🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Sunyi yang Berbisa
...Bab 5: Sunyi yang Berbisa...
Tiga hari telah berlalu sejak insiden makam leluhur. Paviliun Han Xuan kini menjadi tempat yang paling dihindari di seluruh area klan. Bukan karena mereka tahu rahasianya, tapi karena aura di sekitar bangunan tua itu terasa aneh. Tanaman di pot kecil dekat jendela mulai menghitam dan layu, bukan karena kekurangan air, tapi seolah-olah kehidupan di dalamnya telah dihisap perlahan oleh udara.
Han Xuan duduk di lantai kayu yang dingin. Di telapak tangannya, pusaran hitam itu tidak lagi berpendar terang. Ia telah menyembunyikannya jauh di bawah lapisan kulit dan otot, namun harganya sangat mahal.
Setiap kali ia bernapas, ia merasakan kekosongan yang menyesakkan. Pagi ini, ia mencoba mengingat wajah pelayan yang dulu sering membawakannya makanan saat ia kecil. Ia ingat namanya, ia ingat warna bajunya, tapi ia tidak bisa lagi memanggil rasa syukur atau kenyamanan yang dulu pernah ada. Memorinya kini seperti membaca sebuah laporan medis yang kering.
Aku kehilangan rasa hambar... batin Han Xuan.
Ia mengambil sepotong roti keras dan mengunyahnya. Tidak ada rasa. Lidahnya hanya mengirimkan informasi tentang tekstur. Inilah harga nyata dari kenaikan ke Mortal Tempering level tiga puncak menggunakan fragmen hukum. Indranya mulai mengkhianatinya satu per satu.
"Tuan Muda Xuan?"
Sebuah suara kecil dan ragu-ragu terdengar dari balik pintu yang rusak.
Han Xuan tidak menoleh. Ia mengenali detak jantung itu. Itu adalah Xiao Mei, seorang pelayan magang yang baru berusia dua belas tahun. Dia adalah tipe orang yang biasanya tidak akan pernah diperhatikan oleh siapa pun di klan ini. Namun, ada satu hal unik tentang gadis ini: matanya memiliki sedikit katarak putih yang menurut tabib klan adalah cacat lahir.
Han Xuan tahu itu bukan katarak. Itu adalah Spirit Eye yang belum bangkit sepenuhnya.
"Masuk" ucap Han Xuan datar.
Xiao Mei masuk membawa nampan kayu. Langkahnya gemetar. Saat ia meletakkan nampan, matanya yang kelabu menatap punggung Han Xuan. Ia segera menunduk, namun Han Xuan bisa merasakan gadis itu melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia biasa.
"Ada apa?" tanya Han Xuan.
"Anu... Penatua Ketiga memerintahkan semua murid luar untuk berkumpul di aula ekonomi sore ini" bisik Xiao Mei. "Katanya ada pembagian tugas untuk membersihkan kekacauan di kota bawah."
Han Xuan terdiam sejenak. Kota bawah adalah pusat perdagangan batu roh tingkat rendah milik klan Han. Jika klan mulai mengirim murid luar ke sana, artinya kerugian ekonomi akibat insiden makam kemarin sangat besar. Mereka butuh tenaga kerja murah untuk menstabilkan pasar.
"Dan... Tuan Muda Han Feng..." Xiao Mei menggigit bibirnya. "Dia baru saja keluar dari ruang pengobatan. Semua orang bilang dia adalah reinkarnasi dewa perang. Tapi..."
"Tapi apa?" Han Xuan kini menoleh. Tatapannya yang kosong bertemu dengan mata kelabu Xiao Mei.
Gadis itu gemetar hebat, air mata mulai menggenang di matanya yang cacat. "Tapi saat saya melihatnya dari jauh, dia tidak terlihat seperti dewa. Dia terlihat seperti... lubang merah yang penuh dengan tangan-tangan yang menjerit."
