Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Versi Lain dari Kebenaran
Waktu seolah berhenti. Aku berdiri di antara dua pria yang paling penting dalam hidupku. Satu adalah ayahku, yang satunya lagi adalah Damian. Tapi Damian bagiku sekarang apa? Suami? Penyiksa? Cinta yang rusak?
Damian menatapku dengan mata yang berubah dari amarah menjadi sesuatu yang lain. Terluka? Kecewa?
"Alexa," katanya pelan. "Minggir."
"Tidak," jawabku. Suaraku lebih kuat dari yang kukira. "Tidak akan kubiarkan kau bunuh dia."
"Dia yang menculikmu," kata Damian. Pistol masih teracung tapi tangannya sedikit gemetar. "Dia yang membawamu ke sini tanpa izin."
"Karena itu satu-satunya cara aku bisa bicara dengannya tanpa kau menghalangi!" jawabku. "Kau sudah mengambil segalanya dariku. Ponselku. Kebebasanku. Hidupku. Setidaknya biarkan aku bicara dengan ayahku sendiri!"
Damian terdiam. Pistol perlahan turun.
"Marco," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Keluarkan semua orang. Tinggalkan kami bertiga."
Marco ragu sebentar. "Tapi Tuan."
"KELUAR!" teriak Damian.
Marco dan semua pengawal mundur. Pintu gudang ditutup. Meninggalkan kami bertiga di ruangan yang dipenuhi debu, dan cahaya sore yang menyusup melalui jendela pecah.
Damian menurunkan pistolnya sepenuhnya. Memasukkannya ke balik jasnya.
"Baik," katanya. Suaranya lelah. "Kalian mau bicara? Mari bicara. Tapi aku akan ada di sini. Mendengarkan setiap kata."
Dia berjalan ke tong sampah tua di sudut. Duduk di atasnya. Seperti raja yang mendengarkan pengadilan.
"Silakan, Rafael," katanya sambil menatap ayah. "Ceritakan versimu. Aku ingin dengar kebohongan apa lagi yang sudah kau siapkan."
Ayah menatapnya dengan kebencian yang nyata. Tapi dia menarik napas dalam. Mencoba tenang.
"Alexa," panggilnya. "Duduk. Karena ini akan panjang."
Aku duduk di lantai. Ayah duduk di seberangku. Damian menonton dari kejauhan dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
"Dua puluh tahun lalu," mulai ayah, "seperti yang sudah ayah bilang, ayah bekerja sebagai kepala keuangan keluarga Vincenzo. Ayah dan ayahnya Damian, Don Alessandro Vincenzo, sangat dekat. Dia mempercayai ayah sepenuhnya."
Dia melirik Damian yang masih duduk tenang.
"Tapi Damian," lanjutnya, "walau masih berusia delapan tahun, sudah menunjukkan tanda-tanda. Tanda-tanda seorang psikopat. Dia menyiksa binatang. Memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Dan yang paling menakutkan, dia tidak punya empati sama sekali."
"Aku berusia delapan tahun," kata Damian dari sudut. Suaranya datar. "Semua anak bereksperimen."
"Tidak seperti yang kau lakukan," jawab ayah. "Kau membunuh kucing tetangga dan mengatur tubuhnya seperti karya seni. Kau memukul kakakmu Carlos sampai patah tulang lalu bilang dia yang jatuh sendiri. Kau berbohong tanpa rasa bersalah."
Ayah kembali menatapku.
"Dan ayahmu sendiri mulai takut padamu," lanjutnya. "Don Alessandro mulai curiga. Mulai berpikir untuk mengirimmu ke terapi. Atau lebih buruk, menjauhkanmu dari jalur pewaris."
Untuk pertama kalinya, aku melihat otot rahang Damian berkedut.
"Lalu suatu malam," ayah menarik napas gemetar, "ayah bekerja lembur di kantor. Kantor yang ada di gedung seberang rumah besar Vincenzo. Dan ayah melihat sesuatu melalui jendela."
Tangannya gemetar ketika mengeluarkan flashdisk dari sakunya.
