Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4 Perjamuan di atas bara
Kediaman keluarga Wijaya malam ini tampak seperti istana yang dibangun dari rahasia dan emas.
Wangi lilin aromaterapi mahal berpadu dengan aroma hidangan perancis yang tersaji di atas meja jati panjang. Namun bagi Sekar, ini lebih menyesakkan daripada suasana ruang operasi mana pun yang pernah ia masuki.
Ia duduk di sisi kiri meja, mengenakan gaun sederhana berwarna beige yang kontras dengan gaun merah menyala milik Viona yang duduk tepat di hadapannya.
Di ujung meja, Tuan Wijaya duduk dengan wibawa seorang patriarki yang tak terbantahkan. Di sisinya, Nyonya Wijaya tersenyum manis, namun matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Sekar.
"Makanlah yang banyak, Sekar," suara Rahman memecah keheningan. Pria itu duduk di sebelah Viona, namun tatapannya tertuju pada piring Sekar yang masih bersih. "Aku perhatikan sejak pulang dari rumah sakit, kamu belum menyentuh makananmu. Sebagai kakak, aku tidak ingin adikku pingsan di hari kedua bekerja."
Kata 'kakak' itu keluar dari mulut Rahman dengan nada yang terlalu dipaksakan, hampir seperti sarkasme yang dibungkus kepedulian.
Sekar mengangkat wajahnya, menatap Rahman datar. "Aku hanya sedang tidak lapar, Mas. Terima kasih atas perhatiannya."
Viona tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan biola yang sumbang. "Tentu saja dia tidak lapar, Sayang. Menangani operasi besar di hari pertama pasti sangat menguras emosi. Bukankah begitu, Sekar?"
Viona meraih gelas anggurnya, lalu menatap Sekar dengan kilat kemenangan di matanya. "Lagipula, Jakarta itu sempit. Terlalu banyak kejadian tak terduga yang bisa merusak selera makan... seperti kecelakaan kecil tadi pagi, misalnya."
Sekar tahu itu adalah peringatan. Viona sedang menegaskan bahwa ia tahu setiap inci interaksi Sekar dan Rahman di dalam mobil tadi pagi.
"Kejadian tak terduga adalah makanan sehari-hari dokter bedah, Viona," balas Sekar tenang. "Kami dilatih untuk tetap fokus pada tujuan utama, tidak peduli seberapa banyak gangguan di sekitar kami."
Viona tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Baguslah. Karena terkadang, gangguan itu perlu disingkirkan sebelum ia menjadi parasit yang merusak kebahagiaan orang lain. Kamu mengerti maksudku, kan, Dokter?"
Ketegangan di meja itu mendadak menjadi sangat nyata hingga Tuan Wijaya berdeham keras, menghentikan percakapan dingin kedua wanita itu.
"Sudahlah. Malam ini kita punya tamu spesial," kata Tuan Wijaya. Pintu ruang makan terbuka, dan seorang pria muda melangkah masuk dengan senyum yang hangat namun penuh percaya diri.
"Perkenalkan, ini dr. Lapian Wira Pratama, putra sulung keluarga Pratama. Dia baru saja kembali dari studinya di Amerika," lanjut Tuan Wijaya.
Sekar terpaku. Keluarga Pratama adalah mitra bisnis paling setia keluarga Wijaya selama puluhan tahun. Dan pria di hadapannya, Lapian—atau yang biasa dipanggil Alvin di kalangan sosialita—adalah sosok yang namanya sering disebut-sebut sebagai 'pangeran' dunia medis.
Alvin melangkah mendekati Sekar, mengabaikan Rahman yang tiba-tiba mengeraskan rahangnya. "Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan 'Tangan Dingin' dari Berlin. Aku banyak mendengar prestasimu di Charité, Sekar."
Alvin mengulurkan tangan. Sekar menyambutnya, merasakan genggaman tangan yang hangat dan mantap. "Terima kasih, Dokter Lapian."
"Panggil Alvin saja. Kita sejawat, bukan?" Alvin duduk di kursi kosong tepat di sebelah Sekar. "Ayahku bilang kamu mengambil spesialisasi bedah umum dengan fokus vaskular. Kebetulan sekali, aku mengambil bedah saraf. Mungkin kita bisa berkolaborasi di Rumah Sakit Wijaya dalam waktu dekat."
Sepanjang makan malam, Alvin terus mengajak Sekar mengobrol. Ia adalah lawan bicara yang menyenangkan, cerdas, dan yang paling penting—ia menatap Sekar seolah-olah Sekar adalah pusat gravitasinya.
"Kamu harus coba Soufflé ini, Sekar. Ini kesukaanmu, kan?" Rahman tiba-tiba memotong pembicaraan Sekar dan Alvin. Ia mengambil porsi makanan tersebut dan meletakkannya di piring Sekar tanpa diminta.
"Aku sudah tidak suka itu, Mas," jawab Sekar pendek.
"Benarkah? Seingatku sepuluh tahun lalu kamu menangis kalau tidak kebagian," sahut Rahman dengan nada mengejek yang provokatif.
"Itu sepuluh tahun lalu. Orang berubah, seleranya pun berubah," balas Sekar, matanya menatap tajam ke arah Rahman.
