"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Di ruang kantor pribadi milik Arlan, ia duduk di balik meja mahoninya dengan wajah yang tampak serius. Jari-jarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, memberikan instruksi pada beberapa orang kepercayaannya melalui saluran telepon yang dienkripsi.
"Pindahkan semua saham pribadiku di anak perusahaan tekstil ke rekening firma hukum di Singapura," perintah Arlan dingin. "Pastikan aset properti di Bali dan Jakarta Selatan sudah atas nama wali amanah. Ibu tidak boleh punya celah untuk menyentuh dana daruratku."
"Tapi Tuan, ini bisa memicu audit internal dari kantor pusat," sahut suara di seberang telepon.
"Biarkan saja. Aku lebih baik kehilangan kursi CEO daripada kehilangan masa depan orang yang aku cintai. Jika Ibu ingin bermain perang finansial, aku akan melayaninya."
Arlan menutup telepon dengan kasar. Ia menatap foto Keyla di layar ponselnya—gadis itu tersenyum dengan latar belakang kampus. Arlan merasa sedikit lega setelah mengamankan asetnya. Dalam pikirannya, selama ia memiliki uang, ia bisa melindungi Keyla dan Baskoro dari cengkeraman Sofia.
Namun, Arlan lupa satu hal, Sofia Dirgantara tidak selalu bermain dengan angka. Ia lebih suka bermain dengan nyawa dan harga diri.
Siang itu, kampus Universitas Indonesia sedang ramai oleh mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas mata kuliah makroekonomi. Keyla berjalan lesu bersama Rena, matanya masih sedikit sembab meski sudah ditutupi dengan concealer tebal.
"Key, lo pucet banget. Mending kita ke kantin, gue traktir es kopi," ajak Rena.
"Gue nggak nafsu makan, Re. Perasaan gue nggak enak. Rasanya gue kayak—"
Kalimat Keyla terhenti saat sebuah iring-iringan mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan koridor utama gedung fakultas. Kehadiran mobil-mobil itu langsung menyedot perhatian ratusan mahasiswa. Satpam kampus tampak bingung, namun mereka tidak berani mendekat saat melihat plat nomor khusus yang terpasang.
Pintu tengah terbuka. Sofia Dirgantara keluar dengan setelan high-fashion berwarna putih gading, lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang dingin. Tidak butuh waktu lama, ia langsung menemukan targetnya.
"Keyla Baskoro," suara Sofia menggema di koridor yang mendadak sunyi.
"Nyonya Sofia..."
Sofia berjalan mendekat, "Jadi ini tempatmu bersembunyi?" Sofia berdiri tepat di depan Keyla, melepaskan kacamatanya dan menatap Keyla dengan kejijikan yang nyata. "Tempat di mana kamu berpura-pura menjadi mahasiswi terpelajar, padahal hobinya adalah merayu pria dewasa demi kekayaan?"
"Nyonya, tolong jangan di sini," ucap lirih Keyla.
"Kenapa? Kamu malu?" Sofia menoleh ke arah kerumunan mahasiswa. "Dengar semuanya! Gadis yang kalian anggap cantik dan pintar ini adalah seorang parasit! Dia menggunakan tubuh dan wajahnya untuk menjerat putraku, Arlan Dirgantara, agar dia bisa mendapatkan kemewahan tanpa harus bekerja keras!"
"Itu fitnah!" teriak Rena membela, namun satu tatapan tajam dari pengawal Sofia membuat Rena terdiam.
"Lihatlah pakaian yang dia pakai, tas yang dia bawa. Apakah kalian pikir mahasiswa biasa bisa membelinya?" Sofia mencibir, ia menyambar tas branded yang disampirkan Keyla di bahunya dan melemparnya ke lantai. "Ini semua dibayar dengan keringat putraku. Kamu tidak lebih dari sekadar pelacur kelas atas yang memakai seragam kampus!"
Keyla tersentak, dadanya terasa sesak. Ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi. Antara kasihan, jijik, dan penasaran. Bahkan dari mereka mulai saling berbisik.
"Eh, beneran simpenan CEO?"
"Gila, padahal kelihatannya polos ya?"
"Pantesan mobil jemputannya mewah terus."
"Nyonya, aku mencintai Om Arlan bukan karena hartanya!" teriak Keyla histeris.
"Cinta?" Sofia mendekatkan wajahnya ke telinga Keyla, namun suaranya tetap cukup keras untuk didengar orang sekitar. "Wanita seperti kamu tidak tau apa itu cinta. Kamu hanya sampah yang mencoba masuk ke istana. Dan ingat pesanku, jika kamu tidak menghilang dari hidup Arlan dalam dua puluh empat jam, video asusilamu—yang bisa saja aku buat secara palsu namun terlihat sangat nyata—akan tersebar di seluruh mading kampus ini. Kamu mau jadi sarjana atau jadi bintang video panas, Keyla?"
Sofia meludahi lantai di depan kaki Keyla, lalu berbalik dengan anggun. Ia masuk ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan Keyla yang jatuh terduduk di tengah koridor, dikelilingi oleh tatapan menghina dan kilatan lampu kamera ponsel mahasiswa yang terus merekam kehancurannya.