Han Xuan menyipitkan mata. Menarik. Xiao Mei bisa melihat resonansi jiwa yang ditinggalkan fragmen hukum pada Han Feng. Jika gadis ini bisa melihat "lubang merah" pada Han Feng, maka dia pasti melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan pada diri Han Xuan.
"Lalu apa yang kau lihat padaku Xiao Mei?"
Gadis itu jatuh terduduk. Ia menutup matanya rapat-rapat dengan tangan kecilnya. "Saya tidak melihat apa-apa pada Tuan Muda Xuan. Hanya kegelapan yang sangat luas. Seperti langit malam tanpa bintang sedikit pun. Itu... itu lebih menakutkan daripada Tuan Muda Han Feng."
Han Xuan bangkit berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati gadis itu. Untuk sejenak, ia mempertimbangkan untuk melenyapkannya. Seseorang yang bisa melihat jati dirinya adalah ancaman bagi rencana jangka panjangnya. Namun, ia kemudian teringat akan strategi yang lebih besar.
Seseorang dengan Spirit Eye adalah aset langka. Jika ia bisa memanipulasi gadis ini, ia akan memiliki radar hidup untuk mendeteksi siapa pun yang mencoba memata-matai atau mendekatinya dengan niat buruk.
"Jangan pernah katakan pada siapa pun tentang apa yang kau lihat hari ini" ucap Han Xuan sambil menyentuh puncak kepala Xiao Mei.
Tangan Han Xuan terasa sedingin es. Xiao Mei hanya bisa mengangguk kaku.
"Mulai hari ini, kau akan menjadi pelayan pribadiku. Jangan melayani orang lain. Jika ada yang bertanya, katakan aku mengancammu."
Han Xuan melepaskan tangannya. Ia membutuhkan mata kedua di klan ini sementara ia fokus memulihkan diri.
Sore itu, Han Xuan berjalan menuju aula ekonomi. Di sepanjang jalan, ia melihat perubahan atmosfer klan. Penjagaan menjadi dua kali lipat lebih ketat. Para pengawal dari sekte tetangga, Sekte Pedang Awan, terlihat mulai mondar-mandir di sekitar gerbang klan dengan dalih "kunjungan diplomatik".
Han Xuan tahu itu bohong. Mereka mencium bau "pusaka" yang bangkit tempo hari.
Di depan aula, Han Feng berdiri dengan gagah. Jubahnya kini berwarna merah tua, sesuai dengan aura barunya. Kakinya yang patah tempo hari telah sembuh secara ajaib, namun wajahnya terlihat lebih tirus dan matanya terus bergerak gelisah, seolah ia sedang mendengarkan bisikan yang tidak bisa didengar orang lain.
Han Feng menatap kerumunan murid luar hingga matanya tertuju pada Han Xuan.
Ia tidak langsung menyerang. Sebaliknya, ia memberikan senyum tipis yang penuh dengan kebencian terpendam. Ia telah diajari oleh ayahnya untuk menahan diri di depan publik, tapi Han Xuan bisa merasakan bahwa Han Feng sedang menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam di luar area klan.
"Tugas pertama kalian" suara Penatua Ketiga menggema. "Adalah mengawal pengiriman batu roh ke Kota Azure. Ada laporan tentang munculnya Shadow Beast di jalur hutan. Siapa pun yang berhasil membunuh satu binatang itu akan mendapatkan sepuluh batu roh tingkat rendah!"
Para murid luar bersorak, namun Han Xuan hanya menatap lantai. Shadow Beast bukanlah binatang biasa. Mereka adalah makhluk yang hanya muncul jika ada kebocoran energi kegelapan di suatu wilayah.
Makam leluhur itu bukan hanya berisi mayat, tapi merupakan segel bagi sesuatu yang jauh lebih luas. Dan sekarang, segel itu mulai retak.
