Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Hampa Dibalik Layar
Ruangan di bawah gedung arsip itu tidak terasa seperti bagian dari Jakarta. Jika di luar sana udara pengap oleh polusi dan sisa hujan, di sini udaranya kering, dingin, dan berbau tajam seperti ozon serta logam terbakar. Dinding-dindingnya dilapisi panel akustik abu-abu gelap yang menyerap suara, membuat setiap langkah kaki Kala di lantai beton yang dipoles mengkilap terdengar seperti dentuman di dalam gua sunyi.
Kala menatap wanita berambut perak itu. Namanya—menurut tanda pengenal magnetik yang tergeletak di meja—adalah Vera.
Vera berdiri di bawah siraman lampu neon putih yang terlalu terang, membuat kulitnya yang pucat tampak hampir transparan, menonjolkan urat-urat biru halus di pelipisnya. Matanya yang abu-abu tidak berkedip, menatap Kala dengan tatapan dingin seorang ilmuwan yang sedang membedah spesimen. Di belakangnya, ribuan kabel serat optik menjalar dari langit-langit seperti tentakel raksasa, terhubung ke sebuah superkomputer yang mengerang rendah, mengeluarkan getaran frekuensi rendah yang membuat gigi Kala ngilu.
"Lihat ini," Vera menjentikkan jarinya ke udara. Sebuah proyektor hologram di tengah ruangan mendesis, lalu memuntahkan partikel cahaya biru yang membentuk peta garis waktu yang rumit.
Bentuknya menyerupai akar pohon yang kusut. Ratusan garis bercabang, berbelok, dan sebagian besar terputus dengan ujung berwarna merah darah.
"Ini adalah representasi eksistensimu, Kala," suara Vera bergema datar. "Setiap garis merah adalah garis waktu di mana kamu gagal. Di mana Arumi mati, dan dunia ini berakhir dalam kekacauan termodinamika. Kamu lihat titik pusat yang bercahaya keemasan itu?"
Kala melangkah maju, mendekati hologram itu. Cahaya biru dari proyektor memantul di bola matanya. Ia melihat sebuah titik kecil di mana semua garis bermuara. Di sana, gambar Arumi muncul dalam resolusi rendah, sedang tertawa di bawah payung kuningnya.
"Dia bukan sekadar manusia," lanjut Vera, langkah kakinya yang mengenakan bot militer berbunyi klik-klak di lantai. "Arumi adalah Singularitas Biologis. Secara genetik, sel-selnya beresonansi dengan frekuensi alam semesta. Jika dia mati sebelum waktunya, resonansi itu pecah, dan realitas di sekitarnya akan runtuh seperti kartu yang disusun miring. Itulah kenapa kamu terus-menerus kembali. Jiwamu—atau apa pun yang tersisa dari itu—terikat secara kuantum dengannya."
Kala mengangkat tangan kirinya, menatap jam titanium yang melingkar di pergelangan tangannya. Alat itu kini tampak berbeda di matanya. Bukan lagi sekadar mesin waktu, tapi sebuah parasit.
Detail jam itu sungguh mengerikan jika dilihat dari dekat. Di bawah kaca safirnya yang retak rambut, terdapat roda-roda gigi kuno yang berputar searah jarum jam, namun di sela-selanya, terdapat sirkuit mikroskopis yang berpendar ungu. Ada cairan hitam kental yang mengalir di dalam tabung kapiler kecil di sekeliling bingkainya—darah mekanis yang menghubungkan mesin itu langsung ke saraf tangan Kala melalui jarum-jarum mikro yang tertanam di kulitnya.
Kulit di sekitar jam itu tampak melepuh, berwarna keunguan dan mati rasa.
"5% memori tersisa," Kala berbisik, suaranya parau. "Apa yang terjadi kalau aku mencapai nol?"
Vera berjalan memutarinya, seperti singa yang mengitari mangsa. "Kamu akan tetap ada secara fisik, tapi kamu akan menjadi cangkang kosong. Kamu akan lupa cara bernapas, lupa cara mengedipkan mata, bahkan lupa bahwa kamu adalah manusia. Kamu akan menjadi Anomali Statis—patung hidup yang terjebak di antara detik yang tidak pernah bergerak."
Vera berhenti tepat di depan Kala. Baunya seperti mint dan antiseptik. "Tapi ada cara lain. Cara ketiga."
Kala mendongak. "Apa?"
"Hancurkan sumbernya. Jangan selamatkan dia, jangan biarkan dia mati. Kita harus menghapus Arumi dari garis waktu sepenuhnya. Bukan membunuhnya, tapi memastikan dia tidak pernah dilahirkan."
Kelu lidah Kala mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. "Maksudmu... kembali ke masa lalu dan mencegah orang tuanya bertemu? Itu akan menghapus segalanya! Semua orang yang pernah dia bantu, semua senyum yang pernah dia beri..."
