Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Penjaga Api
Yohan, tubuhnya goyah, berusaha mengimbangi langkah cepat Yutiman. Pemburu itu bergerak menembus hutan yang mulai menggelap seolah-olah ia berintegrasi dengan bayang-bayang pepohonan. Keduanya berjalan tanpa suara, melangkah menuju kedalaman utara Yalimo, menjauhi rawa-rawa basah di mana Yohan nyaris menyerahkan nyawanya.
Udara sudah mulai dingin ketika Yohan memberanikan diri berbicara.
“Kamu bilang… kamu tahu Ina. Dan tahu tentang Janji Darah?”
Yutiman, tubuhnya penuh ukiran, berputar sesaat di tengah jalan. Mata yang tajam itu menyisir Yohan, menilai setiap lebam di kakinya.
“Kami yang tinggal jauh di dalam, selalu tahu lebih banyak dari mereka yang tinggal di desa di mana perhiasan dan cermin kota mulai membuat mereka buta,” jawab Yutiman, suaranya mengandung kritik halus.
“Janji Darah adalah cerita lama, cerita Ayahmu, Yosef, dan istrinya. Sebuah upaya memanjangkan hidup leluhur ke dalam tanah. Hanya Ina yang tahu kenapa Janji itu berakhir salah.”
Yohan merasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Ia telah berjalan kaki selama hampir enam jam lagi sejak pertemuannya dengan Yutiman, dihidupi oleh air bambu murni dan beberapa buah liar.
“Ayahku melakukan kesalahan, dia fanatik. Dia ingin Pusaka dilindungi dari korporasi. Tapi mengorbankan Ibuku?” Yohan menggeleng.
“Apakah Ina tahu cara memutus ikatan yang tercipta dari kegilaan seperti itu?”
Langkah Yutiman melambat, menandakan Yohan menyentuh subjek yang harus dihadapi dengan keseriusan penuh. Mereka berjalan melalui hamparan lumut lembut di antara pohon-pohon yang akarnya melilit tinggi.
“Ina tidak memotong. Ritual lama mengajarkan, setiap ikatan purba memiliki konsekuensi, seperti benang takdir,” Yutiman memulai.
“Memutus benang takdir hanya membawa kematian, kekacauan. Bahkan Pusaka itu akan marah jika benang kehidupannya diputus secara sembarangan.”
“Lalu bagaimana?” desak Yohan.
“Ina mengajarkan pertukaran. Menukar energi. Mengikat benang lama ke sesuatu yang baru. Itu bukan sihir, itu adalah hukum spiritual Yalimo,” Yutiman mendesis, mematahkan sebuah ranting yang mengganggunya.
“Ina Penjaga Api, karena ia menguasai api transformasi. Membakar yang lama, menukar energi yang menyiksa. Tapi api menuntut bahan bakar. Apakah kamu, Yohan, bahan bakarmu cukup untuk menukar nasib ibumu?”
Yohan menggenggam Jimat Perunggunya. Pertukaran Jiwa. Ina memberikan istilah spesifik dari konsep yang kuduga. Ini adalah kearifan tertinggi.
“Aku sudah bersiap mengorbankan segalanya yang kubawa dari kota: kebebasan, karier, warisanku,” jawab Yohan, tatapannya menyiratkan keseriusan mutlak.
“Tapi Ibuku sepertinya tidak mau dibebaskan, seolah dia ingin aku selamat dan pergi.”
Yutiman mendengus, seperti mengeluarkan debu lama.
“Sumiati bukanlah wanita jahat, tetapi wanita yang dikorbankan, Yohan. Dia terikat oleh kehendak Yosef, tapi kehendak yang lain mencoba masuk. Mereka menggunakan rasa cinta dan pengorbanannya. Roh Sumiati bukan menghantui rumah karena dendam, tetapi karena rasa takut. Takut kamu melakukan pengorbanan yang lebih besar dan ikut terikat dengannya.”
“Ayahku membunuhnya di Batu Persembahan, bukan karena kecemburuan seperti kata Marta. Mereka menyuruhnya,” kata Yohan, kini menyampaikan pengetahuannya.
