Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Yumna dipulangkan oleh supir pribadi Evander. Di dalam mobil mewah itu, Yumna terus-menerus meremas ujung kemejanya yang sudah sangat kusut, sekusut masa depannya. Ia harus pulang dan menjelaskan semuanya. Menjelaskan bahwa Desta adalah sampah peradaban, dan menjelaskan bahwa ia sudah punya penggantinya.
Saat mobil itu berhenti di depan rumah teras mungilnya, Yumna merasa seperti akan maju ke medan perang tanpa tameng. Ia masuk ke rumah dengan langkah gontai. Di ruang tamu, Ibu sedang sibuk merapikan kotak-kotak suvenir yang isinya gantungan kunci bentuk angsa. Ayah sedang duduk di kursi kayu jati sambil menyesap teh, wajahnya tampak tenang, tidak tahu bahwa bom atom akan segera meledak di tengah rumah mereka.
"Assalamu’alaikum..." suara Yumna mencicit.
"Wa’alaikumussalam. Ya ampun, Yumna! Kamu dari mana saja semalam? Ibu telepon nggak diangkat, Desta juga dihubungi katanya kamu nggak ada kabar. Ibu sampai mau lapor Pak RT!" Ibu langsung memberondong Yumna dengan omelan khasnya.
Yumna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. Ia duduk di lantai, bersimpuh di depan kaki Ayah. Ini adalah posisi "siaga satu" untuk pengakuan dosa besar.
"Bu... Yah... Desta selingkuh. Dia tidur sama bosnya sendiri. Pernikahan kami batal."
Hening. Sunyi senyap.
Hanya suara kipas angin yang berputar kencang seolah sedang memprotes pernyataan Yumna. Ayah meletakkan cangkir tehnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Ibu mematung dengan kotak suvenir di tangannya.
"Kamu jangan bercanda, Yumna. Lima hari lagi, Nak. Katering sudah DP, undangan sudah disebar sampai ke RT sebelah," suara Ayah rendah tapi penuh penekanan.
"Yumna nggak bercanda, Yah! Desta sendiri yang bilang. Dia lebih milih bosnya demi jabatan. Yumna diludahi harganya, dikatain cuma pengalih perhatian!" Yumna mulai terisak, kali ini isak tangis yang nyata karena rasa sakit hati itu kembali mencubit-cubit dadanya.
Ibu langsung menjatuhkan kotak suvenirnya. "Astaghfirullah! Si Desta... si anak kurang ajar itu! Beraninya dia! Ibu bakal datangi rumahnya, Ibu bakal jambak rambutnya sampai dia insyaf!"
"Jangan, Bu. Percuma," potong Yumna cepat. "Tapi... Ayah sama Ibu jangan khawatir. Pernikahannya nggak batal. Tetangga nggak akan ngejek kita."
Ayah mengernyitkan dahi. "Gimana maksudnya nggak batal? Mempelai prianya kan si Desta itu."
Yumna menelan ludah, ia teringat wajah Evander yang kaku seperti robot. "Yumna... Yumna sudah dapat gantinya. Yumna bakal tetep nikah di hari yang sama, tapi sama orang lain."
Ibu melotot sampai matanya hampir keluar. "Apa?! Kamu pikir cari suami itu kayak beli cilok di depan gang? Tinggal panggil, bayar lima ribu, dapet bungkusnya?! Ini pernikahan, Yumna! Bukan arisan!"
"Bener, Bu! Ini serius. Namanya Pak Evander. Dia... dia bosnya Desta juga," jawab Yumna makin pelan.
"Gila kamu ya!" Ayah berdiri, wajahnya memerah karena marah. "Mana ada orang batal nikah langsung dapet pengganti dalam semalam? Kamu jangan bikin malu keluarga dua kali, Yumna! Kamu pasti halusinasi gara-gara stres!"
"Yumna nggak halu, Yah! Dia serius! Dia ganteng, kaya, walaupun mukanya kayak kulkas dua pintu, tapi dia mau nikahin Yumna!"
Perdebatan makin memanas. Ibu mulai menangis histeris membayangkan apa kata tetangga kalau melihat pengantin pria berganti dalam sekejap. Ayah mulai mondar-mandir sambil memegang kepalanya yang pening. Suasana rumah yang tadinya damai berubah jadi arena gulat emosi.
"Kamu jangan bohongi kami, Yumna! Siapa yang mau nikah mendadak begini kalau bukan orang gila atau orang yang punya maksud jahat?!" teriak Ibu.
Tepat saat itu, sebuah mobil sedan hitam yang panjangnya hampir menutupi separuh jalan gang berhenti di depan gerbang rumah mereka yang reyot. Tetangga mulai mengintip dari balik gorden.
Pintu mobil terbuka, dan keluarlah sosok pria dengan aura yang sanggup membuat tanaman di halaman rumah Yumna mendadak layu karena saking dinginnya. Evander Sky Moreno melangkah masuk, diikuti oleh dua asisten yang membawa tumpukan kotak-kotak barang mewah yang dibungkus rapi.
"Assalamu’alaikum," suara bariton Evander bergema di ruang tamu yang sempit itu.
Keluarga Yumna seketika bungkam. Ayah dan Ibu terpaku menatap pria yang tampak seperti model majalah bisnis internasional yang salah alamat masuk ke perumahan subsidi.
