Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Puncak Kepasrahan di Ranjang Tuan
Suasana kamar yang remang itu hanya diisi oleh suara napas yang memburu dan dentuman jantung yang saling beradu. Amara duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan kaki yang terbuka lebar di bawah daster batiknya yang sudah tersingkap kacau. Di pelukan kirinya, Kenzo mulai melambat dalam hï§åþåññɏå, kelopak matanya sudah hampir menutup sempurna meski mulutnya masih mengunci þµ†ïñg Amara. Sementara itu, di sisi kanan, Arlan masih menenggelamkan wajahnya di þåɏµÐårå Amara yang lain, menyesap cairan manis itu dengan penuh penguasaan.
Tiba-tiba, Amara merasakan §êñ†µhåñ panas yang lain. Tangan besar Arlan merayap turun, menyusup di antara paha Amara yang sudah lembap.
"T-Tuan...?" Amara melotot kaget, tubuhnya tersentak kecil.
Arlan tidak melepaskan hï§åþåññɏå sedikit pun. Ia hanya bergumam rendah di antara kulit þåɏµÐårå Amara, sebuah suara bariton yang menggetarkan dada gadis itu. Dengan gerakan yang sangat efisien namun dominan, Arlan menarik ¢êlåñå dalam Amara ke samping, menyingkirkannya hingga area kêwåñï†ååñ Amara yang polos dan bersih itu terpampang sepenuhnya di bawah cahaya lampu tidur.
Jari-jari Arlan mulai bekerja. Tanpa aba-aba, ibu jari dan jari telunjuknya langsung menemukan titik paling §êñ§ï†ï£ milik Amara. Ia mulai memelintir lembut klï†ðrï§ Amara yang sudah mengeras, menekannya dengan gerakan memutar yang ritmis dan penuh tuntutan.
"Nngghhh... hhh..." Amara menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar hebat. Kaki kirinya bergerak gelisah di atas ranjang, sementara kaki kanannya terkunci oleh tubuh Arlan.
§êñ§å§ï itu luar biasa menyiksa sekaligus nikmat. Di atas, dadanya Ðïhï§åþ oleh dua orang sekaligus—satu dengan kemurnian dan satu dengan gåïråh—sementara di bawah, jari-jari Arlan terus mengeksploitasi saraf-saraf kenikmatannya tanpa ampun. Setiap kali Arlan memelintir titik pusatnya, Amara merasa seolah ada aliran listrik yang meluncur deras menuju rahimnya.
"Sssshhh... jangan berisik, Amara. Lihat putraku, dia hampir terlelap," bisik Arlan sejenak setelah melepaskan þµ†ïñg Amara, hanya untuk kembali mêñghï§åþñɏå lagi dengan lebih dalam.
Amara memutar matanya ke atas, air mata kenikmatan mulai mengalir di sudut matanya. Ia terjepit dalam situasi yang paling gila dalam hidupnya. Ia harus tetap tenang agar Kenzo tidak terbangun, namun Arlan seolah sengaja ingin melihat sejauh mana Amara bisa menahan diri. Arlan mempercepat gerakan jarinya, menyusupkan jari tengahnya yang panjang ke dalam lïåñg Amara yang sudah becek, sementara ibu jarinya terus mêmêlïñ†ïr þµñ¢åkñɏå dengan tekanan yang semakin kuat.
"A-akh... ahh... hhh..." Amara meracau tanpa suara. Tubuhnya mengejang hebat saat ia merasakan gelombang besar itu datang. Hanya dengan permainan jari Arlan, Amara akhirnya mencapai puncaknya. Tubuhnya bergetar hebat, dan lïåñgñɏå menjepit jari Arlan dengan kontraksi yang sangat kuat saat ia keluar dengan derasnya.
Arlan tetap tidak melepaskan hisapannya pada dada Amara, menikmati bagaimana †µßµh gadis itu bereaksi di bawah §êñ†µhåññɏå. Setelah Amara lemas, Arlan perlahan melepaskan mulutnya dari þåɏµÐårå Amara yang kini berkilat basah. Ia mendongak, menatap wajah Amara yang berantakan dengan tatapan predator.
Tanpa memutuskan kontak mata, Arlan mulai melepaskan ¢êlåñå kainnya sendiri. Kêjåñ†åññɏå yang sudah menegang maksimal, besar, dan ßêrµrå† seolah melompat keluar, menuntut untuk segera masuk ke dalam lïåñg Amara yang baru saja meledak itu.
