Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sepuluh
Hanin tidak mendengar jelas kalimat terakhir dokter itu. Yang ia tahu hanya satu, dunianya benar-benar berhenti.
Kakinya mendadak lemas. Lututnya tak lagi sanggup menopang tubuh. Ia terduduk begitu saja di lantai lorong ICU yang dingin, tanpa peduli orang-orang yang menatap iba.
“Tidak … tidak mungkin …,” bisiknya parau.
Dadanya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Nafasnya memburu, tapi udara terasa tak cukup masuk ke paru-parunya.
Abi dan Umi pergi untuk selamanya?
Hanin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa suara, hanya bahunya yang terguncang hebat.
“Barusan … barusan mereka masih bicara …,” gumamnya lemah. “Abi masih pegang tangan Hanin … Umi masih nasihatin Hanin .…”
Seorang perawat berjongkok di depannya, mencoba menenangkan. Dokter berdiri tak jauh, wajahnya penuh empati.
“Mbak Hanin,” suara dokter itu lembut namun tegas, “Kami turut berduka. Untuk selanjutnya, Mbak perlu mengurus administrasi kepulangan jenazah.”
Kata “jenazah” menghantam telinga Hanin seperti petir. Bukan lagi pasien.
Air matanya kembali mengalir deras. Ia menggeleng pelan, seperti menolak kenyataan yang dipaksa masuk ke hidupnya.
“Abi dan Umi bukan jenazah …,” bisiknya lirih. “Mereka cuma tidur … mereka cuma capek.”
Tapi dunia tak ikut menolak. Dunia tetap diam. Tetap dingin.
Beberapa menit berlalu sebelum Hanin mampu berdiri. Itu pun dengan tubuh gemetar. Tangannya berpegangan pada dinding, seolah kalau ia melepas, ia akan benar-benar jatuh dan tak bisa bangkit lagi.
Langkahnya gontai saat kembali menuju pintu ICU.
Sebelum kedua tubuh itu dibawa pergi, ia ingin melihat. Ingin memastikan.
Pintu dibuka oleh perawat.
Ruang itu kini terasa jauh lebih sunyi. Mesin-mesin sudah tak berbunyi. Selang-selang dilepas. Tubuh Abi dan Umi terbujur tenang, tertutup kain putih hingga dada.
Hanin melangkah masuk perlahan. Setiap langkah seperti menginjak pecahan kaca.
Ia mendekat ke ranjang Abi lebih dulu. “Abi .…”
Tak ada jawaban. Wajah itu pucat. Bibir yang tadi masih bergerak kini diam membeku.
Hanin memegang tangan ayahnya. Terasa dingin.Tidak lagi hangat seperti tadi.
Air matanya jatuh ke punggung tangan yang tak lagi bisa menggenggamnya.
“Abi … katakan ini cuma mimpi,” suaranya bergetar hebat. “Abi nggak mungkin hukum Hanin sekejam ini, kan?”
Ia menunduk, keningnya menyentuh tangan itu. "Abi selalu bilang Hanin anak kesayangan. Abi selalu bilang kalau Hanin salah, cukup dinasihati, jangan ditinggal. Jadi kenapa sekarang Abi pergi?”
Tangisnya pecah lagi. Ia berpindah ke ranjang Umi.
“Umi … bangun, Mi …,” bisiknya memohon. “Biasanya kalau Hanin nangis begini, Umi paling cepat peluk Hanin. Sekarang kenapa diam saja?”
Hanin menatap wajah ibunya yang tak lagi bergerak. “Umi marah, ya? Karena Hanin bikin malu? Karena Hanin bikin Umi sedih?”
Air matanya jatuh tak terbendung. “Apakah yang Hanin lakukan sangat memalukan sampai Umi dan Abi memilih pergi?”
Tubuhnya tak lagi kuat berdiri. Ia kembali terduduk di lantai ruang ICU, tepat di antara dua ranjang itu.
Tangannya memegang kaki tempat tidur erat-erat, seperti takut keduanya benar-benar dibawa menjauh.
“Abi … Umi … bukannya Hanin mau menolak takdir … tapi kenapa kalian pergi bersamaan?” suaranya lirih, penuh luka. “Kenapa nggak salah satu saja yang tinggal? Kenapa nggak bawa Hanin sekalian?”
Isaknya menggema di ruangan itu. “Hanin nggak kuat sendirian .…”
Beberapa perawat saling pandang, ikut menahan haru.
“Hanin tahu Hanin salah. Hanin tahu Hanin pernah bikin kalian kecewa. Tapi sebesar apa sakit, luka, dan malu yang Hanin lakukan sampai dibalas sekejam ini?”
Ia terisak lama. Waktu terasa berhenti.
Tangisnya tak lagi sekencang tadi, tapi lebih dalam. Lebih perih. Seperti luka yang tak terlihat namun menganga lebar.
Perlahan, Hanin mengusap wajahnya. “Abi … Umi … mungkin ini cara Allah menguji Hanin,” bisiknya. “Mungkin ini cara Allah menghukum Hanin atas semua kesalahan yang sudah Hanin buat.”
