Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Strategi Balas Dendam Senja
Pagi di Bandung seharusnya diawali dengan aroma kopi yang menenangkan dan pemandangan kabut di balik jendela. Tapi buat gue, pagi ini diawali dengan misi suci. Menghancurkan harga diri karakter fiksi yang kelakuannya persis banget sama bos gue.
Di ruangan hotel yang disulap jadi kantor sementara, suasananya hening banget. Cuma ada suara gesekan kertas dan bunyi keyboard. Gue duduk di pojok, sengaja cari posisi yang menghadap jendela biar nggak perlu lihat muka Genta. Tapi ya namanya takdir lagi bercanda, posisi meja gue tetap saja bikin punggung tegap Genta masuk radar penglihatan. Dia duduk cuma selisih dua meja dari gue, kelihatan serius banget sama laptopnya.
Gue menyeringai kecil. "Oke, Pak Monster. Kalau di dunia nyata Bapak bisa nindas saya pakai revisi, di dunia maya... Bapak itu tawanan saya," gumam gue pelan banget.
Gue buka aplikasi NovelToon. Jemari gue mulai ngetik dengan cepat penuh dendam. Kali ini, gue nggak cuma bikin si tokoh pria yang gue kasih nama "Kastara" (anagram dari kaku, keras, dan rata) kehilangan suara. Gue mau dia menderita lebih dalam.
“Kastara berdiri di tengah hujan deras, tapi anehnya, nggak ada satu pun payung yang mau terbuka buat dia. Bahkan awan pun seolah muak lihat kesombongannya. Di bab ini, kesombongan Kastara akhirnya memakan dirinya sendiri. Perusahaan logistik kebanggaannya hancur karena dia terlalu sibuk ngoreksi titik koma di surat cinta karyawannya sampai lupa ada lubang gede di keuangan perusahaan. Dia bangkrut. Dia miskin. Dan yang paling memuaskan, dia ditinggalin sama satu-satunya orang yang pernah tulus suka sama dia.”
Gue baca ulang paragraf itu. "Ditinggalin? Kurang tragis. Dia harus kehilangan segalanya!" gumam gue lagi. Gue tambahin adegan di mana Kastara terpaksa jual kacamata mahalnya cuma buat beli sepotong roti keras.
Puas sama draft kasarnya, gue nggak langsung publish. Gue mau kirim "umpan" dulu lewat DM ke Kaka’s. Gue mau lihat reaksi pria yang duduk beberapa meter di depan gue itu.
Senja_Sastra: Kaka's, gue lagi dapet inspirasi liar nih. Gimana kalau di bab depan, tokoh cowok 'si robot' itu gue bikin bangkrut total? Gue mau dia kehilangan aset, jabatan, dan ditinggalin semua orang karena kesombongannya. Kayaknya seru kalau dia menderita dikit, biar pembaca ngerasa ada keadilan. Menurut lo gimana? Terlalu sadis atau kurang menderita?
Gue taruh HP di meja. Mata gue pura-pura natap layar laptop yang nampilin naskah seminar, tapi fokus utama gue cuma ke Genta.
Satu detik... dua detik...
Genta terlihat meraih botol air mineral. Dia putar tutup botolnya dengan gerakan elegan, terus mulai minum. Tepat saat itu, HP Genta yang tergeletak di samping laptopnya nyala.
Bzzzt.
Mata Genta melirik layar.
"UHUK! UHUK-HUK!"
Genta tersedak hebat! Air mineral yang baru masuk ke kerongkongannya seolah salah jalur. Dia terbatuk-batuk sambil nutupin mulut pakai sapu tangan, pundaknya terguncang-guncang berusaha narik napas. Wajahnya yang biasanya pucat sekarang merah padam sampai ke telinga.
Gue hampir saja ledakin tawa. Gue pura-pura kaget dan menoleh dengan wajah penuh empati palsu. "Astagfirullah, Pak Genta! Bapak nggak apa-apa? Makanya, Pak, kalau minum itu pelan-pelan. Jangan kayak lagi dikejar deadline revisi," sindir gue dengan nada manis yang dibuat-buat.