Evander melepaskan kacamata hitamnya, menatap Ayah dan Ibu dengan ekspresi datar tanpa senyum. "Perkenalkan, saya Evander Sky Moreno. Saya datang ke sini untuk melamar putri Anda secara resmi."
Ia memberi isyarat pada asistennya untuk meletakkan barang-barang bawaan di atas meja kayu yang mulai rapuh. Ada buah-buahan impor yang ukurannya sebesar kepala bayi, kotak perhiasan dari brand terkenal, hingga setumpuk kain sutra yang harganya mungkin setara dengan cicilan rumah Yumna selama sepuluh tahun.
"Ini... ini siapa, Yumna?" tanya Ibu dengan suara gemetar, matanya bolak-balik menatap kain sutra dan wajah Evander.
"Ini Pak Evander, Bu. Yang Yumna bilang tadi," bisik Yumna, yang sebenarnya juga kaget kenapa bosnya ini niat banget aktingnya.
Evander duduk di kursi kayu jati yang sempit dengan gaya sangat elegan, seolah-olah ia sedang duduk di kursi kebesaran CEO. "Saya tahu ini mendadak. Tapi saya tidak bisa melihat Yumna menderita karena kesalahan adik saya dan Desta. Saya sangat mencintai Yumna, dan saya berniat menggantikan posisi Desta untuk menjadi imam baginya."
Yumna hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar kata "Sangat mencintai". Wah, si Bos kalau nggak jadi CEO, kayaknya bisa menang aktor terbaik di Festival Film Indonesia, batin Yumna kagum.
Ayah berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya. "Pak Evander... Anda ini orang besar. Kenapa mau sama anak saya yang... yang sering telat bangun dan kalau makan suka bunyi ini?"
Yumna melotot pada Ayahnya. Yah, jangan buka kartu dong!
Evander melirik Yumna sekilas, lalu kembali menatap Ayah. "Justru sifatnya yang apa adanya itulah yang membuat saya tertarik. Dia jujur, berani, dan... dia satu-satunya wanita yang berani menyebut saya 'brengsek' tepat di depan wajah saya."
Ibu langsung menutup mulutnya dengan tangan, syok berat. "Yumna! Kamu bilang begitu sama calon suamimu?!"
"Eh... itu... itu pujian dalam bahasa marketing, Bu!" elak Yumna ngawur.
Evander melanjutkan aktingnya dengan level yang lebih tinggi. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dan membukanya, memperlihatkan cincin berlian yang kilaunya sanggup membutakan mata siapa pun di ruangan itu.
"Saya serius. Saya akan menanggung semua biaya pernikahan. Katering yang tadinya ayam bakar, akan saya ganti dengan wagyu. Tenda di depan rumah akan saya ganti dengan ballroom hotel bintang lima jika Anda mengizinkan. Saya ingin Yumna menjadi wanita paling bahagia, sebagai bentuk permohonan maaf saya atas perlakuan Desta."
Ibu yang tadinya marah besar, kini mulai luluh saat menyentuh kotak perhiasan itu. "Tapi Pak... tetangga gimana? Undangan sudah tertulis nama Desta."
"Itu urusan mudah," jawab Evander dingin. "Tim humas saya akan mengurus narasi di media sosial dan lingkungan sekitar. Kita akan katakan bahwa Desta hanyalah 'pengantin pengganti sementara' yang gagal ujian, dan sayalah tunangan asli Yumna yang baru kembali dari luar negeri."
Yumna melongo. Gila, ini sih bukan cuma beli cilok, ini beli satu pabrik cilok beserta narasi sejarah ciloknya!
Ayah menatap Evander dengan selidik. "Anda yakin tidak akan menyakiti Yumna? Kami memang orang kecil, tapi kalau anak saya disakiti, saya tidak akan tinggal diam."
Evander berdiri, menatap Ayah Yumna dengan penuh keyakinan, aktingnya sangat sempurna. "Nyawa saya jaminannya. Yumna akan aman bersama saya."
Ibu tiba-tiba menangis lagi, tapi kali ini tangis bahagia. "Ya Allah... ternyata bener kata pepatah, kalau satu pintu ketutup, Allah bakal bukain gerbang tol! Yumna, kamu kok bisa dapet yang begini sih, Nak? Desta mah lewat! Desta mah kayak sisa-sisa gorengan di pinggir jalan dibanding Pak Evander!"
Yumna hanya bisa tersenyum kaku. Ia menatap Evander yang masih saja memasang wajah dingin. Di dalam hati, Yumna bergidik ngeri. Akting pria ini terlalu hebat. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia sedang masuk ke dalam keselamatan, atau justru masuk ke dalam kandang singa yang jauh lebih berbahaya daripada Desta?
"Jadi, apakah lamaran saya diterima?" tanya Evander.
"Diterima, Pak! Eh, Mas... eh, Nak Evander!" jawab Ibu semangat, sambil mulai menghitung-hitung berapa banyak tetangga yang akan dia bikin iri besok pagi.
Yumna menarik napas lega. Satu tahap selesai. Namun, ia tahu tantangan sebenarnya baru dimulai. Menikah dengan pria kaku ini selama dua tahun? Yumna harus menyiapkan mental baja, dan mungkin stok alarm telolet yang lebih banyak.
"Baiklah. Beberapa hari lagi hari lagi kita menikah," ucap Evander final. Ia melirik Yumna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Persiapkan dirimu, Calon Istriku. Mulai detik ini, tidak ada kata mundur."
Yumna menelan ludah. Mati aku, batinnya.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...