Ia menarik napas panjang, meski dada masih sesak. “Hanin akan coba ikhlas. Walaupun Hanin belum tahu caranya.”
Ia berdiri pelan, menyentuh ujung kain putih yang menutupi tubuh keduanya.
“Tunggu sebentar lagi, ya. Kita pulang ke rumah. Hanin urus administrasinya dulu.”
Suara itu begitu kecil, begitu rapuh. “Hanin janji tetap jadi anak kalian … walaupun sekarang Hanin sendirian.”
Ia melangkah keluar ruang ICU dengan mata sembap dan langkah yang nyaris terseret.
Ruang administrasi terasa asing. Petugas berbicara pelan, menjelaskan biaya, surat kematian, dan prosedur pemulangan.
Hanin hanya mengangguk. Ia bahkan tak yakin benar-benar mendengar.
Tangannya gemetar saat menandatangani berkas. Nama orang tua: Rahmat. Ibu Salma.
Status: meninggal dunia. Tulisan itu seperti mengiris jantungnya setiap kali terbaca.
Beberapa saat kemudian, jenazah kedua orang tuanya dipindahkan ke ambulans.
Hanin berdiri memandangi mobil putih itu dengan tatapan kosong. Pintu belakang ditutup. Suara itu terdengar sangat final.
Ia naik ke dalam ambulans tanpa berkata apa-apa. Di dalam, dua keranda terbaring berdampingan.
Seperti saat mereka hidup, selalu bersama. Hanin duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh sisi keranda perlahan.
“Abi … Umi … kalian tetap bersama,” bisiknya. “Sedangkan Hanin sendirian.”
Air matanya kembali jatuh. “Katanya kalian cuma pergi dua tahun kalau Hanin masuk pondok. Katanya cuma sebentar. Tapi kenapa sekarang jadi selamanya?”
Ambulans melaju meninggalkan rumah sakit. Sirene tak dinyalakan. Perjalanan terasa sangat sunyi.
Di luar, matahari mulai meninggi. Dunia berjalan seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang. Motor melintas. Anak-anak sekolah bercanda.
Tak ada yang tahu bahwa di dalam ambulans itu, seorang anak perempuan kehilangan seluruh dunianya.
Di tengah perjalanan, seorang polisi sempat menghampiri ambulans untuk memberikan keterangan.
“Ini kasus tabrak lari,” ujar petugas itu singkat. “Belum ada saksi mata. Kami akan selidiki.”
Hanin hanya mengangguk. Ia bahkan tak benar-benar peduli. Tabrak lari atau bukan, hasilnya tetap sama.
Abi dan Umi tidak akan kembali. Ia menunduk, memejamkan mata.
“Ya Allah … kuatkan Hanin,” bisiknya.
Saat ambulans memasuki halaman rumah, beberapa tetangga sudah berkumpul. Kabar rupanya menyebar cepat.
Tangis pecah begitu pintu belakang dibuka. Beberapa ibu-ibu menutup mulut mereka, tak percaya.
Hanin turun pelan. Rumah yang kemarin masih terasa hangat kini terasa kosong bahkan sebelum jenazah masuk.
Ia berdiri mematung saat kedua keranda dibawa masuk ke ruang tengah. Tempat yang biasanya dipenuhi suara tawa dan obrolan ringan kini berubah menjadi ruang duka.
Hanin menatap sekeliling. Sofa tempat Abi biasa duduk membaca koran. Dapur tempat Umi sering memanggilnya makan.
Semua masih sama, kecuali mereka. Keduanya sudah tak terdengar lagi suaranya.
Kakinya terasa goyah lagi. Tapi kali ini ia menahan diri. Masih banyak yang harus ia lakukan.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel dari dalam tas. Nama pertama yang terlintas di pikirannya adalah satu-satunya orang yang tadi bersamanya.
Ustaz Hamid. Ia menekan nomor itu. Beberapa detik yang terasa lama.
Telepon diangkat. “Assalamu’alaikum, Hanin?”
Begitu mendengar suara itu, tangis Hanin kembali pecah.
“Ustaz …,” suaranya serak. “Abi dan Umi … sudah nggak ada.”
Di seberang sana, terdengar istighfar panjang.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …”
Hanin terisak.
“Mereka pergi, Ustaz. Dua-duanya. Hanin sekarang sendirian.”
Suara Ustaz Hamid terdengar berat menahan haru. “Bersabarlah, Nak. Ini takdir Allah.”
“Hanin belum siap, Ustaz … Hanin belum sempat bahagiakan mereka ….”
“Kami akan datang ke sana. Ustaz dan Ghania segera berangkat.”
Nama itu membuat Hanin menutup mata sesaat. Ghania. Sahabatnya di pondok.
“Terima kasih, Ustaz …,” bisiknya lemah.
“Kuat ya, Hanin. Jangan merasa sendirian. Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Telepon terputus perlahan. Hanin menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Rumah itu dipenuhi suara tangis dan bacaan lantunan ayat Al-Qur'an dari para tetangga.
Di ruang tengah, dua tubuh yang paling ia cintai terbaring berdampingan. Hanin berdiri di ambang pintu, menatap keduanya dengan hati yang terasa kosong.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??