NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.31

...SAAT SEMUA MULAI RUMIT...

Di luar kelas, Namjoon menunggu Ryn Moa sambil bersandar di dinding. Jika seseorang lewat dan melihatnya sekilas, mereka mungkin akan berpikir Namjoon hanya sedang menunggu waktu, seperti mahasiswa lain yang menunggu teman, menunggu jadwal berikutnya, atau menunggu hidupnya membaik. Namun bagi Namjoon, sore itu terasa sedikit lebih panjang dari biasanya. Lorong fakultas sore itu terasa lebih lengang dibandingkan pagi hari. Sebagian mahasiswa sudah pulang, sebagian lagi berjalan santai sambil membahas rencana makan atau tugas kelompok. Ada yang tertawa keras tanpa peduli gema suara mereka di lorong, ada pula yang berjalan sambil menatap layar ponsel dengan wajah penuh penderitaan akademik.

Cahaya matahari sore masuk dari jendela panjang di sisi lorong, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di lantai yang sedikit mengkilap. Debu-debu kecil menari pelan di udara, membuat suasana terlihat hampir seperti adegan film, sayangnya tanpa soundtrack dramatis. Namjoon berdiri dengan satu bahu menyentuh dinding, tasnya tergantung rapi di pundak. Ia sesekali menggeser posisi kakinya, bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terus bergerak. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya diam. Sejak kejadian di kelas tadi, ada sesuatu yang mengusiknya, bukan marah atau cemburu yang meledak-ledak, melainkan rasa tidak nyaman yang pelan tapi menetap. Seperti kerikil kecil di dalam sepatu, tidak cukup besar untuk membuat berhenti berjalan, tapi cukup mengganggu untuk terus disadari. Namjoon menghela napasnya pelan, hampir tidak terdengar.

“Kenapa aku kepikiran hal sepele begini…” gumamnya dalam hati, meski ia tahu ini bukan hal sepele.

Ketika pintu kelas terbuka, suara kursi bergeser dan langkah kaki bercampur riuh rendah mahasiswa yang keluar menyeruak seperti gelombang kecil. Ada yang langsung mengeluh lapar, ada yang mengeluh tugas, ada yang mengeluh hidup, dan beberapa keluhan-keluhan standar lainnya. Ryn Moa muncul di antara mahasiswa itu, wajahnya sedikit merah, matanya terlihat bingung seolah pikirannya masih tertinggal di dalam kelas. Ia berjalan agak pelan, tidak seperti biasanya yang cenderung ceroboh dan tergesa-gesa. Langkahnya sedikit ragu dengan bahunya yang sedikit tegang, dan tangannya memeluk tas seakan tas itu satu-satunya benda yang bisa menahan dirinya tetap berpijak di dunia nyata.

“Kau baik-baik saja?” tanya Namjoon pelan saat Ryn Moa keluar dengan wajah merah.

Ryn Moa berhenti tepat di depannya. Ia mengangkat wajahnya, lalu menurunkannya lagi, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia benar-benar baik-baik saja. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya pelan, seakan baru sadar bahwa dadanya terasa sesak sejak tadi.

“Taehyung… tadi… tanya aku sarapan atau belum.”

Kalimat itu keluar agak terpotong-potong. Nada suaranya tidak panik, tapi jelas bingung, seperti seseorang yang baru saja terjatuh bukan karena tersandung, melainkan karena tanah di bawahnya tiba-tiba bergeser. Ryn Moa sendiri tidak tahu kenapa ia langsung menceritakan hal itu pada Namjoon, tapi kehadiran laki-laki itu selalu membuatnya merasa aman untuk jujur, tidak dihakimi, tidak dipaksa dan tidak ditertawakan, setidaknya tidak dengan kejam. Namjoon mengangguk mengerti akan maksudnya.

“Aku dengar.”

Ia memang mendengar. Bahkan lebih jelas dari yang ia inginkan. Dan meskipun wajahnya tetap tenang, ada sesuatu yang bergetak di dadanya saat mengingat suara Taehyung yang terdengar terlalu peduli untuk sekadar basa-basi. ucapan itu terlalu lembut dan tepat sasaran untuk sebuah niat.

“Kenapa dia begitu tiba-tiba?” Ryn Moa bingung.

Nada suara Ryn Moa terdengar tulus. Bukan pura-pura tidak tahu, tapi benar-benar tidak paham. Itu yang membuat Namjoon sedikit tersenyum dan sedikit menghela napas lega di dalam hati. Ryn Moa memeluk tasnya lebih erat. Di kepalanya, potongan kejadian di kelas tadi berputar lagi. Tatapan Taehyung, pertanyaannya yang sederhana, reaksi heboh teman-temannya, J-hope yang langsung menjatuhkan pena karena terlalu semangat menggoda, dan Ida yang sudah seperti mau membuka layanan ramalan cinta dadakan. Semua terasa terlalu cepat dan tidak ia persiapkan. Ryn Moa bahkan belum siap menghadapi perasaannya sendiri, apalagi kemungkinan perasaan orang lain. Namjoon menatap jauh ke lorong sebelum berkata dengan hati-hati.

