Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran di Balik Gedung Olahraga
langkah kakiku di atas kerikil halus di jalur belakang gedung olahraga menciptakan suara gemeretak yang ritmis, seolah-olah waktu sedang menghitung mundur menuju sesuatu yang tak terelakkan. Di area ini, kabut pagi masih tertinggal lebih tebal, terjebak di antara dinding beton tinggi dan rimbunnya pohon-pohon mapel yang belum sepenuhnya berganti daun. Ini adalah wilayah buta—sebuah titik yang jarang dilalui guru dan luput dari pandangan lensa kamera pengawas.
Aroma tembakau murah yang tadi sempat terdeteksi pada amplop kini tercium lebih pekat, bercampur dengan bau apak dari matras olahraga yang ditumpuk di luar. Aku terus melangkah, wajahku tetap tenang, namun mataku memindai setiap sudut dengan ketajaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah terbiasa hidup dalam waspada.
[Keahlian Analitis: Aktif]
[Variabel Terdeteksi: Tiga individu di balik tumpukan kotak peralatan. Tingkat ancaman: Rendah.]
Aku berhenti tepat sepuluh langkah sebelum tikungan gedung. Dari balik dinding, suara tawa yang serak dan kasar mulai terdengar.
"Kau pikir dia akan benar-benar datang? Si murid pindahan sok keren itu mungkin sekarang sedang gemetar di bawah ketiak Hiratsuka-sensei," ucap sebuah suara yang terdengar dipaksakan agar terdengar berat.
"Dia pasti datang. Pria seperti dia biasanya punya harga diri yang terlalu tinggi. Dan saat dia datang, kita beri dia sedikit 'pelajaran' tentang siapa penguasa sebenarnya di kelas tiga ini," sahut suara lainnya, diikuti oleh bunyi pemantik api yang ditekan.
Aku melangkah maju, menampakkan diriku di hadapan mereka. Di sana, tiga orang siswa dengan seragam yang sengaja tidak rapi sedang bersandar pada pagar kawat. Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh besar dengan rambut pirang kusam yang tampak sangat bangga dengan puntung rokok di sela jarinya. Namanya, jika aku tidak salah ingat dari daftar absen, adalah Tatsuya—seorang pengganggu kelas teri yang merasa besar karena intimidasi fisik.
"Aku tidak tahu kalau Akademi Sakura memiliki klub merokok di jam pelajaran," ujarku datar, suaraku mengalir tenang menembus kabut.
Ketiganya tersentak. Tatsuya membuang puntung rokoknya dan melangkah maju, wajahnya memerah karena merasa terkejut oleh kehadiranku yang begitu sunyi. "Oh, jadi kau datang juga, Saiba. Aku tidak menyangka kau punya nyali untuk muncul sendirian setelah menerima 'undangan' manis kami."
Aku mengeluarkan amplop merah jambu yang sudah remuk dari sakuku, menunjukkannya kepada mereka sejenak sebelum menjatuhkannya ke tanah. "Mengirimkan surat ancaman dengan warna yang begitu feminin... apakah ini caramu mengakui bahwa kau sebenarnya sangat menyukai kehadiranku, Tatsuya? Atau kau hanya terlalu pengecut untuk bicara langsung di depan kelas?"
"Tutup mulutmu!" Tatsuya membentak, matanya berkilat penuh amarah. "Kau datang ke sini, mendekati Yuigahama, mencoba bersikap akrab dengan Yukinoshita... Kau pikir kau siapa? Kau hanya murid pindahan sampah yang beruntung tidak mati saat kecelakaan itu!"
Aku menyipitkan mata. Sisi protektifku mulai bergejolak, namun kepribadian duniaku yang dingin menahannya agar tetap terkendali. Aku melepaskan tas sekolahku, meletakkannya di atas tumpukan matras dengan gerakan yang lambat dan sengaja dibuat elegan.