"Dan semua kiamat yang dia sebabkan tanpa sengaja," potong Vera tajam. "Pikirkan, Kala. Jika Arumi tidak pernah ada, kamu tidak perlu menderita. Kamu akan memiliki ingatanmu kembali. Kamu akan menjadi Kala Danuarta yang normal, seorang teknisi jam yang sukses, mungkin punya istri lain, hidup yang tenang sampai tua. Bukankah itu yang kamu inginkan? Kedamaian?"
Kala terdiam. Bayangan hidup normal melintas di benaknya seperti mimpi indah yang menyakitkan. Ia membayangkan dirinya bangun di pagi hari tanpa rasa takut lupa akan namanya sendiri. Ia membayangkan bisa melihat matahari terbit tanpa harus menghitung berapa detik umur yang ia punya.
Namun, di sudut gelap memorinya yang hampir habis, ada satu fragmen yang tersisa. Bukan tentang perpustakaan, bukan tentang payung kuning. Tapi tentang perasaan hangat saat tangan Arumi menyentuh punggung tangannya. Sebuah perasaan yang melampaui logika mesin dan angka.
Tiba-tiba, ruangan itu berguncang hebat.
Lampu neon berkedip merah. Suara sirene meraung-raung, memekakkan telinga. Monitor-monitor di sekeliling mereka meledak, mengeluarkan percikan api dan asap hitam yang menyesakkan.
"Mereka di sini!" teriak Vera, wajahnya yang tenang kini berubah penuh kepanikan.
"Siapa?!" Kala berteriak balik, mencoba menyeimbangkan diri di lantai yang bergetar.
"Para Pemulih! Unit pembersih garis waktu yang dikirim oleh Dewan Realitas. Mereka tidak ingin Arumi dihapus, mereka ingin Arumi mati secara permanen agar mereka bisa memanen energi dari runtuhnya garis waktu!"
Pintu baja besar di ujung lorong hancur berkeping-keping, seolah-olah dihantam oleh palu raksasa yang tak terlihat. Dari balik asap, muncul tiga sosok tinggi mengenakan jubah perak metalik. Wajah mereka tidak memiliki fitur—hanya permukaan cermin halus yang memantulkan wajah Kala yang ketakutan. Mereka memegang senjata berbentuk silinder yang memancarkan gelombang distorsi udara.
"Kala, lari!" Vera mendorong Kala menuju sebuah kapsul logam di sudut ruangan. "Putar jammu ke angka 601! Itu adalah kode akses ke ruang antara waktu. Hanya di sana kamu bisa selamat!"
Kala ragu sejenak. "Bagaimana denganmu?"
"Aku hanyalah data, Kala! Pergi!"
Salah satu sosok berjubah itu mengangkat senjatanya. Gelombang suara frekuensi tinggi melesat, menghancurkan meja kerja di samping Kala menjadi debu dalam sekejap.
Kala melompat ke dalam kapsul. Dengan tangan gemetar, ia memutar bingkai jamnya. Bunyi klik mekanis terasa di tulang lengannya. 100... 300... 600... dan satu klik terakhir yang dipaksakan.
601.
Dunia di sekitarnya melengkung. Suara ledakan dan teriakan Vera memudar menjadi kesunyian yang absolut. Tubuh Kala terasa seperti ditarik melewati lubang jarum, setiap selnya direnggangkan hingga batas maksimal.
Dan kemudian, kegelapan.
Kala terbangun di tempat yang tidak memiliki langit maupun lantai. Hanya ada hamparan putih yang tak berujung, dan ribuan jam saku yang melayang di udara, semuanya berdetak dengan ritme yang berbeda. Di tengah-tengah ruang putih itu, berdiri seorang gadis kecil dengan gaun putih dan payung kuning.
Gadis itu menoleh. Itu adalah Arumi, tapi versi umur tujuh tahun.
"Kak Kala," bisik gadis kecil itu. Suaranya bergema dari segala arah. "Terima kasih sudah datang. Tapi Kakak harus tahu... Kakak bukan sedang menyelamatkanku. Kakak sedang mengurungku."
Kala terpaku. "Apa maksudmu, Arumi?"
Gadis kecil itu mendekat, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara. "Waktu bukan sebuah garis, Kak. Waktu adalah sebuah lingkaran. Dan di pusat lingkaran ini, ada rahasia yang Kakak lupakan karena Kakak sendiri yang memilih untuk melupakannya sepuluh tahun lalu."
Arumi kecil menyentuh jam di tangan Kala. Seketika, layar jam itu menunjukkan angka: 0.01%.
"Satu memori terakhir, Kak. Pilih dengan bijak. Apakah Kakak ingin ingat kenapa Kakak sangat mencintaiku, atau Kakak ingin ingat cara untuk menghentikan semua ini?"