“Mungkin… dia menyukaimu.”

Ia mengucapkannya perlahan, seolah kata-kata itu rapuh dan harus diletakkan dengan sangat hati-hati agar tidak melukai siapa pun, terutama dirinya sendiri. Kalimat itu menggantung di udara, bahkan debu-debu kecilpun seakan berhenti menari karenanya.

“Apa?? Nggak mungkin!”. Ryn Moa tersentak kaget.

Ia refleks menggeleng cepat, rambutnya ikut bergerak liar. Satu helai rambut bahkan nyaris masuk ke mulutnya, membuat reaksinya semakin dramatis. Wajahnya menunjukkan keterkejutan murni, seperti seseorang yang baru saja diberi kabar bahwa besok ada ujian dadakan tanpa kisi-kisi. Namjoon menahan senyum. Ia sudah menduga reaksi ini. Ryn Moa memang selalu seperti ini, menyangkal hal-hal yang terlalu dekat dengan hatinya.

“Moa, semua orang bisa melihatnya.” ucap Namjoon.

Nada suaranya lembut, nyaris seperti menenangkan anak kecil yang sedang panik karena balonnya terbang. Ia tidak bermaksud menekan, hanya menyampaikan apa yang selama ini terlihat jelas dari luar. Bahkan mungkin terlalu jelas.

“Aku enggak!” Ryn Moa panik sendiri. Bukankah selama ini dirinya memang menyukai Taehyung, tapi kenapa ? saat ini hatinya ada yang aneh pada perasaan itu.

Tangannya bergerak tidak beraturan, seolah ingin menepis kata-kata itu dari udara. Ia hampir menjatuhkan tasnya sendiri karena terlalu fokus menyangkal. Pipinya semakin panas, entah karena malu, bingung, atau kombinasi keduanya. Namjoon menunduk, suaranya pelan, dalam, dan jujur.

“Kau memang tidak pernah melihat ketika ada yang suka padamu… kecuali kalau itu Taehyung.”

Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Namjoon perkirakan. Ia sendiri terkejut mendengar ketajaman kata-katanya. Ia tidak berniat menyerang. Ia hanya jujur, tapi ternyata bisa terasa seperti pisau tumpul, yang tidak melukai dengan seketika, tapi meninggalkan bekas. Ryn Moa terdiam, Lorong terasa semakin sunyi. Bahkan suara langkah kaki di kejauhan seperti menghilang. Entah karena memang sepi, atau karena dunia Ryn Moa sedang memusatkan seluruh perhatiannya pada satu titik kecil di antara mereka berdua. Manik mata Ryn Moa menatap lantai, memperhatikan pantulan cahaya matahari yang membentuk garis-garis aneh di sepatunya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu perlahan mengangkat wajahnya kembali ke arah Namjoon. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Terutama karena nada Namjoon barusan terdengar berbeda. Tidak seperti senior yang menasihati. Tidak seperti teman yang bercanda. Ada sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang belum ia pahami. Kedua bola mata Ryn Moa kini memperhatikan wajah Namjoon, cara alisnya yang sedikit menegang, juga cara matanya yang sebenarnya tidak sepenuhnya tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia menangkap kesan bahwa Namjoon sedang menahan sesuatu. Sesuatu yang tidak ingin atau tidak berani, ia lepaskan.

“Namjoon…” Ryn Moa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ada banyak kata yang ingin keluar. Tapi semuanya terasa berbahaya, seperti membuka pintu yang belum tentu bisa ia tutup kembali. Ia sebenarnya ingin bertanya,

Kalau begitu, bagaimana denganmu?

Kenapa kau terdengar seperti itu?

Kenapa aku merasa kau sedang menjauh dan mendekat dalam waktu yang sama?

Tapi pertanyaan itu terlalu berbahaya untuk diucapkan. Namjoon mengangkat bahunya dengan ringan, berusaha mengendurkan suasana. Senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang terlihat santai, meski hanya di permukaan.

“Jangan dipikirkan dulu. Kau memang selalu butuh waktu untuk menyadari hal-hal seperti ini.”

Nada itu kembali seperti Namjoon yang Ryn Moa kenal. Tenang, Hangat dan Sedikit menggoda, tapi aman. Ryn Moa tersenyum kecil, meski dadanya masih tidak karuan. Ia mengangguk pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa ini hanya salah paham kecil. Bahwa ia hanya terlalu banyak berpikir. Namun langkahnya saat berjalan pergi terasa lebih berat dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di lorong itu, bukan barang, tapi perasaan. Namjoon menatap punggungnya hingga Ryn Moa menghilang di ujung lorong. Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Bahkan setelah Ryn Moa benar-benar menghilang dari pandangan, Namjoon masih berdiri di tempat yang sama. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia bertanya pada dirinya sendiri,

Apa aku juga terlambat menyadari perasaanku?

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!