"Kau baru saja membuat kesalahan besar," ujarku, kali ini suaraku lebih rendah, membawa getaran yang membuat dua teman Tatsuya sedikit mundur selangkah. "Kau menyentuh ketenangan hidupku dengan cara yang sangat rendahan. Dan di duniaku, variabel yang merusak alur cerita harus dihapus atau setidaknya... diperbaiki."
[Keahlian Bela Diri: Taekwondo Jin Mori - Status: Siap]
[Postur Tubuh: Dioptimalkan untuk Ruang Sempit]
Tatsuya tertawa kasar, mengepalkan tinjunya yang besar. "Dunia apa? Kau bicara seperti orang gila! Hancurkan dia!"
Dua temannya mulai bergerak maju, mencoba mengepungku dari sisi kiri dan kanan. Bagi orang biasa, ini adalah situasi yang menakutkan. Namun bagiku, gerakan mereka terlihat sangat lambat, penuh dengan celah, dan sangat tidak efisien.
Aku tidak menunggu mereka menyerang duluan. Sesuai dengan prinsipku: jika konflik tidak bisa dihindari, selesaikan dengan cara yang paling efektif dan meninggalkan bekas yang permanen di ingatan mereka.
Aku melakukan satu langkah kecil ke depan, tubuhku merendah secara refleks. Saat salah satu dari mereka mencoba mengayunkan tinjunya, aku berputar dengan poros kaki kiri yang mantap.
Bugh!
Sebuah tendangan memutar yang presisi—Baekdu—mendarat tepat di ulu hati lawan pertama. Dia bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuhnya jatuh berlutut, berusaha keras menghirup udara yang seolah menghilang dari paru-parunya.
Temannya yang satu lagi terpaku sejenak, namun kemarahan membuatnya tetap melompat ke arahku. Aku menghindari serangannya dengan hanya menggeser kepalaku beberapa sentimeter, lalu dengan gerakan tangan yang sangat halus, aku menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya sedikit ke arah belakang.
"Kekuatan tanpa teknik hanyalah kebisingan yang sia-sia," bisikku tepat di telinganya sebelum mendorongnya hingga menabrak pagar kawat dengan bunyi dentuman logam yang keras.
Tatsuya kini berdiri sendirian, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi. Dia melihat dua temannya tumbang hanya dalam hitungan detik tanpa aku berkeringat sedikit pun. Dia mencoba menyerangku dengan pukulan membabi buta, namun aku hanya berdiri diam, menunggu momen yang tepat.
Saat tinjunya hampir menyentuh wajahku, aku menangkap pergelangan tangannya dengan satu tangan. Genggamanku seperti catut besi yang mengunci aliran darahnya.
"S-Sakit! Lepaskan, bajingan!" Tatsuya merintih, mencoba melepaskan diri.
"Kau tahu, Tatsuya..." Aku menarik wajahnya mendekat hingga matanya yang ketakutan menatap langsung ke dalam mataku yang dingin. "Aku sangat menghargai privasiku. Dan jika kau berani mengirimkan sampah seperti ini lagi kepada siapa pun yang ada di dekatku—terutama Yui atau Yukino—aku tidak akan menggunakan tendangan sekolah ini lagi. Aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan untuk mengirim surat apa pun seumur hidupmu."
Aku mendorongnya hingga dia tersungkur di tanah, tepat di samping amplop merah jambu yang kini kotor oleh tanah.
"Bawa teman-temanmu dan pergilah. Kabut ini mulai menipis, dan aku tidak ingin Hiratsuka-sensei melihat pemandangan menyedihkan seperti kalian di sini," ujarku sembari mengambil kembali tas sekolahku.
Tatsuya dan teman-temannya segera bangkit dan lari terbirit-birit, bahkan tanpa berani menoleh ke belakang. Aku berdiri diam sejenak, merapikan seragamku yang sedikit berantakan. Napasku tetap teratur, jantungku tidak berdegup lebih cepat dari biasanya. Bagiku, ini bukan pertarungan; ini hanyalah koreksi teknis terhadap variabel yang malfungsi.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Status: Konflik Selesai - Bahan untuk Adegan Aksi Didapatkan]
[Peningkatan Kemampuan: Penguasaan Taekwondo Meningkat 2%]
Aku berbalik untuk kembali ke gedung sekolah, namun langkahku terhenti saat melihat sesosok gadis berdiri di balik bayangan pohon mapel, tidak jauh dari tempatku berdiri.