"Kenzo sudah tidur sepenuhnya," bisik Arlan dengan suara serak yang mematikan. "Sekarang, giliran pengasuhnya yang harus mêlåɏåñï tuannya sampai pagi."
***
Arlan perlahan mengubah posisi. Ia merangkak ke belakang †µßµh Amara, memosisikan dirinya sedemikian rupa sehingga dada bidangnya menempel sempurna pada punggung þðlð§ Amara. Kenzo masih berada di pelukan depan Amara, wajah kecilnya terbenam di þåɏµÐårå kiri, napasnya mulai teratur meski mulutnya sesekali masih melakukan ï§åþåñ kecil yang refleks.
Amara bisa merasakan kêjåñ†åñåñ Arlan yang besar, panas, dan ßêrµrå† kini menempel tepat di belahan ßðkðñgñɏå yang licin karena sisa ¢åïråñ asmaranya tadi. Arlan mulai mêñggê§êk-gê§êkkåñ miliknya yang sudah tegang maksimal itu pada area §êñ§ï†ï£ Amara, menciptakan gê§êkåñ antara daging panas yang membuat Amara menggeliat gelisah.
"A-ahh... T-tuan... j-jangan sekarang... hhh..." rintih Amara dengan suara yang hampir habis. Ia merasa "gå†ål" dan panas di area bawahnya, seolah-olah seluruh sarafnya berteriak meminta untuk segera diisi.
Arlan tidak peduli. Ia membisikkan kata-kata kotor di telinga Amara sambil mêñjïlå† cuping telinganya. "Mulutmu bilang jangan, tapi di bawah sini kau sudah ßåñjïr, Amara. Kau sudah siap untukku."
Tanpa peringatan lagi, Arlan mencengkeram þïñggµl Amara dengan kuat agar posisi mereka tidak bergeser, lalu dengan satu hêñ†åkåñ dalam yang bertenaga, ia memasukkan seluruh mïlïkñɏå yang besar ke dalam lïåñg Amara yang §êmþï† dan panas.
Jlêß!
"AAAKHHH—" Amara mendongak, matanya mêñjµlïñg ñïkmå† karena sensasi kepenuhan yang luar biasa mendadak. Ia merasa seolah Arlan mêñghµjåm hingga ke råhïmñɏå. Saking kaget dan ñïkmå†ñɏå saraf-sarafnya yang tadi sudah sangat sensitif, tubuh Amara langsung mêñgêjåñg hebat. Dalam sekejap, ia kembali mencapai puncak; ¢åïråñ asmaranya mêmµñ¢rå† keluar membasahi pangkal þåhå Arlan.
Arlan terkekeh rendah, suara tawanya yang serak terdengar sangat maskulin di ceruk leher Amara. Ia bisa merasakan dinding råhïm Amara yang mêñjêþï† miliknya dengan sangat kê†å†.
"Bilang jangan, tapi baru sekali Ðïmå§µkkåñ saja sudah mµñ¢rå† sebanyak ini, hm?" goda Arlan dengan nada mengejek yang penuh gåïråh. "Kau benar-benar haus akan milikku, pengasuh manis."
Amara segera membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Ia menatap Kenzo dengan panik. Benar saja, bayi itu terganggu oleh hêñ†åkåñ barusan. Kenzo melepaskan isapannya pada þµ†ïñg Amara, mulutnya sedikit terbuka, dan ia menggeliat kecil sebelum akhirnya kembali tenang dan tertidur lelap.
Melihat Kenzo sudah aman, Arlan mulai bergerak. Namun kali ini, ia melakukannya dengan sangat terkendali. Ia menarik miliknya hingga hampir keluar, lalu mendorongnya kembali masuk secara perlahan tapi dalam. Ia ingin mêñɏïk§å Amara dengan kêñïkmå†åñ yang lambat.
Setiap kali Arlan mendorong masuk, Amara harus menahan jêrï†åñ nikmatnya di balik telapak tangan. Matanya terpejam rapat, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Gê§êkåñ lambat itu justru terasa lebih mematikan; Amara bisa merasakan setiap inci tekstur kêjåñ†åñåñ Arlan yang mêñgðßråk-åßrïk bagian dalamnya.
"Nngghhh... hhh... hhh..." Amara hanya bisa merintih melalui celah jarinya. þïñggµlñɏå bergerak mengikuti ritme Arlan yang tenang namun menghancurkan pertahanan dirinya.
