NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guntur di Dada

Langit Jakarta sore itu tampak sehitam arang. Angin kencang mulai menyapu debu-debu jalanan, menerbangkan dedaunan kering, dan menggoyang papan reklame di perempatan jalan. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, namun bagi Hilman, tidak ada kata berteduh jika itu menyangkut Syifa. Dengan motor bebek tuanya yang sudah mengeluarkan bunyi mesin tidak stabil, ia memacu kendaraan itu menuju gerbang sekolah dasar tempat putrinya menuntut ilmu.

Di rumah, suasananya sangat kontras. Di dalam kamar yang sejuk oleh embusan AC, Andini sedang sibuk menata ring light. Wajahnya sudah dipulas riasan tebal—foundation yang menutupi setiap pori, eyeliner tajam, dan lipstik merah menyala. Ia mengenakan blus sutra baru yang baru saja ia beli minggu lalu, yang harganya setara dengan gaji Hilman selama dua minggu.

"Halo, Kakak-kakak cantik! Selamat datang di live Andini!" suaranya berubah menjadi ceria, manja, dan sangat bersemangat begitu tombol Go Live di aplikasi TikTok ia tekan.

Layar ponselnya mulai dipenuhi dengan komentar dan ikon hati yang beterbangan. Andini tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih. Ia mulai menunjukkan beberapa tas dan kosmetik di meja riasnya seolah-olah itu adalah hasil dari kekayaannya sendiri.

"Wah, ada yang tanya tas ini beli di mana? Ini rahasia dong, yang jelas ini limited edition. Harganya? Ya, lumayanlah buat makan setahun kalau buat orang biasa," ucapnya sambil tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan yang kukunya baru saja dikikir cantik.

Sementara itu, guntur menggelegar di langit. Hujan turun dengan derasnya, seolah-olah langit sedang tumpah. Hilman tiba di gerbang sekolah tepat saat bel pulang berbunyi. Ia tidak membawa jas hujan—benda itu sudah robek minggu lalu dan ia belum sempat membeli yang baru karena uangnya habis untuk membayar tagihan internet Andini agar sang istri bisa terus bermain media sosial.

"Syifa! Sini, Nak!" teriak Hilman di tengah bisingnya suara air hujan yang menghantam aspal.

Syifa berlari kecil dari selasar kelas, memeluk tasnya erat-erat agar buku-bukunya tidak basah. Melihat ayahnya yang sudah basah kuyup, Syifa merasa sedih. "Ayah, kita neduh dulu, ya? Ayah basah semua."

Hilman menggeleng pelan, air hujan mengalir dari rambutnya ke wajahnya yang letih. "Jangan, Sayang. Mama di rumah pasti sudah menunggu. Kalau kita telat, nanti Mama marah. Ayo, pakai jaket Ayah."

Hilman melepas jaket kerjanya yang satu-satunya—meskipun jaket itu sudah lembap, setidaknya bisa melindungi Syifa dari terpaan angin langsung. Ia membungkus tubuh kecil putrinya, lalu mendudukkannya di depan motor. Sepanjang perjalanan, Hilman menjadi tameng hidup bagi Syifa. Dadanya menantang angin dingin dan curahan air yang menusuk-nusuk kulit seperti jarum. Ia menggigil, namun tangannya tetap kokoh memegang kemudi.

"Duh, di luar hujan ya? Berisik banget," gumam Andini di tengah sesi live-nya. Ia sempat melirik ke jendela, namun segera kembali fokus pada layar ponselnya.

"Iya nih, Kak, di sini hujan deras banget. Untung aku di dalam rumah yang nyaman. Malas banget kan kalau harus kehujanan di luar, bikin kulit kusam dan bau apek. Ih, amit-amit!" Andini tertawa menanggapi komentar pengikutnya.

Seorang pengikut bertanya: "Suaminya kerja apa Kak? Kok bisa beliin barang mewah terus?"

Wajah Andini berubah sedikit kaku, namun ia segera menguasai diri. "Suamiku? Dia... pengusaha, Kak. Tapi dia sibuk banget, jarang di rumah. Ya begitulah kalau punya suami sukses, kita harus rela jarang ketemu tapi dompet tetap tebal, kan?"

Kebohongan itu meluncur begitu lancar dari bibirnya. Ia malu mengakui bahwa pria yang saat ini sedang bertarung dengan badai untuk menjemput anak mereka hanyalah seorang buruh yang seragamnya saja sudah compang-camping.

Di jalanan, motor Hilman tiba-tiba mati saat melewati genangan air yang cukup tinggi. Hilman terpaksa turun. Air setinggi betis merendam sepatunya yang sudah berlubang.

"Ayah... motornya kenapa?" Syifa bertanya dengan nada takut.

"Nggak apa-apa, Nak. Mungkin cuma kemasukan air dikit. Ayah tuntun ya, sebentar lagi sampai," sahut Hilman.

Ia mulai mendorong motor itu. Beban motor ditambah beban Syifa, ditambah lagi hambatan air, membuat nafas Hilman tersengal-sengal. Dadanya mulai terasa sesak, efek dari kelelahan kronis dan paparan cuaca buruk. Setiap langkah terasa sangat berat, namun ia terus membisikkan doa agar Syifa tidak jatuh sakit.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di depan rumah. Hilman memarkirkan motornya dengan tangan gemetar. Tubuhnya sudah biru karena kedinginan. Ia menggendong Syifa masuk ke teras.

