Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Labirin Rahasia
Udara di dalam kelas yang kosong itu terasa semakin menipis. Airin berdiri mematung saat punggungnya menyentuh pinggiran meja dosen yang keras. Jordan tidak bergerak menjauh, justru ia meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Airin, mengunci gadis itu dalam kungkungan lengannya yang kekar.
"Nama Rodriguez itu terlalu besar untuk disembunyikan di balik dress bunga-bunga yang manis ini, Airin," bisik Jordan. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman halus yang memenuhi indra pendengaran Airin.
Airin tetap berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, meski sebenarnya ia merasa seperti sedang diinterogasi oleh singa lapar. Ia menelan ludah dengan susah payah tenggorokannya terasa kering namun sorot matanya tetap jernih menatap Jordan.
"Setiap orang punya hak untuk menjadi siapa saja di kampus ini, Pak. Saya hanya ingin menjadi Airin yang biasa," jawab Airin singkat. Suaranya tetap lembut, tidak bergetar sedikit pun meski jantungnya sedang melakukan maraton di dalam sana.
Jordan memperhatikan setiap inci wajah Airin. Ia merasa sangat gemas karena gadis ini begitu pandai menyembunyikan emosinya. Ia ingin melihat Airin panik, atau setidaknya menunjukkan sedikit ketertarikan padanya, tapi yang ia dapati hanyalah ketenangan yang luar biasa.
"Airin yang biasa?" Jordan terkekeh sinis, namun matanya memancarkan kekaguman. "Tidak ada yang biasa darimu. Cara kamu bicara, cara kamu menatapku, bahkan cara kamu menolakku secara halus... semuanya luar biasa."
Jordan memajukan wajahnya, hanya beberapa senti dari telinga Airin. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Aku akan menjaga rahasiamu dari publik, dan sebagai gantinya, kamu harus memberikan waktumu untukku. Di luar jam kampus."
Airin sedikit mengernyitkan keningnya. "Itu terdengar seperti pemerasan, Pak."
"Anggap saja itu investasi," balas Jordan sambil menegakkan tubuhnya kembali, memberikan ruang bagi Airin untuk bernapas. Ia mengambil secarik kertas kecil, menuliskan sesuatu di sana, lalu menyelipkannya ke saku kardigan Airin. "Itu alamat restorannya. Jam tujuh malam ini. Jangan terlambat, atau aku mungkin akan mulai bertanya pada teman-temanmu tentang siapa ayahmu yang sebenarnya."
Airin terdiam. Ia merasa terjebak. Sifat polosnya membuat ia tidak tahu cara melawan pria se-intimidatif Jordan. Dengan anggukan pelan yang sangat terpaksa, Airin akhirnya menyerah.
"Baik, Pak."
"Pintar," ucap Jordan sambil mengacak pelan puncak kepala Airin sebuah gerakan yang sangat tidak profesional bagi seorang dosen, namun terasa begitu intim bagi Jordan.
Airin segera mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh. "Pak Jordan?"
"Ya?"
"Baju Bapak... ada noda pulpen sedikit di kerahnya," ucap Airin polos sambil menunjuk ke arah kerah kemeja Jordan, lalu ia segera keluar dari kelas dengan langkah cepat sebelum Jordan sempat membalas.
Jordan tertegun sejenak, lalu melihat cermin di sudut ruangan. Benar saja, ada titik biru kecil di sana. Ia tertawa lepas sendirian di kelas itu. "Gadis aneh. Dia masih sempat memerhatikan hal sekecil itu di saat aku sedang mengancamnya?"
Di luar kelas, Thea, Dion, dan Kriss langsung menyergap Airin.
"Lama banget! Ngapain aja lo di dalem?" tanya Dion curiga.
Airin hanya menggeleng pelan, memasukkan tangannya ke saku kardigan dan meremas kertas dari Jordan. "Hanya membantu merapikan tugas kalian yang nilainya hampir merah," jawab Airin berbohong demi keamanan jantungnya sendiri.
"Duh, Airin memang penyelamat!" seru Thea tanpa curiga sedikit pun.
Namun, Kriss hanya diam. Ia memperhatikan wajah Airin yang sedikit lebih pucat dari biasanya dan tangannya yang terus meremas sesuatu di dalam saku. Kriss tahu, ada sesuatu yang besar sedang terjadi antara Airin dan dosen baru mereka itu.