Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 MALAM PANAS
Suara musik yang menggelegar dan memekakkan telinga. Namun, herannya banyak yang meminati alunan musik DJ tersebut. Bau alkohol menyebar di seluruh sudut BAR. Mulai dari jogetan yang sangat santai sampai yang brut*al terlihat disana.
"Cukup, Van!" ucap seorang wanita mencoba menghentikan sahabatnya yang terus-menerus menengguk minuman beralkohol hingga tandas. Bahkan sang sahabat terus mengulanginya sampai beberapa kali.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri." cegah wanita itu lagi, berusaha merebut gelas yang ada di genggaman Vania.
Bukannya berhenti, Vania malah semakin menjadi. "Aku merasa bod*oh, Mega. Selama ini aku dibohongi oleh adik tiriku dan kekasihku sendiri." rancaunya sambil tertawa, meratapi kebodohannya.
"Siapa bilang kau bodoh? Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Vania. Kau harusnya bersyukur bisa terlepas dari pria seperti Dirly. Dia memang tidak pantas mendapatkan wanita sebaik dirimu. Jadi, ayo kita pulang! Hentikan semua drama ini." Mega beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Vania. Namun, Vania enggan untuk bergerak.
"Biarkan aku berada disini, Mega. Kau pergilah!" usirnya dengan pasti. Mega yang memang harus pergi dikarenakan ada urusan langsung meninggalkan Vania. Sebelum langkahnya menjauh, wanita itu menoleh kebelakang sejenak. Jujur dia tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan aku, Vania. Tapi ini urusan penting, demi masa depan perusahaan keluargaku." gumamnya memandangi Vania yang bersandar lemah di sofa.
Malam semakin kelam, sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. BAR harus di tutup tetapi Vania masih berada disana. Salah satu anggota penjaga Bar itu menghampiri Vania.
"Nona, Bar akan segera tutup. Apa Anda perlu bantuan untuk pulang?" Tanyanya dengan sopan, melihat Vania yang tergeletak di sofa.
"A—aku bisa pulang sendiri." sahutnya hampir tidak bersuara. Dia mencoba untuk berdiri, tetapi sulit menyeimbangkan badan.
Brugh!
Tubuh Vania jatuh ke dalam pelukan seorang pria. Mata sayu mereka saling menatap, napas keduanya menyapu wajah satu sama lain. Gejolak ga*rah yang ada dalam diri Giorgino Abraham membuncah. Tangan kekarnya masih mampu menggendong Vania dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobil.
__________________
Suara kicauan burung terdengar begitu menganggu. Vania mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Mulai dari kepala sampai ke kaki. Dan lebih parahnya, bagian kantung Semar milik Vania terasa perih. Dia bahkan kesulitan untuk berjalan.
"Aku dimana?" Gumamnya pelan sambil melihat ke sekeliling penjuru ruangan mewah tersebut. Vania menegakkan tubuhnya, memegangi kepala yang terasa berdenyut.
"Akh iya, aku ingat! Malam itu, aku terlalu banyak minum. Tapi, setelah itu apa yang terjadi? Dan kenapa aku bisa ada disini?" desisnya merasakan pusing.
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk!" Teriak Vania.
Seorang wanita berpakaian batik dipadu dengan rok berwarna hitam yang senada, berjalan masuk ke dalam kamar itu. Dia tersenyum ramah dan meletakkan nampan berisi susu serta roti bakar di atas meja.
"Selamat menikmati, Nona." ucapnya sopan dalam melayani. Saat wanita itu hendak pergi, Vania mencegahnya.
"Tunggu! Siapa yang menyuruhmu membawa makanan ini kemari?"
"Tuan Abraham. Dia yang membawa Anda ke hotel ini, dan sebelum pergi, Beliau berpesan agar saya memberikan sarapan pada Anda."
"Abraham? Kemana dia pergi?" Vania bertanya dengan penuh kegugupan.
"Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menjalankan perintahnya."
Suasana sepi untuk beberapa detik, hingga sang karyawan hotel kembali membuka suaranya.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Nona? Kalau tidak, saya permisi." ucap karyawan itu dan dijawab anggukan oleh Vania.
'Abraham? Siapa dia? Dan, kenapa dia membawaku ke tempat ini?' jantung Vania berdetak sangat kencang.
"Aw!" pekiknya memegangi bagian int*im miliknya.
Vania menurunkan kedua kakinya secara perlahan, dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu terlihat lah bercak darah segar di atas sprei. Vania menatap nanar ke arah sprei itu, dia memegangi kepalanya dan terduduk lemas diatas ranjang.
"Itu berarti, dia—. Argh! Ba*jingan! Pria tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dasar bi*ad*ap!" teriak Vania melampiaskan emosinya. Air mata tumpah ruah membasahi pipi mulusnya.
_________
Vania berjalan masuk ke dalam rumah dengan tubuh dan perasaan yang lelah. Saat hendak menaiki anak tangga, Baskara Adinata— Papa Vania, dan Risna— Ibu tiri Vania, berjalan menghampiri.