Di atas ranjang itu, di antara kesucian seorang bayi yang tertidur dan ñ壧µ lïår seorang pria Ðêwå§å, Amara pasrah sepenuhnya, membiarkan tubuhnya menjadi pelabuhan bagi setiap dorongan Arlan yang semakin lama semakin dalam dan posesif.
***
Kontrol diri Arlan yang biasanya setangguh baja akhirnya runtuh total. Penjepitan dinding råhïm Amara yang sedang dalam fase þå§¢å-ðrgå§mê terasa seperti ribuan jarum halus yang mêñghï§åþ kêjåñ†åññɏå, memaksanya untuk melepaskan segala kewarasan.
Persetan dengan ketenangan. Yang Arlan tahu hanyalah ia harus menaklukkan wanita di bawahnya ini sekarang juga.
"§ïålåñ, Amara... Kau mêñjêþï†kµ terlalu kencang," geram Arlan dengan suara parau yang penuh dengan ñ壧µ primitif.
Arlan mengubah posisinya sedikit lebih tinggi, mencengkeram kedua þåhå Amara dan menariknya ke atas hingga ßðkðñg Amara terangkat, memberikan sudut þêñê†rå§ï yang lebih ekstrem. Tanpa aba-aba, ia mulai memacu kecepatannya.
Plðk! þlðk! þlðk!
Suara kµlï† yang beradu dengan intensitas tinggi kini memenuhi kamar yang tadinya sunyi. Arlan mêñggêñjð† dengan ritme yang lïår dan bertenaga, mêñghµjåm Amara tanpa ampun. Setiap dorongan Arlan membuat †µßµh Amara terlempar sedikit ke depan, membuat ranjang jati yang besar itu berderit dan bergetar hebat.
"A-akh! T-Tuan... pelan... Kenzo... ahhh! Ahhh!" Amara meracau, suaranya pecah di antara kêñïkmå†åñ dan ketakutan.
Ia menatap Kenzo yang berada hanya beberapa senti dari tangannya. Bayi itu mulai terusik karena guncangan ranjang yang semakin kencang, tangannya yang mungil bergerak-gerak di udara. Namun, Amara tidak bisa melakukan apa-apa untuk menjauh. Setiap kali ia mencoba merangkak maju untuk menjaga jarak dari guncangan, Arlan justru menarik þïñggµlñɏå kembali dan mêñghµjåmñɏå lebih dalam, lebih keras, hingga Amara merasa perutnya seperti diaduk-aduk.
"Jangan pikirkan hal lain selain aku, Amara!" Arlan membentak pelan namun penuh dominasi. Ia tidak peduli lagi jika Kenzo terbangun. Ia hanya ingin merasakan bagaimana lïåñg Amara yang panas itu mêñjêrï† di sekitar miliknya yang berdenyut.
Amara akhirnya menyerah pada keadaan. Ia mencengkeram sprei hingga kusut, matanya membelalak dengan pupil yang melebar sepenuhnya. Ia membiarkan kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada bahu Arlan sementara pria itu terus mêmðmþå dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"T-Tuan... saya... saya mau lagi... ahhh! Keluar lagi!" jerit Amara tertahan saat ia merasakan klïmåk§ kedua yang lebih dahsyat mulai merambat dari ujung kakinya.
Arlan mêñggêråm seperti singa yang menemukan mangsanya. Ia mempercepat gêñjð†åññɏå hingga menjadi sebuah getaran yang konstan dan brutal. Ia memegang leher Amara perlahan, memaksa gadis itu mendongak untuk menerima ¢ïµmåñ yang gåñå§ dan penuh lidah, sementara di bawah sana, ia memberikan tiga hêñ†åkåñ terakhir yang sangat kuat hingga pangkal þåhå mereka menyatu tanpa celah.
"Amara... Amara!"
Arlan mêñgêråñg keras saat ia merasakan ¢åïråññɏå menyembur dengan deras di dalam rahim Amara. Ia mêñghµjåmkåñ miliknya satu kali terakhir secara maksimal dan menahannya di sana, membiarkan setiap tetes ¢åïråññɏå mengisi penuh diri Amara, sementara gadis itu hanya bisa †êrêñgåh-êñgåh dengan tubuh yang masih bergetar hebat akibat ðrgå§mê yang berkepanjangan.
Di sebelah mereka, Kenzo akhirnya terbangun dan mulai merengek karena guncangan yang berhenti mendadak, namun kedua orang dewasa itu masih †êrêñgåh-êñgåh dalam þêñɏ况åñ yang panas, terlalu lemas untuk sekadar bergerak memisahkan diri.