"Ayah melihat Damian keluar dari rumah dengan jerigen besar," katanya. "Ayah pikir dia hanya bermain. Tapi kemudian ayah lihat dia menuang cairan itu di sekeliling rumah. Bensin."
"Bohong," kata Damian. Tapi suaranya tidak sekuat tadi.
"Lalu ayah lihat dia menyalakan korek," lanjut ayah. Suaranya bergetar. "Dan membuangnya. Api langsung menyambar. Menyebar dengan cepat karena bensin di mana-mana."
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
"Ayah berlari keluar. Mencoba sampai ke rumah. Tapi sudah terlambat. Api terlalu besar. Terlalu panas. Dan ketika ayah lihat Damian."
Dia menatapku dengan mata penuh kesedihan.
"Dia duduk di bangku taman," bisiknya. "Menonton rumahnya terbakar. Dengan senyum di wajahnya."
Aku menatap Damian. Mencari penolakan. Mencari kemarahan. Tapi yang kulihat hanya ketenangan yang menakutkan.
"Kau bilang kau sembunyi di lemari," kataku pelan. "Kau bilang, kau mendengar ibu berteriak."
"Aku berbohong," jawab Damian dengan jujur yang menakutkan. "Atau lebih tepatnya, aku memelintir kebenaran. Aku memang mendengar mereka berteriak, tapi bukan dari dalam lemari. Dari luar. Sambil menonton mereka terbakar."
Dadaku sesak. Napas tercekat.
"Kenapa?" bisikku.
Damian berdiri. Berjalan lebih dekat.
"Karena ayahku akan menjauhkanku dari kekuasaan," jawabnya. Suaranya tenang seperti membicarakan cuaca. "Karena ibuku selalu lebih mencintai Carlos daripada aku. Karena adik yang akan lahir akan mengambil perhatian yang seharusnya jadi milikku."
Dia berhenti tepat di depanku.
"Dan karena aku bisa," lanjutnya. "Karena aku tahu aku bisa melakukannya dan lolos begitu saja. Yang kumau hanya menyalahkan orang lain."
Dia menatap ayah.
"Dan ayahmu, kebetulan ada di tempat yang salah, pada waktu yang salah," katanya. "Jadi aku menjadikannya sebagai kambing hitam. Membuat semua orang percaya, bahwa dia yang mencuri uang dan membunuh keluargaku."
Ayah berdiri dengan marah. "Kau menghancurkan hidupku! Membuatku harus meninggalkan keluargaku! Bersembunyi selama dua puluh tahun!"
"Dan aku mendapat kekuasaan penuh atas keluarga Vincenzo," jawab Damian. "Pada usia delapan belas tahun, aku menjadi Don termuda dalam sejarah. Jadi ya, itu cukup berhasil untukku."
Aku mundur dari mereka berdua. Menatap Damian dengan mata yang tidak bisa mempercayai apa yang kudengar.
"Kau membunuh keluargamu sendiri, termasuk ibumu yang sedang hamil, hanya untuk sebuah kekuasaan?"
"Bukan hanya untuk kekuasaan," koreksi Damian. "Untuk bertahan hidup. Di dunia itu, kalau kau tidak mengambil kekuasaan, orang lain yang akan mengambilnya. Dan mereka akan menghancurkanmu."
Dia melangkah lebih dekat. Aku mundur sampai punggung membentur dinding.
"Aku berusia delapan tahun," katanya. "Dan aku sudah tahu kebenaran yang kebanyakan orang butuh seumur hidup untuk pelajari. Bahwa di dunia ini, hanya ada dua pilihan. Membunuh atau dibunuh. Menguasai atau dikuasai."
Tangannya menyentuh pipiku. Aku ingin menepis tapi tubuhku membeku.
"Dan aku memilih untuk menguasai," bisiknya. "Apapun harganya."
Air mata mengalir di pipiku.
"Tapi kau bilang, kau mencintaiku," suaraku pecah. "Kau bilang semua ini karena cinta."