“Itu yang Yosef akui sebelum kematiannya yang tenang? Ya. Marta dan tetua membenci orang luar, mereka takut bisnis Tambang dihambat oleh ikatan Yosef yang terputus. Maka mereka mencoba membatalkannya dengan kekerasan. Ina melihat semuanya, Yohan. Dia ada di seberang sana. Bersiaplah,” kata Yutiman.
***
“Itu Desanya. Suku-suku utara,” Yutiman menunjuk ke arah tebing yang di atasnya tampak tatanan kayu tua yang berlumut, rumah-rumah panggung tradisional yang rapat, seolah tersembunyi dari peradaban manapun.
Udara di sini lebih dingin dan jauh lebih kering dari Yalimo, berbau getah hutan dan api yang diolah murni. Rasanya suci dan tidak ternodai. Aku baru sadar bau Yalimo adalah bau konflik yang dipendam, pikir Yohan.
Yutiman mengikat ranting yang panjang ke bahunya dan memberikan lembiang itu ke Yohan, sebuah simbol yang tak Yohan mengerti. “Di Desa Api, Ina memandang rendah semua hal. Termasuk orang kota sepertimu, yang berjalan di antara mereka sebagai kargo yang lelah. Tunjukkan rasa hormat. Lembiang itu adalah bahasa mereka untuk bertanya, ‘Dari mana dan siapa kamu’?”
“Mereka nggak akan menyambutku sebagai orang baru yang bisa membawa pengetahuan kota?” Yohan meremehkan.
Yutiman tertawa sinis, menunjukkan ketidaksenangan terhadap keangkuhan kecil Yohan.
“Kami yang terikat pada gunung, tahu semua yang terjadi di luar desa. Mereka tahu tentang Ayahmu, ritualnya, Marta, dan Tambang. Dan mereka tahu siapa dirimu, Yohan: Pewaris modern yang kembali dengan ransel dehidrasi. Di sini, nilai diukur bukan dari rekening bank, tetapi dari tujuan pengorbanan.”
Yutiman maju, meneriakkan nama dalam bahasa daerah yang tidak dimengerti Yohan. Segera, pintu desa yang ditutupi oleh tali tebal yang dikeringkan, dibuka.
Sekitar enam pria suku bertubuh besar dan kokoh berdiri menghalangi jalan masuk, memegang busur dan panah yang sudah terisi. Mereka semua menatap Yohan dengan tatapan skeptisisme yang pahit. Di mata mereka, Yohan adalah utusan kemalangan—orang luar yang mencoba memegang kekuasaan spiritual tanpa menjalani hukum tradisi.
Yutiman maju dan berbisik beberapa kata kepada Yohan: “Jangan bergerak sembarangan. Pegang lembing ini dengan mantap, dan tataplah ke lantai.”
Yohan merasakan jantungnya berdetak seperti gong. Semua energi dan keberanian yang ia kumpulkan di hutan nyaris runtuh di hadapan ketegasan ritualistis ini. Dia hanya menoleh kepada Yutiman yang kemudian berdiri di sampingnya.
Pemimpin kelompok pria itu, seorang pria tua dengan tato wajah dan rambut putih pendek, melangkah maju. Dia tidak berteriak, suaranya pelan dan mengikis, seperti pasir kering yang dihembus angin.
“Kau membawa anjing kotamu kemari, Yutiman. Bukankah kita sudah punya cukup trauma dari keluarga itu? Keluarga Yosef,” pria tua itu berbicara. Setidaknya aku harus terlihat memahami maksud mereka.
Yutiman, tanpa bergerak, menjawab, “Dia Yohan, Putra Yosef, yang datang dengan Jiwa Terikat dan janji ingin menukarnya.”
Pemimpin itu—Yohan mengira ia salah satu sesepuh tertinggi desa ini—berjalan perlahan mengitari Yohan. Matanya menatap jijik Jimat Perunggu yang digantung di leher Yohan.
“Jimat Yosef yang gagal, dan seorang anak bodoh dari kota yang memegang benda spiritual,” ejek Sesepuh.