Genta mengatur napas, natap gue dengan pandangan tajam yang agak berkaca-kaca gara-gara tersedak tadi. "Saya... saya nggak apa-apa. Cuma ada... serangga yang lewat," dalihnya ketus.
Serangga ya, Pak? Serangganya namanya Senja_Sastra, batin gue girang.
Genta balik ke laptop, tapi gue bisa lihat jemarinya gerak cepat banget di atas HP yang dia sembunyiin di bawah meja. Nggak lama, HP gue getar.
Kaka’s: Sadis banget, Senja. Lo beneran mau bikin dia semenderita itu? Apa dia nggak punya satu pun kesempatan buat berubah? Mungkin dia bukan sombong, mungkin dia cuma nggak tahu cara minta maaf yang bener. Bikin dia bangkrut itu... saya rasa terlalu berlebihan buat seseorang yang sebenarnya cuma ingin dihargai.
Gue baca pesan itu dan mendengus. "Dihargai katanya? Prett!" Gue langsung balas.
Senja_Sastra: Kesempatan berubah itu buat orang yang mau usaha, Kaka’s. Masalahnya, tokoh gue ini bebel banget. Dia ngerasa paling bener sedunia. Orang kayak gitu butuh 'shock therapy' biar sadar kalau di atas langit masih ada langit, dan di atas editor masih ada penulis yang bisa bikin nasib dia tragis dalam satu paragraf.
Gue lirik Genta lagi. Pria itu tampak memijat pangkal hidungnya, lepas kacamata sejenak, terus menghela napas panjang yang kedengaran sampai ke meja gue. Genta kelihatan capek banget, seolah dia sendiri yang baru saja kehilangan seluruh hartanya.
Genta ngetik lagi.
Kaka’s: Gimana kalau... jangan dibuat bangkrut? Gimana kalau dia dibuat menyadari kesalahannya lewat kejadian kecil yang menyentuh? Kayak... ada seseorang yang tetap kasih perhatian meskipun dia galak. Mungkin itu lebih masuk akal secara karakter.
Gue tersenyum miring. Gue ngerasa di atas angin. Gue tahu Genta lagi memohon buat "nyawanya" sendiri lewat akun fiksi ini.
"Hmm, perhatian ya? Menarik," gumam gue.
Gue berdiri, jalan menuju dispenser yang ada di dekat meja Genta. Pas ngelewatin mejanya, gue sengaja berhenti sebentar. "Pak Genta, kelihatan capek banget. Apa perlu saya beliin kopi lagi? Tapi kali ini jangan minta yang tanpa gula ya, kayaknya Bapak butuh sedikit rasa manis dalam hidup biar nggak terlalu... pahit."
Genta mendongak, natap gue dengan tatapan yang susah diartiin. Ada raut kesel, tapi ada juga sesuatu yang melunak, kayak pengakuan kalah. "Terima kasih, Aruna. Tapi saya sudah cukup manis hari ini karena draf seminar yang kamu buat... lumayan bagus."
Gue tertegun. Pujian? Dari Genta?
Gue gercep balik ke meja dengan perasaan yang mendadak aneh. Gue buka HP lagi.
Senja_Sastra: Oke, Kaka’s. Gue tunda dulu bab bangkrutnya. Tapi sebagai gantinya, gue bakal bikin dia ngelakuin sesuatu yang memalukan di depan umum. Adil, kan?
Genta cuma bisa nyenderin punggung di kursinya, natap langit-langit ruangan dengan pasrah. Dia sadar, selama gue pegang kendali di NovelToon, hidup dia nggak bakal tenang. Perang ini belum berakhir, tapi buat sementara, dia harus terima kalau Senja adalah ratu yang megang pena takdirnya.
"Dasar penulis kejam," bisik Genta pelan, yang cuma dibalas sama bunyi keyboard gue yang kedengaran kayak suara tawa kemenangan.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