Saat pintu depan dibuka, suara nyaring Andini langsung menyambut mereka. Bukan suara kekhawatiran, melainkan suara dari live TikTok yang masih berlangsung.

"Eh, sebentar ya Kakak-kakak, kayaknya ada 'orang asing' masuk rumah," canda Andini di depan kamera saat mendengar suara pintu.

Ia keluar dari kamar dengan ponsel yang masih menyala di tangannya, mengarahkan kamera ke arah lain agar suaminya tidak masuk bingkai. Begitu melihat Hilman dan Syifa yang basah kuyup hingga airnya menetes ke lantai ruang tamu yang bersih, wajah Andini langsung berubah gelap.

"Ya ampun, Mas! Lihat itu! Lantainya jadi kotor semua! Kamu itu punya otak nggak sih? Kalau hujan ya neduh, bukannya malah bawa air masuk ke dalam rumah!" bentak Andini, lupa kalau ia masih terhubung dengan ratusan penonton di internet (untungnya ia mematikan suara live-nya sejenak).

"Maaf, Dek. Mas cuma mau Syifa cepat sampai rumah supaya nggak kedinginan..." suara Hilman bergetar hebat. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.

"Kedinginan? Sekarang malah rumah yang jadi berantakan! Dan kamu, Syifa! Kenapa jaket Ayah kamu yang dekil itu kamu pakai? Bau apeknya jadi nempel di seragam kamu tahu nggak!" Andini menjambret jaket itu dari tubuh Syifa dan melemparkannya ke pojok ruangan seolah benda itu adalah bangkai.

Syifa menangis ketakutan. "Ayah kedinginan, Ma..."

"Halah, Ayahmu itu sudah biasa kena panas hujan. Kulitnya kan kulit badak!" Andini kembali menatap layar ponselnya, mengubah ekspresinya kembali menjadi manis dalam sekejap. "Maaf ya Kakak-kakak, tadi ada drama kecil sama pembantu di rumah. Biasa, kurang disiplin."

Hati Hilman mencelos. Pembantu? Ia hanya bisa tersenyum getir. Ia melangkah ke arah dapur, mengambil kain pel dengan sisa tenaganya untuk membersihkan genangan air yang dipermasalahkan istrinya. Setelah itu, ia pergi ke kamar mandi belakang, mengguyur tubuhnya dengan air biasa—karena pemanas air hanya boleh digunakan oleh Andini agar kulitnya tidak kering.

Selesai mandi, Hilman duduk di dapur, mencoba menyeduh teh hangat sendiri. Namun tangannya begitu gemetar hingga sendoknya berdenting keras pada gelas. Ia terbatuk-batuk kecil, batuk yang terasa dalam dan menyakitkan.

Di ruang depan, Andini masih asyik tertawa-tawa. "Oh, pengen lihat dapur aku? Jangan ah Kak, lagi berantakan banget. Nanti kalau sudah direnovasi jadi modern kitchen baru aku tunjukin ya!"

Andini tidak tahu bahwa di dapur yang ia sebut "berantakan" itu, suaminya sedang menahan sesak nafas yang hebat. Hilman melihat ke arah tas sekolah Syifa. Ia teringat bahwa ia harus segera mencuci sepatu Syifa yang basah agar besok bisa kering. Dengan tubuh yang masih menggigil dan kepala yang mulai berdenyut, Hilman berjongkok di kamar mandi, menyikat sepatu putrinya di bawah remang lampu pijar yang redup.

"Mas! Buatkan aku mi instan! Aku lapar habis live!" teriak Andini dari kamar.

Hilman menghentikan sikatnya. Ia mengusap air mata yang bercampur dengan air keran di pipinya. "Iya, Dek. Sebentar, Mas buatkan," jawabnya dengan suara yang hampir habis.

Ia berdiri dengan tumpuan pada dinding. Pandangannya sempat berkunang-kunang, namun ia memaksakan diri menuju kompor. Ia memasak untuk istrinya yang baru saja menghinanya di depan ratusan orang, sementara dirinya sendiri bahkan belum menyentuh makanan sejak pagi tadi.

Malam itu, hujan terus turun. Di dalam kamar, Andini tertidur pulas dengan perasaan puas karena mendapat banyak gift dari para penggemarnya. Di ruang tamu, Syifa tertidur karena kelelahan menangis. Dan di sudut dapur, Hilman duduk bersandar pada lemari makan, memeluk lututnya sendiri, mencoba mengusir dingin yang rasanya sudah merasuk hingga ke tulang sumsum.

Ia mengeluarkan selembar kertas kecil dari kantong celananya yang basah. Sebuah kuitansi pembayaran deposito. Ia tersenyum tipis melihat saldo yang bertambah sedikit demi sedikit.

sebelum akhirnya jatuh tertidur dalam posisi duduk, ditemani suara detak jam dinding yang seolah menghitung sisa waktu yang ia miliki di dunia ini.

1
SisAzalea
sepatutnya ini waktu tidur ,malah nangis2 aku
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Mistikus Kata: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!