“Anakku, Yalimo tidak butuh pertukaran jiwamu yang bau kota. Kami hanya butuh kamu menghilang dan membiarkan Janji Darah Yosef mempertahankan batas spiritual kita, sebelum kamu melepaskan segalanya.”
Ancaman itu persis seperti ancaman Marta. Yohan harus meyakinkan mereka, dan dengan cepat.
Yohan teringat saat dia kecil, Yosef sering mengajaknya berlatih kata-kata sederhana Yalimo dan cara menunjukkan hormat kepada roh penjaga air dan tanah. Ia telah melupakan semua itu. Namun, Jimat Perunggu di dadanya terasa menghangat, seolah membisikkan bahasa yang tepat untuk kondisi ini.
Yohan melangkah satu langkah. Langkah yang tepat. Lalu, ia mengangkat lembing dari Yutiman secara vertikal, di hadapan Sesepuh itu. Ia menundukkan kepala. Itu adalah pose tunduk total, namun mengandung kewibawaan yang didapat dari ayahnya.
Yohan berbicara. Kata-kata itu meluncur di lidahnya, diserapnya entah dari mana. Dia mengucapkan dengan fasih dan tulus, memfokuskan kata-kata itu pada Sesepuh.
“Wa-ya-ni Yalimo, ku wiyembi yim. Saya, Anak Tanah Yalimo, datang untuk bertanya.”
Kata-kata itu membuat Sesepuh tersentak. Ekspresi pria itu tidak lagi berupa ejekan. Kata itu! Aku benar! Ayahku pernah mengajarkannya padaku, ungkapan tunduk total! Ia teringat Ayahnya, Yosef, mengajarinya sedikit bahasa klan leluhur yang lama terlupakan.
Yohan merasakan semburan empati. Ia membuktikan bahwa di balik kerangkanya yang sinis dan pakaian mahalnya, ada koneksi abadi pada warisan yang ditolak Sumiati.
Sesepuh Desa mengangguk perlahan, kerutan di wajahnya kini terasa hormat, namun masih ragu.
“Jadi kamu tidak datang untuk melarikan diri, tapi mencari kearifan? Apa yang akan kamu pertukarkan, Yohan, agar Ina mau menghadapimu? Waktu kami di sini sangat berharga.”
“Aku ingin tahu Pusaka,” Yohan menjawab, sekarang menggunakan bahasa Indonesia campur, agar Yutiman dan yang lain memahami kejelasan tujuannya. “Pusaka Terikat itu membuat Yalimo pincang, itu membunuh Ibuku. Aku harus menukar kebebasan pribadi sejati, agar Ibu tidak terikat, dan agar Pusaka… Pusaka kembali murni. Aku ingin menyelamatkan Desa Yalimo.”
Keheningan di Desa Api menjadi tebal, diisi oleh bisikan warga yang menyaksikan drama kedatangan ini.
Yohan melihat keraguan mulai menghilang dari mata para Penjaga Suku itu. Pengakuan akan tugas ini—bukan hanya melarikan diri, tetapi pemurnian menyeluruh—membuat Yohan berdiri di tengah kebenaran spiritual.
“Baik. Kita biarkan kamu istirahat malam ini, anak Yutiman,” Sesepuh Desa berkata, memberi jalan kepada Yohan dan Yutiman untuk masuk. “Ina sedang berdoa. Dia hanya akan datang jika Api mengatakan demikian.”
***
Malam tiba. Yohan duduk di pinggiran rumah panggung. Perutnya diisi makanan tradisional yang bersahaja, namun memberinya kekuatan fisik yang mengejutkan. Yutiman tidak banyak bicara, membiarkan Yohan larut dalam pemikirannya.
Sambil membersihkan jimat perunggunya, Yohan merasakan ketenangan Desa Api. Tidak ada hawa dingin yang mengancam seperti di Yalimo; di sini spiritualitas itu ada, murni, dan seimbang.
