NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 14 - BAYANGAN DI TENGAH MALAM

Penginapan "Bulan Sabit" ternyata jauh lebih baik dari yang Ash bayangkan. Kamarnya memang kecil, tapi kasurnya empuk, ada jendela yang menghadap ke jalan utama, dan yang paling penting, tidak ada bau aneh.

"Ini surga," ucap Ash sambil merebahkan diri di kasur dengan gaya bintang laut. "Kasur empuk. Selimut bersih. Bahkan ada bantal tambahan. Peradaban memang indah."

Eveline meletakkan tasnya di sudut ruangan. Mereka dapat satu kamar besar dengan dua kasur terpisah. Razen mengambil kamar sebelah karena katanya "butuh privasi untuk meditasi". Ash curiga itu alasan halus untuk tidak mendengar keluhannya sepanjang malam.

"Jangan terlalu santai," ucap Eveline sambil memeriksa jendela dan pintu, memastikan semuanya bisa dikunci dengan benar. "Kota perbatasan seperti ini penuh dengan mata dan telinga."

"Mata dan telinga apa? Aku cuma turis biasa yang capek."

"Turis biasa tidak punya rambut perak dan tidak bepergian dengan mantan kesatria LightOrder." Eveline menutup tirai jendela. "Kita harus tetap waspada."

"Kau terlalu paranoid."

"Paranoid membuat orang tetap hidup."

Ash bangkit dari kasur dengan malas. "Baiklah, Eveline si Paranoid. Aku akan ke bawah untuk cari makanan. Kau mau aku bawaikan sesuatu?"

"Roti dan air. Tidak perlu yang mewah."

"Roti lagi? Kenapa tidak coba sesuatu yang lain? Mungkin sup? Atau daging panggang?"

"Roti sudah cukup."

"Kau ini... selera makanmu perlu diselamatkan." Ash berjalan ke pintu. "Aku akan belikan sup dan roti. Mau tidak mau kau harus makan yang hangat."

Sebelum Eveline bisa protes, Ash sudah keluar dan menutup pintu.

Eveline menatap pintu tertutup itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang asing tapi tidak tidak enak.

Kepedulian.

Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir perasaan itu. Tapi senyum tipis tetap muncul di bibirnya.

---

Di lantai bawah, ruang makan penginapan cukup ramai. Beberapa pedagang duduk di meja panjang sambil bercanda keras, ada sepasang elf yang makan dengan anggun di sudut, dan beberapa adventurer dengan lencana guild sedang minum bir sambil merencanakan quest besok.

Ash mendekat ke konter di mana seorang wanita paruh baya dengan celemek kotor sedang mencatat pesanan.

"Permisi, Bu. Aku mau pesan makanan."

Wanita itu menoleh dan langsung menatap rambut Ash dengan tatapan curiga. "Kau orang baru?"

"Iya. Cuma lewat. Mau ke ibu kota."

"Hmm." Wanita itu tidak terlihat terlalu ramah. "Mau pesan apa?"

"Dua porsi sup hangat, roti, dan kalau ada daging panggang, aku mau satu porsi."

"Tiga puluh copper."

"TIGA PULUH?!" Ash nyaris berteriak. "Untuk sup dan roti?!"

"Harga sudah naik. Banyak pedagang tidak berani lewat karena jalan tidak aman. Barang jadi langka." Wanita itu melipat tangan. "Mau pesan atau tidak?"

Ash menghela napas dan mengeluarkan uang dari kantongnya. Ini hampir menghabiskan sisa uang yang dia punya. "Baiklah. Tapi supnya harus enak ya."

"Enak atau tidak, harga tetap sama."

Pelayanan yang luar biasa, pikir Ash sarkastik.

Dia duduk di meja kosong sambil menunggu pesanan. Matanya mengamati sekeliling. Beberapa orang meliriknya, terutama karena rambutnya yang mencolok. Dia mulai menyesal tidak mendengarkan saran Violet untuk menutupinya dengan topi atau kerudung.

Dari meja sebelah, dia mendengar percakapan dua adventurer yang berbicara pelan tapi cukup keras untuk didengar.

"Dengar belum? Ada pembunuhan lagi semalam."

"Yang keberapa itu?"

"Kelima. Sama seperti sebelumnya. Luka sayatan di seluruh tubuh. Tidak ada yang diambil."

"Nightshade?"

"Siapa lagi? Mereka bilang sedang berburu seseorang. Tapi tidak jelas siapa."