Han Xuan menyadari satu hal. Ia bukan satu-satunya predator di wilayah ini. Sesuatu dari luar, atau mungkin dari bawah tanah yang lebih dalam, sedang memperhatikan klan Han.
Rencananya untuk membangun kekuatan perlahan-lahan mungkin akan terganggu oleh variabel yang belum ia perhitungkan.
Han Xuan berdiri di barisan paling belakang di antara para murid luar. Ia tidak ikut bersorak saat mendengar iming-iming sepuluh batu roh. Baginya sepuluh batu roh hanyalah angka yang tidak berarti dibandingkan risiko terpapar di depan umum. Namun ia menyadari satu hal penting: jalur menuju Kota Azure melewati Lembah Kabut sebuah tempat yang memiliki konsentrasi energi bumi yang stabil.
Itu adalah tempat yang sempurna untuk melakukan eksperimen kecil pada Void Devouring Constitution miliknya tanpa menarik perhatian para tetua klan.
"Semua sudah mendapatkan pembagian regu!" teriak instruktur lapangan.
Han Xuan melihat daftar yang ditempel di papan kayu. Namanya berada di Regu Tujuh. Sebuah regu yang berisi murid-murid paling lemah dan bermasalah. Dan yang membuat matanya sedikit menyipit adalah pemimpin regu tersebut: Han Feng.
Sepertinya Penatua Ketiga tidak ingin melepaskan Han Xuan begitu saja. Menempatkan Han Xuan di bawah komando langsung anaknya adalah cara legal untuk memastikan Han Xuan "menghilang" di tengah hutan tanpa ada yang mempertanyakannya.
"Berangkat dalam satu jam!"
Han Xuan kembali ke paviliunnya untuk mengambil beberapa barang mendasar. Xiao Mei masih di sana sedang membersihkan lantai dengan gerakan kaku. Gadis itu menoleh saat Han Xuan masuk.
"Tuan Muda Xuan" bisik Xiao Mei. "Tolong... jangan pergi ke arah timur."
Han Xuan berhenti melangkah. "Kenapa?"
"Di mata saya arah timur bukan lagi hutan. Itu seperti mulut raksasa yang sedang menguap. Ada sesuatu yang sedang menunggu di sana."
Han Xuan menatap gadis itu lama. Spirit Eye miliknya mulai memberikan peringatan yang akurat. Arah timur adalah jalur menuju Kota Azure. Jika Xiao Mei melihatnya sebagai mulut raksasa artinya keberadaan Shadow Beast bukan sekadar migrasi biasa. Itu adalah tanda bahwa fragmen hukum yang ia ambil telah memicu rantai makanan di alam bawah tanah.
"Tetap di sini Xiao Mei. Jangan keluar dari paviliun ini apa pun yang kau dengar" ucap Han Xuan.
Ia mengambil sebuah belati tua yang berkarat dari bawah tempat tidurnya. Belati itu tidak memiliki Qi namun baginya itu sudah cukup. Keunggulan seorang mantan kultivator tingkat atas bukan terletak pada senjatanya melainkan pada pengetahuan tentang titik lemah setiap makhluk hidup.
Satu jam kemudian Regu Tujuh berangkat meninggalkan gerbang klan. Ada tiga gerobak besar yang penuh dengan peti kayu berisi batu roh mentah. Han Feng memimpin di depan dengan kuda hitam yang gagah sementara Han Xuan berjalan di samping roda gerobak paling belakang.
Perjalanan itu sunyi. Han Feng tidak menegur Han Xuan sekali pun namun Han Xuan bisa merasakan niat membunuh yang tipis menyelimuti punggungnya setiap kali Han Feng menoleh.
Saat matahari mulai terbenam dan cahaya berubah menjadi jingga kemerahan mereka memasuki wilayah pinggiran Lembah Kabut. Pohon-pohon di sini memiliki batang yang bengkok dengan daun yang berwarna keunguan gelap.
"Berhenti!" teriak Han Feng tiba-tiba.
