"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Amarah dan gairah yang meledak di pesta tadi belum benar-benar padam. Bagi seorang Alexander Lambert Telford, melihat milikinya disentuh orang lain adalah racun yang membakar saraf.
Begitu sampai di mansion keluarga Telford, ia mengabaikan sapaan Mommy-nya, Pricillia, dan langsung melesat ke kamarnya di lantai dua.
Alex mengunci pintu kamarnya dengan kasar. Napasnya memburu. Ia melepas jas formalnya dan melemparnya ke sembarang arah.
Di sudut ruangan, di dalam sebuah laci tersembunyi yang terkunci sandi elektronik, Alex mengeluarkan sebuah alat pemuas sebuah high-end stroker yang sengaja ia simpan untuk momen-momen darurat seperti ini, di mana bayangan Amelie sudah terlalu nyata di kepalanya.
Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur king size-nya. Pikirannya kacau. Ia membayangkan gaun hijau Amelie yang tersingkap, aroma vanilanya, dan bagaimana kulit gadis itu terasa di bawah jemarinya.
"El... Amelie..." gumamnya parau.
Tangannya bergerak cepat, sinkron dengan alat yang ia gunakan. Otot-otot tubuhnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol. Ia berada di ambang pelepasan yang dahsyat, matanya terpejam rapat, membayangkan wajah Amelie yang memohon di bawah kuasanya.
Namun, Alex lupa satu hal. Amelie memiliki kunci cadangan kamarnya, sebuah kebiasaan sejak kecil yang tidak pernah diubah oleh Danesha maupun Pricillia karena menganggap mereka adalah "satu paket".
Klik.
Pintu terbuka.
"Alex, aku tahu kamu marah, tapi tolong dengerin..."
Amelie mematung di ambang pintu. Kalimatnya terputus di udara. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Alex, dalam keadaan setengah telanjang dengan tubuh yang bersimbah keringat, sedang berada di puncak pelepasannya.
Alat itu masih menempel di tubuhnya, dan suara napas berat Alex memenuhi ruangan.
Hening.
Detik-detik terasa seperti selamanya.
Bukannya menutupi dirinya karena malu, Alex justru membuka matanya. Kegelapan di matanya kini bercampur dengan gairah murni yang sangat berbahaya. Ia tidak berhenti. Ia justru melakukan sentakan terakhir hingga pelepasan itu terjadi di depan mata Amelie yang terkejut.
"Ahh," Alex mendesah berat, sebuah suara yang sangat dalam dan maskulin.
Ia melempar alat itu ke samping dan duduk di pinggir tempat tidur, sama sekali tidak merasa perlu menyembunyikan kondisinya yang kacau.
Ia menatap Amelie yang masih mematung di pintu dengan wajah yang kini merah padam.
"Lo liat kan, El?" suara Alex terdengar sangat rendah dan berbahaya.
"Ini yang lo lakuin ke gue setiap hari. Ini yang harus gue lakuin supaya gue nggak gila dan nggak nerkam lo di depan umum tadi."
Amelie mencoba berbalik untuk pergi. "Ma-maaf, Alex... aku nggak tahu... aku cuma mau minta maaf soal Liam..."
"Jangan pergi."
Suara Alex seperti perintah mutlak. Sebelum Amelie sempat melangkah keluar, Alex sudah berada di belakangnya, membanting pintu hingga tertutup kembali dan menguncinya. Ia menyudutkan Amelie ke daun pintu, menekan tubuhnya yang masih panas dan berkeringat ke tubuh Amelie yang gemetar.
"Lo udah liat sisi paling kotor gue, El. Nggak ada jalan balik sekarang," bisik Alex tepat di depan bibir Amelie.
Napasnya masih berbau gairah yang pekat.
"Alex... kita masih sekolah..." gumam Amelie lemah.
"Gue nggak peduli. Daripada gue harus pake alat itu lagi sambil bayangin lo, lebih baik gue rasain lo langsung sekarang," Alex meraih tangan Amelie dan meletakkannya di dadanya yang berdetak sangat kencang.
"Lo denger jantung gue? Ini punya lo. Dan seluruh badan gue... cuma mau lo. Sekarang lo pilih, mau minta maaf dengan kata-kata, atau mau buat gue berhenti ngerasa sakit di bawah sana?"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰😍
masih nyimak 🤣