NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:894
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan dan Wajah Baru Ibu

Pagi itu, udara pegunungan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Bukan karena matahari bersinar lebih terik, tapi karena ada sekerat harapan yang membuncah di dadaku. Hari ini adalah hari yang dijanjikan. Hari di mana "sebentar lagi" milik Ibu akhirnya tiba. Aku sudah tidak sabar ingin menghambur ke pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang selalu kurindukan setiap malam. Namun, di sudut hati yang lain, aku merasa cemas. Aku takut mulutku akan kembali kelu seperti saat menelepon tempo hari. Aku takut kerinduan yang sudah meluap-luap ini justru membuatku mematung tak berdaya.

Ayah pun tampak berbeda hari ini. Setelah pulang dari Gunung Prau membawa kayu bakar subuh tadi, ia tidak langsung pergi ke ladang orang untuk menjadi buruh tani. Ayah memilih tinggal di rumah. Ia seolah ingin menyambut kepulangan "nakhoda" hati kami dengan cara yang istimewa.

Dengan segala keterbatasan dan kreativitasnya, Ayah mulai sibuk. Bunyi ketukan palu yang beradu dengan paku serta gesekan gergaji yang nyaring terdengar di seluruh penjuru rumah. Ayah sedang merombak sedikit bagian rumah kami dengan bahan ala kadarnya, mungkin memperbaiki dinding yang bolong atau membuat rak sederhana. Aku tidak terlalu mempedulikannya, karena aku sendiri sedang sibuk dengan "duniaku".

Di halaman depan, aku duduk bersila di tanah. Pipit dan Rabbit menemaniku. Aku sedang asyik bermain masak-masakan menggunakan dedaunan dan tanah sebagai bahan utamanya. Namun, perhatianku tertuju pada wajah Pipit. Boneka karet merah kesayanganku itu kini tampak menyedihkan. Bintik-bintik hitam jamur mulai memenuhi wajahnya karena terlalu sering kupeluk saat aku menangis di malam hari.

Dengan kepolosan khas anak empat tahun, aku mendapat sebuah ide cemerlang. Aku membuat adonan lumpur dari tanah dan sedikit air.

"Sabar ya, Pipit. Aku bedaki dulu supaya bintik-bintik hitammu hilang dan kamu jadi cantik lagi," bisikku sambil melumuri seluruh wajah Pipit dengan lumpur cokelat yang pekat.

Aku tersenyum puas melihat mahakaryaku. Dalam bayanganku, lumpur ini adalah masker ajaib yang akan membuat Pipit kembali baru. Saat aku sedang mengagumi Pipit yang sudah belepotan tanah itu, tiba-tiba suara deru motor terdengar mendekat.

Jantungku berhenti berdetak sejenak. Aku masih terpaku di posisi dudukku saat motor itu berhenti tepat di depan rumah. Seorang wanita turun dari boncengan. Ia mengenakan baju berwarna oranye dengan gambar Mickey Mouse yang mencolok, menenteng tas kain tua yang sama seperti saat ia pergi dulu.

"Ibu...?" suaraku nyaris tak terdengar.

Aku terpana. Ibu tampak sangat berbeda. Wajahnya yang dulu kusam dan merah karena terbakar matahari pegunungan, kini tampak cerah, putih, dan bersih. Kulitnya terlihat terawat, mencerminkan kehidupan kota yang selama ini ia jalani. Ia berdiri di sana, menatapku dengan binar mata yang tak sanggup menyembunyikan rasa harunya.

"Lho, Nonok... kenapa bonekanya dilumuri lumpur begitu? Kan jadi kotor, Sayang," ucap Ibu, suaranya yang lembut itu akhirnya nyata menyentuh telingaku.

Ia melangkah mendekat, lalu mengambil Pipit dari tanganku. Aku masih diam membisu, menatap wajah cantiknya dari dekat. Kerinduan yang berbulan-bulan kutabung seolah meledak di dalam dada, tapi aku hanya bisa memandangnya dengan mulut terbuka.

Ayah keluar dari dalam rumah, wajahnya yang penuh keringat karena bekerja tadi seketika cerah. "Sudah sampai, Bu?" tanya Ayah singkat namun penuh makna. Ia segera mengambil tas tua milik Ibu dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek yang mengantar.

Alih-alih masuk ke rumah untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Ibu justru berjongkok di sampingku. Ia menatap Pipit yang kotor, lalu menatapku sambil tersenyum kecil.

"Ayo, kita cuci Pipitnya. Kasihan dia tidak bisa napas kena lumpur ini," ajak Ibu.

Sore itu, di samping ember tempat menampung air bersih, rutinitas kami kembali dimulai. Bukan mencari kutu, melainkan Ibu yang dengan telaten menyikat wajah Pipit hingga bersih kembali, sementara aku duduk di sampingnya, memandangi tangannya yang kini tidak lagi penuh luka goresan duri arbei. Aku sadar, meski fisiknya berubah menjadi lebih "kota", kasih sayangnya tetap sama. Ia tetap Ibu yang mendahulukan kepentingan boneka anaknya daripada rasa lelahnya sendiri.

Kepulangan Ibu membawa suasana baru yang lebih segar di dalam rumah.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!