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Kabut tipis mulai merayap dari balik semak-semak. Para murid luar mulai mencabut pedang mereka dengan tangan gemetar.
"Ada yang bergerak di dalam kabut!" seru salah satu murid.
Han Xuan tidak mencabut belatinya. Ia justru memejamkan mata dan mulai mengalirkan sedikit Qi ke telinganya. Ia tidak mendengar suara langkah kaki melainkan suara gesekan sisik pada kulit pohon.
Bukan Shadow Beast biasa batin Han Xuan.
Tiba-tiba sesosok makhluk melesat dari kabut. Bentuknya seperti serigala namun seluruh tubuhnya terdiri dari asap hitam yang padat dengan mata merah yang menyala. Makhluk itu menyerang gerobak paling depan.
Han Feng berteriak dengan penuh semangat. Ia menghunus pedangnya yang kini dibalut aura merah hasil warisan leluhur. "Mati kau monster!"
Dengan satu tebasan Han Feng membelah makhluk itu menjadi dua. Darah hitam menyembur dan makhluk itu lenyap menjadi asap. Murid-murid lain bersorak memuji kehebatan Han Feng.
Namun Han Xuan justru mengerutkan kening. Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Asap hitam dari makhluk yang mati itu tidak menghilang ke udara melainkan merayap di tanah menuju kaki Han Feng dan masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Han Feng terlihat semakin kuat namun matanya menjadi semakin merah dan liar.
Dia sedang ditelan perlahan oleh energi itu pikir Han Xuan.
Ini adalah jebakan. Seseorang atau sesuatu sedang memberikan kekuatan pada Han Feng untuk mengubahnya menjadi wadah yang sempurna bagi entitas di bawah tanah.
"Xuan!" teriak Han Feng sambil menunjuk ke arah semak-semak di belakang Han Xuan. "Ada satu lagi di sana! Bukankah kau sudah level tiga? Pergi dan bunuh makhluk itu atau aku akan menghukummu karena pengkhianatan di medan perang!"
Han Xuan menoleh. Di balik kabut ia melihat sepasang mata merah yang jauh lebih besar dari yang dihadapi Han Feng tadi. Makhluk itu tidak menyerang dengan liar melainkan bergerak dengan kecerdasan yang mengerikan.
Han Xuan tahu jika ia membunuh makhluk ini di depan semua orang rahasianya akan terancam. Namun jika ia tidak bergerak ia akan menjadi sasaran empuk.
Ia menatap Han Feng lalu menatap kabut di depannya. Sebuah rencana provokasi ekonomi mulai terbentuk di kepalanya.
"Tuan Muda Han Feng" ucap Han Xuan dengan nada tenang di tengah kepanikan. "Bagaimana jika kita bertaruh? Jika aku membawa kepala makhluk ini kau harus memberiku kunci gudang penyimpanan batu roh di sektor luar untuk satu malam."
Han Feng tertawa mengejek. "Kau ingin mati hanya demi beberapa batu roh? Baiklah! Jika kau bisa membunuhnya kunci itu milikmu. Tapi jika kau gagal aku sendiri yang akan membuang mayatmu ke lembah ini!"
Han Xuan hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun di balik kegelapan.
Ia melangkah masuk ke dalam kabut tanpa ragu. Saat sosoknya menghilang dari pandangan regu Han Xuan segera melepaskan penyamaran energinya.
Pusaran hitam di tangannya mulai berdenyut lapar.
"Mari kita lihat siapa yang akan menelan siapa" gumam Han Xuan pelan.
Di dalam kabut itu ia tidak menemukan seekor binatang melainkan sesuatu yang jauh lebih aneh. Seorang pria tua sedang duduk bersila di atas bangkai Shadow Beast yang sudah kering sedang menatap Han Xuan dengan rasa ingin tahu yang besar.
Siapakah sosok misterius di tengah lembah ini dan apa hubungannya dengan energi kegelapan yang mulai merusak pikiran Han Feng?