngomong-ngomong, perut kamu udah nggak sakit?”
“Kalau cuma buat nemenin kamu sampai ujung dunia sih masih kuat,” jawab Mario santai.
“Ya ampun… gombal mulu. Gumoh aku dengernya,” Anggika menggeleng, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
“Oalah, jadi kamu nggak mau digombalin? Ya sudah, nanti aku gombalin cewek lain saja.”
Anggika langsung menoleh cepat.
“Coba aja.”
Mario tersenyum miring.
“Lho, katanya nggak suka?”
“Au ah, gelap,” gumam Anggika kesal pura-pura.
“Sayang, jangan marah dong.”
“Nggak mau.”
Tiba-tiba Mario menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Anggika kaget.
“Lho, kenapa berhenti?”
“Aku nggak mau nyetir kalau kamu ngambek begini. Bahaya. Fokusku ke kamu, bukan ke jalan,” jawab Mario.
“Kamu malah ikut ngambek.”
“Iya. Kenapa? Kamu aja yang boleh ngambek?”
“Ih, kamu kayak anak kecil. Harusnya kamu bujukin aku, bukan ikut ngambek.”
Mario mendekat pelan, menahan senyum.
“Oh… maunya dibujukin?”
Sebelum Anggika sempat menjawab, Mario mengecup bibirnya singkat.
“Cup.”
Wajah Anggika langsung memerah.
“Kamu ini!”
“Sudah ya, damai?” Mario meraih tangan Anggika, menciumnya lembut. Lalu ia menyalakan mesin kembali.
Beberapa detik hening, lalu Mario berkata lebih lembut,
“Mas nggak suka lihat kamu ngambek kayak tadi. Rasanya kayak jauh banget.”
Anggika menatapnya sekilas.
“Aku cuma takut… nanti kamu bosan sama aku kalau aku banyak drama.”
Mario tersenyum kecil tanpa melepas pandangan dari jalan.
“Kalau aku bisa tahan kamu yang galak, cerewet, sensitif, berarti aku juga siap sama dramanya.
Yang penting jangan diem-diem mutusin lagi.”
Anggika menggenggam tangan Mario yang ada di tuas perseneling.
“Ya sudah… aku belajar nggak ngambek sepihak lagi.”
“Bagus. Karena aku maunya kamu marah pun tetap di samping aku.”
Anggika tersenyum tipis.
“Ya sudah, nyetir yang benar. Jangan fokus ke aku terus.”
“Sulit,” sahut Mario santai. “Calon istriku yang kecantikannya tiada tara. ”
Mobil Mario terparkir rapi di area parkir rumah sakit. Ia turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Anggika.
Mereka berjalan bergandengan masuk ke lobi dan menuju meja pendaftaran.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” sapa petugas.
“Pagi. Kami mau kontrol ke spesialis kandungan, Dokter Mira,” jawab Anggika.
Petugas mengecek data di komputer.
“Atas nama Anggika Rosalia, ya? Silakan langsung ke lantai dua. Dokter sudah mulai praktik.”
“Terima kasih,” ujar Mario.
Mereka naik lift menuju lantai dua. Di depan poli kandungan, perawat memanggil nama Anggika untuk pemeriksaan awal.
“Sebelum masuk, saya cek tekanan darah dulu ya,” kata perawat sambil memasang manset tensi.
Beberapa detik kemudian ia mencatat hasilnya.
“Tekanan darah 120 per 70 mmHg, normal.”
Perawat tersenyum ramah.
“Ada keluhan yang ingin disampaikan hari ini?”
“Menstruasi saya sudah mulai datang lagi, tapi masih sedikit dan hanya sekitar tiga hari,” jawab Anggika.
Perawat melihat catatan medisnya.
“Baik. Dibanding tiga bulan lalu yang sempat tidak haid dua bulan, ini sudah ada perbaikan. Bulan kemarin dua hari, sekarang tiga hari, ya?”
“Iya, Sus.”
“Baik, silakan masuk. Dokter sudah menunggu.”
Mario menggenggam tangan Anggika memberi dukungan sebelum mereka masuk ke ruang praktik.
“Selamat pagi, Mbak Anggika,” sapa Dokter Mira hangat. “Ini ditemani siapa? Wah, sepertinya calon suami ya?”
“Iya, Dok. Dua hari lagi kami menikah,” jawab Anggika sedikit tersenyum.
“Selamat ya. Silakan duduk dulu.”
Mario membuka pembicaraan dengan sopan.
“Dok, kami ingin memastikan kondisi kesehatan Anggika, terutama terkait PCOS yang sebelumnya didiagnosis. Kami juga ingin tahu peluang untuk program hamil ke depan.”
Dokter Mira mengangguk profesional.
“Baik. Sebelumnya saya jelaskan sedikit. PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome adalah gangguan hormonal yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon reproduksi. Biasanya ditandai siklus haid tidak teratur, ovulasi yang jarang atau tidak terjadi, dan pada USG terlihat banyak folikel kecil di ovarium.”
Dokter lalu mempersilakan,
“Mbak Anggika, silakan berbaring di bed pemeriksaan. Kita lakukan USG transabdominal dulu untuk evaluasi kondisi ovarium dan rahim.”
Anggika berbaring, sementara dokter menyiapkan alat USG dan mengoleskan gel di perut bagian bawah.
Layar monitor menampilkan gambaran organ reproduksi.
Dokter menunjuk layar.
“Ini rahimnya, ukurannya normal. Lapisan endometrium juga cukup baik. Di ovarium kanan dan kiri masih tampak beberapa folikel kecil, khas PCOS, tapi tidak memburuk dibanding pemeriksaan sebelumnya.”
Mario memperhatikan dengan serius.
“Berarti masih bisa hamil, Dok?”
Dokter tersenyum menenangkan.
“Tentu bisa. Banyak pasien PCOS tetap bisa hamil, baik secara alami maupun dengan bantuan terapi. Kuncinya ada pada pengaturan siklus, menjaga berat badan ideal, pola makan rendah gula sederhana, olahraga rutin, dan bila perlu obat untuk merangsang ovulasi.”
Anggika menatap dokter penuh harap.
“Jadi saya tidak mandul, Dok?”
Dokter Mira menatapnya lembut.
“PCOS bukan berarti mandul. Memang bisa membuat proses ovulasi tidak teratur, tapi bukan berarti tidak bisa punya anak. Bahkan pada beberapa kasus, karena jumlah folikelnya banyak, peluang kehamilan kembar juga ada jika ovulasi terpicu.”
Mario menggenggam tangan Anggika lebih erat.
“Untuk sementara,” lanjut dokter, “lanjutkan pola makan sehat, kurangi karbohidrat sederhana dan gula berlebih, perbanyak protein serta serat seperti yang saya katakan satu bulan lalu. Setelah menikah, jika dalam enam bulan sampai satu tahun belum hamil, kita bisa evaluasi dan pertimbangkan program hamil terarah.”
Mario mengangguk.
“Baik, Dok. Terima kasih penjelasannya.”
Dokter menutup konsultasi dengan ramah.
“Yang penting jangan stres. Stres justru bisa memperburuk siklus hormon. Nikmati dulu pernikahannya. Tubuh yang rileks lebih mudah bekerja dengan baik.”