Ash merasa darah di tubuhnya mendingin. Nightshade. Pembunuhan. Di kota ini.

Dia langsung berdiri dan berjalan cepat kembali ke konter. "Bu, pesanannya bisa dibungkus? Aku mau bawa ke kamar."

"Tunggu sebentar. Belum jadi."

"Tolong dipercepat. Penting."

Wanita itu menatapnya dengan curiga tapi tidak bertanya lebih lanjut. Beberapa menit yang terasa seperti jam, akhirnya pesanan jadi dan dibungkus dengan kain dan kertas.

Ash mengambilnya dan langsung naik tangga dengan cepat, hampir berlari.

---

Dia membuka pintu kamar dengan terburu buru. Eveline langsung berdiri, belati sudah di tangan.

"Ada apa?"

"Nightshade," ucap Ash sambil menutup pintu dan menguncinya. "Mereka ada di kota ini. Sudah ada lima korban."

Wajah Eveline berubah. Dingin. Tajam. "Kau dengar dari mana?"

"Adventurer di bawah. Mereka bilang pembunuhan dengan pola yang sama. Luka sayatan. Tidak ada yang diambil."

"Mereka berburu," bisik Eveline. "Dan kalau sudah ada lima korban, berarti mereka serius."

"Berburu siapa?"

Eveline menatapnya. Tidak menjawab. Tapi Ash sudah tahu jawabannya.

"Kau," ucap Ash pelan. "Mereka memburumu."

"Atau kau." Eveline berjalan ke jendela dan mengintip dari celah tirai. "Rambut perakmu terlalu mencolok. Dan kalau ada yang melaporkan keberadaanmu ke Nightshade, mereka akan datang."

"Lalu kita harus apa? Kabur?"

"Tidak. Kabur akan membuat kita terlihat mencurigakan. Dan di malam hari, kita akan jadi target mudah." Eveline berbalik. "Kita bertahan di sini. Kunci semua pintu dan jendela. Bergiliran jaga. Dan kalau ada yang mencoba masuk, kita lawan."

"Kau yakin kita bisa lawan Nightshade?"

"Tidak. Tapi kita tidak punya pilihan lain." Eveline mendekati pintu kamar Razen dan mengetuk dengan pola tertentu. Tiga ketuk pendek, satu ketuk panjang.

Pintu terbuka. Razen berdiri di sana, sudah memakai armor ringannya dan pedang di pinggang. "Aku tahu. Aku dengar kalian bicara. Dinding di sini tipis."

"Nightshade ada di kota," ucap Eveline singkat.

"Aku juga dengar rumor itu dari penjaga di bawah tadi." Razen masuk ke kamar mereka dan menutup pintu. "Kita harus siaga. Ash, kau tidur dulu. Aku dan Eveline akan jaga bergantian."

"Aku tidak bisa tidur kalau tahu ada pembunuh di luar sana!"

"Kau harus tidur. Besok perjalanan masih panjang, dan kau butuh energi." Razen meletakkan pedangnya di samping kasur. "Percaya pada kami. Kami akan jaga kau."

Ash melihat wajah mereka berdua. Serius. Fokus. Siap bertarung.

Dia mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi kalau ada apa apa, bangunkan aku. Aku mau ikut lawan."

"Kau akan jadi beban," ucap Eveline blak blakan.

"Mungkin. Tapi aku tidak mau diam aja sambil kalian berdua bertarung."

Razen tersenyum tipis. "Keberanian yang bodoh. Tapi aku menghargainya."

---

Malam semakin larut. Ash berbaring di kasur dengan mata terbuka, menatap langit langit kayu yang retak. Dia mencoba tidur tapi tidak bisa. Pikirannya terus berputar.

Nightshade. Pembunuh profesional. Mereka datang untuk Eveline. Atau mungkin untuknya.

Dia melirik ke arah jendela di mana Eveline duduk dengan punggung bersandar ke dinding, mata mengawasi jalan di luar melalui celah tirai. Razen duduk di dekat pintu, pedangnya tergeletak di pangkuan, matanya tertutup tapi Ash tahu dia tidak tidur.

Mereka menjaganya.

Dua orang yang baru dia kenal beberapa minggu ini, yang rela tidak tidur untuk memastikan dia aman.

Ash merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Bukan kekuatan Uroboros. Tapi sesuatu yang lebih sederhana. Rasa bersalah. Dan tekad.

Dia tidak mau jadi beban selamanya. Dia harus jadi lebih kuat.