Kato Megumi.
Dia berdiri di sana dengan tas sekolahnya, ekspresinya sedatar biasanya, seolah-olah dia baru saja menonton sebuah drama teater yang membosankan daripada sebuah perkelahian nyata.
"Ren-kun... kau benar-benar melakukannya," ucapnya pelan. "Dan kau bilang kau bukan tipe orang yang melakukan hal dramatis di gudang olahraga."
Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum yang sedikit lebih tulus. "Terkadang, naskah harus diubah di tengah jalan agar penonton tidak bosan, Kato-san. Sejak kapan kau ada di sana?"
"Sejak kau bilang kau tidak suka jika ada orang yang menyentuh 'aset' milikmu," jawabnya sembari mulai berjalan mendekatiku. "Itu kalimat yang sangat... berlebihan, kau tahu? Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa kau benar-benar bisa menjaga diri sendiri."
Kami berjalan kembali menuju koridor utama dalam keheningan yang nyaman. Kabut sudah benar-benar hilang, digantikan oleh cahaya matahari pagi yang cerah. Namun aku tahu, meskipun pengganggu ini sudah pergi, variabel lain yang lebih besar masih menunggu di dalam ruang kelas.
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor lantai satu yang kini mulai dipenuhi oleh hilir mudik siswa yang bergegas menuju kelas masing-masing. Kato Megumi berjalan di sampingku dengan langkah yang sangat sinkron, seolah-olah ia memang sudah terbiasa menyesuaikan ritme dengan siapa pun di dekatnya. Wajahnya tetap tenang, sejenis ketenangan yang hampir membuatku lupa bahwa beberapa menit yang lalu aku baru saja menjatuhkan tiga orang di balik gedung olahraga.
"Ren-kun," suara Kato memecah keheningan yang nyaman itu. "Kerah bajumu sedikit miring. Jika kau masuk ke kelas dengan penampilan seperti itu, Yukinoshita-san akan segera tahu bahwa kau tidak baru saja kembali dari perpustakaan."
Aku berhenti sejenak, melihat pantulan diriku di jendela kaca koridor. Benar saja, pergelangan tangan kemejaku sedikit tersingkap dan kerahku kehilangan bentuk kaku akibat gerakan memutar tadi. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, aku merapikannya. Tanganku masih terasa sedikit hangat oleh sisa adrenalin, namun pikiranku sudah kembali ke mode analitis yang dingin.
"Terima kasih, Kato-san. Ketelitianmu adalah variabel yang sering kali menyelamatkanku dari situasi yang merepotkan," ujarku sembari menarik napas dalam, menstabilkan detak jantungku hingga mencapai titik nol.
Kami sampai di depan pintu kelas 3-J. Sebelum aku sempat menarik pintu geser itu, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu dari dalam. Yui Yuigahama berdiri di sana dengan wajah yang masih pucat, namun matanya langsung berbinar saat melihatku.
"Ren-kun! Syukurlah!" serunya, hampir menabrakku jika aku tidak mundur selangkah untuk menjaga jarak aman. "Kau lama sekali! Aku takut... aku takut terjadi sesuatu padamu di belakang sana."
Di belakang Yui, aku bisa melihat Yukinoshita Yukino yang duduk tegak di kursinya, pura-pura sibuk membaca buku, namun aku tahu pandangannya terpaku pada kami. Tangannya yang memegang buku sedikit gemetar—sebuah detail kecil yang tidak akan luput dari pengamatan [Keahlian Analitis] milikku.
"Dunia ini tidak seberbahaya itu, Yuigahama-san," jawabku lembut, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Aku hanya butuh sedikit udara segar untuk membuang energi negatif dari surat itu. Kau tidak perlu khawatir lagi."