Yohan berpikir: Ina, kaulah kunci dari semuanya. Tanpamu, aku hanya anak Ayahku, terperangkap antara ketakutan Ibu dan obsesi kejam Ayah. Aku harus menerima diriku, menerima pusaka Ayah yang keliru, dan menukarnya menjadi sesuatu yang utuh.
Saat fajar menyingsing, udara di Desa Api menjadi tenang. Hanya suara kokok ayam hutan dan langkah kaki tenang para warga. Yohan sedang minum air dari kendi batu, matanya memandang cahaya keemasan yang baru saja tumpah ke punggungan gunung.
Tiba-tiba, keheningan Desa Api menghilang. Itu digantikan oleh suasana yang hampir mirip tercekik. Bukan takut atau dingin, tetapi heningnya atmosfer. Para penduduk segera berhenti beraktivitas. Mereka menundukkan kepala serentak, tubuh mereka memancarkan rasa hormat yang absolut.
Yutiman berbisik dari balik bayangan rumah, “Ina datang. Ina yang telah membaca takdir di asap Api. Jangan angkat matamu sebelum dia berdekatan.”
Langkah kaki terdengar dari jalur setapak yang menuju altar. Langkah itu tua dan perlahan, tetapi berwibawa dan menekan udara. Aroma rempah, kapulaga yang kuat, dan bunga cempaka tua mendominasi ruang.
Yohan menundukkan kepala. Ia bisa merasakan Ina kini berdiri tidak jauh di depannya, tepat di sisi sinar matahari pagi.
Kehadiran Ina terasa kuat, tidak seperti Marta yang karismatik dengan kekuatan legal/politik, dan tidak seperti Sumiati yang tersiksa. Ina terasa seperti kakeknya—sebuah pohon purba yang penuh akar di bumi, seorang guru spiritual yang jujur dan tak terkalahkan.
Beberapa detik terasa seperti keabadian. Lalu, sebuah suara dalam dan berat terdengar, bukan dari tubuh fisik Ina, melainkan seperti suara yang dihasilkan bumi saat bernapas.
“Yohan, anak Yosef. Kau datang jauh-jauh. Sudah kukira.”
Ina memberi isyarat agar Yohan mendongak. Yohan mengangkat pandangannya perlahan. Dia bertemu dengan wajah Sang Penjaga Api. Wajah Ina sangat tua, keriputnya terasa seperti peta Yalimo itu sendiri. Mata Ina gelap, tua, tetapi dipenuhi kilauan cahaya seperti bara api yang terus membara di kegelapan.
Wajah Ina seharusnya memberikan kedamaian, tetapi tidak demikian. Ina menatap lurus ke mata Yohan. Tatapan Ina menembus langsung jiwa, melucuti setiap skeptisisme, setiap keputusasaan. Dan kemudian, perlahan, matanya bergerak ke titik tepat di belakang Yohan.
Napas Ina tercekat. Tatapannya, yang sebelumnya kuat dan tenang, membesar. Ketenangan wajahnya runtuh total, digantikan oleh syok yang tak terbendung.
“Ada… seorang wanita…” Ina terengah-engah, bisikan Ina nyaris tidak terdengar, hanya suara angin dingin yang tiba-tiba mengitari Yohan. Ina menunjuk ke bahu Yohan, tangannya bergetar hebat. Ina tidak menatap Yohan, melainkan entitas spiritual yang ada di belakang Yohan.
Ina mengkonfirmasi ketakutan terdalam Yohan. Ikatan itu nyata. Yohan tidak berjalan sendirian.
Mata sang Dukun membesar, melihat dengan ketakutan campur ngeri. Yohan tahu, ia melihat bayangan abu-abu keputusasaan Ibunya yang terikat—roh Sumiati—berdiri persis di belakang bahunya, menanti nasibnya diputuskan oleh Ina.
“Ikatan itu begitu kuat…” Ina tergagap. Matanya beralih dari bayangan Sumiati ke wajah Yohan. “Anakku, roh ibumu mengikutimu kemari, menjadi bagian dari kulitmu. Dia tahu kau membawa… sebuah takdir. Kamu... benar-benar berani.”