Tanpa sadar, dia memejamkan mata dan mencoba merasakan titik panas di dadanya. Inti emas yang sudah tidak terasa sejak insiden di tambang.

'Hei', bisiknya dalam hati. Aku tahu kau masih di sana. Aku butuh kau.

Tidak ada jawaban.

Hanya kekosongan.

Ash menghela napas kecewa dan akhirnya tertidur tanpa sadar karena kelelahan.

---

Pukul dua pagi, sesuatu berubah.

Eveline yang sedang mengawasi jendela tiba-tiba menegang. Matanya menyipit melihat ke kegelapan jalan di bawah.

Ada bayangan. Tiga. Bergerak dengan pola yang terlalu teratur untuk pedagang atau orang biasa.

Mereka memakai jubah gelap, dan salah satunya memiliki simbol kecil di lengan yang hanya bisa dilihat dengan mata terlatih.

Simbol mata tertutup dengan tetes darah.

Nightshade.

Eveline berdiri perlahan, tanpa suara. Dia berjalan ke arah Razen dan menyentuh bahunya. Razen langsung membuka mata.

"Mereka di sini," bisik Eveline.

Razen mengangguk dan berdiri. Tangannya sudah di gagang pedang.

Bayangan di bawah berpisah. Dua masuk ke dalam penginapan. Satu tetap di luar, mengawasi.

"Mereka akan naik," bisik Razen. "Kita bertahan di sini atau kita serang duluan?"

"Bertahan. Ruangan sempit menguntungkan kita. Mereka tidak bisa mengepung dengan leluasa."

Mereka berdua mengambil posisi. Eveline di samping pintu, belati di kedua tangan. Razen di tengah ruangan, pedang terhunus, mata menyala samar merah karena kontrak spirit apinya yang siap.

Detik berlalu seperti jam.

Lalu mereka mendengarnya. Langkah kaki. Sangat pelan. Naik tangga. Mendekat.

Berhenti di depan pintu mereka.

Hening.

Lalu sesuatu diselipkan dari bawah pintu. Kertas kecil.

Eveline mengambilnya dengan cepat, membacanya dalam cahaya bulan yang masuk dari celah tirai.

Wajahnya berubah pucat.

"Apa isinya?" tanya Razen pelan.

Eveline menunjukkan kertas itu. Di sana, hanya satu kalimat ditulis dengan tinta merah.

"Keluar sendiri, atau kami bunuh semua orang di penginapan ini. Kau punya lima menit."

Razen mengutuk dalam hati. "Mereka mengancam dengan nyawa orang tak bersalah."

"Itu cara Nightshade." Eveline meremas kertas itu. "Mereka tidak peduli korban. Mereka hanya peduli target."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Eveline menatap Ash yang masih tidur di kasur, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Lalu dia menatap pintu.

"Aku akan keluar."

"Jangan bodoh!" Razen mencengkeram bahunya. "Itu bunuh diri!"

"Tapi kalau aku tidak keluar, mereka akan bunuh semua orang di sini. Belasan orang tak bersalah akan mati karenaku." Eveline melepaskan cengkeraman Razen. "Aku sudah cukup banyak membuat orang mati. Aku tak mau lagi."

"Eveline—"

"Jaga Ash. Itu yang penting." Eveline berjalan ke pintu. Tangannya di gagang pintu.

"Tunggu." Razen berjalan cepat ke mejanya dan mengambil sesuatu. Sebuah liontin kecil berbentuk api. "Ini kontrak spirit cadanganku. Lesser Fire Spirit. Tidak sekuat yang utama, tapi bisa bantu kau."

"Aku tidak bisa pakai kontrak spirit."

"Kau bisa. Ini kontrak tipe Emergency. Hanya butuh tetesan darah dan niat kuat. Gigit ibu jarimu, teteskan darah ke liontin, dan panggil api." Razen memasangkan liontin itu di leher Eveline. "Jangan mati, Eveline. Kau sudah jadi bagian dari keluarga kecil ini."

Eveline menatapnya. Untuk pertama kalinya, matanya yang kosong itu berkaca kaca.

"Terima kasih," bisiknya. "Untuk semuanya."

Lalu dia membuka pintu dan melangkah keluar.

Pintu tertutup pelan.

Razen berdiri di sana, tangan mengepal, tidak bisa berbuat apa apa.

Dan di kasur, Ash tiba tiba membuka mata.

Dia mendengar semuanya.

"Eveline," bisiknya dengan suara gemetar. "Jangan."

Tapi sudah terlambat.

Eveline sudah pergi menghadapi Nightshade sendirian.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!