Alvin tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana. "Sepertinya Tuan Rahman sangat mengenal adiknya. Tapi aku setuju dengan Sekar, perubahan itu perlu. Terutama setelah melihat dunia luar." Alvin menoleh kembali pada Sekar. "Bagaimana kalau besok malam kita makan di luar? Ada restoran baru yang koki-nya juga dari Jerman. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang kasus aneurisma yang kamu tangani tadi pagi."
Sebelum Sekar bisa menjawab, Rahman sudah lebih dulu bersuara. "Besok malam Sekar punya jadwal orientasi manajemen rumah sakit denganku, Alvin. Dia sangat sibuk."
Sekar menoleh ke arah Rahman dengan dahi berkerut. "Orientasi apa? Aku tidak tahu ada jadwal itu."
"Aku CEO-nya, Sekar. Jadwal baru saja aku buat," sahut Rahman dingin, matanya menantang Sekar untuk membantah.
Viona yang menyadari gelagat Rahman mulai tidak wajar, segera meraih lengan Rahman. "Sayang, bukankah besok malam kita ada janji makan malam dengan orang tuaku? Kamu tidak bisa membatalkannya hanya untuk orientasi rumah sakit, kan?"
Rahman terdiam. Ia terjebak dalam permainannya sendiri.
Alvin tersenyum penuh kemenangan. "Jadi, tidak ada masalah, kan? Aku akan menjemputmu di rumah sakit jam tujuh malam besok, Sekar?"
Sekar melirik Rahman yang tampak sedang menahan ledakan amarah, lalu ia beralih pada Alvin. "Tentu, Alvin. Aku akan menunggumu."
Setelah makan malam usai, Sekar memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang guna menghirup udara segar. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah sosok berdiri di bawah bayangan pohon kenari—tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama dulu.
"Kamu sengaja melakukannya, kan? Menerima ajakan Alvin untuk membalas dendam padaku?"
Rahman keluar dari kegelapan. Ia tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka.
"Dunia tidak berputar di sekitarmu, Rahman," jawab Sekar tanpa menoleh. "Alvin pria yang sopan. Dia dokter yang hebat. Dan yang paling penting, dia tidak menganggapku sebagai beban citra keluarga."
Rahman melangkah maju, memojokkan Sekar ke batang pohon. Tangannya terkunci di sisi kepala Sekar. "Alvin itu serigala berbulu domba. Keluarganya punya ambisi besar untuk menguasai saham Wijaya melalui pernikahan. Kamu hanya dijadikan umpan oleh Papa!"
"Setidaknya dia menjadikanku umpan yang dihargai, bukan adik angkat yang disembunyikan dan diancam setiap saat!" Sekar mendorong dada Rahman, namun pria itu tidak bergeming.
"Jangan pergi dengannya, Sekar. Aku memperingatkanmu sebagai kakakmu," bisik Rahman, suaranya parau. Ia meraih helai rambut Sekar, memainkannya dengan jari-jarinya—gestur yang sangat tidak mencerminkan seorang kakak.
"Berhentilah menggunakan kata 'kakak' sebagai tameng, Rahman! Kamu tahu kita tidak punya hubungan darah. Kamu tahu kenapa aku dikirim ke Jerman! Dan sekarang kamu berdiri di sini, calon suami wanita lain, tapi masih mencoba mengatur hidupku?"
Rahman mendekatkan wajahnya, deru napasnya menyapu kulit Sekar. "Karena kamu milikku, Sekar. Dulu, sekarang, dan selamanya. Meskipun aku harus menghancurkanmu untuk memilikimu kembali."
Sekar terkesiap. Sebelum ia bisa membalas, suara langkah kaki terdengar mendekat. Viona berdiri di ambang pintu kaca, menatap mereka dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Rahman? Sayang? Kita harus pulang," panggil Viona, suaranya bergetar menahan tangis atau amarah.
Rahman menarik dirinya menjauh, kembali memasang wajah datarnya yang dingin. Ia menatap Sekar untuk terakhir kalinya sebelum berjalan melewati Viona tanpa kata-kata.
Viona tidak segera mengikuti Rahman. Ia melangkah mendekati Sekar, wajahnya kini tidak lagi penuh senyum palsu.
"Dengar, Dokter," bisik Viona tajam. "Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian di masa lalu. Tapi Rahman adalah tiketku menuju puncak, dan aku tidak akan membiarkan anak pungut sepertimu merusak segalanya. Jika kamu berani mendekatinya lagi, aku akan pastikan foto-foto di amplop cokelat itu menjadi konsumsi publik besok pagi."
Viona berbalik pergi, meninggalkan Sekar yang berdiri membeku di tengah dinginnya malam.
Di tangannya, Sekar meremas ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Kebenaran tentang kematian orang tuamu ada di tangan keluarga Pratama. Tanya Alvin jika kamu ingin tahu siapa keluarga Wijaya sebenarnya.”
Sekar jatuh terduduk di bangku taman. Makan malam ini baru saja berakhir, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di satu sisi ada Rahman yang posesif dan penuh rahasia, di sisi lain ada Alvin yang menawarkan kebenaran dengan harga yang belum diketahui.
Cinta ini bukan hanya belum usai, cinta ini telah berubah menjadi racun yang siap membunuh siapa pun yang mencicipinya.