"Dan itu benar," jawabnya. Ibu jarinya mengusap air mataku. "Aku mencintaimu. Dengan caraku yang rusak. Tapi tetap cinta."
"Cinta tidak membunuh keluarga sendiri!" teriakku. "Cinta tidak berbohong! Cinta tidak menghancurkan hidup orang lain!"
"Di duniaku, cinta melakukan semua itu," katanya. "Dan lebih."
Ayah menarikku menjauh dari Damian. Memelukku protektif.
"Lihat?" katanya pada Damian. "Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya? Dia bahkan masih membela pembohongan dan manipulasimu!"
"Dia tidak membela aku," kata Damian sambil menatapku. "Dia hanya bingung, karena dia mencintaiku. Walau dia tahu kalau aku monster."
Dia tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan.
"Dan itu yang membuat hubungan kita sempurna," bisiknya. "Karena kita berdua sama-sama rusak. Sama-sama monster."
"AKU BUKAN MONSTER!" teriakku.
"Kau sudah membunuh lima orang, Alexa," kata Damian dengan tenang yang mengerikan. "Kau sudah menikmati kekuasaan. Kau sudah merasakan sensasi mengendalikan hidup dan mati. Kau pikir itu bukan monster?"
Aku ingin membantah, tapi kata-kata tidak keluar. Karena dia benar, aku sudah berubah. Sudah menjadi sesuatu yang berbeda.
"Tapi kau bisa kembali," kata ayah sambil memutar tubuhku menghadapnya. "Kau bisa meninggalkan semua ini, meninggalkannya. Dan hidup normal lagi, bersama ayah, bersama keluarga."
"Keluarga yang mana?" tanya Damian. "Ibu dan adikmu sudah tidak mengenalimu lagi, Alexa. Kau sudah pergi terlalu lama. Sudah berubah terlalu banyak."
Dia melangkah lebih dekat lagi.
"Dan bahkan kalau kau pergi," lanjutnya, "kau akan selalu ingat aku. Ingat apa yang kita rasakan. Ingat sensasi kekuasaan yang kudorong. Kau tidak akan pernah bisa hidup normal lagi."
"Kau salah," kata ayah. "Dia bisa sembuh. Dengan waktu. Dengan terapi. Dengan jarak darimu."
Damian tertawa. Tawa yang dingin.
"Kalau begitu," katanya sambil menatapku, "pilih sekarang. Ayahmu atau aku. Kehidupan normal atau kehidupan bersamaku. Kebaikan palsu atau kejujuran kegelapan."
Aku menatap mereka berdua. Ayah yang menatapku dengan harapan. Damian yang menatapku dengan kepastian.
"A-aku..." suaraku gemetar. "Aku tidak tahu harus percaya siapa."
"Percaya pada dirimu sendiri," kata ayah. "Percaya pada hatimu yang belum sepenuhnya rusak."
"Percaya pada apa yang kau rasakan," kata Damian. "Bukan pada apa yang seharusnya kau rasakan."
Dan aku berdiri di sana, terpecah di antara dua versi kebenaran. Dua pilihan yang sama-sama akan menghancurkanku dengan cara yang berbeda.
"Aku..." air mata mengalir lebih deras. "Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu."
Aku jatuh ke lantai, memeluk lutut, dan menangis. Karena bagian terburuknya bukan aku tidak tahu siapa yang benar.
Bagian terburuknya adalah, bahkan setelah tahu, Damian yang membunuh keluarganya sendiri, bahkan setelah tahu semua kebohongannya, aku masih merasakan sesuatu untuknya.
Masih mencintainya. Dan itu yang paling menghancurkan dari semuanya.
Tapi sebelum siapapun bisa bergerak, suara tembakan terdengar dari luar. Banyak tembakan beruntun, dan jeritan. Marco berteriak dari balik pintu.
"TUAN! BRATVA, MEREKA DATANG DENGAN PASUKAN BESAR!"
Dan aku menyadari, di tengah dilema ini, ancaman nyata datang. Dan kami bertiga harus memilih, bertarung bersama, atau mati terpisah.