Aku melangkah masuk ke dalam kelas, melewati Yui dan berjalan menuju bangkuku. Saat aku melewati meja Yukino, dia menutup bukunya dengan suara dentuman pelan namun tegas.
"Saiba-kun," panggilnya dengan suara dingin yang menusuk. "Jika kau berencana menyelesaikan masalah dengan cara yang kasar, lebih baik kau tidak membawa nama klub relawan atau siapa pun di kelas ini ke dalam urusan pribadimu. Kau terlihat... sedikit berantakan."
Aku berhenti tepat di samping mejanya, menatapnya langsung ke dalam matanya yang tajam dan defensif. "Berantakan adalah bagian dari proses merapikan sesuatu yang kacau, Yukinoshita-san. Terkadang kau harus menyentuh tanah untuk bisa membersihkannya. Tapi tenang saja, namamu tetap suci dalam naskah yang kuselesaikan tadi."
Yukino tertegun, sedikit mengernyitkan dahi mendengar gaya bahasaku yang puitis namun penuh sindiran. Sebelum dia sempat membalas, langkah sepatu hak tinggi yang berirama tegas terdengar dari arah pintu.
Shizuka Hiratsuka masuk dengan jas lab putihnya yang berkibar. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya, dan matanya langsung menyisir ruangan hingga mendarat tepat padaku. Ada kilatan kecurigaan di sana, seolah indra gurunya bisa mencium aroma konflik yang baru saja kupadamkan.
"Duduk di kursi kalian masing-masing," perintah Shizuka dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Pelajaran akan segera dimulai, dan aku tidak ingin mendengar ada keributan di belakang gedung atau di mana pun hari ini. Apakah aku jelas?"
"Sangat jelas, Sensei," jawabku sembari duduk dengan tenang, meletakkan tas sekolahku di samping meja.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Status: Mengamati Reaksi Karakter Utama]
[Analisis: Yui (Lega), Yukino (Waspada/Gelisah), Shizuka (Curiga)]
Pelajaran sastra dimulai, namun pikiranku mulai melayang ke tingkat yang lebih dalam. Aku mulai mencoret-coret buku catatanku, bukan dengan materi pelajaran, melainkan dengan draf adegan yang baru saja kualami. Setiap gerakan Tatsuya, setiap hembusan kabut, dan bagaimana Kato berdiri di balik pohon—semuanya berubah menjadi kata-kata yang mengalir deras dari jemariku.
Di tengah pelajaran, aku merasakan sebuah gumpalan kertas kecil mendarat di atas mejaku. Aku membukanya perlahan di bawah kolong meja agar tidak terlihat oleh Shizuka.
"Temui aku di ruang guru setelah sekolah usai. Jangan pikir aku tidak mencium bau tembakau dan keringat di seragammu, Saiba. - S.H"
Aku meremas kertas itu dan memasukkannya ke saku. Shizuka Hiratsuka memang variabel yang sulit untuk dikelabui. Dia bukan hanya guru; dia adalah pengawas moral yang memiliki intuisi tajam. Namun, aku tidak merasa terancam. Sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dewasa dan jujur dengannya.
Aku melirik ke samping, ke arah jendela. Kabut benar-benar telah sirna, menampakkan langit biru yang jernih namun terasa sunyi. Di kursi depan, Kato Megumi seolah menghilang kembali ke dalam kesunyiannya, namun aku tahu, dia adalah saksi bisu dari sisi diriku yang tidak ingin kuperlihatkan pada dunia.
"Satu masalah selesai, seribu variabel baru muncul," bisikku pada diri sendiri sembari terus menulis.
[Status Pekerjaan: 80% - Bab 1 Novel 'Ordinary Days' Mendekati Klimaks]
[Hubungan dengan Shizuka Hiratsuka: Memasuki Fase Konfrontasi Langsung]
Aku tahu, pertemuan di ruang guru nanti tidak akan sesederhana ceramah tentang kedisiplinan. Ini adalah awal dari kontrak tidak tertulis antara aku dan wanita yang memegang kunci kedamaianku di sekolah ini.