"Darimana saja jam segini baru pulang? Apa kau sudah lupa waktu, Vania?" tanya Baskara mendekati sang putri semata wayangnya.
Bukannya menjawab, Vania malah memasang ekspresi terkejut. "Sejak kapan Papa peduli padaku?"
"Jangan membuat pertengkaran di pagi hari, Vania. Papa cuma bertanya kau darimana saja? Apa susahnya menjawab!"
"Bukan urusan Papa! Lebih baik Papa pikirkan saja istri, dan anak baru papa itu." Vania melirik tajam ke arah Risna.
"Vania sayang, Mama mohon bukalah pintu hatimu sedikit untuk menerimaku sebagai Mamamu." Risna mencoba merayu Vania, anak tirinya.
"Menjauh! Kau itu cuma pura-pura baikkan? Dengar, sampai kapanpun, tidak ada yang bisa menggantikan Mamaku dihatiku. Jadi kau jangan berharap banyak!"
"Jaga bicaramu , Vania! Sekarang Risna sudah resmi menjadi istri Papa, dan itu berarti dia juga sudah resmi menjadi Mamamu." bentak Baskara dengan mata melotot.
"Cuih! Mimpi!" balas Vania merasa muak dengan pertengkaran ini. Semenjak kedatangan Risna dan putrinya — Ratu, kehidupan Vania menjadi berubah. Kasih sayang yang dulu dia dapatkan dari sang Papa, kini sudah tidak ada lagi untuknya. Dan Ratu, dia wanita yang pandai mencari muka juga bermuka dua.
Vania berlari menaiki anak tangga, sementara Baskara belum selesai bicara. Pria paruh baya itu berteriak memanggil nama putrinya.
"Vania! Papa belum selesai bicara! Vania!" teriak Baskara tetapi tidak dihiraukan oleh Vania. Gadis itu malah menutup pintu kamarnya dengan begitu kencang.
Risna memegang pundak Baskara, mencoba menenangkannya. "Sudahlah, Bas. Biarkan Vania tenang dulu. Jangan memaksanya untuk menganggapku sebagai Ibu sambungnya. Pasti butuh lama untuk Vania menerima semua ini. Apalagi, dari awal dia memang tidak setuju dengan pernikahan kita."
"Kau benar, Sayang." Baskara mengelus punggung tangan Risna. "Tapi, Risna. Jika kita tidak tegas, Vania akan semakin menjadi."
"Biarkan saja. Kekerasan jangan dilawan dengan kekerasan. Aku akan mencoba meluluhkan hatinya supaya dia mau menerimaku sebagai Ibunya." Risna tersenyum manis, menatap wajah Baskara. Keduanya pun saling melempar senyuman.
Di dalam kamar.
Vania melemparkan tasnya ke sembarang arah. Bukan cuma itu, dia bahkan membuang semua barang yang ada di dalam kamarnya. Mulai dari meja rias, lampu tidur, sprei, selimut, sofa dan masih banyak lagi. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Vania merasa tidak sanggup menjalani kehidupan ini semenjak sang Mama meninggal dunia. Air mata terus menetes di pipinya. Hingga pada akhirnya, mata Vania tertuju ke bingkai foto yang terpajang di dinding.
Dia meraih bingkai foto itu, dan memeluknya dengan erat.
"Ma..." gumam Vania dengan suara seraknya, dia seperti tidak sanggup untuk bicara. Tangannya mengelus bingkai foto itu.
"Andaikan saja Mama masih ada di dunia ini, pasti hidup Vania tidak akan seperti sekarang. Vania sudah hancur, Ma. Hancur!" ucapnya mengutarakan isi hati.
"Jemput Vania, Ma. Vania gak sanggup hidup lagi. Gak ada yang sayang sama Vania. Papa udah punya istri baru, dan anak wanita itu. Dia begitu menyebalkan. Gak ada yang peduli dengan perasaan Van, Ma." gadis itu kembali memeluk bingkai foto milik Mamanya.
Pintu kamar tiba-tiba diketuk dari luar. Vania hanya menoleh sejenak, tetapi ketukan itu semakin kuat. Merasa kesal, akhirnya Vania memutuskan untuk membuka pintu. Dan, ya... Saat pintu tersebut terbuka lebar, senyum penuh ejekan yang sangat Vania benci itu muncul di hadapan.
"Kau!" Vania mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
.
.
BERSAMBUNG
ASSALAMUALAIKUM TEMAN-TEMAN... JANGAN LUPA DUKUNG KARYA BARU OTHOR YAKK ☺️ INSYA ALLAH, KITA KONSISTEN SAMPAI TAMAT. DIMOHON JANGAN LOMPAT BAB DAN TINGGALKAN JEJAK LIKE, KOMEN UNTUK KRITIKAN POSITIF NYA, KEMUDIAN SUBSCRIBE 😍 SEKIAN DAN TERIMA GAJI ☺️ SELAMAT TAHUN BARU....